
Galih pikir semuanya sudah berakhir kala dia tak mengabulkan keinginan kekasihnya.
Namun perkiraannya salah, Citra justru saat ini tengah menemui Rima di kediaman barunya.
Beruntung dia tau rumah baru Nina, sebab kala acara unduh mantu Galih juga mengajaknya turut serta.
"Mbak Citra? Ada apa? Tumben cari Rima?" tanya Rima heran.
Citra memandang gugup remaja di depannya. Dulu dia pernah bertanya tentang status hubungan gadis itu dengan Andi.
Dan seperti yang sudah-sudah Rima pasti akan menjawab jika hubungan mereka hanya sebatas teman saja dan memang pada kenyataannya seperti itu.
"Bisa Mbak minta tolong?"
Rima mengernyit bingung, "minta tolong apa Mbak?"
"Pertemukan Mbak dengan Andi."
"Hah? Kenapa mbak ngga temui sendiri?" heran Rima.
"Panjang, ceritanya. Tolong bantu Mbak ya Rim. Mbak mohon," bujuk Citra.
Rima merasa bingung sebab dia sendiri takut justru pertemuan antara Citra dan Andi akan menjadi masalah untuk pemuda itu.
Terlebih lagi Citra adalah kekasih dari Omnya sendiri, dia takut juga akan menimbulkan kesalah pahaman pada hubungan keduanya.
Rima benar-benar tak mengerti mengapa Citra ingin sekali bertemu dengan Andi.
Gadis itu merasa lingkaran wanita di sekitar Andi sangat banyak, pantas saja lelaki itu selalu terlihat frustrasi jika menghadapi mereka.
"Entahlah mbak, aku takut. Kalau Ka Andi sendiri menolak bertemu dengan mbak, bukannya akan jadi masalah kalau aku mempertemukan kalian nanti?"
"Mbak mohon Rim, kali ini aja. Mbak yakin ngga akan ada masalah."
Rima akhirnya pasrah mengabulkan keinginan kekasih pamannya. Dia hanya berharap Andi tak marah dengan keputusannya ini.
__ADS_1
.
.
Waktu yang mereka sepakati akhirnya tiba. Rima memang mengajak Andi bertemu membuat pemuda itu merasa sangat bahagia.
"Mau ke mana Lu Ndi?" sela Gyan merasa heran dengan sikap sahabatnya yang selalu saja tersenyum sejak tadi.
"Mau ketemu dedek emesh," jawabnya.
"Pantas aja Gue lihat ada gila-gilanya kau sejak tadi! Senyum aja tuh bibir kagak pegel!" kelakar Noval.
"Berisik lu pada! Gue cabut dulu," ucapnya lalu bangkit hendak meninggalkan markas mereka.
Saat akan mengendarai motornya, Clara yang baru saja tiba segera menyusul keberadaan Andi.
"Tunggu Ndi! Kamu mau ke mana?" tanyanya. Dia masih belum mau menyerah dengan perasaannya.
"Bukan urusan Lu! Bukannya gue udah bilang? Jangan ke sini lagi?" usirnya.
"Kamu enggak bisa perlakuin aku kaya gini Ndi! Kita temenan udah lama, aku suka sama kamu juga udah lama. Melupakan jelas ngga semudah itu, aku yakin suatu saat kamu akan sadar akan perasaanku," balasnya penuh percaya diri.
"Kalau begitu, harusnya sejak dulu Gue suka sama lu. Nyatanya?" setelahnya dia kembali berbalik dan hendak melanjutkan langkahnya.
"Apa aku harus kaya Rima supaya kamu mau liat aku!" seru Clara yang di tinggalkan begitu saja.
"Bukan penampilan yang buat Andi suka sama Rima. Tapi hati dia. Mau elu berubah kaya apa pun perasaan dia ke elu cuma temen," sahut Gyan.
.
.
Andi memasuki kafe dengan riang. Dia mengedarkan pandangannya mencari sosok Rima.
Setelah menemukan keberadaan pujaan hatinya, dia lalu melangkahkan kakinya ke meja tempat Rima menunggu di sana seorang diri.
__ADS_1
"Hai cantik!" sapa Andi lalu menyerahkan setangkai mawar penghias meja mereka.
"Apaan sih Ka! Basah noh, di marahin sama yang punya kafe baru tau rasa kamu Ka!" gerutu Rima lantas meletakan kembali bunga itu pada vasnya.
Tanpa permisi, Andi justru menarik gelas jus milik Rima dan meminumnya tanpa seizin gadis itu.
Plak, tepukan kesal Rima berikan pada lengan Andi yang telah lancang meminum minumannya.
"Kakak ih, itu kan punyaku, kenapa enggak pesen sendiri sih!"
Andi benar-benar menguji kesabaran Rima. Sedang asyiknya bergurau, tiba-tiba suara Citra menghentikan tingkah mereka.
"Halo Ndi?" sapanya dan berdiri di tengah-tengah mereka.
Andi menatap sengit mantan guru pembimbingnya dulu.
"Pesenin lagi buat kita," pinta Andi pada Rima.
Andi sengaja mengabaikan Citra yang tanpa di minta sudah duduk di samping Rima.
"Maaf kita lagi ada acara sendiri," interupsi Andi agar Citra tak bergabung bersama mereka.
Rima mendadak gugup, dia benar-benar takut kalau Andi akan marah padanya jika tau dia dan Citra sudah merencanakan pertemuan ini.
Citra tersenyum lalu menoleh pada Rima. "Makasih ya Rim, mbak tau kamu memang bisa di andalkan," ucapnya yang memancing kemarahan Andi.
Kini dia tahu mengapa tanpa ada angin dan hujan badai, Rima mengajaknya bertemu. Ternyata ini alasannya.
Kecewa tentu saja. Andi tak menyangka Rima mau saja di tipu oleh wajah polos Citra yang penuh tipu daya.
"Kamu merencanakan ini?" tanyanya pada Rima dengan pandangan tajam.
.
.
__ADS_1
.
Tbc