Derita anakku

Derita anakku
Taruhan


__ADS_3

Andi bimbang antara harus mengantar pulang Rima terlebih dahulu atau menemui teman-temanya.


"Ada apa Ka?" tanya Rima yang melihat kepanikan kakak kelasnya.


"Lu coba izin sama ibu, kalau akan pergi. Ngga lama, Gue janji bakal antar Lu pulang nanti," titah Andi.


"Emang ada apa Ka?" Rima butuh kejelasan agar dia bisa meminta izin pada Nina.


"Ada masalah di basecame, Gue harus ke sana sekarang," ucap Andi tak bisa menjelaskan masalahnya, sebab dia sendiri belum paham masalah mereka.


"Harus jelas dong Ka. Aku izinnya gimana?" keluh gadis itu.


Andi sudah tak bisa terlalu lama menghadapi Rima jadi dia memutuskan untuk meninggalkan gadis itu dengan kendaraan online yang akan dia pesan.


"Ya udah Lu balik aja naik ojek, Gue pesenin," balas Andi datar.


Mendengar kata ojek, Rima kembali ingat akan kejadiannya dulu, bukan karena tukang ojeknya.


Namun karena dulu dia harus menaiki ojek hingga kejadian buruk menimpanya.


"Ngga usah Ka, aku ikut aja!" balas Rima cepat.


Andi segera menghentikan ketikannya saat akan memesan kendaraan Online untuk Rima tadi.


Dia mengangkat sebelah alisnya, "Lu serius?"


Rima mengangguk saja, sungguh dia lebih memilih di marahi sang ibu dari pada harus menaiki ojek Online.


"Ya udah, ayo!" ajak Andi dan memasangkan pengaman kepalanya pada Rima.


"Loh Ka, kakak pake apa kalau helm kakak di pake aku?" tanya Rima tak mengerti.


"Biar Lu selamat dan ngga treak-treak mulu nanti!" jawab Andi ambigu.


Benar saja, Andi mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Beruntung dia membawa kaca mata hingga angin malam tak menyakiti kornea matanya.


Rima memeluk Andi sangat erat, bahkan gadis remaja itu tak berani membuka mata. Jantungnya sangat berdebar kencang, dia hanya terus berdoa dalam hati semoga dirinya bisa selamat.


Mereka tiba di sebuah gedung terbengkalai yang sudah ramai orang di sana.


Sorak sorai para penghuninya menyambut kedatangan Andi yang hari itu sangat berbeda.


Andi yang terkenal enggan membawa seorang gadis di motornya, tiba-tiba membawa seorang gadis yang membuat suasana jadi hening seketika.


Bisik-bisik penasaran berdengung membicarakan siapa gadis beruntung yang telah menaklukkan hati raja jalanan itu.


"Jangan buka helm Lu!" titah Andi saat Rima hendak membuka pelindung kepalanya.


Rima tak protes, dia sendiri bingung dan merasa asing di sana.


Banyak para pemuda-pemudi memperhatikannya. Dia hanya bisa mengekori Andi dengan jalan menunduk.


Suara decakan kagum makin membahana kala melihat Andi menggandeng gadis yang di bawanya.

__ADS_1


Sahabat-sahabatnya seperti Gyan, Theo dan Noval berseru saat melihat kedatangan Andi dan gadis yang mereka paham betul siapa.


Hanya Clara yang diam bergeming, hatinya sangat sakit saat melihat kenyataan Andi telah terpikat pada gadis yang pernah dia lihat meski tidak jelas.


"Weh gila, berani bener nih kamvret ajak ceweknya kemari," ledek Gyan.


"Halo Rima, welcome to basecame K'nights," sambung Gyan pada Rima.


"Diem lu Yan! Jelasin ama Gue, kenapa tiba-tiba Mario ganti taruhan? Dia gila apa gimana? Mana pernah kita taruhan perempuan!" maki Andi murka.


Clara lalu mendekat. "Ini semua salah aku Ndi," selanya.


Andi diam mendengar penjelasan sahabatnya.


"Aku nolak Mario kemarin, dia ngga terima, terus tau-tau dia nantangi geng kita karena merasa harga dirinya di injak-injak. Kalau kamu nolak, dia akan semakin ngehina kamu karena aku yang nerima tantangan dia," jelas Clara sambil menunduk.


"Lu gila apa Ra? Lu umpanin diri Lu sendiri buat jadi taruhan? Untungnya apa coba?" kesal Andi.


"Aku cape di gangguin dia terus Ndi. Aku minta sama dia jangan ganggu aku lagi kalau kamu bisa kalahin dia, jadi please aku mohon, menangin aku Ndi," pinta Clara penuh iba.


Andi lantas mendudukkan dirinya di sofa sambil memijat pangkal hidungnya.


Dia merasa tertekan, jujur saja dia tak siap jika di paksa harus menang meski dia tetap akan berusaha setengah mati agar menang nantinya, bukan demi Clara tapi demi nama baiknya sebagai raja jalanan.


Dia hanya tak ingin memberi harapan pada Clara tentang taruhan kali ini. Dia hanya takut seandainya dia kalah lalu bagaimana nasib Clara nantinya.


Terlebih lagi taruhan kali ini seperti memperebutkan Clara, dia tak ingin ada yang beranggapan jika kedekatannya dengan Clara lebih dari sekedar sahabat.


"Lu pikiran ngga sih resikonya kalau kalah? Tetep aja lu akan bersama mereka kan?" ucap Andi datar.


Mereka juga menyayangkan keputusan Clara tanpa memberitahu mereka terlebih dahulu.


Hanya Luke yang sedari tadi bersikap tenang seperti biasanya.


"Aku yakin kamu pasti menang dan harus menang Ndi," paksa Clara.


Rima sendiri merasa bingung dengan perasaannya. Saat dia melihat kedekatan Andi dan Clara ada yang berdenyut di sudut hatinya.


Jantung aku kok sakit ya? Apa aku punya penyakit jantung.


Theo lantas melihat Rima menepuk dadanya pelan. Pemuda itu lantas mendekat dan berbisik di dekat Rima.


"kenapa? Cemburu ya? Santai aja, mereka temenan doang kok," ucapnya lalu terkekeh.


Rima menengadah menatap teman Andi. Pelindung kepala yang masih di kenakannya tak menghalangi pendengarannya meski suara Theo terdengar lirih.


Andi melirik sadis kepada sahabatnya, membuat Theo mengangkat kedua tangannya.


"Slow Men, ngga Gue apa-apain, iya kan Rim?" ucap Theo sambil menyenggol Rima.


Tak lama dua orang pemuda suruhan gengnya Mario datang ke basecame Andi.


"Tanding jam sebelas malam di jalan Kali Agung, jelas pemuda tadi lalu bergegas pergi dari sana."

__ADS_1


"Vangke! Dia ngajak ngaspal di kawasan mereka ternyata!" gerutu Noval.


"Lu harus bawa balik Rima Ndi. Kita tunggu di sana," sela Luke yang sedari tadi diam saja.


Andi tak menjawab, dia bergegas bangkit dan memegang tangan Rima. Dia akan memulangkan Rima karena memang sudah malam.


Clara bangkit mencegah kepergian pemuda pujaannya. Dia belum tenang sebab Andi belum menjawab pertanyaannya.


"Tunggu Ndi! Kamu mau kan tanding?" tanyanya lemah.


Lagi, Andi tak mau menjawab, dia memilih segera mengajak Rima pergi dari sana.


Kini dia mengenakan dua pelindung kepala. Hatinya sangat kacau. Dalam perjalanan mereka memilih diam.


Rima juga bingung mengawali pembicaraan, yang dia tahu Andi tengah banyak pikiran.


Tiba-tiba Andi menggenggam tangan Rima yang berada di perutnya.


Rima merasakan sengatan listrik yang membuat jantungnya kembali berdebar sangat kencang.


Keduanya tiba di depan rumah Rima. Di sana sudah ada Galih yang menunggunya.


Galih yang sejak tadi memang menunggu kepulangan keponakannya lantas bangkit berdiri.


"Kamu dari mana Rim? Kami cemas nyari kamu!” seru Galih begitu melihat keduanya membuka pelindung kepala.


"Aku tadi udah pamit Mas," jawab Rima takut-takut.


Sungguh dia merasa Galih sangat menyeramkan malam ini. Entah kesalahan apa hingga membuat lelaki itu terlihat kesal.


"Kamu bilang pergi sama teman, apa dia maksud kamu? Kenapa ngga pamit di rumah? Ngga sopan!" keluh Galih sekaligus menyindir Andi.


"Maaf Mas Galih, saya bertemu Rima di jalan. Yang pasti bukan janjian, paling enggak saya mengembalikan Rima ke rumahnya, enggak di jalan," sanggah Andi yang mulai kesal.


"Rima? Nak Andi?" sela Nina yang tiba-tiba muncul.


"Maaf tante saya baru antar Rima pulang," sapa Andi sopan sambil menyalami Nina.


"Kamu pergi sama Rima?" tanya Nina bingung sebab putrinya tak menyebutkan nama Andi saat izin tadi.


"Kami ketemu di jalan tante, saya yang antar Rima pulang," jelas Andi meski tak menceritakan yang sebenarnya.


Meski curiga, Nina memilih mengalah, paling tidak putrinya sudah kembali, pikirnya.


Andi yang memang sedang di buru waktu, memilih segera pergi dari kediaman Rima.


Namun dia di hadang oleh seseorang di jalan. Membuatnya harus berhenti seketika.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2