
Penjaga rumah Baron lalu membuka gerbang besar rumah majikannya.
"Silakan tunggu dulu ya Pak," pinta penjaga keamanan agar mereka menunggu di teras.
"Wah, besar sekali ternyata, bahkan ada kolam renangnya!" ucap Dita.
"Va, nanti kalau kamu menikah, ajak kami tinggal di sini ya," pinta Dita kemudian.
"Kamu tenang aja Dit. Mbak jamin kita semua akan hidup enak setelah ini," sambar Tyas pongah.
Hanya Ziva yang masih diam ketakutan, sungguh dia takut menemui Baron dan istrinya.
Tak lama suara deru motor besar terdengar di belakang mereka.
Seorang remaja berpakaian putih abu-abu yang mengendarai motor sport berwarna hitam itu melewati mereka.
Mereka semua menatap pemuda itu. Dalam hati Darmi dan Bu Rt, mungkin mengira jika pemuda inilah kekasih Ziva.
Setelah pemuda itu membuka helmnya, semua mata melotot sempurna, ternyata pemuda itu sangat tampan.
Dita bahkan sampai meneteskan liurnya. Ziva juga terkejut karena ternyata anak Baron sangat rupawan.
Pemuda itu berhenti di depan mereka dengan tatapan bingung.
"Kalian siapa?" tanya pemuda dengan tatapan tajam itu.
"Kamu pasti pacarnya Ziva ya? Kenalkan saya mamanya Ziva, calon mertua kamu," sambar Tyas sambil memegang tangan pemuda itu dengan genit.
Pemuda itu lalu menyentak tubuh Tyas yang sok akrab dengannya.
"Maaf, saya ngga kenal sama orang yang Anda maksud!" jawab pemuda itu dingin.
"Kamu Baron kan?" ucap Tyas bingung, dia mengira pemuda inilah yang bernama Baron.
"Baron itu papah saya, ada perlu apa Anda dengan papah saya?" tanya pemuda itu kecut.
Semua melihat ke arah Ziva, pikiran mereka tiba-tiba menjadi buruk. Mereka seketika bisa menebak jika Ziva menjadi simpanan pria beristri, hanya Dita saja yang terlihat tenang.
"Pa-pah?" beo Tyas.
"Eh Den Andi udah pulang," ucap seorang pelayan pada pemuda tadi.
"Siapa orang-orang ini Bi?" tanya Andi pada pelayannya.
"Eh, entah Den, tadi kata mas Ipul katanya mau ketemu tuan besar," jawab pelayan yang seusia Tyas.
"Mari masuk, saya sudah panggilkan Tuan dan Nyonya," pinta pelayan tadi pada tamu majikannya.
Mereka memilih bungkam karena sedikit terkejut dengan ucapan Andi tentang siapa Baron sebenarnya.
"Jadi Ziva d hamili sama suami orang Bu!" bisik Darmi ketus pada Tyas.
"Diam dulu Bu Darmi siapa pun yang menghamili anak saya, yang penting dia kaya raya!" jawab Tyas berbisik juga.
__ADS_1
Mereka duduk di ruang tamu yang cukup megah. Bahkan sofa yang mereka duduki sangat besar. Titik dan Tyas sampai mengusap permukaan sofa itu dengan takjub.
"Kulit asli kali ya Yas? Pasti mahal ini," ujar Titik kagum.
Darmi dan Bu Rt justru merasa malu dengan tingkah keluarga Titik, terkesan sekali kampungannya.
Suara deheman dari arah tangga membuat tingkah konyol keduanya terhenti.
Pak Rt dan yang lainnya kompak berdiri menyambut tuan rumah.
"Maaf, kalian siapa ya?" tanya seorang wanita dengan dandanan bernuansa tegas.
"Saya ketua Rt dari desa Wales Bu," ucap ketua Rt mengenalkan diri.
"Ada keperluan apa bapak dari desa jauh datang ke sini?" ucap perempuan itu tajam.
Ketua Rt saling melempar pandangan kepada rombongannya.
"Bisa kami ketemu Pak Baron Bu?" sambung ketua Rt memberanikan diri.
"Mau apa Bapak ketemu suami saya?" jawab perempuan itu bengis.
Dia menatap tajam semua orang yang duduk di hadapannya. Matanya menilai sikap orang-orang di hadapannya. Terlihat sekali dia meremehkan mereka semua.
"Sebaiknya kami tunggu Pak Baron dulu Bu, karena hanya beliau yang bisa menjelaskannya pada ibu," jawab ketua Rt tegas.
Dia tau wanita kaya di hadapannya memandang remeh dirinya, oleh sebab itu dia berusaha tenang dan tak terintimidasi oleh tatapan wanita itu.
Dia lalu memanggil pelayannya untuk segera memberikan suguhan pada tamunya.
Tyas dan Dita terlihat menelan liur mereka kala berbagai jenis kue di hidangkan di atas meja mereka.
"Astaga, malu-maluin banget sih Bu Tyas!" gerutu ibu Rt melihat sikap Tyas yang langsung saja menyambar stoples berisi kue nastar.
"Ya ampun Bu, makan aja sih, enak banget tau, lagian kan ini di suguhkan buat kita!" balas Tyas dengan mulut penuh.
Istri Baron hanya menggeleng tak percaya melihat tingkah para tamunya.
Tak lama turunlah seorang lelaki paruh baya dengan perut buncitnya.
Tyas harus bersusah payah menelan makanan yang sedang di kunyahnya.
Dia lantas menatap Ziva yang menunduk, pikirannya berkecamuk membayangkan kala sang putri harus melayani lelaki tua itu.
"Ada apa ini Mah?" tanya Baron karena dia belum sadar akan siapa tamunya.
Dia duduk di sebelah sang istri, lalu tiba-tiba lelaki itu berjengit terkejut kala melihat Ziva yang menjadi salah satu tamunya.
Keringat dingin mengucur deras di dahi pria paruh baya itu.
"Kamu kenapa Pah? Mereka bilang mau ketemu kamu. Jadi aku pikir kamu yang mengenal mereka," jawab Istri Baron.
"E-enggak Mah, papah ngga kenal," jawab Baron gugup.
__ADS_1
Mendengar jawaban Baron, Ziva pun mendongakkan wajahnya. Dia yang sedari tadi memilih menunduk kini menatap lelaki yang selalu menggaulinya tak percaya.
"Kurang ajar! Kamu harus tanggung jawab!" sela Tyas yang geram.
Meski dia kesal karena Baron tak sesuai harapannya. Namun saat tau lelaki itu kaya maka Tyas tak akan mempermasalahkannya.
Istri Baron lalu menatap Tyas dari ujung kepala hingga ujung kaki dan berakhir di perut buncit wanita itu.
Dia berpikir jika Baron telah menghamili wanita di depannya ini. Hanya saja istri Baron bingung, karena bukan kali pertama Baron selingkuh dan semuanya terlihat muda.
Sedangkan wanita di hadapannya ini bukanlah tipe suaminya sama sekali. Apa Baron di jebak?" pikirnya.
"Apa maksud kamu tanggung jawab? Apa suami saya menghamilimu?" tanya istri Baron datar.
Tyas lalu menatap istri Baron arogan, "bukan saya, tapi putri saya yang sudah di hamili suamimu!" jawab Tyas pongah.
Istri Baron lalu menatap dua wanita yang kemungkinan anak wanita yang sejak tadi meminta tanggung jawab suaminya.
Lalu pandangannya jatuh pada Ziva yang masih menunduk. Gadis remaja yang masih terlihat kecil itu membuatnya mengepalkan tangan.
Istri Baron yakin jika gadis yang masih menunduk itulah wanita yang ingin meminta tanggung jawab suaminya.
"Apa anakmu yang itu?" tunjuk istri Baron pada Ziva menggunakan dagunya.
"Iya, dia anak saya, calon madumu!" jawab Tyas tak tau malu.
Baron ingin sekali berlari dari sana saat ini juga. Dia tak mau menerima amukan istrinya.
Istri Baron lalu menoleh ke arah suaminya. "Kamu menghamili anak kecil Pah?!" ucapnya tajam.
"M-mah kamu tau kan? Papah hanya bersenang-senang aja sama dia," jawab Baron gugup.
Mendengar jawaban Baron, Tyas merasa tak terima dan bangkit berdiri.
"Hei! Enak aja kamu memperlakukan anak saya seperti ini! Dia ini hamil anak kamu! Ba*ji*ngan!" makinya.
Istri Baron lalu menatap Tyas tenang, "tak ada seorang perempuan penghibur meminta tanggung jawab pada pelanggannya. Toh suami saya sudah membayar jasanya kan? Urusan dia hamil bukan urusan kami," ucap istri Baron kejam.
Mereka semua tak percaya dengan ucapan wanita di hadapan mereka.
Kejam, satu kata yang ada di pikiran mereka semua.
"Kurang ajar! Aku tak terima! Pokoknya aku menuntut tanggung jawab suamimu! Kalau enggak? Aku akan bawa ke jalur hukum, anakku masih di bawah umur, sudah pasti suami kamu akan kena pasal berlapis!" ancam Tyas tak gentar.
Istri Baron mengepalkan tangannya, dia tak menyangka dirinya bisa menghadapi lawan yang cukup licik menurutnya.
.
.
.
Tbc
__ADS_1