
Rima sudah di rias dengan begitu cantik. Dia sungguh penasaran siapa gerangan laki-laki yang hendak menikahinya itu.
Tak satu pun dari keluarganya mau memberitahunya. Semua seakan kompak ingin memberi kejutan padanya.
"Mereka kaya yakin banget sih sama orang ini. Ka Andi juga seperti biasa aja waktu aku izin. Dia benar-benar berubah," keluhnya lirih.
"Ka keluarga pengantin lelaki udah dateng," ucap Aneke semangat.
Jantung Rima seakan berdetak semakin kencang. Sebentar lagi dia akan menjadi milik orang lain.
Mampukah dia mencintai suaminya?
Mampukah dia melupakan Andi? Pertanyaan itu bermunculan dalam pikirannya saat ini.
"Kakak kenapa murung begitu?" tanya Aneke heran.
"Kakak tenang aja, Ibun sama ayah enggak mungkin salah mencari jodoh buat kakak," ucap calon Dokter anak itu.
"Awas aja kamu nanti. Pasti Ibun sama Ayah juga bakal jodohin kamu," gerutu Rima.
"Ye ... Aku mah beda dong, kan aku mah udah punya calon. Emang kakak jomblo, makanya di jodohin," ejek Aneke.
Rima mencibir kesal. Terdengar di ruang tamu suara orang sedang mengaminkan doa salah satu pemuka agama sebelum acara akad nikah di ucapkan.
Waktu yang di tunggu pun tiba, calon suaminya tengah bersiap mengucapkan ijab kabul dengan wali hakim sebab Rima adalah anak yatim sedangkan saudara ayahnya semuanya perempuan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Rima Kusmarini binti Bagus Prawiro dengan mas kawin lima puluh gram mas logam mulia, di bayar tunai," ucap suami Rima lantang.
Kamar Rima yang terletak di lantai dua mendadak senyap, dia ingin tahu suara lelaki yang hendak menjadi suaminya.
Suaranya berat, agak sedikit familier baginya. Namun dia tak bisa menebak siapa, sebab jika menggunakan pengeras suara pasti suara seseorang akan sedikit berbeda.
Setelah kata 'sah' dari para saksi terdengar, luruhlah air mata Rima. Bukan air mata bahagia. Dia menangis dalam hati melepaskan cinta pertamanya.
"Alhamdulillah," ucap Aneke yang justru bersyukur acara akad nikah sang kakak berjalan lancar.
Tak lama Nina datang bersama dengan Ajeng untuk menjemputnya menemui sang suami di bawah.
"Ayo sayang, sudah di tunggu suamimu!" ajak Nina haru.
Rima masih menunduk, merasakan sesak di dadanya.
Nina yang tahu akan kegundahan hati putrinya lantas mengusap lembut punggung Rima, berusaha menenangkannya.
"Ternyata kebaya ini akal-akalan mbak Ajeng aja ya!" gerutu Rima saat tahu bahwa alasan di balik mengidam sang bibi mudanya adalah untuk membeli kebaya untuknya.
__ADS_1
Benar-benar skenario yang sangat sempurna, hingga dirinya bahkan tak tahu sedang di tipu.
"Alah, abis ini kamu pasti berterima kasih sama mbak! Jangan lupa nanti mbak pasti bakal nagih sesuatu loh," jawab Ajeng cuek.
"Cih! Terima kasih apa, emang aku mau ngasih apa ke mbak Ajeng? Enggak sudi," jawab Rima ketus.
"Udah-udah kalian berdua ini malah berantem mulu. Nanti malah kangen suasana kaya gini!" sela Nina.
Rima akhirnya turun dengan di apit oleh Nina dan Aneke, sedangkan Ajeng berjalan di belakang mereka karena perutnya yang sudah sedikit membesar membuat langkahnya sedikit lambat.
Rima sangat takut melihat suaminya. Dalam hati batinnya berperang untuk melihat rupa suaminya atau memilih tetap menunduk.
Pada akhirnya saat berada di ujung tangga, sang suamilah yang justru mendekat ke arahnya dan mengulurkan tangan untuk menggandeng dirinya.
Barulah saat itu Rima menengadahkan wajahnya menatap suaminya.
Betapa terkejutnya dia saat melihat seseorang yang tadi dengan lantang menyebut namanya dalam akad nikah adalah seseorang yang sudah mencuri hatinya.
"Ka ... Ka Andi?" gagapnya.
"Assalamualaikum istriku," jawab Andi dengan senyuman yang mampu membuat para anak gadis tetangga Nina meleleh semua.
Rima lantas menoleh ke arah sang ibu tak mengerti. Nina yang paham akan kebingungan sang putri hanya mengangguk, sebagai jawaban.
Rima bingung dengan kenyataan hidupnya. Mengapa bisa dia tiba-tiba menikah dengan seseorang yang memang dia inginkan.
Rima ingin memprotes segala pikiran yang kini berkecamuk di kepalanya, tapi lidahnya kelu. Dia hanya bisa diam mengikuti segala proses pernikahannya saat ini.
Acara hari ini yang hanya merupakan acara akad dan makan-makan bersama tamu undangan tak membutuhkan waktu lama.
Setelah menandatangani segala berkas pernikahan tak lupa juga penyematan cincin di jari masing-masing, para penghulu dan saksi serta tamu undangan satu persatu memilih pamit undur diri.
Setelah banyak dari anggota keluarga dan tetangga pergi, kini akhirnya Rima bisa mengeluarkan unek-uneknya.
"Ini coba jelaskan Ka, apa maksudnya?" cecarnya saat mereka tengah berada di ruang keluarga.
Andi mengernyit bingung dengan ucapan istrinya.
"Ada apa sayang? Maaf kalau aku enggak bilang-bilang sama kamu. Tapi aku penuhin janji kita dulu kan?" jawab Andi heran.
Rima tiba-tiba menangis, bukan seperti ini yang dia inginkan. Dia memang ingin menikah dengan Andi, tapi bukan juga jadi istri kedua.
"Aku memang menunggu kakak, tapi bukan jadi istri kedua juga Ka. Aku enggak mau," ucap Rima yang semakin membuat Andi bingung.
"Maksud kamu apa Rim?" sela Ajeng yang mulai gemas dengan keduanya. Ibu hamil itu turut khawatir dengan kegundahan keponakannya itu, jangan sampai pernikahan ini justru menjadi petaka bagi gadis baik seperti Rima.
__ADS_1
Nina dan Ahmadi yang juga khawatir lantas meminta penjelasan dari menantunya.
"Ada apa ini Rim, sungguh aku enggak paham apa maksud kamu," jawab Andi semakin bingung.
Rima menangis, tak tahan dengan derita yang sedang dia rasakan. Sesak sudah pasti. Dia tak ingin bahagia di atas penderitaan wanita lain.
"Tolong jelaskan sama aku, apa maksud kamu istri kedua? Kamu istri aku satu-satunya Rim!" cecar Andi.
Rima menyeka air matanya dan mulai menjelaskan.
"Aku pernah lihat kakak bersama seorang perempuan dan anak kecil di lobi kantor," ucapnya.
"Hah! Maksud kamu Febri? Tunggu—" jawab Andi sambil mengecek ponselnya.
"Apa maksud kamu perempuan dan anak laki-laki ini?"
Rima mengangguk saat melihat foto seorang wanita dan anak laki-laki yang dia pikir adalah istri dan anak Andi bersama dengan Denish kakak dari Andi.
"Dia itu kakak ipar aku, istri sama anaknya Denish," jelas Andi.
"Benarkah perempuan itu Rim?" sergah Galih yang belum merasa tenang.
"Iya Mas, dia perempuan yang sama," jawab Rima yang sedikit mulai melega.
"Tapi kenapa kamu kelihatan mesra sama kakak ipar kamu Ka?" cecar Rima yang sekarang curiga dengan hubungan keduanya.
Astaga, andaikan dia sedang tidak di sidang, ingin sekali Andi melahap istrinya yang menggemaskan menurutnya kala sedang cemburu.
"Mesra gimana?"
"Mesra lah, dia gandeng diem aja kamunya, malah kaya nikmatin gitu!" gerutu Rima.
"Kamu cemburu?" ledek Andi yang mendapat pukulan bantal sofa di wajahnya.
"Ya ampun aku baru nikah udah nerima KDRT!" gurau Andi.
"Ayo jelasin kenapa kakak diam aja di gandeng sama kakak ipar kamu tuh!" cecar Rima yang tak mau di alihkan.
"Benar juga Ndi, kami juga enggak melihat keberadaan kakak dan iparmu itu tadi," sahut Ahmadi.
.
.
.
__ADS_1
Tbc