Derita anakku

Derita anakku
Melabrak Baron


__ADS_3

Pemilik kontrakan dan seorang wanita yang berdandan hebohlah yang berdiri paling depan menatap Tyas dan Titik.


"A-ada apa ini Bu Darmi?" tanya Titik takut-takut pada pemilik kontrakan.


"Ini cucu situ kan?" ujar Darmi sambil menunjukkan ponselnya pada Titik.


Ternyata video itu sudah tersebar bahkan sampai keluar sekolah.


Wajah Titik berubah pias, dia takut kalau apa yang selama ini di pikirkan akan terjadi.


"Benar ngga Bu Titik!" bentak Darmi yang mulai kesal.


"Be-benar Bu," lirih Titik.


"Mana suami cucu ibu? Ah salah, mereka akan segera menikah kan?" ralat Darmi.


Perempuan paruh baya bertubuh gempal itu tak akan serta merta mengusir Titik dan keluarganya karena masalah ini.


Dia hanya ingin tahu kelanjutan nasib Ziva yang katanya sudah terlanjur hamil.


Kalau mereka berniat menikahkan cucunya, maka dia tak akan mempermasalahkan keberadaan mereka di sini.


Namun kalau ternyata mereka tak bisa menikahkan Ziva, apa pun alasannya, dia terpaksa akan mengusir Titik dan keluarganya dari sana.


Titik menatap Tyas yang masih bergeming. Sebab Tyas sendiri bingung harus menjawab apa.


Ziva sendiri tak tau siapa ayah dari bayi yang di kandungnya.


Bahkan gadis polos itu hanya di tipu oleh Baron untuk jadi wanita penghibur dengan bayaran yang kecil.


Nasib sial benar-benar di alami oleh Ziva. Dia hanya bisa menunduk takut di dalam kontrakannya.


"Jawab Bu Titik, Bu Tyas! Jangan diam aja!" bentaknya yang mulai habis kesabaran.


"Udahlah Bu Darmi usir aja mereka. Mau-maunya sih nampung penzina! Bisa sial nanti kita di sini!" ucap salah satu warga yang ikut rombongan mereka.


Di katakan sebagai seorang penzina, meski kenyataannya begitu, Tyas tetap tak terima.


"Heh! Enak aja kalian bilang penzina! Emangnya kalian punya bukti kalau Ziva melakukan zina di sini! Enggak kan, jangan sembarangan kalau ngomong," balasnya sengit.


Terlihat sekali kebodohan Tyas, meski tidak dilakukan di rumah, tetap saja apa yang Ziva lakukan tetaplah berzina.


"Sudah kalian tenang dulu, kita lihat apa jawaban mereka!" sela Bu Rt. meminta warganya untuk tenang dan tak berbuat kericuhan.


"Jawab pertanyaan kami Bu Tyas, kapan anak kamu akan di nikahkan?" tanya Bu Rt.


"Me-mereka masih terlalu kecil Bu Rt, jadi kami menunda sampai waktu yang di tentukan oleh pemerintah untuk menikah," ujar Tyas memberi alasan.

__ADS_1


"Alah alasan! Masih kecil nyatanya mahir bikin anak!" ucap salah satu ibu-ibu lagi.


"Bener Bu, emang pemerintah memberi aturan umur sembilan tahun baru boleh menikah, tapi kalau udah kadung isi duluan ya tetap harus menikah!" sambar yang lainnya.


Tyas merasa terpojok, dia bingung harus membela diri seperti apa lagi.


"Apa keluarga laki-lakinya menolak tanggung jawab? Kalau iya, kami akan bantu Ibu, ayo kita ke sana beramai-ramai, mereka pasti akan ketakutan!" sambung Bu Darmi.


Tyas tak mungkin mengatakan kalau Ziva hamil tanpa di ketahui siapa ayah dari bayi yang di kandungnya. Dia sedang memikirkan alasan apa lagi yang harus di berikan, karena ia yakin pasti mereka akan di usir kalau tidak mau menikahkan Ziva sesegera mungkin.


Tiba-tiba dia memiliki ide, mungkin tak akan mudah di percaya oleh mereka, tapi bisa di coba, toh dia sedang terdesak, pilihan apa pun sangat sulit baginya saat ini.


"Iya, Bu ibu, mereka menolak tanggung jawab, hu ... hu ..." tangisnya pecah, aktingnya benar-benar bagus. Air mata Tyas seolah mudah untuk di ajak bekerja sama, saat Tyas akan menangis, maka dia mudah saja melakukannya.


Ibu-ibu yang datang di sana sedikit iba dengan penjelasan Tyas.


"Ya udah ayo kita ke sana sekarang aja!" ajak Bu Darmi.


Tyas kalang kabut, tadinya dia pikir Darmi akan melepaskannya dan membiarkan keadaan mereka seperti ini, tapi ternyata salah, justru Darmi memaksa mendatangi lelaki yang menghamili Ziva itu.


Aduh, mati aku! Niatnya bikin mereka iba, malah jadi begini!


Titik menatap Tyas bingung, karena jawaban Tyas seperti bumerang bagi mereka.


"Ayo Bu Tyas, jangan diam aja! Kami ini udah mau loh cape-cape bantu Ibu!" sentak Darmi yang sudah tak sabar.


"Ta-tapi Bu, mereka kabur," elak Tyas membela diri.


"Sembarangan Bu Darmi kalau ngomong! Anak saya hamil anak pacarnya, jadi jangan berpikiran buruk tentang anak saya!" balasnya sewot.


Meski dalam keadaan genting pun sikap Tyas tetap arogan, membuat ibu-ibu di sana yang melihatnya menjadi geram.


"Ya udah ayo buktikan pada kami kalau emang benar! Saya akan berbaik hati menerima kalian di sini kalau emang ucapan kalian itu benar!" paksa Darmi.


"Tapi kalau emang kalian berniat mengelak, maka hari ini juga kalian angkat kaki dari rumah saya!" ancamnya.


"Aduh Mbak! Kamu itu nyusahin sekali sih, gimana kalau sampai Bu Darmi mengusir kita! Mau tinggal di mana kita?" bisik Dita kesal.


"Ba-baiklah Bu, ayo kita ke sana," ajak Tyas akhirnya.


Darmi dan yang lainnya bernapas lega. Tyas dan keluarganya memilih masuk terlebih dahulu dan meminta mereka untuk sabar, karena dia akan berganti pakaian, begitulah alasan Tyas.


"Kamu kalau ngomong sembarangan banget sih Yas? Emang kamu mau ke mana? Kalau sampai ketahuan bohong, bisa lebih parah mereka menghakimi kita!" ucap Titik kesal.


"Lalu harus gimana Bu? Aku juga bingung, aku juga sedang hamil, kalian hanya bisa mendesakku, ngga bisa membantu sama sekali!" jawab Tyas kesal.


"Va, kasih tau Mamah siapa laki-laki terakhir yang memakaimu?" ucap Tyas pada Ziva yang sejak tadi diam meringkuk.

__ADS_1


Ziva mendongak menatap ibunya, tak tau harus menjawab apa.


"Udah bilang aja siapa yang terakhir, paling enggak kita bisa mendesak dia!" pinta Tyas paksa.


Ziva ingin menolak, dia tak mungkin bilang kalau Baronlah orang terakhir dan paling sering memakainya tanpa membayar.


Dia juga tak mau menikah dengan lelaki tua yang lebih cocok di panggilnya kakek itu.


"Ta-tapi Mah," lirihnya mencoba mengelak.


"Ngga usah tapi-tapian! Ayo cepat!" paksa Tyas.


Akhirnya mereka berempat keluar untuk menemui ibu-ibu yang masih setia menunggu mereka di depan.


"Baiklah Ibu-ibu, cukup saya dan Bu Darmi yang datang ke sana, nanti kami akan memberikan penjelasan pada kalian ya," ucap Bu Rt membubarkan kerumunan.


.


.


Mereka semua mengendarai mobil Darmi dengan Pak Rt sebagai sopirnya.


Untungnya Ziva tau kediaman Baron di mana dia bisa menunjukkan rumah lelaki itu pada mereka, tanpa hambatan.


"Wah pacar kamu orang kaya ya Ziva? Pantas mereka menolak bertanggung jawab sama kamu!" cibir Darmi.


Tyas kesal mendengar hinaan pemilik kontrakannya lalu menjawab dengan ketus, "jelas saja pacar anak saya kaya, pergaulannya dia kan memang di kalangan anak-anak kaya!"


Dia merasa senang karena ternyata lelaki yang menghamili putrinya adalah lelaki kaya. Mereka hanya melihat dari rumah besar itu saja.


Mobil Darmi berhenti di depan rumah Baron. Keamanan rumah itu lantas mendekati mereka.


"Sore, ada yang bisa saya bantu?" sapa penjaga keamanan rumah baron dengan ramah.


"Rumahnya aja ada satpamnya," ucap Bu Rt takjub.


Tyas merasa bangga karena kini dia bisa mendongakkan kepalanya lagi setelah tau sekaya apa lelaki yang menghamili putrinya, dia akan memaksa lelaki itu tanggung jawab bagaimana pun caranya.


"Ziva, siapa nama pacar kamu?" tanya Pak Rt


"Ba-Baron Pak," jawab Ziva gugup, saat ini dia justru sangat ketakutan.


Pernah dulu dia bertemu dengan istri Baron, menurut Ziva wanita itu terlihat bengis dan kejam, Ziva bahkan menyebutnya sebagai nenek sihir saking menyeramkannya wajah istri Baron.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2