
Semua memandang Rima. Namun tatapan wanita bermata teduh itu tentu hanya tertuju pada suaminya.
Terlihat sekali pancaran permohonan dari sorot mata Andi. Suaminya pasti berharap padanya saat ini. Mungkin juga salah satu cara Andi mempertahankan pernikahannya.
"Iya Mbak, mbak bisa hubungi saya. Saya juga akan menganggap Julian seperti anak saya sendiri," jawab Rima yakin.
Febriana tak terima, jelas dia tak mau sang putra di rawat oleh orang lain selain dirinya.
Dia hanya perlu Andi sebagai pengganti mendiang suaminya. Bukan Rima yang justru akan menggantikan dirinya.
"Enggak bisa, aku enggak mau. Pokoknya aku mau Andi menikahiku, enggak papa jadi istri kedua juga. Tolonglah, kamu kan perempuan, harusnya tau bagaimana perasaanku, aku memikirkan putraku," tolak Febriana.
"Cukup! Sebaiknya kamu pergi Feb. Sudah aku katakan berulang kali, kalau tidak akan ada pernikahan antara kamu dan aku, jadi ... Sebaiknya kamu pulang saat ini," sela Andi tajam.
"Ka-kamu ngusir aku Ndi? Tadi aku ke sini sama kamu, kamu harus mengantarku pulang! Lagi pula aku memang udah muak di sini," jawab Febriana ketus.
Tak lama seseorang masuk bersamaan dengan asisten rumah tangga Nina.
"Siapa Bik?" tanya Nina pada asisten rumah tangganya.
"Ini bu, katanya sopirnya Mas Andi," jelas pembantu Nina.
Nina lalu menatap menantunya meminta penjelasan.
"Silakan kamu pulang sama pak Tejo Feb," ucap Andi datar.
Febriana bangkit dengan perasaan amarah yang berusaha dia tahan. Dia tak mau mempermalukan diri lagi. Biarlah nanti dia mencari cara membalas perbuatan Andi dan keluarga mertuanya.
.
.
Selepas kepergian Febriana, Andi bangkit dan mendekati Rima yang kembali menunduk.
"Maafkan aku sayang," ucap Andi lembut.
"Aku takut Ka," jawab Andi jujur.
Andi sangat tahu apa yang di takutkan dan di khawatirkan oleh istrinya itu, apa lagi kalau bukan ucapan Febriana tadi.
__ADS_1
"Jangan takut aku akan selalu melindungi kamu," jawab Andi penuh keyakinan.
"Menghadapi seseorang seperti mantan kakak iparmu perlu ketegasan Ndi!" sela Ajeng yang sejak tadi memilih mendengarkan dari ruangan sebelah.
"Coba kamu pikirkan baik-baik ada kemungkinan enggak, kakak iparmu itu menyakiti Rima atau kami dengan cara yang licik bahkan kejam?" sambung istri dari Galih itu.
Ucapan Ajeng justru membuat Nina semakin tegang. Pikirannya langsung ke mana-mana.
"Ma-maksud kamu Jeng?" sela Nina lemah.
Ajeng duduk di samping suaminya dan menatap seluruh keluarganya, lalu terakhir pandangannya tertuju pada pasangan pengantin baru itu.
"Maaf Ndi, bukannya mbak mau menyamakan kedudukan seorang, tapi orang seperti kalian yang hidup bergelimang harta dan pebisnis, tak ayal pasti memiliki orang yang bisa melakukan hal hitam. Aku yakin kalian paham maksudku," jelas Ajeng sambil mengedikkan bahu.
"Maksud kamu, bisa aja si Febri menyewa seseorang untuk mencelaki kami?" sambar Nina setelahnya ia terkulai lemah.
Ibunda Rima itu sampai harus di peluk sang suami yang berada di sebelahnya.
"Kamu malah nakut-nakutin mbak Nina yang!" keluh Andi sambil mengusap perut sang istri.
Namun adik sepupu Nina juga tak menampik apa yang di katakan sang istri. Dia yang seorang pekerja di sebuah perusahaan tentu paham, para petinggi seperti Andi yang memiliki kekuasaan cukup besar, biasanya mampu melakukan hal-hal di luar nalar orang-orang biasa seperti mereka.
"Lalu kita harus gimana Ndi? Hanya kamu yang tau seperti apa perangai mantan kakak iparmu itu," sambar Nina pada menantunya.
"Bun, bolehkah aku membawa Rima menemui mamah?" pinta Andi yang sudah tak sabar ingin mempertemukan dua orang yang dia cintai itu.
"Apa harus saat ini?" jawab Nina cemas. Meski kini bakti sang putri ada pada suaminya. Namun kecemasan ibu dua anak itu belum juga hilang, terlebih melihat gelagat permusuhan dari sorot mata Febriana pada putrinya.
"Saya mohon Bun, saya yakin Rima akan baik-baik aja sama saya," bujuk Andi.
Melihat sang suami yang seperti putus asa, Rima pun menoleh pada sang ibu.
"Bun, enggak papa, mamah mertua mungkin memang ingin bertemu sama Rima. Ibun tenang aja ya," sambung Rima meyakinkan.
Ahmadi juga mengangguk meyakinkan sang istri. Dengan berat hati Nina akhirnya melepaskan sang putri agar bisa pergi menemui mertuanya.
"Nak Andi, apa ibu boleh minta sesuatu?" pinta Nina tiba-tiba.
Andi merasakan sedikit perasaan cemas, jangan sampai ibu mertuanya melarang dia bersama istrinya lagi.
__ADS_1
"Iya Bu, bilang aja," jawab Andi tenang.
"Ibun minta kalian tinggal di sini dulu ya, kamu juga Lih, kalian tinggal di sini dulu semua. Ibun khawatir, enggak tenang kalau kita tinggal terpisah-pisah."
Begitulah kecemasan Nina, sejak dulu saat dirinya hendak di celakai Lyra, ibunda Rima itu seperti mengidap kecemasan berlebih.
Beruntung Galih dan Ajeng sudah paham dengan sifat Nina, jadi tanpa banyak mengeluh keduanya menyetujui permintaan Nina.
Andi pun bernapas lega, sebab hanya seperti itu permintaan mertuanya. Jika hanya di minta untuk tinggal di rumah sang mertua tentu dia tak keberatan sama sekali.
Melihat sang menantu diam saja, Nina pun melanjutkan lagi ucapannya.
"Selama kita belum tau apa yang akan di lakukan Febriana, kita harus selalu bersama, saling mengabari ya, jangan ada yang pergi sendiri-sendiri," jelasnya.
Ahmadi terkekeh, lagi-lagi sang istri akan sangat protektif melindungi keluarganya.
"Kamu harus tenang sayang, jangan cemas berlebihan kaya gitu. Kamu tau sendiri asam lambungmu akan naik dan kamu malah nanti yang sakit karena memikirkan sesuatu yang terlalu berlebihan," jawab Ahmadi.
Nina mencebik, dirinya memang cemas dan takut. Dia bergumam dalam hati, kapan keluarganya akan kembali tenang dalam menjalani hidup tanpa ada gangguan dari orang yang ingin memorak-porandakan kehidupannya.
"Ibun juga pengennya tenang, tapi enggak bisa. Asal kalian janji selalu menjaga diri mungkin lama-lama juga kecemasan ibun hilang sendiri," gerutunya.
"Ya udah bun. Kasihan itu anak sama menantu kita dari tadi udah mau pergi tapi masih nunggu wejangan kamu aja," gurau Ahmadi yang mendapatkan pukulan di lengannya.
"Ya udah Nak Andi sama Rima kalau mau pergi, silakan, kalian mau nginap di sana?" tanya Ahmadi.
Rumah sakit tempat Lyra di rawat berjarak dua jam dari kediaman mereka. Hari juga sudah siang, Ahmadi yakin mereka tak mungkin juga hanya sebentar di sana.
Dia jua khawatir jika anak sambung dan menantunya itu pulang larut malam. Jadi lebih baik menginap saja di daerah sana.
"Gimana kalau kita nginap di hotel aja sayang?" tawar Andi dengan senyum miringnya yang memesona.
Rima yang tahu maksud tatapan sang suami bergidik ngeri membayangkan sesuatu yang seharusnya mereka lakukan sejak kemarin.
"Iya sana gih, sekalian bulan madu mini," sambar Ajeng yang tambah membuat Rima salah tingkah.
.
.
__ADS_1
.
Tbc