
"Ampun Bude, ampuni Ziva. Sungguh Ziva menyesal tolong jangan usir Ziva. Hu ... Hu ..." Ziva menangis histeris karena dia sangat ketakutan.
Dia tak tau lagi harus ke mana jika sampai Nina tak mau menampungnya.
Nina terkejut tentu saja, terlebih lagi Ziva memegang kuat kedua kakinya.
"Eh ... Eh, Va kamu tenang dulu! Bude cuma minta kamu keluar untuk makan! Katanya kamu tadi belum makan!" sergah Nina kesal.
Meski dalam hati tentu saja dia akan menolak permintaan anaknya Tyas, karena kini dia sudah tau tujuan remaja itu untuk menumpang hidup dengannya.
Ziva mendongak menatap Nina dengan bahagia. Dalam hati dia bersorak karena ia yakin budenya tak akan tega dengannya.
Dia menghapus air matanya lalu bangkit masih sambil menunduk.
"Makanlah, di depan. Bude mau tanya sesuatu sama kamu," ujar Nina datar.
Remaja itu lalu mengikuti Rima dan Nina menuju dapur.
Melihat interaksi antara ibu dan anak itu membuat hati Ziva cemburu. Sebab sudah lama dia tak di perlakukan dengan hangat oleh ibunya seperti Nina.
Dulu saat hidupnya masih enak, Ziva ingat jika sang ibu selalu memperlakukannya dengan baik.
Mungkin karena sekarang ekonomi keluarganya kacau jadi sikap mereka padanya pun berubah.
Kini mereka semua duduk di meja makan. Sugi duduk di ujung, di depan Ziva ada sang bude dan seorang lelaki yang tak di kenal oleh Ziva, sedangkan Rima duduk bersebelahan dengan Ziva.
.
.
Di tempat lain, tepatnya di rumah kontrakan Tyas, mereka semua sedang bingung mencari keberadaan Ziva yang kabur dari rumah.
Flasback
Saat pelajaran olah raga pagi tadi tiba-tiba Ziva pingsan. Guru olah raga yang cemas segera melarikan Ziva ke UKS sekolah.
Tak lama petugas kesehatan, menunjukkan raut kecemasan pada sang guru.
"Gimana Bu, Ziva baik-baik aja kan?"
Dia yang hanya seorang perawat tak berani mengutarakan pikirannya.
"Sebaiknya di bawa ke klinik di depan aja Pak," sarannya.
Tanpa pikir panjang, guru oleh raga Ziva kembali melarikan Ziva ke klinik yang berada di depan sekolah mereka.
Betapa terkejutnya sang guru saat sang Dokter mendiagnosis jika Ziva tengah mengandung, dengan usia kehamilan lima minggu.
Guru tersebut segera menghubungi wali kelas Ziva agar menemuinya di klinik depan.
__ADS_1
Teman-teman sekelas Ziva di minta untuk menemani Ziva di ruang rawat inapnya, sedangkan dia akan menunggu kedatangan wali kelas Ziva di depan klinik.
"Ada apa Pak Bagas? Ziva baik-baik aja kan?" tanya wali kelas Ziva yang bernama Bu Nurma.
"Ternyata Ziva hamil Bu!" jelasnya.
"Ya Allah, bagaimana kita memberitahu keluarganya pak?" jawab Nurma cemas.
"Mau ngga mau ya harus di beri tau Bu! Jangan sampai kita yang di salahkan," sergah Pak Bagas.
Nurma lantas menghubungi orang tua Ziva terutama Tyas agar datang ke sekolah.
Tyas yang sedang bersantai tiba-tiba terenyak kala ponselnya di hubungi oleh wali kelas putrinya.
"Ck! Ganggu aja sih nih guru!" dengusnya kesal.
"Iya Bu Nurma, ada apa ya?" Jawab Tyas malas.
"Apa? Ziva di klinik! Emangnya anak saya kenapa? Jangan kasih anak saya banyak tugas makanya Bu, jadi dia ngga kecapean. Kalau kaya gini gimana? Kami juga kan yang repot!" cerca Tyas kesal.
Nurma hanya bisa menghela napas mendengar gerutuan Tyas, jangankan tugas, sekolah saja Ziva sering membolos, batin Nurma.
"Sebaiknya ibu datang ke sini sekarang ya Bu, masalah biaya klinik saya yang tanggung," balas Nurma mengalah.
Dia ingin agar masalah Ziva segera selesai. Sudah pasti gara-gara Ziva nama baiknya bisa tercoreng sebagai wali kelas karena kecolongan seperti ini.
Setengah jam menunggu, akhirnya Tyas datang bersama dengan Titik.
Perut wanita hamil itu sudah sedikit membuncit karena usianya kandungannya menginjak lima bulan.
Nurma dan Bagas saling berpandangan melihat kondisi Tyas yang juga tengah hamil.
Terlebih lagi, Tyas yang Nurma ingat adalah wanita yang modis, tapi kini sangat berubah. Wajahnya menghitam dengan banyaknya flek hitam.
"Ibu Tyas lagi hamil?" sapa Nurma menyambut kedatangan wali muridnya.
"Iya Bu, makanya saya malas keluar, sebenarnya ada apa sama Ziva? Kalau memang ibu mau menanggung biaya klinik, harusnya Ziva di suruh pulang aja," jawab Tyas kecut.
Nurma kembali menghela napas, harusnya sebagai seorang ibu Tyas merasa khawatir dengan kondisi putrinya, yang dia lihat justru sebaliknya.
Nurma jadi berpikir mungkin inilah penyebab Ziva banyak berubah. Keadaan keluarga yang tidak lagi hangat membuat Ziva mungkin kekurangan perhatian dari keluarganya.
Bagas lalu meminta teman-teman Ziva untuk kembali ke sekolah, karena merasa mereka akan berbicara serius mengenai kondisi Ziva.
"Begini Bu Tyas, barusan Dokter mendiagnosis kalau ternyata Zia hamil—" jelas Nurma.
"APA!!" jawab Tyas dan Titik bersamaan. Mereka sangat terkejut dengan pemberitahuan wali kelas Ziva
"Jangan sembarangan ya Bu Nurma! Ziva itu anak baik-baik jadi ngga mungkin kalau dia hamil!" elak Tyas sambil menunjuk-nunjuk wajah Nurma tak terima.
__ADS_1
"Mari Bu Tyas, biar Dokter saja yang menjelaskan pada Anda, agar Anda percaya dengan kondisi Ziva," jawab Nurma mengalah.
Dia tak mau di anggap berdusta mengenai kondisi Ziva, lagi pula mereka masih berada di klinik jadi mudah baginya memberi tahu pada Tyas.
Tubuh Tyas melemas saat mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Dokter memberitahu apa yang sudah di sampaikan oleh Nurma tadi bukanlah bualan semata.
"Ya Allah, gimana ini Bu! Kenapa Ziva jadi seperti ini!" tangis Tyas pecah.
Masa depan putrinya hancur entah karena apa, dia pun tak tau.
"Sudah Bu Tyas, sabar, sebaiknya kita tanyakan pada Ziva apa yang sebenarnya yang telah terjadi," saran Nurma.
"Tapi Bu, gimana ini, kalau sampai Ziva di keluarkan bagaimana? Tolong bantu Ziva Bu, jangan sampai anak saya di keluarkan," rengek Tyas.
Nurma dan Bagas saling berpandang-pandangan. Ujian sekolah memang tinggal beberapa bulan lagi. Mereka sebenarnya juga kasihan, tapi semua bisa berantakan jika mereka ketahuan oleh kepala sekolah.
"Tolong ya Bu," Titik pun ikut mengiba. Setidaknya dia berharap jika Ziva bisa lulus sekolah menengah pertama dulu, ke depannya bagaimana nanti, pikirnya.
"Kalau sampai Ziva menikah dan terdengar oleh sekolah, sudah pasti Ziva akan di keluarkan Bu," jawab Nurma.
Sungguh dia takut terlibat terlalu jauh, kalau sampai ternyata Ziva di nikahkan, ia yakin akan banyak yang tahu kondisi Ziva.
"Itu urusan nanti Bu, yang pasti saya harap Bapak dan Ibu mau membantu Ziva," pinta Tyas.
"Kita dengarkan dulu penjelasan Ziva Bu, dia hamil oleh siapa ya," elak Nurma mengalihkan permintaan Tyas.
Mereka lalu ke ruang rawat inap Ziva. Remaja itu sudah siuman sejak tadi.
Saat ingin pulang, perawat memintanya menunggu sebab guru dan orang tuanya tengah menemui Dokter yang memeriksanya tadi.
Ziva juga penasaran sebenarnya dia kenapa. Dia memang merasa akhir-akhir ini badannya merasa tidak enak, tapi dia sudah meminum obat untuk mengurangi rasa mual dan pusingnya yang ia pikir asam lambungnya naik lagi.
"Mamah?" Ziva berusaha bangkit duduk untuk menyambut ibu dan neneknya.
Namun sayang sekali, sapaannya di balas tamparan oleh Tyas. Remaja itu tersentak hingga kembali terjerembap ke ranjang.
"KASIH TAU MAMAH! KAMU HAMIL ANAK SIAPA!!" pekik Tyas.
Tubuh Ziva bergetar hebat, dia tak menyangka jika saat ini dia tengah mengandung.
Refleks dia memegang perutnya yang masih rata, lalu air matanya pun luruh seketika.
.
.
.
Tbc
__ADS_1