Derita anakku

Derita anakku
Gadis pertama


__ADS_3

"Yash! Kau sedang apa di sana Hah! Belajar jadi Mbak Kun Lu!" gerutu Andi.


Rima hanya menunduk mendengarkan amarah Andi.


"Maaf Ka, aku tuh ngga tau siapa yang kunciin pintu," jelasnya.


Aku ngga bakalan di sini juga kalau kamu mau kasih tanda tangan.


"Ya udah sana gih balik!" titah Andi.


Rima menunduk dan berterima kasih tanpa mau memandang Andi. Dirinya sungguh merasa sial harus berurusan dengan pemuda seperti Andi.


Di luar gedung olah raga, Rima mengusap dadanya yang berdebar sangat kencang.


Rima terpaksa memesan ojek Online untuk mengantarnya pulang karena tadi dia baru mendapat pesan dari kakak sepupunya, Galih, kalau dia tak bisa menjemput Rima karena ada kerjaan tambahan dari atasannya.


Selama masa orientasi siswa baru memang Galih masih bisa mengantar jemput Rima sebab Rima biasanya pulang di jam makan siang, oleh sebab itu dirinya menawarkan diri pada Nina untuk menjemput Rima.


Jika nanti Rima sudah mulai pelajaran, barulah Nina akan meminta Prapto untuk menjadi ojek pribadi Rima.


Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba motor tukang ojek yang di tunggangi Rima berhenti karena mogok. Rima pun turun agar si tukang ojek bisa mengecek keadaan motornya.


"Kenapa Bang?" tanya Rima khawatir.


"Aduh neng motor abang mogok, gimana kalau eneng naik angkot apa pesen ojek lain lagi ya," pinta sang ojol.


Rima hanya bisa menghela napas lalu memberikan uang untuk membayar ongkosnya.


"Ini Bang," ujarnya sambil memberikan uang pada kang ojek.


"Ngga usah neng, kan Abang ngga bisa anter eneng," tolak kang ojek segan.


"Ngga papa bang terima aja, lumayan buat tambah-tambah bayar perbaikan motornya," ucap Rima.


Tukang ojek menerima dengan senang hati, karena masih ada penumpang yang mau peduli padanya.


Motor miliknya memang sering mogok, membuat beberapa penumpang sering kesal dan sering memberinya bintang satu.


Baru pertama kalinya dia mendapat penumpang yang tak memarahinya dan justru memberinya uang.


Rima lantas berjalan ke arah Halte yang tak jauh dari tempatnya berhenti tadi. Beruntung di sana ada murid dari sekolah yang tak jauh dari halte itu juga.


Tiba-tiba suara motor besar berhenti di depannya membuat Rima hanya menatap bingung pada pengendara itu.


Andi yang melihat keberadaan Rima di depan Halte lantas berhenti dan membuka kaca helmnya.


"Ngapa belum balik?" tanyanya.


"Hah?" Rima yang berada cukup jauh dari Andi tentu saja tak mendengar ucapan pemuda itu, terlebih lagi Banyak pengendara berlalu lalang di dekat mereka.


Andi terpaksa membuka semua pelindung kepalanya, membuat beberapa siswa di sana berbisik mengagumi ketampanannya.


"Kenapa belum balik?" tanya Andi.


"Nunggu angkot," jawab Rima datar.


Andi pun turun dan menarik tangan Rima. Rima yang terkejut lantas mencegah langkah Andi.

__ADS_1


"Ka kenapa ini!" serunya ketakutan.


"Gue anter balik," jawab Andi datar.


"Hah! Serius?" gagap Rima.


Andi hanya memicingkan matanya saat melihat Rima masih memperhatikan motornya.


"Ck! Buruan, Gue tau motor Gue keren, makanya buruan naek!" gerutunya.


"Bentar Ka, aku bingung gimana cara naiknya," ucap Rima polos.


Andi bahkan harus menahan tawanya saat mendengar ucapan Rima.


"Kakak kenapa ketawa? Udahlah Ka, aku naik angkot aja, takut encok aku naik motor kakak," tolak Rima.


"Udah buruan sini pegangan Gue! Terus angkat rok lu," ajar Andi.


Benar saja, Rima mengikuti instruksi Andi dengan berpegangan pada bahu pemuda itu dan menarik roknya ke atas, untungnya Rima mengenakan celana panjang di dalamnya jadilah tak masalah saat dia menaiki motor begini.


"Astaga motornya nyusahin banget ya," gerutu Rima yang di dengar oleh Andi.


Tiba-tiba Andi menancapkan gasnya membuat Rima Refleks memeluk lehernya.


Andi kemudian berhenti di bahu jalan karena merasa tercekik.


"Lu mau bunuh Gue!" sarksasnya.


"Ya kakak sih bikin aku kaget, lagian aku bingung mau pegangan apa Ka," elak Rima.


Gadis itu tak berbohong saat tadi dia benar-benar terkejut dengan ulah Andi dan refleks memeluk leher Andi sebab tangannya masih berada di bahu pemuda itu.


"Iya Ka maaf, refleks tadi," gerutu Rima.


Andi kini melajukan motornya secara perlahan, Rima hanya bisa memejamkan matanya kala wajahnya terkena terpaan angin.


"Rumah Lu di mana?" tanya Andi yang tak sadar di melajukan motornya tanpa tujuannya.


"Desa Hargo Mulyo Ka, nanti lampu merah belok kiri," ujarnya memberi arahan.


Rima harus mendekatkan wajahnya di dekat Andi karena lelaki itu tak mendengar ucapannya.


Andi hanya mengangguk lalu melajukan motornya ke arah rumah Rima.


Baru kali ini dia membawa seorang gadis menggunakan motornya. Kalau saja teman-temannya tau, habislah dia di ejek mereka.


Rima lalu menunjuk ke gang arah rumahnya. "Belok ke sana Ka."


Andi meliukkan motornya sesuai arahan Rima hingga akhirnya mereka sampai di rumah Rima.


Rima segera turun dan menegakkan punggungnya di depan Andi tanpa rasa malu.


"Ngapa lu?" tanya Andi bingung dengan kelakuan gadis di depannya ini.


"Encok beneran Ka, sumpah ini motor kakak ngga ada bagus-bagusnya," ucap Rima jujur


Bukannya dia mengejek, Rima hanya benar-benar mengutarakan isi hatinya.

__ADS_1


Andi tak marah, dia justru terkekeh mendengar ucapan Rima yang mengeluhkan motornya.


Di luaran sana banyak gadis yang berharap bisa di boncenginya menggunakan motor besar ini.


Namun Rima berbeda, gadis itu justru mengeluh dan mengejek motornya.


"Terus menurut Lu motor yang enak itu kaya gimana?" cibir Andi.


"Motor metic lah Ka. Oh iya malah ngobrol di luar, ayo masuk Ka, nanti aku buatkan minum," ajak Rima.


"Ngga usah, gue mau balik aja," tolak Andi sebab dirinya memang harus segera datang ke perkumpulan bersama teman-temannya.


"Ya udah, maka sih ya Ka, hati-hati di jalan," ucap Rima hanya di balas anggukan oleh Andi.


.


.


Andi memilih pulang dulu ke rumah sebab dia tak mau membuat khawatir mamahnya.


Dirinya sudah di sambut oleh istri muda ayahnya yang usianya bahkan lebih mudah darinya.


Seperti biasanya Andi akan mengacuhkan wanita hamil itu.


"Baru pulang Ndi?" sapa Ziva pada putra sambungnya.


Sejujurnya dia sangat tertarik dengan anak tirinya, tapi dia sadar jika dia dalam kondisi yang tak mungkin menggaet Andi, jadilah dia memilih bersabar sampai waktunya melahirkan beberapa bulan lagi.


"Mah," panggil Andi pada Lyra yang sedang bersantai di ruang keluarga.


"Eh sayang udah pulang? Mandi gih nanti mamah minta Bi Inah buat angetin makanan kamu," titah Lyra pada putra bungsunya.


"Engga usah Mah, aku mau langsung keluar abis ini," jelas Andi.


Lyra menaikan sebelah alisnya curiga. Semenjak ada Ziva di rumah itu, putranya memang lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah.


Bukannya tak mau mengerti perasaan anak-anaknya. Hanya saja Lyra berharap anak-anaknya mau mengerti dengan keputusannya mengamankan perempuan itu, jangan sampai Ziva di jadikan target untuk menggoyahkan bisnisnya.


Mereka juga tak memedulikan kehadiran perempuan yang sepertinya selalu mencari perhatian mereka.


Bagi Lyra, nama baik keluarganya adalah yang utama, oleh sebab itu dia masih mau terus bertahan dengan suaminya meski sering di khianati.


Padahal putra pertamanya— Danish, memintanya untuk menceraikan sang ayah.


"Loh Ndi, mau ke mana? Ini aku sengaja angetin makanan kamu loh," ucap Ziva tiba-tiba.


Andi bergeming dan mengepalkam tangan di balik saku celananya.


Sejujurnya dia muak akan sikap sok perhatian Ziva padanya.


Dia lalu berbalik menatap ibu tirinya dengan tatapan tajam, membuat nyali Ziva seketika menciut.


"Ngga usah ngurusin urusan Gue! Gue punya bi Inah yang bakal bantu Gue, urus aja suami lu itu!" sarkasnya.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2