Derita anakku

Derita anakku
Masih Sangsi


__ADS_3

Ahmadi serta Galih masih memperhatikan Citra yang terlihat sangat sulit di tenangkan.


Hingga akhirnya para petugas itu membawanya ke sel tahanan karena tak tahan dengan sikap Citra yang tidak kooperatif.


Entah apa yang di lakukan di dalam sana, Galih dan Ahmadi tak tahu. Mereka hanya menunggu keputusan para penyidik apa harus di sana atau di persilakan pulang.


Salah satu petugas yang tadi membawa Citra menemui mereka semua.


"Maaf bapak, sepertinya untuk keterangan saudari Citra nanti kami kabari lagi, karena tidak mungkin saat ini beliau mengaku. Terima kasih atas waktunya," ucap petugas sambil mengulurkan tangan.


Ahmadi dan Galih sedikit kecewa karena ingin sekali mendengar penjelasan dari mulut Citra tentang tujuan wanita itu membakar toko Nina.


Namun apa boleh buat, petugas kepolisian tentu punya alasan sendiri sebelum mempertemukan mereka seperti para tersangka lainnya.


Ahmadi dan Galih pun beranjak pergi karena memang tak ada yang bisa mereka lalukan lagi.


Galih termenung di sepanjang jalan. Dia memikirkan apa sebenarnya yang mendasari Citra melakukan hal keji seperti itu.


"Kamu kenapa Lih?" tegur Ahmadi yang berada di sebelahnya.


Untung mereka datang bersama dengan sopir pribadi Ahmadi jadi mereka bisa bertukar cerita di kursi kemudi.


Galih menghela napas, bimbang.


"Aku bingung bagaimana menjelaskan sama Mbak Nina Mas," ucap Galih jujur.


Seandainya saja dia tak mengenal Citra dan pernah berhubungan dengan wanita itu tentu Nina tak akan menerima kesialan seperti ini.


Galih merasa bahwa semuanya karena andil dirinya yang mungkin juga telah melukai wanita itu.


Yang membuatnya geram, harusnya Citra membalasnya sakit hatinya kepada dirinya jadi Galih tak perlu merasa bersalah pada Nina seperti ini.


"Loh memangnya kenapa? Kita tinggal ceritakan yang terjadi hari ini Lih," heran Ahmadi yang belum mengerti jalan pikiran adik iparnya.


Galih menarik napas panjang, "semua ini karena Galih, jadi mbak Nina yang terkena imbasnya," jawab Galih sendu.


Ahmadi tersenyum, kini dia paham apa maksud ucapan Galih sebelumnya.


"Ini bukan salah kamu Lih, jadi jangan merasa bersalah. Kita belum tau apa tujuan Citra melakukan hal itu bukan?" jawab Ahmadi menenangkan.


"Tetap aja Mas, kalau aja Galih enggak mengenal Citra, kemungkinan kejadian seperti ini enggak ada."


"Lih dengar, semua itu takdir, kita enggak tau apa rencana Allah. Tapi yang pasti mbakmu itu enggak akan sekalipun menyalahkan kamu. Kamu pasti tau itu kan?"


Galih mengangguk, dia memang yakin Nina tak akan menyalahkannya, tapi tetap saja dia merasa tidak enak hati.


Sesampainya di kediaman Ahmadi. Ibu hamil itu tengah bersantai bersama dengan Rima.

__ADS_1


Senyum Nina terkembang saat melihat sang suami dan adiknya pulang. Tentu saja dia merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di kantor kepolisian.


"Bagaimana Yah?" tanya Nina penasaran.


Ahmadi terkekeh gemas saat melihat Nina yang sudah tak sabar menunggu jawaban mereka.


"Sabar dong Ibun, ayah sama Galih haus ini loh. Enggak mau nawarin kami minum dulu kah?" keluh Ahmadi bergurau.


Nina tersenyum malu lalu meminta asisten rumah tangganya menyiapkan minuman dan makanan ringan untuk suami dan adiknya.


"Rima masuk ya Bun, ada tugas yang harus di selesaikan. Jangan lupa yang tadi ya Bun," ucap Rima mengingatkan pada sang ibu.


Ahmadi mengernyit heran dengan ucapan anak sambungnya, lantas menatap sang istri meminta penjelasan.


"Ada apa Bun?"


"Nanti Ibun kasih tau yah, sekarang jelaskan dulu bagaimana keadaan di kantor polisi?" elak Nina yang merasa permintaan putrinya bukanlah sesuatu yang harus di bahas segera.


Nina lantas menatap Galih yang sejak datang terlihat lesu.


"Kamu kenapa Lih?" tegur Nina.


Galih lantas menengadah menatap sang kakak sepupu lalu menatap Ahmadi.


Ahmadi lantas segera membuka pembicaraan karena tahu Galih masih merasa segan pada Nina.


"Ih apaan sih ayah! Bercanda aja. Jadi siapa pak Kumar? Kenapa dia tega banget membakar toko ibun. Apa merasa di saingi?" cecar Nina kesal melihat tingkah suaminya.


Ahmadi tergelak saat melihat wajah Nina yang memberengut kesal.


"Sabar dong, kan ayah lagi jelasin gimana orang itu. Untung Ibun enggak dateng, kalau iya bunda harus ngelus perut terus sambil bilang 'amit-amit cabang bayi tanpa henti'," jawab Ahmadi masih mengerjai istrinya.


"Tau ah Ayah! Orang udah penasaran kok malah jelasin yang enggak penting!" gerutu Nina sebal.


"Lah itu penting, amit-amit jangan sampai Ibun kesal terus anak kita mirip sama dia," masih belum puas Ahmadi menggoda istrinya.


Nina lantas mendengus dan menatap Galih yang berada di depan mereka.


"Siapa Kumar itu Lih?" tanya Nina akhirnya.


Galih yang sedari tadi sibuk dengan pikirannya tak memperhatikan pembicaraan kakaknya.


"Pak Kumar juga seorang preman suruhan seseorang Bun," sela Ahmadi yang akhirnya menjawab ke ingin tahuan sang istri.


Nina merasa pusing karena tersangka utamanya ini banyak sekali menggunakan jasa orang untuk menghancurkan usahanya.


Ibu hamil itu merasa jika orang yang melakukan perbuatan keji padanya pasti mempunyai rasa sakit hati yang tak terkira padanya.

__ADS_1


Mendadak perasaannya di liputi kecemasan. Bagaimana kalau setelah ini keselamatan keluarganya yang di pertaruhkan? Nina mendadak ketakutan.


Hormon ibu hamil yang sedang di alami Nina membuat wanita itu mudah sekali panik.


"Siapa sebenarnya yang mau menghancurkan Ibun Yah, ibun takut, siapa tau nanti dia mungkin berencana melukai keluarga kita."


Nina terisak, dia sungguh ketakutan andai hanya merasa iri dengan usahanya, mungkin orang itu sudah puas melihat kehancuran usaha miliknya.


Namun jika bukan itu alasan di balik kehancuran tokonya. Maka Nina jadi berpikiran buruk lagi.


"Tenang, pelakunya udah tertangkap kok," jawab Ahmadi menangkan sang istri yang terisak dalam pelukannya.


Nina menengadah menatap sang suami menuntut penjelasan.


"Memang siapa dalangnya Yah?" tanya Nina penasaran. Perasaannya sedikit lega karena pelaku utamanya telah tertangkap. Pikirnya.


"Dia ... Citra," ucap Ahmadi pelan.


Galih menunduk semakin dalam saat mendengar jawaban Ahmadi untuk kakak sepupunya.


"Ci-Citra?" Nina tampak tak percaya dengan kenyataan itu. Dia bahkan sampai menutup mulutnya dan menggeleng pelan.


"Enggak mungkin," sambungnya lirih.


Antara percaya dan tak percaya. Dia merasa bukan Citra dalang di balik pembakaran tokonya.


Karena seperti Galih, Nina tahu betul bagaimana kehidupan gadis itu. Uang dari mana Citra untuk membayar para preman yang dia perintahkan untuk menghancurkan tokonya.


"Kenyataannya. Tadi polisi berhasil membekuk Citra Bun. Cuma, kita belum bisa mendengarkan pengakuannya. Karena Citra menolak mengakui," jelas Ahmadi.


"Maafkan aku Mbak," sela Galih tiba-tiba.


"Kenapa kamu minta maaf Lih?" heran Nina.


"Andai saja Galih enggak pernah memperkenalkan Citra ke keluarga kita, mungkin mbak Nina enggak akan mengalami ini," jelas Galih.


Nina tersenyum hangat. Kini dia tahu apa yang sedang di pikirkan adik sepupunya itu.


"Ini bukan salah kamu Galih. Mbak cuma enggak percaya aja kenapa Citra bisa melakukan hal ini. Jujur mbak masih sangsi. Mbak yakin ada yang sedang mengambing hitamkan dia. Orang yang lebih berkuasa lagi pastinya," ucap Nina tiba-tiba.


.


.


.


tbc

__ADS_1


__ADS_2