
Di kediaman Tyas, banyak orang sedang berkumpul karena pada akhirnya rumah milik Tyas harus di jual untuk membayar hutang Yanto pada Berta.
Bukan hanya Berta, tapi beberapa orang yang di hutangi oleh Tyas dan keluarganya juga turut hadir.
Bagaimana mereka tahu? Ada sebagian yang di beri tahu oleh Berta, yang lainnya dari para tetangga sekitar Tyas.
Tyas berang sekali saat mereka semua berkumpul untuk menagih hutang padanya.
"Yang hutang kan Mas Yanto, Bu Berta kenapa Ibu ngga tagih aja sama dia sih! Aku bahkan ngga ngerasain duitnya!" elak Tyas.
Berta menghela napas, dia lalu menatap ketua Rt dan petugas Desa yang akan menjadi saksi jual beli rumah Tyas.
Rumah yang di dapatkan dengan tidak berkah akhirnya hilang juga dari genggaman.
"Saya sudah berlaku sesuai perjanjian bukan pak Rt? Jadi bisa kita mulai jual belinya?" tanya Berta pada ketua Rt. Tak memedulikan lagi penolakan Tyas.
Titik dan Dita hanya bisa diam, tak ada yang bisa membantu mereka. Sudah berbagai cara mereka mencari pinjaman, dari keluarga bahkan tetangga mereka datangi.
Namun tak ada satu pun yang mau menolong mereka, sebab banyak yang memang tak menyukai sifat Titik dan keluarganya.
Bahkan Titik mendatangi kediaman Nina untuk merongrong Dibyo. Sayangnya kediaman Nina sepi dan tak ada yang mau memberitahu mereka pergi ke mana.
Jadilah mereka hanya bisa pasrah saat ini.
Berta sendiri yang akan membeli rumah ini, jadi Berta hanya memberikan sisa uang hasil jual belinya pada Tyas.
"Mbak Tyas, harga jual rumah ini tujuh puluh lima juta, di potong hutang Yanto sama saya empat puluh juta, ini sisanya tiga puluh lima juta."
Berta menyerahkan uang sisa penjualan pada Tyas. Namun Tyas masih bergeming, dia tak rela rumahnya di hargai sangat murah oleh Berta.
"Enak aja! Ngga mau aku! Rumah aku pasti harganya di atas seratus juta, licik sekali Anda Bu Berta membayar rumahku dengan harga murah! Saya ngga mau, mending saya nunggu pembeli yang mau beli dengan harga mahal!" tolak Tyas.
Berta sudah tak sabar, dia sudah meminta mereka menawarkan rumah mereka pada orang lain, tapi tak ada hasilnya. Mereka tak mau membeli rumah Tyas karena di jual dengan harga yang tidak masuk akal menurut mereka.
Terlebih lagi rumah Tyas bagian depannya belum terlalu rapi karena belum di plester dan di cat.
"Saya kan udah kasih kalian waktu untuk menjual, heh siapa pula yang mau beli rumah ini dengan harga yang kau bilang tadi. Bersyukur aku hargai rumah kau ini sesuai pasaran!" balas Berta murka.
"Kalau kau menolak, baiklah aku akan jaminkan sertifikatmu pada Bank supaya hutang kau tambah banyak!" kecam Berta.
__ADS_1
Tyas melotot kesal, napasnya naik turun. Titik yang sudah tidak sanggup lagi harus membayar hutang lantas mendekati putrinya.
"Sudahlah Yas, sisanya masih bisa buat modal kita jualan," saran Titik.
"Apaan sih Bu, masa rumah aku di hargai murah. Ibu ngga liat yang pada nunggu itu? Mereka pasti langsung nagih utang-utang aku Bu!" keluhnya.
"Benar kata Bu Berta mbak Tyas, rumah ini udah sesuai dengan pasaran kok, sebaiknya mbak Tyas terima saja, saya juga sudah lelah dengan keluhan warga karena mbak Tyas sangat sulit di tagih hutangnya," sergah ketua Rt.
Titik langsung menjawab, dia tak peduli dengan penolakan Tyas, dirinya berpikir lebih baik sekarang dia bebas dari para penagih dari pada harus pusing lagi.
Lagi pula semua salah Tyas yang suka selali berhutang supaya di anggap keluarga berada.
"Sudah Bu Berta saya setuju, lagi pula rumah ini adalah hak saya meski rumahnya atas nama Tyas," sela Titik.
"IBU!!" bentak Tyas tak terima.
"Kamu diam aja Yas, ibu pusing. Rumah ini ibu yang beli awalnya, jadi kamu jangan banyak ngomong."
Setelah perdebatan panjang, akhirnya Tyas menyerah, dia juga takut dengan ancaman ibunya yang akan meninggalkannya dan Ziva dalam keadaan hamil.
Yanto benar-benar menghilang. Dia sendiri juga tak mungkin bekerja saat ini, makanya dia hanya bisa bergantung dengan Titik.
Sekarang gantian para penagih lainnya yang meminta uang mereka pada Tyas.
Tyas benar-benar kesal pada mereka, sebab tak membiarkan dirinya memiliki uang banyak.
"Sana pergi! Udah kan kalian ngerampok saya!" ketusnya.
Orang-orang yang di hutangi Tyas bersama-sama membalas menyoraki wanita hamil itu.
"Gimana ini Bu, kok duitnya sisa cuma lima juta? Mana cukup buat biaya lahiran nanti," rengeknya.
"Kamu hamil baru dua bulan Yas, yang penting sisa duit ini buat ngontrak aja dulu, baru mikirin biaya lahiran kamu," ketus Titik.
"Ayo sekarang kita cari kontrakan Dit. Kamu Yas jangan lupa beresin rumah ini. Kasih tau Ziva juga," titah Titik.
"Apa? Aku beresin rumah sendirian? Kamu mau apa sih Dit ikut segala, timbang cari kontrakan!" sergah Tyas.
Sunggu dia enggan sekali mengepak barang, hatinya sedang kacau dan dia ingin rebahan saja, menangisi nasib sialnya.
__ADS_1
"Dih aku mau cari sama ibu, kamu pikir nyari kontrakan gampang, hei, kita tinggal di pinggiran kota. Kalau mau di kota mah banyak, tapi mahal, sanggup emang bayarnya?" tolak Dita.
Titik dan Dita lantas keluar meninggalkan Tyas seorang diri.
"Bu aku minta dikit lah uangnya buat pasang gigi palsu, kan ibu yang pegang duitnya," rengek Dita.
Titik memikirkan permintaan Dita. Gigi depan Dita memang membuat penampilan anak gadisnya kurang enak di pandang.
Dia juga kasihan karena Dita masih gadis, akhirnya dia memperbolehkan putri bungsunya itu memasang gigi palsu.
Titik tau keputusannya itu akan membuat keributan dengan Tyas nanti, tapi dia tak peduli. Toh sekarang Tyas sangat bergantung padanya.
Dita memasang gigi di ahli gigi pinggir jalan, bukan di Dokter gigi seperti seharusnya. Karena mereka terkendala biaya, tidak mungkin memasang gigi palsu di Dokter gigi yang biayanya pasti sangat mahal.
Meski di ahli gigi pinggir jalan, Dita cukup puas, paling tidak saat tersenyum giginya tidak ompong.
Setelah itu mereka kembali mencari kontrakan. Di kampung mereka tak ada yang mau rumahnya di sewa oleh Titik karena tau perangai Titik dan keluarganya.
Sekalinya ada, harga yang di minta tak mereka sanggupi karena mahal.
Titik kelelahan, susah sekali mencari kontrakan di kampung mereka.
Jika di kota, dekat pasar, memang banyak kontrakan petakan, tapi pasti sangat sempit jika harus tinggal di sana karena barang-barang Tyas lumayan banyak.
Harganya juga mahal, sedangkan mereka harus berhemat untuk saat ini karena belum tau lagi akan mendapatkan uang dari mana.
"Aduh Bu, gimana ini, ngga ada rumah yang mau di kontrakin. Sekalinya ada mahal banget, aku udah cape loh Bu!" keluh Dita.
"Emang kamu aja? Ibu juga cape tau!" balas Titik.
Keduanya duduk di sebuah warung untuk menyegarkan kerongkongan mereka.
"Emm bu, kenapa kita ngga tinggal di rumah mbak Nina aja? Ibu kan masih jadi istrinya bapak Bu!" saran Dita.
.
.
.
__ADS_1
Tbc