Derita anakku

Derita anakku
Pernikahan Nina dan Ahmadi


__ADS_3

Hari pernikahan Nina dan Ahmadi tiba. Suasana gedung mendadak ramai karena kedatangan seseorang.


"AHMADI!" pekik wanita itu dan menatap mereka dengan nyalang.


"Lyra?" ucap Ahmadi bingung.


Dia memang sengaja tidak mengundang Lyra dan suaminya. Sebab saat dia memberitahukan wanita itu tentang rencananya, Lyra justru marah dan pergi begitu saja.


Kali ini teman masa mudanya kembali berulah, membuat mereka semua tak habis pikir.


Lyra mendekati Ahmadi tanpa tahu malu dan memeluk tubuh tegap lelaki yang baru saja menyandang sebagai suami baru Nina.


Mata Nina membulat sempurna kala melihat kelakuan wanita yang tiba-tiba memeluk suaminya.


Begitu pula dengan Ahmadi, lelaki berwajah khas timur tengah itu spontan melepaskan pelukan Lyra.


"Kamu apa-apaan Ra!" sentaknya gusar.


Dia menatap istrinya yang sudah merah padam melihat kelakuan Lyra.


Wajah Lyra juga sudah tak karuan, riasannya luntur karena wanita itu terlalu banyak menangis.


"Kenapa kamu tega Ahmadi?" ucapannya seolah-olah mereka adalah pasangan kekasih.


Benar-benar tak habis pikir dengan sikap Lyra. Mengapa dia bisa berkata hal-hal tak masuk akal di pernikahan Ahmadi dan Nina.


"Kamu yang kenapa Lyra? Datang-datang mengacau acara kami. Kalau hendak mengucapkan selamat, maka kami akan dengan senang hati menerimanya. Tapi ini apa?!" ucap Ahmadi yang berusaha sekuat mungkin menahan amarahnya.


Ingin sekali lelaki berwajah timur tengah itu melempar Lyra keluar dari gedung pernikahannya.


Dia tak menyangka jika Lyra benar-benar terobsesi dengannya.


"Kamu tega!" lagi air mata Lyra mengalir dengan deras. Dia tak mengira jika temannya yang sangat dia cintai itu kini berani meninggikan suaranya, bahkan di depan wanita lain.


Lyra lalu menatap nyalang Nina yang terbalut gaun putih indah. Dalam hati memaki ibunda Rima itu.


Harusnya aku yang di sana! Harusnya aku yang menggandeng tangan Ahmadi!


"KAU! DASAR PELAKOR!" ucapnya salah sasaran.


"MAMAH!" bentak suara seorang pemuda yang baru saja masuk ke dalam gedung pernikahan.


Itu adalah suara dari sang putra, dia mengetahui acara pernikahan pujaannya pun dari pemuda itu.


Andi memang di undang secara khusus oleh Nina meski Ahmadi dan Nina tak mengundang Lyra dan Baron.


Namun Nina meminta Andi tak memberitahukan acara mereka pada orang tuanya.

__ADS_1


Andi pun setuju, sebab dia memang mengetahui perasaan khawatir Nina dan Ahmadi.


Sejujurnya Andi dan Denish memang merasa malu dengan sifat kedua orang tua mereka.


Namun mau bagaimana lagi, andai boleh memilih, mereka pasti tidak ingin hadir di kehidupan keluarga seperti Lyra dan Baron.


Lagi-lagi Lyra membuat ulah yang bahkan nanti dia sendiri yang akan mendapatkan akibatnya. Benar, mungkin kali ini Baron akan menghajar ibunya kalau sampai lelaki keras itu melihat hal ini.


Andi bergegas naik ke atas panggung dan menarik sang ibu agar menjauh dari Nina dan Ahmadi.


Pemuda itu benar-benar merasa frustrasi dengan sikap sang ibu. Dia jadi merasa malu dan minder dekat dan menyukai Rima yang notabenenya dari keluarga baik-baik.


Saat akan membawa sang ibu keluar. Andi bertemu dengan Citra, guru pembimbingnya dulu.


"Andi?" panggilnya heran.


Andi menatap Citra datar. Baginya wanita itu adalah masa lalu yang sudah dia buang jauh-jauh dalam ingatannya.


Meski usia keduanya terpaut lima tahun, tapi keduanya sempat dekat. Citra adalah cinta pertama dan juga luka pertama bagi Andi, meski saat itu dia belum menyadari apa itu cinta atau hanya sekedar mengagumi.


Galih yang saat ini adalah kekasih Citra mengepalkan tangannya dalam saku celana. Inilah alasan mengapa dirinya tak menyukai Andi, selain di rasa Andi tak pantas dengan keponakannya yaitu Rima.


Andi juga adalah lelaki yang hingga kini masih di inginkan oleh sang kekasih.


Citra menjauhi Andi dulu karena dirinya sudah di ancam oleh Lyra dan juga Baron. Citra di paksa melepaskan cintanya karena menurut orang tua Andi kasta mereka sangat berbeda.


"Cit, ayo masuk Mbak Nina pasti udah nungguin kita!" sela Galih yang tak ingin sang kekasih menemui masa lalunya.


"Tunggu Lih, aku mau bicara sama Andi," tolak Citra.


"Andi kalian kenapa?" tanya Citra penasaran.


"Kau, menyingkir dari kehidupan anakku! Dasar manusia miskin, kalian berpikir terlalu jauh kalau mau menjadi parasit di keluarga kami!" maki Lyra pada Citra.


Sebenarnya sikap Lyra terhadap anak-anaknya cukup baik dan lembut. Dia akan berbeda seratus delapan puluh derajat jika berhubungan dengan calon pasangan anak-anaknya.


Baginya, kasta sangat penting karena entah kenapa seperti kutukan turun temurun bagi keluarga kaya raya.


Lyra tidak sadar bahwa apa yang dulu pernah dia rasakan dia lakukan lagi kepada putra-putranya.


Lyra sejak dulu sangat menyukai Ahmadi. Namun karena keluarga Ahmadi dulu tidak sekaya sekarang, mendiang ayah Lyra menghina Ahmadi dan melarang Lyra menyukai lelaki yang kini telah sah menjadi suami Nina.


"CUKUP MAH!" bentak Andi yang sudah mulai jengah dengan kelakuan Lyra.


"Bisa enggak mama ngga buat malu anak-anak mamah Hah?!" makinya lagi.


Andi tak peduli jika kini mereka jadi bahan tontonan para tamu Ahmadi dan Nina.

__ADS_1


Ahmadi yang melihat dari kejauhan memilih turun tangan karena kelakuan mereka justru lebih seru di tonton dari pada acaranya.


"Mas," cegah Nina yang khawatir dan juga sedikit cemburu karena sang suami terlihat masih khawatir dengan teman masa mudanya.


"Mas takut jadi bahan gunjingan kalau Andi tak segera membawa Lyra pergi. Kamu tenang di sini ya," ucap Ahmadi menenangkan.


Dia lantas meminta putri-putrinya menemani Nina di atas pelaminan.


"Rima, Aneke, jaga Ibu sebentar!" pintanya.


Kedua saudari tiri itu lantas mengangguk setuju dan duduk mengapit Nina di kursi pelaminan.


Ahmadi mendekati Andi dan juga Lyra yang masih tak kunjung pergi dari gedung tempatnya resepsi.


"Lyra tolong jangan begini. Kamu tau, kalau kamu mempermalukan diri sendiri? Kita sudah punya pasangan masing-masing Ra," pinta Ahmadi lembut.


Sedangkan Citra sudah terisak mendengar hinaan dari mantan wali muridnya. Ucapan yang sama saat dirinya dekat dengan Andi dulu.


"Andi tolong, kamu sanggup enggak? Kalau enggak terpaksa om minta keamanan, ini sungguh mengganggu," ucap Ahmadi apa adanya.


"Kamu ngusir aku Di? Aku cinta sama kamu. Kamu tau itu. Aku cuma minta tolong tunggu, aku pernah kehilangan kamu dan aku ngga mau lagi kehilangan kamu," isaknya.


Andi kembali menahan tubuh ibunya, kala Lyra hendak mendekati Ahmadi. Dia sangat tahu pikiran sang ibu yang akan memeluk lelaki yang bahkan terlihat sudah mulai jengah dengan sikap ibunya.


"Kamu ngga malu ngomong gitu Ra? Ingat, kamu masih punya suami. Aku ini cuma temanmu, dari dulu perasaanku ke kamu masih sama. Hanya sebatas teman, kamu tau itu."


"Sekarang aku minta tolong pergi dengan tenang. Hargai aku," ucap Ahmadi datar.


"Kami permisi om, maafkan sikap mamah," sela Andi yang segera menarik sang ibu menjauh.


Dia sudah cukup malu dengan sikap sang ibu yang menjatuhkan harga dirinya.


Citra memandang sendu pada pemuda yang dia cintai dulu. Cinta antara guru dan murid.


Dia akui dalam hati jika Andi tumbuh menjadi sosok pemuda yang sangat tampan.


"Ayo Cit masuk!" ajak Galih yang melihat pandangan Citra masih ke arah Andi.


"Sepertinya kamu apa keluargamu mengenal Andi cukup dekat, Lih?" tanya Citra tiba-tiba.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2