
Nina harus tenang menghadapi kelakuan aneh Budi dan keluarganya.
Iya yakin jika Budi hanya mampu menggertak saja. Dia sangat bersyukur Tuhan sudah membuka topeng lelaki busuk ini sebelum dia benar-benar jatuh hati padanya.
"Oya? Ada surat perjanjiannya? Ingat, semua harus ada buktinya mas, kalau urusan ganti rugi, ganti rugi apa yang kalian tuntut? Aku ngga pernah bilang kamu harus datang ke sini kan? Jadi cepat pergi dari sini, aku muak melihat kalian!" jawab Nina ketus.
Budi terkejut, dia mengira Nina adalah wanita kampung yang akan menurut karena mudah di bodohi, ternyata Nina adalah wanita cerdas, yang bisa dengan mudah membalik ucapannya.
"Kamu!" tunjuk Nurdin pada wajah Nina.
"Turunkan tangan Anda pak dan cepat angkat kaki dari rumahku!" usir Nina tegas.
Budi yang merasa kalah telak, hanya bisa pasrah dan mengambil uang miliknya di meja, lalu menatap Dibyo kesal.
"Dasat orang tua bodoh!" makinya pada Dibyo.
Dibyo terkejut karena tak di sangka Budi akan sekasar ini. Meski dia sering sebal dengan kelakuan lelaki itu, tapi dia tak menyangka jika Budi sangat arogan dan tak sopan.
Nina diam saja saat melihat Dibyo di maki oleh Budi, bagaimana pun dia tau sang bapak juga salah.
Jannah dan Rahma keluar dengan menatap Nina sengit, bahkan sumpah serapah mereka masih terdengar setelah mereka keluar dari rumahnya.
Kini tinggal Dibyo dan Nina, beruntung Rima tak keluar dari kamarnya jadi tak perlu menyaksikan perdebatan mereka tadi.
Meski Nina yakin sang putri pasti tau ada keributan di rumah mereka.
Dibyo merasa gugup berhadapan dengan Nina saat ini, dia sedang mencari alasan untuk menyelamatkan dirinya.
"Katakan pak!" tanya Nina tajam.
"Ma-maaf Nin, bapak ngga pinjam, apa yang di ucapkan Budi itu ngga benar, dia yang kasih uangnya ke bapak kok!" elak Dibyo.
Nina memejamkan matanya, lagi-lagi dia harus di kecewakan sang bapak. Sepertinya Nina sudah habis kesabaran menghadapi Dibyo.
"Kalu iya, mana uangnya? Bapak itu kan di rumah aja, jadi ngga mungkin kalau uang itu bapak pakai?" cecar Nina.
Dibyo sangat gugup, dia bingung harus beralasan apa lagi.
"Jangan bilang kalau uangnya bapak kasih ke Bu Titik?" tebak Nina tepat sasaran.
Dibyo menatap Nina takut-takut, dia tau tak akan bisa membohongi putrinya yang cerdas.
Nina menarik napas dan menghembuskannya secara kasar. Janda satu anak itu seperti ingin sekali membuang sesuatu yang menyesakkan hatinya.
Enggan melanjutkan perbincangannya dengan sang bapak, Nina memilih berlalu dan menenangkan diri. Memikirkan jalan untuk bisa membuka hati bapaknya yang telah salah langkah.
__ADS_1
Sepertinya Nina merasa jika dia kurang tegas pada bapaknya, hingga Dibyo seperti tak pernah menyesal telah menyakiti hatinya.
Dibyo juga bingung harus mengatakan apa, dia enggan menjelaskan secara rinci mengapa dia harus memberikan uang itu pada istrinya.
Dia masih merasa paling nanti sang putri mendiamkannya seperti biasa dan Dibyo tak peduli, setidaknya dia tak lagi perlu tertekan dengan desakan Budi.
.
.
Keesokan harinya, Dibyo terkejut kala Wingsih dan Prapto mendatangi kamarnya dan merapikan pakaiannya ke dalam koper dan beberapa tas.
"Wingsih, Prapto kalian apa-apaan! Kenapa kalian mengepak pakaianku!" bentak Dibyo tak terima.
Biasanya Prapto datang membantu Dibyo untuk duduk di kursi rodanya, tapi pagi ini dia di minta untuk membereskan barang-barang Dibyo tanpa harus menjelaskan pada Dibyo, begitu lah titah Nina.
Dibyo yang geraknya terbatas hanya bisa berteriak meminta penjelasan pada sepasang suami istri itu.
Pikiran buruk sudah memenuhi benak Dibyo, dia yakin sang putri akan mengirimnya ke panti jompo.
Dia tak akan tinggal diam, dia tak mau Nina memperlakukannya semena-mena seperti ini.
Setelah semua barang Dibyo selesai di kemas, Prapto hendak memindahkan Dibyo ke kursi roda. Namun laki-laki itu memberontak karena dia tau akan di asingkan setelah ini.
Merasa kewalahan Prapto meminta Nina agar mengizinkannya meminta bantuan pada warga lain.
Di dalam kamar, Dibyo masih berteriak dan memaki Nina. Hingga akhirnya Nina masuk ke dalam kamar sang bapak.
Nina melipat kedua tangannya di dada, dia berdiri di depan pintu. Dibyo yang melihat Nina lalu berhenti berteriak.
Sekuat tenaga dia gulingkan tubuhnya hingga jatuh dari ranjang, dia seret tubuhnya agar bisa mendekati Nina.
Setelah sampai di hadapan Nina, Dibyo memegang kaki Nina erat sambil bercucuran air mata.
"Nina maafkan bapak, tolong jangan usir bapak Nina. Kamu bisa jadi anak durhaka kalau melakukan hal ini pada bapak Nak! Jangan Nak jangan lakukan ini!" rengek Dibyo.
Nina menulikan pendengarannya. Sudah cukup dia memaklumi kelakuan sang bapak, dirinya bukan bermaksud tak mau mengurus, dia hanya ingin sang ayah tau jika semua perbuatan pasti ada konsekuensinya.
Dibyo hanya pasrah kala tubuhnya di gotong ke dalam mobil, dia sudah lelah memohon, jadi dia menerima apa pun yang akan di lakukan Nina padanya.
Nina sendiri memilih duduk di depan bersama sang sopir yang di sewanya. Dibyo bersama Prapto duduk di tengah, sedangkan Rima duduk bersama Wingsih di belakang.
Dibyo masih terisak di belakang, sedangkan Nina pikirannya menerawang jauh sebelum perilaku sang bapak yang sangat berubah.
Dia mengingat kejadian dulu kala bersama mendiang suaminya, Rima kecil dan juga ayah ibunya hidup mereka terasa bahagia.
__ADS_1
Namun kini semuanya berubah, sang bapak berubah setelah bertemu dengan istri barunya, terkadang pasangan juga bisa merubah sifat seseorang, begitu juga dengan Dibyo
Nina tau sang bapak yang memiliki sifat penyayang dan tak tegaan pasti selalu di manfaatkan oleh Titik, maka sebab itu Nina memilih mengungsikan sang ayah ke tempat jauh, agar sang ayah melupakan ibu tirinya itu.
Mereka sampai di desa yang tak asing bagi Dibyo. Setelah menempuh lima jam perjalanan, ternyata dia kini berada di kampung halamannya.
Nina tak setega itu hingga ingin membiarkan bapaknya di panti jompo.
Dari pada di sana, Nina berpikir akan menitipkan sang bapak pada pamannya, yang notabenenya adalah adik kandung Dibyo.
Sepasang suami istri paruh baya itu lantas menyambut rombongan Nina di depan rumah.
Terukir senyum di wajah keduanya menyambut keluarga yang sudah lama tak bisa mereka temui.
"Mbak Nina," panggil Sugi pada sang ponakan. Dia memang membiasakan memanggil Nina dengan sebutan Mbak untuk mengajari anak-anaknya.
"Paman, Bibi," jawab Nina hingga menghambur memeluk keduanya.
"Ya Allah nduk, kamu sehat kan?" tanya Asih pada keponakannya dengan mata berbinar.
Keduanya memang menyayangi Nina seperti anak kandungnya sendiri. Saat Nina bekerja di luar negeri, Nina bahkan selalu mengirimi mereka uang untuk membantu perekonomian keluarganya, terutama untuk sekolah Galih putra mereka.
"Paman, Bibi sehat?" sapa Nina.
"Alhamdulillah, mana bapakmu Mbak?" tanya Sugi sambil melihat ke arah mobil.
Prapto, Wingsih dan Rima turun untuk menyapa keluarga Dibyo terlebih dahulu.
"Ya ampun ini Rima ya Nduk, cah ayu, cantik sekali kamu ini," ujar Asih pada Rima.
Prapto dan Sugi bergotongan mengeluarkan Dibyo dari dalam mobil.
Dibyo tadi sempat kaget karena ternyata dia di bawa ke rumah adiknya, tidak seperti pikirannya yang akan di titipkan di panti jompo.
Namun tetap saja, dia tak suka tinggal di kampung halamannya, sudah pasti dia tidak akan bisa bertemu dengan Titik lagi.
Padahal dia punya rencana akan merujuk Titik setelah keadaan cukup tenang. Kalau seperti ini pupus sudah harapannya.
.
.
.
Tbc
__ADS_1