
Tak lama datanglah anak pertama kakak iparnya. Penampilan lelaki remaja berusia dua puluh tahun itu sangat berantakan di mata Nina.
Rambut yang di warnai pirang sungguh kontras dengan kulitnya yang sawo matang, terlebih lagi telinga yang di tindik itu bukannya terlihat keren, justru seperti anak urakan menurut Nina.
"Eh ada tante Nina sama adik manis Rima," sapanya lalu mencium tangan Nina dan berlaku genit pada Rima.
Rima kesal dengan tingkah anak pertama kakak iparnya. Melihat tatapan tak suka dari Nina, remaja lelaki itu lantas duduk di dekat sang nenek.
"Ini loh keponakan kamu Nin yang harusnya kamu bantu kuliah bukan malah anaknya paman dan bibimu! Kita ini keluarga dekat Rima dari pada mereka, tapi kenapa kamu justru lebih peduli pada sepupumu!" ketus mantan mertua Nina.
Nina yakin paman dan bibinya selalu sesumbar dengan uang yang sering ia kirim kepada mereka sejak kerja di luar negeri dengan dalih biaya pendidikan untuk galih.
Padahal, dia hanya mengirimkan uang untuk membantu perekonomian Sugi dan Asih, karena dulu mereka lah yang selalu ringan tangan membantunya.
Sebagai balas budi, begitulah pikirnya. Namun sang Bibi selalu berkata jika berkat uang Nina dia bisa menguliahkan Galih putranya dan Asih sangat berterima kasih atas hal itu.
Nina juga tau saat mantan mertuanya datang ke sana dan cekcok dengan Bibinya. Asih menceritakan semuanya. Makanya ibunda Handoko taunya Nina yang membiayai Galih agar bisa kuliah.
"Galih itu kuliah biaya dari orang tuanya. Bukan aku," jelas Nina.
"Masa? Wong Bibimu sendiri yang bilang begitu kok! Lagian kamu kirimi mereka tapi melupakan kami. Kamu tuh aneh, biar pun mantan, kami ini kan keluarga almarhum suamimu!" sergah ibunda Handoko.
Nina menghela napas, ingin sekali dia pergi dari sana. Meskipun menyebalkan dia tidak ingin Rima mengingat kelakuan buruk keluarga mendiang ayahnya lalu membenci mereka.
"Seharusnya ibu tanya saja sama Bibi, kenapa aku kirim duit? Berkat mereka aku bisa mengadakan tahlilan untuk Mas Handoko dan juga biaya untuk kerja di luar negeri!" jelas Nina kesal.
Karena semua uang di ambil oleh mertuanya, Nina bahkan tak mampu untuk mengadakan tahlilan untuk mendiang Handoko.
Uang tabungannya habis untuk biaya rumah sakit dan juga pemakaman.
Saat itu Nina bahkan mengiba pada mertuanya agar memberinya sedikit uang untuk acara tahlilan, tapi mertuanya menolak, mereka berkata tak perlu melakukan hal seperti itu karena membuang-buang uang.
Hati Nina sangat sakit, paman dan bibi yang melihat kelakuan mertuanya lalu membantu Nina dengan memberikan biaya untuk tahlilan.
Meskipun kala itu paman dan bibinya memberinya secara cuma-cuma, karena mereka tahu kondisi Nina.
__ADS_1
Itulah sebabnya Nina berusaha membalas kebaikan paman dan bibinya.
"Kamu masih ungkit-ungkit masa lalu aja Nin, tadi kan kami udah minta maaf," cibir ibunda Handoko.
"Emmm ... Na, kalau nanti kamu kembali keluar negeri, lebih baik Rima melanjutkan sekolahnya di sini saja. Nina ini kan satu-satunya anak Handoko, jelas Rima peninggalan Handoko yang paling berharga," ujar ibunda Handoko lembut.
Nina muak sekali dengan keluarga mertuanya, akhirnya karena enggan terus-terusan menahan emosi yang siap meledak, Nina pun segera mengakhiri acara bertamunya.
"Aku ngga akan berangkat ke luar lagi Bu. Maaf Bu, pak, mas saya pamit ya, maaf ngga bisa lama, besok saya harus kerja."
Nina memilih beralasan kerja dari pada memberitahu mereka kebenarannya. Jangan sampai mereka nanti merecoki dirinya lagi, meski pun kemungkinannya kecil.
"Loh kenapa ngga keluar negeri aja Nin, bukannya penghasilan di sana besar? Urusan Rima kamu percayakan aja sama kami," sergah ibunda Handoko.
Terlihat sekali mereka masih berusaha memoroti Nina lewat Rima. Sejak tadi hanya Nina yang berbincang dengan ibu mertuanya, sedangkan yang lain hanya menyimak.
"Alhamdulillah Bu, lebih baik saya mengurus Rima seorang diri," jawabnya datar.
Nina lalu bangkit dan juga mengajak Rima untuk segera pamit pada keluarga mendiang ayahnya.
Nina lalu mengambil lima lembar seratus ribuan lalu dia berikan pada mantan ibu mertuanya. Sebaiknya dia segera pergi kalau tidak akan banyak drama lagi yang di buat mantan ibu mertuanya.
"Ini Bu, maaf Nina ngga bisa ajak kalian makan-makan, Nina pamit ya, Assalamualaikum."
Semuanya hanya bisa diam melongo, mereka tahu Nina seperti malas berlama-lama dengan mereka.
Setelah sadar, ibunda Handoko lantas mengejar Nina hingga ke mobilnya.
"Nin, tunggu!" panggilnya membuat Nina akhirnya menurunkan kaca mobil.
"Ada apa Bu?" jawab Nina malas.
"Kamu ... Sama sekali ngga mau membantu kami tentang Lala?" pinta ibunda Handoko.
"Maaf bu, tadi kan udah Nina jelaskan kondisi Nina. Nina cuma bisa mendoakan semoga Lala cepat sembuh."
__ADS_1
Setelah itu Nina meninggalkan rumah keluarga Handoko. Nina menghembuskan napas lega setelah mereka sudah pergi jauh.
Sepeninggal Nina, ibunda Handoko menggerutu kesal karena melihat Nina masih belum melupakan kejadian yang sudah lama berlalu.
"Heran sama si Nina, pulang dari luar negeri kasih duit sama mertua cuma lima ratus ribu!" ketusnya.
"Udahlah Bu, Nina itu hanya mantan menantu kita, kita udah ngga ada hubungan apa-apa lagi sama dia. Terlebih lagi ibu ngga ingat apa yang udah kita lakukan sama dia?" jawab bapak Handoko mengingatkan kesalahan mereka.
"Dih, kok bapak belain dia sih. Kita ini lebih berhak sama warisan Handoko pak bukan Nina!" ketus sang istri.
"Apa sebaiknya kita ambil saja rumah dia ya?" monolognya.
Mendengar apa yang sang istri rencanakan membuat amarah di hati bapak Handoko meluap seketika.
Dirinya sudah merasa malu berhadapan dengan mantan menantunya tadi. Dia juga merasa jika kehidupan mereka seperti sekarang karena buah dari sifat serakah mereka.
Ternyata istrinya masih belum sadar diri dan berencana menghancurkan kehidupan mereka hingga ke jurang kenistaan.
"Kamu ngga sadar Bu, bagaimana hidup kita saat ini? Dan kamu masih mau serakah? Ingat, kita udah punya surat perjanjian bahwa rumah itu adalah milik Nina dan Rima! kita itu udah zalim sama mereka Bu! Kamu mau di laknat Allah!" murka bapak Handoko.
Bapak Handoko lantas berlalu meninggalkan keluarganya. Mereka terkejut karena kepala keluarga mereka ternyata sangat murka dengan rencana ibunda Handoko tidak seperti dulu yang mau di ajak bekerja sama.
"Ya kalau bisa di minta, boleh lah Bu kita minta," sela menantu pertama mereka.
"Entahlah, ibu takut, lihat kan bapak kalian ngga setuju. Lagi pula kita ngga bisa nuntut rumah Nina karena memang ada surat perjanjiannya."
Mereka tampak lesu, melihat Nina tadi seperti sebuah oase yang mereka rasa bisa menyelamatkan mereka dari kehidupan kelamnya. Namun yang terjadi justru malah berakhir dengan kekosongan belaka.
Nina masih saja menjaga jarak dengan mereka. Ada sedikit rasa menyesal, apalagi melihat kehidupan Nina dan Rima semakin baik setelah mereka menguasai harta Handoko, sedangkan mereka justru makin terpuruk.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.