
Rima tergesa-gesa memasuki sebuah gedung perkantoran. Gara-gara harus mengikuti keinginan ngidam istri dari Galih, dia hampir terlambat masuk kerja hari ini.
"Ya ampun Rim, kamu tumben banget sih kesiangan?" ucap Anita rekan kerja Rima.
"Maaf Nit, ini loh kakak sepupuku ngidam aneh-aneh, masa dia ingin aku pakai kebaya pengantin malam tadi coba, makanya aku telat, karena nyari yang sesuai dengan keinginan dia!" keluh Rima.
"Ada-ada aja kakak ipar kamu. Eh kamu tau enggak Rim, katanya CEO baru kita ini gantengnya bukan main. Tapi dingin banget," jelas Anita antusias.
"Dingin? Emang dia es krim, ada-ada aja kamu Nit!" elak Rima.
"Iya loh, aku kata Bu Natalie, tapi sayang dia galak banget, katanya mending pak Bowo dari pada atasan kita sekarang, tapi mau gimana lagi kan?" keluh Anita.
"Cih kamu mah Nit, dulu kamu ngeluh katanya pak Bowo lelet banget, tua lagi, giliran dapet yang muda terus tegas, kamu bilang dingin sama galak. Susah ya ngikutin mau kamu," cibir Rima.
"Ko kesannya atasan yang harus ngikutin selera bawahan ya," sambung Rima lalu keduanya kembali terkekeh.
"Oi ngobrol mulu, atasan baru kita udah di ruang rapat, kita di suruh ke sana!" seru Nuri rekan kerja mereka.
Rima dan Anita bergegas menyusul kawan mereka. Di dalam lift, Anita dan Rima mencoba merapikan diri. Rasa gugup bercampur penasaran melingkupi hati keduanya.
Ruang rapat sudah penuh dengan beberapa karyawan yang memang di minta hadir menyambut di sana.
"Ya ampun ganteng banget, gila, makin betah kerja nih kalau bos kita kaya gini," bisik salah satu karyawan wanita di hadapan Rima dan Anita.
Sedangkan Anita masih berusaha melihat ke arah depan karena atasan mereka tengah duduk.
"Ishh, telat sih jadi kebagian paling belakang. Enggak kelihatan lagi," bisik Anita menggerutu.
Tak lama seseorang bicara menggunakan microphone membuat mereka semua terdiam. Salah satu petinggi di perusahaan mereka memberikan sambutan pertama untuk atasan baru mereka.
Saat orang tersebut menyebut nama atasan baru mereka, Rima tertegun. Nama yang sama dengan seseorang yang sangat Rima rindukan.
Sepuluh tahun sudah mereka tak pernah berkabar, hati Rima merancu. Kenangan terakhir tentang sosok pemikat hatinya membuatnya ingin sekali menangis.
Rasa rindu, kesal dan sakit hati bercampur menjadi satu saat sosok Andi hilang bak di telan bumi.
Rima yang kehilangan jejak lelaki yang telah mencuri hatinya itu di liputi rasa sesak tiap kali mengingat janji mereka dulu.
"Rim! Astaga ganteng banget sumpah, lihat deh!" seru Anita yang membuat Rima menengadah mencari sosok atasan mereka.
__ADS_1
Deg.
Rima membeku, seseorang di sana sangat familier baginya. Meski banyak yang berubah tapi wajahnya masihlah sama, hanya bertambah dewasa dan terlihat lebih berkharisma.
Sorot matanya juga masih tajam, perasaan Rima campur aduk, ingin berlari dan meminta kejelasan pada lelaki itu mengapa dia tega meninggalkannya tanpa kabar.
Namun melihat sorot matanya yang seperti asing, membuat harapan Rima pupus sudah.
Apa yang bisa dia harapkan dari lelaki yang sudah mengingkari janjinya? Rima memilih kembali menunduk menahan sesak di dadanya.
Setelah ucapan sambutan dan perkenalan Andi pada karyawannya, mereka semua di bubarkan kembali untuk mulai bekerja.
"Nona Rima, tolong datang kemari," panggil Andi membuat langkah para karyawan terhenti seketika.
Mata Rima membulat, dia menatap tak percaya pada lelaki yang telah membuatnya kecewa sangat dalam itu.
"Nona Rima? Apa Anda bisa mendengar saya?" sindir Andi yang membuat Rima gelagapan.
Anita yang di sebelahnya juga merasa heran karena atasan baru mereka justru memanggil Rima seolah mereka sudah saling kenal.
Anita kembali menyenggol tubuh Rima dan berkata lirih, " kamu kenal bos baru kita Rim?" cecarnya.
"Apa Anda tidak mau mendekat Nona Rima?" Ancam Andi dengan suara yang sangat datar.
"Saya Pak, ada yang bisa saya bantu?" tawarnya gugup.
"Pak Damar tolong jelaskan pekerjaan baru Nona Rima," titah Andi pada orang kepercayaannya.
"Nona Rima Kusmarini, mulai hari ini Anda akan di tugaskan menjadi sekretaris tuan Andi. Ayo ikut kami ke ruangan!" ajak Damar.
Rima terdiam tak percaya, bagaimana bisa staf biasa sepertinya bisa tiba-tiba bekerja menjadi seorang sekretaris CEO.
Andi dan Damar sudah melangkah hendak meninggalkan ruang rapat. Saat melewati Rima Andi tersenyum tipis. Hatinya melega setelah melihat Rima.
Sekian lama berpisah dari gadis pujaannya membuat hati lelaki itu juga membuncah ingin segera di tuntaskan.
Namun dia sadar, tak ada hubungan apa pun di antara mereka saat ini dan dia tak mau merusak Rima.
Rima masih mematung di tempatnya hingga membuat langkah Andi dan Damar juga terhenti. Andi lantas menoleh dan berkata "Apa kamu mau melongo di sana aja Nona Rima?" sindirnya.
__ADS_1
Rima seakan di sadarkan dengan tingkahnya lantas berbalik dan mengikuti langkah dua lelaki di hadapannya.
Andi masih bersikap datar padanya. Hanya sesekali pandangan keduanya saling bertemu dan membuat Rima salah tingkah.
Rima masih mendengarkan penuturan Damar tentang tugas-tugasnya. Setelah itu Rima di minta keluar dan segera menempati ruang kerjanya.
Andi menatap penuh arti gadis yang sudah mencuri hatinya itu. Sepuluh tahun tak bertemu membuat perubahan yang sangat besar pada diri Andi.
Selain bertambah dewasa dari segi pemikiran. Lelaki itu juga menjadi semakin menawan.
Saat tengah membereskan meja kerjanya yang lama untuk bisa pindah ke ruangan barunya. Anita segera mencecarnya karena sudah tak tahan dengan rasa penasarannya.
"Demi apa, bos ganteng kita kenal sama kamu Rim! Kok kamu enggak bilang-bilang sih!" gerutu Anita dengan suara melengkingnya, hingga membuat beberapa pasang mata yang ada di ruangan mereka menatap ke arahnya.
"A-apaan sih Nit. Orang tau karena aku ternyata mau di pindahin jadi sekretarisnya kali," kilah Rima karena tak ingin menjadi bahan gosip baru di kantornya.
"Hah? Kamu jadi sekretaris bos baru? Ah kok bisa gitu, gimana ceritanya? Kamu enggak pernah ngomong apa-apa sama aku Rim," keluh Anita.
"Aku juga enggak tau Nit, sumpah deh," jawab Rima jujur.
Bukan hanya Anita, semua rekan kerja Rima juga merasa heran dengan pemilihan Rima sebagai sekretaris baru atasan mereka.
"Ya udahlah, mungkin memang kamu di nilai secara tersembunyi oleh mereka," sambar Nuri.
Rima bergegas ke tempatnya bekerja. Di sana sudah ada Damar yang akan membantunya.
Lelah, tentu saja, tapi Rima merasa senang, lama bekerja kini posisinya tiba-tiba naik dengan sangat cepat. Meski dia bingung, bagaimana nanti harus selalu berhadapan dengan Andi.
Namun segera di tepisnya, dia akan bersikap profesional dan bekerja dengan baik, pikirnya.
Saat waktunya pulang kerja, langkah Rima terhenti kala melihat pemandangan yang sangat menyakitkan di lobi kantor.
Dia melihat jika Andi tengah menggendong seorang anak laki-laki. Di depan mereka ada seorang wanita berambut pendek yang sangat cantik menurut Rima.
Ketiganya seperti keluarga harmonis, bahkan wanita itu tak segan merangkul tangan Andi hingga ketiganya memasuki mobil yang sama. Sesak tentu saja, tapi apa yang bisa Rima harapkan? Toh dia bukanlah kekasih Andi.
.
.
__ADS_1
.
Tbc