
Ziva meringkuk ketakutan, dia juga tidak tau siapa ayah dari bayi yang di kandungnya, karena bisa di bilang dia mengumpankan tubuhnya pada banyak lelaki.
"Sabar Bu, jangan seperti ini, kalau ibu begini saya yakin Ziva malah akan semakin bungkam!" sela Nurma yang merasa iba dengan anak didiknya.
Tyas menangis histeris, tak menyangka anak yang di banggakannya bisa terjerumus ke pergaulan bebas seperti ini.
Ziva yang ketakutan memilih bungkam, dia lalu memberanikan diri berkata pada wali kelasnya.
"Bu boleh saya ikut ibu? Saya takut Bu?" rengeknya.
Sungguh remaja itu ketakutan jika dia kembali ke rumah bersama dengan sang ibu.
Ziva takut dirinya akan di hajar habis-habisan oleh Tyas.
"Loh kenapa? Kamu tenang aja, nanti ibu nasihati mamahmu! kalau mamah kamu memukulmu, kamu lapor aja sama pak Rt di lingkunganmu ya," jawab Nurma.
Bukan tega dan tak ingin membantu, tapi dia tak mau terlibat dengan urusan keluarga Ziva.
Biar saja mereka menyelesaikan permasalahan mereka sendiri. Cukup dirinya diam tak mengadu saja, harusnya mereka bisa lega.
"Sebaiknya Ziva di bawa pulang dulu ya Bu. Saya harap Ibu Tyas bisa sabar memperlakukan Ziva. Jangan gunakan kekerasan ya Bu," pinta Nurma menepati janjinya pada Ziva.
Ketiganya pulang di antar oleh Bagas menggunakan mobilnya. Dia harus memastikan Ziva kembali ke rumah dan tak ada kekerasan selama anak itu masih dalam pengawasannya.
Setelah sampai, Bagas juga berpesan yang sama seperti Nurma, agar Tyas tak melakukan kekerasan pada Ziva.
"Kalau kalian peduli, sebaiknya bawa saja anak tak tau diri ini!" sentak Tyas sambil mendorong Ziva mendekati gurunya.
"Ya Allah Bu, sebagai pengajar tentu kami akan berpesan demikian! Saya dan Bu Nurma juga sudah setuju membantu ibu sampai Ziva ikut ujian sekolah!" jawab Bagas tegas.
"Ya sudah Ziva, selesaikan baik-baik masalahmu, setelah itu temui Bapak atau Bu Nurma," pintanya lalu kembali melangkahkan kaki menuju depan gang kontrakan Tyas.
Baru juga menutup pintu, Tyas sudah menghajar Ziva habis-habisan. Titik memilih diam bergeming di sudut ruang tamu tempat dia dan Dita tidur.
"Ampun mah, sakit," pinta Ziva lirih.
Tangisannya begitu menyayat hati, bahkan suara makian Tyas terdengar hingga ke luar kontrakannya.
Tetangga yang mendengar hanya bisa diam tanpa mau ikut campur, mereka hanya tak menyangka remaja yang masih duduk di bangku menengah pertama itu ternyata hamil di luar nikah.
Tubuhnya yang masih lemas harus kembali tumbang saat Tyas memukulinya secara brutal.
__ADS_1
Hanya wajahnya saja yang selamat dari amukan sang ibu.
Tak ada yang mau menolong gadis malang itu. Bahkan sang nenek yang dulu sangat menyayanginya memilih diam bergeming.
Hati Titik sangat sakit saat mendapati sang cucu yang di kasihinya dan selalu dia banggakan bisa menjadi wanita murahan.
Bahkan sejak masih berada di klinik, wanita paruh baya itu lebih banyak diam.
Ingatannya kembali pada masa silam, di mana dia selalu memanjakan cucunya tersebut dan menyiksa cucu tirinya, yang tak lain adalah Rima.
Titik tak mau jika Rima lebih unggul dari pada Ziva, oleh sebab itu dia selalu melakukan segala cara untuk merendahkan Rima.
Namun Tuhan berkata lain, Rima tetaplah anak yang berprestasi meski dalam kekurangan.
Dia juga tetap menjadi anak yang baik meski sering di perlakukan kejam olehnya.
Ya Allah apa ini karma? Bapak maafkan ibu, kamu di mana pak. Ingin melihatmu yang terakhir kali pun ngga bisa.
Titik mengusap sudut matanya. Harapannya untuk bertemu dengan Dibyo di sidang putusan perceraian mereka pupus, kala Nina justru menghadirkan pengacara untuk menyelesaikan perceraian mereka.
Ziva masih saja meringkuk di lantai dan menangis.
Dita yang pulang merasa heran dengan keadaan kontrakannya dan juga Ziva yang menangis di ruang tamu.
Gadis itu juga masih saja jadi pengangguran, sifatnya yang pemalas tak pernah bisa bertahan lama dalam bekerja, membuat Titik yang harus menjadi tumpuan anak dan cucunya.
Titik sendiri sudah merasa lelah, di samping tubuhnya yang sudah tua, dia juga sudah sering sakit-sakitan akibat kerja kerasnya.
"Kenapa Ziva Bu?" tanya Dita karena tak mendapatkan jawaban dari keponakannya.
"Dia hamil," jawab Titik datar.
Dita justru tertawa mendengar jawaban sang ibu, membuat Titik dan Tyas yang berada di ruangan lain heran.
"Ngga heran sih, paling kamu bunting sama om-om yang suka bayar kamu ya Va!" tukas Dita santai.
Tyas yang mendengar penjelasan adiknya lalu bangkit menghampirinya.
"Maksud kamu apa Dit? Kamu tau sesuatu?" cecar Tyas.
"Ya nebak aja sih Mbak! Mbak aja yang ngga perhatian sama anak, masa anak punya barang-barang mewah ngga curiga!" jelasnya.
__ADS_1
Tyas lalu mengingat jika dia memang sempat tak peduli dengan barang-barang yang di miliki putrinya.
Saat Ziva mengatakan jika barang-barang miliknya hasil pemberian teman-temannya yang kaya, Tyas menganggap angin lalu saja.
"Loh, dia kan bilangnya dari temannya yang kaya-kaya itu, jelaslah Mbak ngga curiga!" elaknya.
"Mbak ... Mbak, pake dong otaknya, masa iya temannya ngsih terus, ngga mungkin banget kali. Lagian selama ini mbak liat ngga teman-teman Ziva datang ke rumah? Enggak kan? Kecolongan deh!" sambar Dita.
Dengan santai bibi Ziva itu memakan makanan yang baru saja di belinya, tanpa peduli permasalahan kakak dan keponakannya.
"Apa bener kamu jual diri Va!" sentak Tyas kembali murka.
Ziva masih bergeming, tantenya yang dia pikir bodoh, ternyata sudah lama curiga dengannya.
"Astaga Ziva! Kenapa kamu justru jual diri seperti itu! Menjijikkan!" bentak Tyas kesal dan hendak memukul lagi dirinya.
"CUKUP MAH!!" lawan Ziva, dia akhirnya bangkit duduk.
Tubuhnya yang masih terasa sakit seakan sudah tak sanggup menerima serangan keji Tyas lagi.
"MAMAH NGGA BERHAK MUKUL AKU! MEMANG APA YANG UDAH MAMAH LAKUKAN UNTUK AKU HAH! MAMAH SAMA PAPAH CUMA MIKIRIN DIRI SENDIRI!" teriaknya dengan suara serak.
"Mamah malu aku jual diri, tapi mamah menikmati uang Ziva. Bener kata Tante, apa mamah pernah tanya dari mana Ziva mendapatkan uang? Sekarang mamah hajar Ziva habis-habisan, bunuh aja Ziva sekalian Mah. BUNUH!"
Ziva benar-benar meluapkan emosinya pada sang ibu. Dia tak terima di salahkan begitu saja oleh Tyas.
Tyas bukannya sadar justru semakin murka mendengar penjelasan Ziva yang justru menyudutkannya.
"Dasar anak ngga tau di untung! Mending kamu pergi sana susul papah kamu yang tak diri itu! Malas sekali mamah harus mengurusi kamu dan anak haram itu!" maki Tyas sambil menoyor kepala Ziva.
Tak menolak, Ziva pun bergegas memberesi pakaian seadanya.
Dia memilih keluar dari rumah yang menurutnya seperti di neraka.
Saat tiba di halte bis, dia bingung hendak ke mana, akhirnya terbesit ide mendatangi kediaman Nina yang dia yakin budenya itu akan menerima kehadirannya.
.
.
.
__ADS_1
Tbc