Derita anakku

Derita anakku
Perhatian Andi


__ADS_3

Andi mendatangi Basecampnya menggunakan motor gede kesayangannya.


Semua teman-temannya telah berkumpul menunggunya.


"Bangkeee nih anak lama bener dah! Abis ngapain sih?" gerutu Theo.


"Brisik!" balas Andi setelah meletakan pelindung kepalanya di atas motor.


Tiba-tiba seorang gadis bernama Clara mendekatinya. Mereka memang satu kelompok di geng motor yang mereka beri nama Knight's klub.


"Gue kira lu kagak dateng Ndi," ucap Clara setelah duduk di sebelah Andi.


Semua sangat tahu gadis itu telah lama menyukai Andi, tapi begitulah Andi, lelaki itu seperti tak peduli dengan berbagai sindiran rekan-rekannya yang mencoba mencomblangi keduanya.


"Gimana persiapan ntar malem?" tanya Andi menatap teman-temannya.


"Elah, kasian itu ada yang di cuekin," sindir Gyan.


"Apaan sih lo Yan!" gerutu Clara menghilangkan rasa malunya.


Andi lalu menatap ke arah Clara, dari dulu dia hanya menganggap gadis itu temannya. Meski saat ini beda sekolah, setidaknya dulu mereka pernah menempuh pendidikan di sekolah menengah pertama bersama.


"Motor lu dah beres, yakin Lu mau tanding lawan Mario?" sela Luke.


"Yakinlah udah lama juga gue ngga turun ke jalan," sanggah Andi.


"Di mana emang balapnya?" sambungnya lagi.


"Di daerah Hargo Mulyo, ada jalanan sepi di sana, bagus juga treknya," jawab Noval meski pandangan matanya masih sibuk dengan game di ponselnya.


Andi manggut-manggut setuju. "Berapa taruhan yang dia minta?"


"Sepuluh juta," jawab Luke.


"Ok, kalian dah kabarin mereka kan?" sambarnya.


"Udahlah, kalau lu kagak turun paling si Gyan apa Noval yang maen," jelas Theo.


"Kangen Gue maen trek lagi," jawab Andi.


Clara hanya mendengarkan obrolan mereka saja. Sejujurnya dia bertahan di geng motor Andi karena selalu ingin dekat dengan sahabatnya itu.


"Cari makan yuk, laper Gue," ajak Andi kemudian.


"Elah dari tadi kek, dah laper gue ini!" balas Gyan.


Pemuda itu mendapatkan toyoran dari teman-temannya karena selalu merasa kelaparan.


"Heran Gue Yan ma lu, tadi Gue bawain roti dari nyokap lu embat paling banyak, tapi herannya kagak kenyang-kenyang lu!" sungut Noval pada sahabatnya.


"Bener, dah gitu dia makan paling banyak tapi badan kek biting aja!" sambung Theo.


"Cacingan kali," celetuk Luke tiba-tiba.


Semuanya tertawa mendengar ucapan Luke yang mengatakan jika Gyan cacingan.


"Sialan! Itu anugerah tau," sungut Gyan membela diri.

__ADS_1


Mereka mengendarai motor masing-masing. Hanya Clara yang menggunakan motor matic di antara mereka.


Ke enam muda-mudi itu menuju tempat makan pinggir jalan yang jadi tempat langganan mereka, salah satunya warung nasi goreng Abah Udin.


Tiba-tiba mata Gyan melihat sosok yang tak asing menurutnya.


"Bukannya itu si Rima?" tunjuknya pada sosok gadis cantik yang sedang mengantre di gerobak martabak.


Andi pun melihat ke arah yang di tunjuk Gyan, sudut bibirnya terangkat saat melihat gadis cantik yang berhasil mengacaukan harinya tadi.


"Cakep juga tuh bocah," celetuk Theo yang ikut memperhatikan Rima dari kejauhan.


Gadis yang menggunakan hijab cokelat dan baju hijau mint itu memang sangat terlihat pas di kulit Rima.


Clara yang memperhatikan sikap Andi merasa sedikit cemburu dengan gadis yang di panggil Rima oleh teman-temannya itu.


Apa selera Andi berubah jadi gadis seperti itu? Batin Clara.


Andi masih tetap memperhatikan Rima dari jauh, hingga tak lama sebuah motor metic berhenti di dekatnya dan Rima menaiki motor itu bersama seorang pria yang tidak di kenal oleh Andi.


Tiba-tiba mood Andi berubah saat melihat itu, entah kenapa perasaannya jadi kacau. Pemuda itu belum menyadari perasanannya pada Rima.


"Yah kacau, dah punya cowok!" gerutu Gyan.


"Baru mau gue jadiin gebetan juga!" sambung Theo.


"Vangke! Tuh Caludia mau lu ke manain?" sarkas Noval.


Sedangkan Andi entah kenapa perasanannya jadi campur aduk melihat pemandangan tadi.


Andi hanya menggeleng lalu melanjutkan makannya.


Malam itu untungnya mereka gagal melakukan tanding dan di ganti malam minggu besok.


Andi merasa lega karena mendadak pikirannya kalut dan ia tak yakin bisa berlomba dengan tenang malam ini.


.


.


Keesokan paginya mood Andi kembali buruk, saat dia melihat Rima lagi-lagi di antar oleh lelaki yang menggunakan motor metic.


Kini dia bahkan tau kalau kekasih Rima adalah pria dewasa yang sudah mapan dan matang secara pemikiran.


"Pantes dia bilang mending pake metic! Sialan di kadalin gue," gerutunya.


"Hah! Lu ngomong apa dah Ndi?" sambar Gyan yang tak paham dengan ucapan sahabatnya itu.


"Berisik lu Yan!" kesalnya.


Gyan hanya menggeleng melihat kelakuan sahabatnya itu. Dia merasa jika sejak datang tadi Andi selalu aja uring-uringan ngga jelas.


Hari ini adalah hari terakhir mereka mengadakan acara orientasi murid baru.


Semua murid baru sangat antusias, sebab mereka sudah tak sabar ingin menggunakan seragam putih abu-abu seperti kakak kelas mereka.


"Yu! Kemarin kamu ke mana sih? Katanya mau nunggu aku di ruang olah raga!" gerutu Rima pada Ayu.

__ADS_1


Gadis yang di tanya itu justru mengernyit heran saat Rima mengeluhkan tentang kejadian kemarin.


"Hah? Aku ke sana kok, tapi sepi makanya pulang, telepon kamu juga ngga bisa di hubungi," jelasnya.


"Masa sih, orang aktif kok, cuma emang ngga aku bawa aja," jawab Rima.


"Hei kalian berdua!" panggil Vera menggunakan pengeras suara, membuat beberapa murid di depan menutup telinga mereka.


"Iya kamu yang namanya Rima sama temennya sini! Ngobrol aja kalian," omel Vera pada keduanya.


Rima dan Ayu saling menyenggol dan menyalahkan karena suara mereka membuat kakak kelasnya marah.


"Lagian kamu sih Yu, kenceng banget ngomongnya," gerutu Rima.


"Ya aku kaget kali tadi, abisnya tau-tau kamu nyalahin aku," balas Ayu membela diri.


Keduanya menghadap Vera sambil menunduk, jujur Rima takut di kerjai lagi oleh kakak kelasnya ini.


Dia selalu merasa kakak kelasnya ingin sekali membuat dirinya sengsara padahal dia sudah melakukan apa yang di minta oleh mereka, tapi tetap saja selalu salah.


"Kalian ini ngga ngehargain orang lagi ngomong apa!" bentak Vera.


"Kalau ada pembina lagi ngejelasin, dengerin, bukannya ngobrol sendiri!" Ucap Vera kesal.


"Maaf Ka," balas Rima dan Ayu bersamaan.


"Sebagai hukuman, kalian lari keliling lapangan tiga kali," titah Vera.


Rima dan Ayu saling melempar pandangan, mereka tak menyangka hukumannya akan seberat itu.


Lari mengelilingi lapangan sekolah merupakan hal paling berat bagi murid perempuan, di samping susah karena menggunakan rok, pakaian mereka juga tidak menyerap keringat.


Namun apa yang bisa di lakukan keduanya? Menolak? Tentu saja tak akan berani mereka lakukan.


"Baik Ka," jawab keduanya lesu.


Rima mulai berlari mengelilingi lapangan. Dia yang sedang datang bulan di hari pertama tentu merasa sangat kesulitan.


Perutnya tiba-tiba kram membuatnya jatuh meski baru setengah putaran.


Andi yang berada di kelas tak jauh dari tempat Rima terjatuh segera menghampiri gadis itu.


Tanpa banyak kata Andi langsung menggotong tubuh Rima untuk di bawa ke UKS.


Vera yang melihatnya dari jauh mengepalkan tangan karena merasa sangat cemburu.


Bukan hanya Vera, Yura yang juga naksir berat dengan Andi juga tak terima kala pujaan hatinya menggendong gadis lain.


"Sialan, siapa sih tuh cewek, kegatelan bener gangguin Andi!" gerutunya.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2