
Suara lenguhan terdengar dari mulut Rima. Gadis itu berusaha membuka matanya secara perlahan, tapi sakit di kepala membuatnya urung membuka mata.
"Aduh!" keluhnya pelan.
"Rima? Lu udah sadar?" suara Andi terdengar sangat dekat di telinganya.
Kenapa ada Ka Andi?
"Lebay banget sih, gitu aja pingsan!" cibir Vira yang mau tak mau ikut menemani Rima.
Di samping dia ikut bertanggung jawab akan keadaan Rima karena dialah yang jadi pembina acara masa orientasi siswa baru.
Dia juga tak mau membiarkan Rima berduaan dengan Andi di UKS.
"Lu ini aneh! Udah tau di sakit masih aja di cibir, sadar Vir, ini semua gara-gara Lu," balas Andi sengit.
Vira memutar bola matanya jengah, lagi-lagi dia di salahkan oleh Andi.
"Dia aja lemah!" jawabnya.
Andi malas mendengar ucapan gadis itu, berulang kali dia mengusir Vira, akan tetapi gadis itu tetap tak mau beranjak.
Alasannya dia harus bertanggung jawab menjaga Rima, tapi dia selalu membuat Andi jengkel dengan segala sanggahannya.
"Rima, Lu dengar Gue kan?" tanya Andi.
Rima hanya mengangguk karena dia masih belum bisa membuka matanya.
"Lu mau apa?" tawar Andi lagi.
"Haus ka," cicit Rima.
Andi terkekeh lalu memberikan botol air mineral dengan sebuah sedotan mendekati bibir pucat Rima.
"Sini aku aja!" Vira merebut botol yang sedang di pegang Andi.
"Lu dari tadi ngomel mulu, ngga guna banget sih!" gerutu Andi. Namun pemuda itu tetap membiarkan apa yang di lakukan oleh Vira pada Rima.
"Sebaiknya Lu kasih tau Pak Bandi untuk mengizinkan Rima pulang!" saran Andi.
Vira hanya mencebik. Setelah bisa melegakan tenggorokannya Rima akhirnya bisa membuka mata meski pandangannya masih agak samar.
Andi mendekati Rima saat gadis itu tengah menyesuaikan pandangannya.
"Ka Andi?" panggil Rima.
"Hemm ..." jawab Andi datar, meski dalam hati jantungnya berdebar sangat kencang.
Sialan! Kenapa Gue gugup ya.
"Lu mau pulang?" tanya Andi datar.
Rima hanya mengangguk, sungguh dia tak akan sanggup melanjutkan kegiatannya hari ini. Tubuhnya lemas sekali dan perutnya terasa sakit.
"Mau Gue anter?" tawar Andi.
Rima menggeleng, membayangkan dirinya menaiki motor Andi membuat nyalinya ciut.
"Kenapa?" tanya Andi bingung.
"Encok aku naik motor kakak, mana perut sampai ke pinggang aku lagi sakit," keluhnya.
Entah kenapa mendengar ucapan Rima bukannya membuat dia kesal justru Andi terkekeh gemas.
__ADS_1
Vira yang tiba-tiba masuk dan mendengar suara tertawa Andi merasa tak senang.
"Udah aku mintain izin," ucapnya ketus sambil menyerahkan kertas izin Rima.
"Thanks," jawab Andi datar.
"Lu bisa bangun apa mau di gendong Gue lagi?" tawar Andi mengejek.
"Hah! Gendong? Emang tadi aku di gendong ke sini Ka?"
"Iyalah, mana berat, kirain badan kecil kaya kamu enteng, ternyata berat juga."
Rima merasa malu karena mendengar ejekan Andi padanya.
Siapa juga yang minta di gendong!
Rima berusaha bangkit duduk dan benar saja kepalanya berputar-putar lagi.
Dia lalu turun secara perlahan sambil masih memegangi sisi ranjang.
"Maksih kalau gitu Ka," ucap Rima lemah.
"Kaya ngga ikhlas gitu lu!" gerutu Andi.
Rima enggan berdebat dengan Andi dan memilih segera berlalu dari sana.
"Etdah ini anak!" keluh Andi tetap mengikuti langkah Rima yang tertatih.
"Mau ke mana sih!"
"Mau pulang lah Ka!" jawab Rima kesal.
Sedangkan Vira seperti tak di anggap sama sekali oleh keduanya. Lantas memilih berlalu karena kesal. Tak ada yang peduli dengan kepergian gadis itu.
"Ngga usah Ka, makasih, aku naik ojek aja," tolak Rima.
"Lu diem tunggu di sini! Jangan nolak!" kecam Andi setelah membuat Rima duduk di samping lapangan.
Pemuda itu menuju kelas untuk meminjam motor teman sekelasnya.
"Jek, pinjem motor Lu!" pintanya pada pemuda bergigi gingsul.
Pemuda yang di mintai pinjam motornya itu lalu menyerahkan kunci motor meticnya pada Andi.
"Buat apaan Ndi? Mau ke mana emang?" tanyanya.
"Dah tenang aja, gue pasti balikin, nih kalau ngga percaya, pegang kunci motor gue!" jawab Andi sambil menyerahkan kuci motornya.
"Weh seriusan ini, boleh ya gue coba!" Zaky sangat senang karena di pinjami motor Andi.
"Serah!"
Pemuda itu lantas berlalu menuju lapangan tempat para siswa baru sedang beristirahat.
"Tas Rima yang mana?" tanyanya asal.
Ayu yang tau apa maksud kakak kelasnya lantas mengangkat tangan.
"Ini Ka, tasnya," jawab Ayu sambil menyerahkan tas temannya.
Bisik-bisik di lapangan membuat suasana sedikit heboh, sebab teman seangkatan mereka bisa dekat dengan salah satu most wanted sekolah.
Gila, Rima bisa langsung kenal sama Ka Andi, batin Ayu.
__ADS_1
Setelah mendapatkan barang milik Rima, pemuda itu lantas mendekati Rima yang masih menunggunya di kursi sambil terpejam.
"Ayo!" ajaknya.
Rima membuka mata saat suara Andi kembali terdengar.
Di bahu pemuda itu sudah tersampir tas miliknya. Rima bingung bagaimana pemuda itu tau barang-barangnya.
"Ngapa diem aja? Buruan!" sentaknya membuat Rima sedikit berjengit kaget.
"Iya Ka, sabar, aku ini lagi sakit loh!" gerutu Rima.
Rima sebenarnya malas sekali pulang dengan motor Andi, berbagai alasan tengah gadis remaja itu pikirkan untuk menolak.
Namun karena keadaannya sedang sakit, otaknya buntu dan dia pasrah saja dengan apa yang Andi lakukan.
Karena jalan Rima yang lambat, refleks Andi menggandengnya agar sedikit cepat.
"Ka, ya ampun," keluh Rima. “Lu lelet!”
Keduanya sudah berada di parkiran, Rima terkejut karena Andi membawanya pada sebuah motor matic besar yang dia tau bukan milik pemuda itu.
"Ini motor siapa Ka?" tanya Rima heran.
"Udah bawel, mending naik aja!" sambar Andi lalu memakaikan helm pada kepala Rima.
Rima mengedikkan bahu cuek, baguslah setidaknya dia tidak kesulitan menaiki motor itu.
Sepanjang jalan Andi tak mengerti dengan sikapnya hari ini. Dia yang tidak pernah memedulikan orang lain, justru malah khawatir pada Rima, gadis yang telah di kerjainya kemarin.
Pemuda itu tak tau dengan hatinya sendiri, dia mengelak jika di katakan kalau menyukai gadis itu, mungkin hanya terpesona sesaat saja, begitu sanggahannya.
Tak terasa keduanya telah sampai di kediaman Rima.
Rumah gadis itu memang sepi jika pagi hari sebab sang ibu berada di toko dan kakak sepupunya Galih bekerja di kantor.
"Maksih ya Ka. Sebaiknya kakak buruan pulang nanti malah telat masuk kelas," ucap Rima setengah mengusir kakak kelasnya itu.
"Lu ngusir gue?" sindir Andi.
Rima mendesah, "bukannya ngusir, kakak kan emang masih ada kelas. Lagian aku mau istirahat Ka," jawab Rima meminta pengertian Andi.
Pemuda itu lantas melonggokkan kepalanya ke rumah Rima yang tampak sepi.
"Rumah lu sepi?"
Rima menjawab dengan anggukan.
"Terus siapa yang urus Lu dong?"
"Aku cuma butuh istirahat Ka. Udah ya Ka, makasih udah anterin aku pulang."
Rima benar-benar gemas dengan Andi yang seperti enggan meninggalkannya.
"Serius Lu mau sendirian?"
.
.
.
Tbc
__ADS_1