Derita anakku

Derita anakku
Kembalinya Yanto


__ADS_3

Titik menoyor kepala Dita. Sudah pasti Nina akan menolak mereka jika dirinya tetap nekat mendatangi rumah anak tirinya.


"Kamu tau kalau si Nina itu udah ngga mau berurusan lagi sama kita. Yang ada nanti kita di hajar lagi sama dia!"


"Terus gimana?" keluh Dita. "Lagian mbak Nina ke mana sih Bu?" tanya Dita penasaran.


Titik juga merasa cemas karena Nina pergi membawa serta Dibyo. Para tetangga Nina bungkam tak ada yang mau memberitahunya.


Dirinya takut jika Nina benar-benar akan membawa lelaki yang masih sah menjadi suaminya ke panti jompo.


"Bu! Kok malah ngelamun," sergah Dita.


"Ishh, ngelamun apa sih Dit. Ibu cuma lagi mikir, jangan-jangan Nina membawa bapaknya ke panti jompo," jelas Titik.


Dita yang tadi sedang minum langsung menyemburkan air di dalam mulutnya karena tersedak.


"Hah! Yang bener Bu? Ya ampun durhaka sekali mbak Nina," ujarnya sok dramatis.


Mereka memilih pulang dan akan melanjutkan mencari di desa lainnya. Berharap masih ada rumah yang bisa mereka sewa murah dengan harga murah.


Titik juga harus mempersiapkan diri untuk sidang putusan cerainya dengan Dibyo esok.


Dia berharap semoga keputusan Dibyo di tolak oleh hakim, jadi dirinya masih berstatus istri Dibyo dan Nina tak bisa berbuat apa-apa.


Titik membayangkan bagaimana wajah Nina kalau apa yang dia harapkan terkabul.


"Bu! Ibu kenapa? Tadi melamun sekarang malah senyum-senyum sendiri!" ucap Dita khawatir.


Titik lantas memukul kepala Dita pelan karena kesal sang putri membuyarkan khayalannya.


"Kamu itu ngapa sih gangguin ibu lagi bayangin yang indah-indah!" ujar Titik sewot.


"Ya Allah Bu, aku khawatir, takut ibu tau-tau kesurupan, kan ngga elit banget Bu!" jelas Dita.


"Udahlah ayo kita pulang, semoga aja keputusan hakim menolak gugatan bapakmu, jadi kita bisa tinggal di rumah Nina, biar tau rasa dia!"


Mereka kembali dengan tangan kosong, sampai di rumah, sudah ada beberapa kardus di ruang tamu.


Tyas sendiri masih rebahan di depan televisi sambil memainkan gawainya.


Titik dan Dita merasa heran karena Tyas tampak sekali tidak ada beban, justru saat ini wanita hamil itu tengah senyum-senyum sendiri.


Tyas memang sedang kasmaran oleh seorang lelaki muda dan tampan yang dia kenal melalui media sosialnya.


Wanita itu tak sadar diri dengan kondisinya saat ini yang tengah hamil. Bagi Tyas selama belum bertemu tak apa dia berbohong sedikit.


Hutang yang selama ini ia lakukan juga karena dirinya di poroti oleh lelaki itu.

__ADS_1


"Kamu kenapa Yas, dari tadi senyum-senyum sendiri?" tanya Titik memecah kesenangan Tyas.


Tyas memang tak memedulikan hilangnya sang suami. Dia justru berharap berpisah dengan lelaki mokondo itu.


Di benak wanita hamil itu, dia pasti akan bersanding dengan kekasih dunia mayanya kelak dan membungkam orang-orang yang selalu menghinanya.


Karena sang kekasih berkata jika dia adalah anak seorang pengusaha dan saat ini tengah mengembangkan usahanya.


"Apa sih Buk, gimana udah dapet?" tanya Tyas setelah mendudukkan diri.


"Kamu ini Yas, suami ilang kok ngga ada takut-takutnya. Lagi hamil lagi, kamu ngga cari gitu ke mana perginya si Yanto?"


"Udah bu, lagian ngga ada yang tau mas Yanto pergi ke mana, biarlah nanti aku gugat cerai aja dia sekalian!" ketusnya.


Titik pun setuju dengan ide Tyas, lebih baik anaknya itu bercerai, setelah itu Titik berharap Tyas mau mengikuti jejak Nina bekerja di luar negeri.


"Ya udahlah mending cerai, terus nanti kamu kerja aja di luar negeri Yas, kaya si Nina, ibu yakin kamu lebih sukses nanti," saran Titik.


Tyas memikirkan saran sang ibu. Namun dalam benaknya setelah melahirkan nanti, dia ingin segera bertemu dengan kekasih onlinenya, karena sejujurnya dia tak tahan ingin bertemu dengan lelaki yang mengaku saat ini tengah berada di negara Ginseng.


.


.


Yanto yang selama ini menghilang tiba-tiba kembali pulang setelah mendengar kabar kalau rumahnya sudah di jual.


Bagaimana pun dia merasa turut andil membangun rumah itu.


Dia masuk melenggang begitu saja seperti tidak pernah terjadi sesuatu.


Dia melihat sudah banyak kardus di ruang tamu. Sofa kesayangan istrinya pun tidak ada. Hanya ada televisi dan juga lemari hias di sana.


Terdengar suara mereka tengah bercengkerama di dapur, Yanto pun bergegas mendekat ke sumber suara.


"Wah ... Wah enak ya jual rumah ngga bilang-bilang," sambarnya tanpa rasa bersalah.


Tiga wanita dewasa yang ada di meja makan melotot menatap biang sumber masalah mereka.


Tanpa banyak kata, Titik bergegas mengambil wajah dan mengangkatnya tinggi ke arah Yanto.


Hanya Ziva yang masih diam menikmati sarapannya. Wajahnya tampak pucat. Gadis remaja itu semakin tambah jadi pendiam tak seceria dulu.


"Kurang ajar kamu Yanto! Gara-gara kamu kami harus kehilangan rumah. Sini bayar hutang kamu ba*ji*ngan!" maki Titik.


Tyas sendiri terperangah dengan penampilan suaminya yang justru semakin tampak segar dan terawat.


Dirinya yakin selama ini sang suami menyenangkan diri sendiri tanpa mengingat dirinya dan juga anak mereka.

__ADS_1


"Keterlaluan kamu Pah! Ilang ngga ada kabar, lupain anak dan istri! Kamu tau ngga kalau aku lagi HAMIL!" pekik Tyas.


Yanto menegang, belum sempat bereaksi, wajan yang di pegang mertuanya sudah mendarat di tubuhnya.


Yanto berusaha menahan pukulan-pukulan yang di layangkan Titik secara membabi buta.


Merasa suasana tak mendukung dirinya, di tambah saat ini adik ipar serta istrinya pun ikut mengeroyoknya, Yanto memilih kabur dari rumahnya.


"Vangke! Awas aja mereka. Ck, jadi lusuh kan," gerutu Yanto sambil membenahi penampilannya.


Namun dia ingat jika tadi istrinya bilang sekarang dia sedang hamil. Yanto mengacak rambutnya, bagaimana lagi dia akan berbicara dengan Tyas kalau wanita itu juga sedang hamil.


Tujuan Yanto pulang, selain ingin meminta bagi hasil rumah itu, dia juga hendak meminta surat persetujuan Tyas agar bisa segera menikahi Ratih yang meminta pertanggung jawabannya.


Selama ini Yanto masih berada di daerah ini, tepatnya dia tinggal bersama Ratih sejak hari dia pergi dari rumahnya.


Dia merayu wanita yang selama ini menjadi selingkuhannya agar mau menampungnya. Ratih pun luluh karena wanita itu juga mencintai Yanto.


Akhirnya mereka memutuskan menikah siri dari pada nanti di amuk warga dan di usir.


Hidup Yanto makin sempurna karena Ratih tak seperti Tyas yang hanya bisa menengadahkan tangan padanya.


Ratih adalah wanita mandiri seperti Nina yang punya penghasilan sendiri. Meski dari wajah, jelas Ratih berbeda jauh dengan Nina yang cantik alami.


Dia juga masih menargetkan Nina untuk menjadi pasangannya. Namun saat ini biarlah dia dengan Ratih terlebih dahulu.


Untuk makan, dia tak pernah pusing karena Ratih memiliki usaha warung nasi.


Dia juga meminta pada rekan-rekannya untuk menutupi keberadaan dirinya.


Teman-temannya bukan ingin membela Yanto, hanya saja mereka malas ikut campur dalam rumah tangga Yanto.


Terlebih lagi Tyas juga wanita yang sangat menyebalkan, jadi mereka tak ada yang terenyuh dengan drama Tyas yang mencari suaminya.


Yanto lantas mendekati tetangganya, yang sedang menyapu halaman "Mbak, bener ngga Tyas hamil?"


Tetangga Tyas terkejut melihat keberadaan Yanto di depan rumahnya.


"Astaga Mas Yanto, baru pulang situ! Istri hamil malah kabur-kaburan!" maki tetangganya kesal.


Yanto mendengus, pikirannya mendadak kalut karena dua wanita dalam hidupnya sama-sama tengah mengandung.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2