
Andi menarik napas panjang, sepertinya dia harus menjelaskan kehidupannya saat ini kepada istri dan keluarga istrinya.
"Denish udah meninggal Bu," jelasnya.
Semua yang mendengar penjelasan Andi tentang nasib lelaki yang pernah mereka temui dulu tentu saja tak menyangka jika telah berpulang di usianya yang terbilang masih muda.
Hanya Ajeng yang berekspresi biasa saja sebab dia tak mengenal keluarga Andi sama sekali.
Nina merasa prihatin dengan hidup menantunya. Sudah di tinggal sang ayah, ibunya juga tengah sakit keras dan ternyata kini dia juga sudah di tinggal oleh kakaknya.
Melihat semuanya masih diam, Andi kembali menjelaskan.
"Denish meninggal satu tahun yang lalu. Dia terkena serangan jantung," sambungnya.
Lagi-lagi semua keluarga Rima diam mendengarkan.
"Lalu tentang Febri dan Julian mau tak mau aku ikut menjaga mereka saat ini. Sungguh maafkan aku kalau kamu salah paham mengenai pertemuan kami saat itu."
"Dia kakak iparku Rim. Memang kelakuannya agak berlebihan. Berulang kali aku sudah menegurnya agar tak terlalu berlebihan padaku. Namun ..."
"Namun apa? Dia menyukaimu?" tebak Rima kesal.
Andi menghela napas, jelaslah semua orang akan mudah mengartikan bagaimana perasaan Febri padanya.
"Kamu enggak bisa tegas dengan mantan kakak iparmu itu? Apa dia juga tidak tahu kalau kamu akan menikahi Rima?" cecar Nina yang sedikit merasa bersalah telah menerima pinangan Andi tanpa mencari tahu kehidupan menantunya terlebih dahulu.
Bahu Rima merosot, dia merasa kehidupan rumah tangganya akan terasa berat, karena ada seorang wanita yang ternyata mencintai suaminya.
"Aku berjanji akan tegas dengannya sayang, tolong percayalah," bujuk Andi kalut.
Rima menggeleng, dia merasa takut. Dia juga merasa sangsi dengan sikap Andi pada mantan kakak iparnya itu.
Kalau memang Andi merasa tak nyaman dengan kelakuan Febriana, harusnya dia bisa tegas. Jangan setelah mereka menikah baru sang suami akan berusaha.
"Seharusnya sebelum menikah kamu sudah membuat dia mengerti, aku enggak ngerti apa alasanmu Ka," keluh Rima.
"Aku takut menyakiti Julian sayang. Aku tak bisa berkata tegas pada Febri jika sedang bersama dengan anaknya. Itulah yang selalu di lakukan Febri kala dekat denganku. Maafkan aku," jelas Andi.
"Berarti dia menaruh hati padamu," sungut Rima kesal.
Andi tak bisa mengelak, Febriana pernah terang-terangan meminta dinikahi olehnya. Tentu saja Andi menolak, sebab meski berstatus janda, Febriana adalah kakak iparnya.
Lagi pula dia tak pernah menaruh hati pada mantan kakak iparnya itu.
"Maafkan aku," jawab Andi lemah.
__ADS_1
"Ayah sudah putuskan," sergah Ahmadi tegas. Kalau boleh jujur dia kecewa dengan sikap Andi yang tak bisa tegas dengan wanita di sekitarnya.
Dia khawatir kalau sifat Baron menurun padanya. Meski dulu dia sempat menaruh simpati pada pemuda itu karena sikap santunnya. Namun kini dia sedikit bimbang.
Semua menatap ke arah kepala keluarga yang duduk menegakkan punggungnya.
"Maaf Andi, Rima memang istrimu. Kalau kamu belum bisa bersikap tegas pada mantan kakak iparmu itu, maka ayah melarang kamu membawa anak ayah," ucap Ahmadi tajam.
Rima dan Andi membelalak mendengar keputusan lelaki berwajah kearab-araban itu.
"Maksudnya yah?" tanya Andi gugup.
"Ayah enggak akan membiarkan kamu membawa putri ayah sebelum kamu menyingkirkan mantan kakak iparmu dari kehidupan kamu," jelas Ahmadi.
"Rima istirahatlah. Andi juga silakan kembali ke rumahmu dulu. Pikirkan apa yang ayah ucapkan. Jangan sampai mantan kakak iparmu itu menyakiti anak ayah. Sebelum kamu menyentuh Rima, ada baiknya kamu selesaikan dulu masalahmu."
Ahmadi mengajak sang istri untuk beristirahat. Dia juga meminta yang lainnya untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.
Ahmadi tahu semua orang cukup lelah dan syok dengan keadaan rumah tangga pengantin baru itu.
"Bagaimana aku bisa meyakinkan ayah kalau aku sudah bisa menjauhkan Febri dari kehidupanku?" tanya Andi meminta kejelasan.
"Apa mantan kakak iparmu tinggal di sini?" tanya Ahmadi datar.
"Bawa dia kemari dan kenalkan pada kami," tantang Ahmadi.
Andi terkesiap. Hatinya merancu, pernikahan ini saja sengaja dia sembunyikan dari mantan kakak iparnya karena takut Febriana membuat ulah.
Namun dia tak punya pilihan, lagi pula dirinya dan Rima sudah menikah. Jadi dia merasa tak ada apa pun yang akan di lakukan kakak iparnya untuk memisahkannya.
"Baiklah ayah. Apa setelah itu aku bisa membawa Rima? Aku harus segera membawa Rima menemui mamah," pinta Andi.
"Pegang kata-kata ayah," usai mengatakan hal itu Ahmadi bergegas mengajak sang istri untuk ke kamar.
Andi pulang dengan keadaan kalut. Dia tak menyangka jika kehidupan rumah tangga barunya akan serumit ini.
Andai tidak ada Julian, tentu dirinya tak akan bersusah payah menyingkirkan wanita penggoda seperti mantan kakak iparnya.
Dia sendiri merasa heran mengapa Febri begitu gigih mendekatinya meski sudah berulang kali dia menolaknya.
Dengan langkah lunglai dia memasuki rumahnya. Tak di duga ternyata Julian sudah berada di sana bersama dengan Febriana.
"Papah!" panggil Julian sambil berlari mendekati Andi.
Andi terdiam mendengar panggilan keponakannya itu. Bocah berumur tiga tahu dengan pipi chuby itu sudah berada di dekatnya dan merentangkan tangan, berharap Andi segera menyambut dengan menggendongnya seperti biasa.
__ADS_1
Andi yang sempat terkejut terasa kembali kesadarannya saat melihat Julian menarik-narik kemejanya.
Febriana menatap Andi bingung. Lelaki yang diinginkannya menggantikan sosok mendiang suaminya seperti seorang mempelai laki-laki dengan menggunakan pakaian serba putih.
"Papah!" rengek Julian yang masih belum mendapat tanggapan dari pamannya.
Andi menghela napas, sepertinya mantan kakak ipar dan keponakannya salah mengartikan kebaikannya.
Andi lantas menunduk, menyejajarkan tingginya dengan sang keponakan.
"Julian, ini om bukan papah kamu," jelas Andi lembut. Bocah berumur tiga tahun itu lantas menatap sang ibu meminta penjelasan.
"Udah sih Ndi. Julian kan memang memerlukan figur sang ayah. Keponakan kan anak juga," jawab Febriana lembut.
"Enggak bisa Feb! Tolong jangan kasih harapan pada Julian yang berlebihan. Aku omnya dan sampai kapan pun aku adalah adik dari papihnya," jawab Andi tegas.
"Loh Ndi, enggak usah tegang gitu. Kamu lupa apa permintaan terakhir Denish? Dia minta kamu menjaga aku dan Julian. Jadi enggak usah di dramatisi mengenai panggilan Julian lah," sergah Febriana keras kepala.
"Panggilan seperti itu mungkin lebih cocok dengan ayah sambung Julian kelak Feb, bukan aku."
Febriana menghela napas. Susah sekali menaklukkan hati adik iparnya ini. Sudah berbagai cara dia lakukan agar Andi memperhatikannya.
Namun sayang, lelaki yang seusia dengannya itu seperti tak pernah tertarik dengan dirinya.
"Kamu tahu aku enggak mungkin menikah dengan orang lain," lirih Febriana mencoba menarik simpati Andi.
"Aku sudah menikah jadi tolong tau batasanmu," jelas Andi, lalu meninggalkan keduanya.
Febriana mematung mendengar ucapan Andi. Benarkah mantan adik iparnya itu telah menikah?
Dengan siapa? Mengapa dirinya sama sekali tak tahu wanita yang tengah dekat dengannya.
Febriana tersentak mendengar tangisan Julian yang di abaikan oleh pamannya.
Andi bahkan tega tak menggubris Julian yang sejak ayahnya berpulang paling dekat dengannya.
Aku tak akan membiarkan siapa pun menghalangi kebahagiaan anakku. Meskipun aku harus merendahkan diri
.
.
.
Tbc
__ADS_1