
Kepala sekolah dan dua guru di sana pusing dengan kehidupan keluarga muridnya.
"Pak Yanto dan Bu Tyas tolong tenang. Dan saya ingatkan untuk tidak saling menyalahkan dan menggunakan kekerasan sebagai penyelesaian. Sekarang duduk tenang karena saya akan bicara!" perintah Kepala sekolah tegas.
Terpaksa Yanto dan Tyas menghentikan pertengkaran mereka.
"Dengan kejadian ini saya harus mengambil keputusan tegas dan berat. Oleh sebab itu saya minta maaf—"
"Pak tolong pak, beberapa bulan lagi Ziva ujian, biarkan anak saya ikut ujian agar bisa lulus sekolah menengah pertamanya pak," potong Tyas yang tau dengan keputusan yang akan di ambil kepala sekolah.
"Bu tolong jangan potong ucapan kepala sekolah," tegur Bu Nurma yang pusing dengan kelakuan wali muridnya.
"Tapi Bu, kalian udah janji akan membantu Ziva agar bisa ikut ujian, ayo dong tanggung jawab!" jawab Tyas tak tau diri.
Nurma menghela napas jengkel, padahal dia tak pernah menjanjikan apa-apa, tapi dengan seenak jidatnya, Tyas menyalahkan dia dan Bagas yang saat ini juga sedang tertimpa masalah.
"Kami sendiri pasti kena sangsi karena masalah ini Bu! Tolong terima konsekuensinya. Dan yang perlu ibu tau, kalau saya dan Pak Bagas tidak pernah menjanjikan apa pun pada ibu dan Ziva!" elak Nurma.
"Sudah selesai bicaranya? Bisa kita lanjutkan?" sindir kepala sekolah pada keduanya.
Nurma lalu meminta maaf karena malu, ia juga merasa telah menyela ucapan kepala sekolah dan berdebat dengan Tyas.
"Maaf Bu, keputusan tidak bisa di tawar, kami terpaksa harus mengeluarkan putri ibu dari sekolah ini. Namun ibu tenang saja, kami tidak akan lepas tangan begitu saja," ucap kepala sekolah memberi jalan lain pada Ziva.
"Apa pak?" jawab Yanto.
"Ziva bisa mengikuti kejar paket B dan akan kami daftarkan," tawar kepala sekolah.
Paling tidak keputusan ini lebih baik dari pada hanya sekedar di keluarkan saja, pikir kepala sekolah.
"Tetap aja ngga berguna pak! Memang bisa bekerja menggunakan ijazah paket? Tolonglah pak, demi anak saya, sekali ini aja," rengek Tyas.
"Maaf Bu tidak bisa, kami harus tegas, sebab kalau kami melonggarkan kesalahan Ziva, bisa jadi ke depannya ada lagi yang seperti ini," jelas kepala sekolah.
"Ini ngga adil pak! Saya yakin ada yang sengaja ingin menjebak Ziva. Saya minta penyebar video itu juga harus di keluarkan!" pinta Tyas tak terima.
Kepala sekolah menghela napas, dia sendiri tak tau dari mana asal muasal video itu bisa beredar, dia juga tak bisa menyalahkan murid yang secara tak langsung menyebarkan dari satu siswa ke siswa yang lainnya.
__ADS_1
"Maafkan saya Bu, jika di telusuri awalnya dari sebuah aplikasi online berita ini di sebar. Sayangnya pemilik akun tidak di ketahui siapa, jadi saya hanya bisa minta maaf dengan keterbatasan kami," jawab kepala sekolah.
"Ini pasti ulah Rima kan Va!" tau-tau Tyas menyalahkan keponakannya itu tanpa adanya bukti.
"Kenapa ibu jadi menyalahkan Rima Bu?" sambar Nurma sedikit terkejut, karena setahunya anak didiknya yang bernama Rima itu adalah murid baik yang tak banyak bermasalah dengan teman dan sekolah.
Mungkin dulu Rima pernah menjadi perbincangan di kalangan guru, tapi setelah Novi tertangkap hendak melakukan kekerasan padanya, nama baik Rima seakan kembali lagi.
Bahkan bisa di bilang, gadis remaja itu semakin menunjukkan prestasinya, setelah hidupnya kembali normal.
"Ya kan cuma dia yang akrab sama Ziva. Anak itu selalu iri dengan anak saya, sudahlah Bu panggil saja Rima!" pinta Tyas.
Kepala sekolah lantas meminta Bagas untuk memanggil Rima di kelas, untuk memberikan penjelasan terkait tuduhan Tyas padanya.
Ziva hanya menunduk, dia sebenarnya yakin bukan Rima yang melakukan hal ini. Dia justru lebih yakin ini adalah kerjaan teman sekelasnya, tapi siapa, itulah yang ada di pikiran Ziva.
Namun dia juga tak bisa membela Rima, sebab bagaimana pun dalam hati kecilnya dia ingin Rima juga terkena masalah, dia yakin sang ibu pasti memiliki rencana dengan berkata seperti itu.
Bagas segera ke kelas Rima dan meminta gadis itu untuk ikut dengannya ke ruangan kepala sekolah.
"Ada apa ya pak?" tanya guru yang saat itu tengah mengajar di kelas Rima.
Dia tidak ingin muridnya yang terkenal baik akan menjadi bahan gunjingan yang belum tentu kebenarannya.
"Ada apa ya pak?" tanya Rima saat keduanya berjalan bersama menuju ruang kepala sekolah.
"Nanti juga kamu tau Rim. Oh iya Bapak mau tanya, kamu udah tau kan tentang video Ziva? Bagaimana menurutmu?" Bagas ingin tahu bagaimana pendapat Rima.
Jika benar Rima seperti yang di tuduhkan Tyas, pasti gadis itu merasa gugup dan mencoba mengelak.
"Saya kaget tentu saja pak, sebab ngga percaya kalau Ziva jadi seperti ini," lirihnya.
Bagas merasa lega, entah kenapa dia yakin bukan Rima yang memvideokan mereka saat berada di klinik kemarin.
"Ya sudah semoga Ziva bisa belajar lebih baik ke depannya. Dia pasti malu dan tertekan, Bapak mau minta tolong, kamu kan teman sekaligus saudarinya Ziva. Temani dia ya," pinta Bagas.
Meskipun dirinya akan terancam kena surat peringatan dari Dinas Pendidikan, setidaknya jiwanya sebagai guru tak bisa begitu saja membiarkan Ziva mengalami kesulitan seorang diri.
__ADS_1
Terlebih lagi keluarganya yang terlihat kacau seperti itu, pikir Bagas.
Rima merasa bingung saat memasuki ruangan kepala sekolah dan di sana sudah ada orang tua Ziva.
"Silakan duduk Rima," pinta kepala sekolah.
Rima duduk di kursi tunggal berhadapan langsung dengan kepala sekolah.
"Bapak mau tanya, saat kejadian kemarin di klinik depan sekolah kamu di mana Rima?" tanya kepala sekolah.
Meski bingung Rima menjawab pertanyaan kepala sekolah dengan lancar.
"Saya ada di kelas Pak, saat itu pelajaran Bu Kia," jawab Rima tenang.
"Alah bilang aja kalau kamu kan yang videoin Ziva di klinik!" sambar Tyas yang langsung menuduh Rima.
"Bu Tyas, saya harap ibu tenang dan tak mendahului wewenang kepala sekolah!" ucap Nurma tegas.
Guru perempuan itu mulai jengah dengan kelakuan Tyas yang selalu menuduh dan menyalahkan orang lain.
"Bapak bisa tanyakan sendiri sama Bu Kia pak," sambung Rima mantap.
"Ziva kemarin tinggal di rumah kamu, Tante yakin ini semua pasti ulah kamu sama teman kamu yang lain kan? Ngaku aja deh Rima!" Tyas tetap tak mau kalah, dia ingin agar Rima dan Nina bertanggung jawab akan kondisi Ziva karena sudah pasti kehidupan Ziva akan bergantung padanya setelah ini.
"Benarkah Ziva tinggal dengan Rima?" tanya kepala sekolah.
Rima mengangguk lalu menceritakan kejadian yang sebenarnya, dia bahkan baru tahu kabar tentang kehamilan Ziva hari ini saat videonya tersebar seantero sekolah.
"Jadi udah jelas ya Bu Tyas, bukan Rima yang menyebarkan video itu. Jadi karena kami sudah mengabulkan permintaan ibu tentang Rima dan sudah mendapatkan jawabannya, saya harap Ziva dan keluarga menerima keputusan saya dengan ikhlas," putus kepala sekolah.
"Kok Bapak percaya begitu aja! Bisa aja saat pelajaran dia menyelinap keluar!" elak Tyas dengan keputusan kepala sekolah.
Tyas tak akan menyerah dan tetap akan menekan Rima juga Nina, berbagai cara dia pikirkan meski dalam keadaan terdesak seperti ini sekali pun.
.
.
__ADS_1
.
Tbc