
Sepeninggal Nina dan tamunya. Sugi dan Galih merasa gelisah.
Terlebih lagi saat Rima mengatakan jika Budi dan keluarganya bukanlah orang baik.
Rima menceritakan semua yang dia ketahui saat berada di kediaman Budi dan juga pada saat sebelum ibunya pulang ke kampung sang kakek.
"Jadi maksud Rima, orang tadi mau mencelakai Ibu kamu?" cecar Sugi.
Dia merasa bersalah, harusnya tadi dia tidak membiarkan Nina pergi seorang diri.
Kini mereka juga bingung mau mengikuti mereka ke mana.
Lalu Galih ingat akan temannya yang seorang ahli pelacak. Dia menghubungi temannya itu untuk mencari tahu keberadaan Nina saat ini.
Temannya bisa membantu asalkan ponsel Nina dalam keadaan aktif.
Galih berdoa semoga Nina mengaktifkan ponselnya. Dia tidak bisa memastikan dengan menelepon Nina sebab takut justru pelaku mematikan ponsel kakak sepupunya itu.
Semoga saja ponsel Nina tidak mati, hanya itu harapan Galih. Dia tak menyerah setidaknya dia harus berusaha menyelamatkan kakak sepupunya, bagaimana pun caranya.
Tak lama teman Galih memberitahu di mana ponsel Nina berada. Galih terkejut karena letaknya cukup jauh jika di lihat dari peta di ponselnya.
Dia juga bingung dengan apa dia harus ke sana. Namun ia ingat jika tadi tetangga kakak sepupunya mengabari jika motor Nina telah di temukan.
"Pak aku ambil motor mbak Nina ya. Aku mau ikutin mereka!" ucap Galih yakin.
"Bapak ikut Lih?" tanya Sugi cemas, karena dia tidak mau kalau anak semata wayangnya terluka.
Galih lantas meminta kunci cadangan pada Rima. Rima yang tidak tau lantas mendatangi kamar ibunya di bantu Galih dan Sugi.
Untungnya Nina meletakan kunci cadangan di laci meja riasnya.
Galih yakin kunci itu tidak ada di motor Nina, sebab kalau ada, pasti sudah di bawa pergi oleh orang jahat atau pun tetangga yang mengetahui kendaraan milik Nina tadi.
Pemuda itu bergegas kembali menemui lelaki yang masih berbincang dengan Prapto di pinggir jalan.
Keduanya ke sana menggunakan sepeda motor butut si bapak.
Galih bersyukur motor Nina masih aman dan tak ada kerusakan yang parah. Hanya banyak bekas goresan dan juga lampu motor yang pecah.
Dia meneliti semua bagian, tak di temukan benda apa pun di motor Nina.
"Aneh ya Mas, kalau memang di begal, kok motornya di tinggal?" ujar si bapak tua.
"Yang penting kembali pak. Maaf saya pamit dulu ya Bapak-Bapak, terima kasih sudah mengamankan motor mbak saya."
Tak lupa Galih menyerahkan beberapa lembar uang untuk membalas mereka, tapi segera di tolak, karena mereka merasa tak melakukan apa pun, terlebih lagi terhadap Nina yang baru saja tertimpa musibah.
__ADS_1
Galih langsung tancap gas menuju tempat yang di tunjukkan ponsel Nina.
Dia berdoa semoga Nina ada di sana. Tak hilang akal, Galih melapor pada pihak yang berwajib sebab dia ingat sejak kemarin belum ada yang melaporkan kasus hilangnya Nina pada kepolisian.
Meski Nina sudah kembali, tapi tak apa dia sedikit berbohong agar para petugas berwajib mau bergerak membantunya.
Dia juga menyerahkan ponsel miliknya yang berhasil melacak keberadaan Nina yang berada di ujung kota.
Para polisi yang tau di mana tempat Nina berada segera membentuk pasukan sebab titik yang di perlihatkan Budi adalah sebuah bangunan kosong yang berada jauh di dalam perkebunan.
Galih bersyukur setidaknya para polisi bergerak cepat merespons laporannya.
Saat polisi memintanya untuk kembali dan menunggu di rumah, Galih menolak, dia berjanji tak akan merepotkan tugas kepolisian.
Mereka bergerak dengan cepat ke titik di mana Nina berada.
Galih benar-benar cemas, dia berharap semoga kakak sepupunya baik-baik saja.
Polisi berhenti cukup jauh saat melihat ada dua mobil dan beberapa motor terparkir di sana.
Galih juga melihat dua wanita yang tadi menjemput Nina. Firasatnya tidak meleset, mereka pasti memiliki rencana jahat pada sepupunya.
"Masnya jangan ikut-ikutan ya, seperti janji tadi, jangan gegabah yang malah nanti menyusahkan kami!" titah salah satu kepala polisi.
Galih mengangguk patuh lalu dia bersembunyi di semak-semak saat polisi berhasil meringkus dua wanita yang terlihat panik dan menolak di amankan.
Namun saat pihak kepolisian memperlihatkan senjata api pada mereka. Keduanya langsung diam dengan wajah pias.
Tak lama kedua petugas tadi kembali berlari menuju bangunan tua itu dan suara tembakan pun terdengar membahana.
.
.
Di dalam, Nina dan Mulya bernapas lega karena mereka akhirnya di selamatkan sebelum Budi melancarkan aksinya.
Budi yang merasa terjepit lantas mendorong tubuh Novi yang dekat dengannya ke arah para petugas agar lengah.
Sayangnya, dia terlalu ceroboh dan lupa bahwa ada polisi yang juga berada di belakangnya, hingga terpaksa polisi tersebut melepaskan tembakan untuk melumpuhkan Budi.
Novi yang tadi di dorong oleh Budi merasa kesakitan karena wajahnya yang mendarat terlebih dahulu ke lantai.
Darah keluar dari dalam hidungnya. Polisi segera meringkus Novi dan kawanan Budi.
Sementara Budi harus di papah karena tembakan di kakinya.
Polisi juga membantu melepaskan ikatan Mulya dan membopong tubuh lemah Cantika.
__ADS_1
Nina dan Mulya saling berpelukan, akhirnya mereka bisa terbebas dari kekejaman Budi.
Galih yang melihat kakak sepupunya keluar bergegas mendekat.
Nina yang melihat Galih lantas memeluk saudaranya itu. Isakan kelegaan keluar dari diri Nina.
Tak lupa rasa syukur dia ucapkan berulang-ulang pada Tuhan.
Mereka memperhatikan para tersangka yang berhasil di ringkus, tak terkecuali Rahma dan Jannah.
Nina juga di minta ke kantor polisi untuk memberikan keterangan, sedangkan Mulya harus ke rumah sakit terlebih dahulu untuk memeriksakan kondisi Cantika bersama dengan Budi yang harus di tangani karena luka tembakan.
"Ibu Nina silakan ikut dengan kami," pinta salah satu petugas polisi.
"Saya sama adik saya aja ya Pak," balas Nina.
Dia tak mau satu kendaraan dengan para tersangka, Nina agak sedikit trauma melihat mereka.
Sesampainya di sana, Jannah bergegas mendatangi Nina dia memohon agar Nina melepaskannya, karena dia merasa bahwa dia tidak bersalah.
"Nina tolong ibu Nak, kamu tau ibu ngga terlibat, tolong bebaskan Rahma juga, kamu tau kan anak-anaknya masih kecil-kecil. Semuanya ide Budi jangan bawa-bawa kami," rengek Jannah.
Melihat sang ibu tengah mengiba, Rahma pun melakukan yang sama.
Namun lagi-lagi Nina hanya bergeming tak mau menjawab. Dia ingin mereka semua di adili dengan kejahatan masing-masing.
"Mari Bu Nina," ajak salah satu petugas kepadanya.
Sedangkan Jannah dan Rahma di tarik paksa oleh petugas untuk di mintai keterangan.
Nina menceritakan semua yang dia tau, bahkan kejahatan mereka terhadap Mulya. Petugas mengatakan jika kasus Mulya akan menjadi kasus tersendiri.
Mereka berjanji akan menyelidiki semuanya. Nina hanya bisa pasrah akan proses hukum lelaki itu, setidaknya kini dia bisa bernapas dengan lega.
Polisi juga sudah mengamankan tas Nina sebagai barang bukti, Nina hanya bisa menunggu di kembalikan setelah proses penyidikan nanti.
"Bagaimana kamu bisa tau di mana mbak Lih?" tanya Nina penasaran saat mereka tengah dalam perjalanan pulang.
"Aku minta tolong temanku melacak ponsel mbak, aku merasa ada yang ngga beres dengan teman mbak itu. Syukurlah sekarang sudah selesai mbak," jawab Galih lega.
Setelah sampai di rumah, Nina langsung memeluk Rima dengan perasaan lega. Akhirnya hidupnya terbebas dari Budi dan keluarganya.
Nina tak bisa membayangkan jika tadi Galih terlambat menyelamatkannya, entah bagaimana nasib mereka.
.
.
__ADS_1
.
Tbc