
Sepulang dari rumah sakit, Andi semakin gencar mendekati Rima dengan berbagai cara, dari meminta gadis itu untuk merawatnya, hingga membuat mereka sering menghabiskan waktu bersama.
Jika Andi sangat senang dengan kedekatan mereka, berbeda dengan Rima yang merasa frustrasi dengan tatapan sinis dari para siswi di sekolahnya.
Terlebih lagi ucapan teman-temannya yang selalu menyangka dirinya memiliki hubungan dengan Andi.
Seperti saat ini, Roby menemuinya dan bertanya padanya tentang kedekatannya dengan Andi.
"Kamu serius pacaran sama Andi Rim?" tanyanya tajam.
"Ya ampun Rob, dia itu senior kita, kok kamu main panggil nama aja sih, ngga enak kalau kedengaran kakak kelas kita yang lain tau," tegur Rima.
"Ck! Ngga ada orang ini," elak Roby.
"Jangan ngalihin pertanyaanku Rim! Kamu beneran pacaran sama begajulan itu?" tanyanya yang mulai tak santai.
Roby memang sudah menyukai Rima sejak pertama mereka bertemu dalam masa orientasi siswa baru.
Namun dia tak pernah berani mengungkapkan perasaannya sebab Rima seperti gadis yang sulit untuk berpacaran saat masih sekolah.
Kini dia merasa sedikit kesal jika ternyata Rima mengingkari janjinya sendiri.
"Ngga ada pacar-pacaran Rob. Aku ini cuma berteman sama Ka Andi seperti yang lainnya!" jawab Rima mulai kesal karena merasa Roby terlalu menekannya.
Roby bisa bernapas lega ketika mendengar jawaban Rima. Setidaknya dia berpikir gadis itu bukan milik siapa-siapa.
Lain halnya dengan Andi yang mendengar pembicaraan keduanya. Dia mengepalkan tangan karena kesal.
.
.
"Kenapa Lu? Angker bener tuh muka dateng-dateng!" gerutu Gyan pada Andi.
"Ntar malem ada tanding lagi ngga?" tanyanya.
"Weh gila lu! Baru juga sembuh, udah mau ngaspal aja!" sambar Theo.
"Ada apa sih?" sambung Noval heran.
"Ck! Bosen Gue, nyari kegiatan yang seru lah," elak Andi.
Baru juga suasana hatinya kembali senang, tiba-tiba Rima datang. Bukannya bahagia seperti biasanya, kali ini Andi bersikap cuek pada gadis itu.
"Uhuy udah di samper aja!" ejek Gyan pada sahabatnya yang sekarang memasang wajah datar tak bersahabat.
"Mau apa Lu?" tanya Andi dengan nada tak ramah.
Rima yang sudah sedikit tau sifat pemuda di depannya ini merasa biasa aja.
"Biasanya aku juga ke sini kan? Justru aku nanya kali ini kakak butuh apa?" tanya Rima balik.
"Pergi aja lu," usir Andi cuek.
"Ya udah, syukurlah kalau begitu," malas menanggapi perubahan sikap Andi, Rima berbalik dan meninggalkan markas para geng K'nights.
"Elah sok-sokan nolak Lu kamvret, tuh anak pergi beneran baru uring-uringan Lu!" cibir Theo tapi tak di tanggapi Andi.
.
.
__ADS_1
Di kediaman Nina sore itu, Ahmadi tengah bertandang sebab ingin membicarakan masalah serius tentang hubungan keduanya.
Merasa sudah lumayan dekat Ahmadi memberanikan diri untuk melamar Nina.
"Ada apa Mas Ahmadi? tumben main ke sini?" tanya Nina heran.
Siang tadi lelaki itu mengabarinya karena ingin datang ke rumah, tapi Nina tak tau tujuannya, karena tidak biasanya Ahmadi main ke rumahnya sore-sore seperti ini.
"Rima belum pulang Nin?" tanya Ahmadi karena belum melihat keberadaan calon putri sambungnya.
"Dia lagi beli makanan mas," jawab Nina.
"Begini Nin, maaf kalau kedatanganku begitu mendadak, ada yang ingin Mas bicarakan sama kamu," ucap Ahmadi berusaha tenang.
Sedangkan Nina, jantung janda cantik itu sudah berdebar sangat kencang, dia merasa ada yang tak biasa dengan sikap lelaki tampan di depannya itu.
"Kita kenal sudah lumayan lama, meski baru-baru ini kita dekat. Tak di ungkiri, Mas menaruh perasaan padamu. Kita bukan anak muda yang mungkin akan melanjutkan hubungan seperti sepasang kekasih. Mas jujur ingin meminangmu jadi istri, apa Nina bersedia?" tanya Ahmadi tanpa basa-basi.
Wajah Nina merona, jika ingat dulu sang ayah ingin menjodohkannya dengan Ahmadi tapi dia dengan yakin menolak lelaki itu, kini dia seperti termakan oleh omongannya sendiri.
Ahmadi adalah lelaki lembut, sepengetahuan Nina juga dia berasal dari keluarga baik-baik. Status mereka juga sama-sama sendiri.
Nina bingung, tentu dia menaruh hati pada lelaki di hadapannya ini. Namun dia tak bisa begitu saja menjawab lamaran Ahmadi, sebab ada perasaan Rima yang juga harus dia pertimbangkan.
"Mas bisa beri Nina waktu? Nina perlu menjelaskan pada Rima. Mas tau menikah untukku, bukan hanya tentang kita tapi tentang anak-anak kita. Apa anak mas juga setuju Mas menikah lagi?"
Setahu Nina, anak dari Ahmadi berada di pesantren, dia baru kelas satu sekolah menengah pertama, lebih muda tiga tahun dari Rima.
"Anak Mas udah Mas kasih tau dan dia setuju saja dengan keputusan Mas. Kalau kamu ngga yakin kita bisa berkunjung ke sana," ajaknya.
Tanpa keduanya sadari Rima yang sudah sejak tadi sampai mendengar pembicaraan keduanya.
Di tengah kegundahan hatinya, tiba-tiba ada suara motor berhenti di sebelahnya.
Rima paham betul motor siapa yang berhenti di sebelahnya.
"Ka Andi?" panggilnya.
Andi lantas membuka pelindung kepalanya dan mengibaskan rambutnya.
"Ngapain keluyuran sendirian?" tanya Andi heran.
"Ngga kapok emang kejadian kemarin?" ketus Andi mengingatkan kejadian yang baru beberapa waktu berlalu itu.
"Ishh Ka, jangan di ingetin lagi lah, udah lama juga kan?" gerutu Rima.
"Mau ke mana?" Ulangnya.
"Ngga tau, lagi jalan-jalan aja, iseng," jawab Rima sekenanya.
"Lu lagi ada masalah?" tebak Andi tepat sasaran.
"Hah? Keliatan banget ya?" beonya.
Andi terkekeh, Rima memang sangat polos dan bisa membuatnya selalu gemas jika berhadapan langsung.
Padahal saat di sekolah tadi hatinya sangat kacau akibat ucapan gadis itu dan temannya.
Namun saat bertemu seperti ini dia justru tak bisa marah.
"Ikut Gue yuk!" ajaknya.
__ADS_1
"Mau ke mana?"
"Udah bawel, naik aja!" elak Andi.
Andi mengendarai motornya secara perlahan sebab hanya ingin menenangkan hati gadis pujaannya.
Mereka berhenti di sebuah taman dengan banyak lampu menghiasi pohon di sana.
Keduanya duduk di bangku yang di atasnya di hias lampu berbentuk hati.
"Kamu kalau ada masalah tuh di selesein, bukan malah kabur," ujar Andi sembari menyerahkan sebotol air ke hadapan Rima.
"Makasih Ka."
Rima menghela napas, dia sedang menimang apa harus menceritakan masalah pribadinya pada Andi? Namun di satu sisi dia malu.
"Ka, aku egois ngga sih—"
"Iya kamu emang egois," potong Andi santai.
Rima mencebik kesal dan memukul bahu pemuda di sampingnya.
"Ishh, serius Ka. Kakak mau denger cerita aku ngga sih!” keluh Rima.
"Lah Lu mau curhat?" ledek Andi.
"Ah au ah kesel," Rima malu dengan ucapan Andi barusan dan memilih mengabaikan Andi.
“Lah bocil ngambek!” kekeh Andi.
“Coba Lu cerita,” pintanya senang. Sebab Andi merasa kalau dia spesial karena bisa mendengarkan keluhan gadis yang selalu terlihat ceria itu.
“Aku belum siap kehilangan Ibu Ka,” lirihnya.
“Hah! Emang tante Nina kenapa? Sakit keras?” potong Andi salah paham.
“Bukan itu Kaaa ... makanya dengerin dulu!” gerutu Nina.
Andi lalu mengangguk dan mulai serius mendengarkan gadis dengan hijab maroon itu.
“Ada yang mau ngelamar Ibu. Apa kata kakak aku egois kalau aku ngga mau ibu menikah lagi?” tanya Rima dengan mata sendu.
“Lu harus tanya hati kecil Lu sendiri. Ngomong sama nyokap Lu. Kalau dia juga suka sama lelaki itu Gue rasa Lu harus ikhlasin. Tapi ya balik lagi ke Elu sih, Gue ngga bisa ngasih masukan,” jawab Andi jujur.
Dia hanya ingin gadis pujaannya bahagia, tapi dia tak tau bagaimana cara membahagiakan gadis itu.
Tiba-tiba ponsel Andi berdering, tertera nama Gyan di sana.
“Apa Yan?” jawab Andi datar.
Tiba-tiba dia bangkit berdiri karena ucapan Gyan yang membuatnya terkejut.
“Sialan! Gue ke sana sekarang!” jawab Andi dingin.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1