Derita anakku

Derita anakku
Terusir


__ADS_3

Hidung Tyas kembang kempis mendengar permintaan istri kedua suaminya.


Dia tak habis pikir ada wanita yang tak tau malu seperti Ratih ini.


"Eh pelakor, denger ya. Gara-gara si breng*sek Yanto aku harus kehilangan rumah ini! Kamu tau, rumah ini di sita gara-gara utangnya si Yanto itu!" maki Tyas sambil menunjuk-nunjuk wajah Ratih.


Tentu saja Ratih terkejut, karena dia tak tau kalau ada berita seperti ini. Yang dia tau istri tua suaminya menjual rumah karena memang Yanto tak memberi nafkah padanya.


Ratih berusaha tenang, dia tak percaya dengan ucapan Tyas, dia merasa itu hanya akal-akalan Tyas saja agar bisa menguasai uang hasil penjualan rumahnya.


"Halah Mbak, kamu ngga usah bohong lah, sini kasih aku. Lagian aku ke sini di suruh mas Yanto, soalnya tadi kalian mengusir dia. Dasar istri durhaka," balas Ratih sengit.


Mendengar dia di cap sebagai istri durhaka, membuat amarahnya naik ke ubun-ubun.


Sayangnya belum sempat dia membalas ucapan Ratih yang menghinanya, sang ibu sudah mengguyur kedua tamunya dengan air seember.


"APA-APAAN INI!" maki Ratih dan temannya yang juga kena imbas dari percekcokan mereka.


"Mending kamu pergi sekarang! Kami sedang sibuk!" usir Titik lalu menarik Tyas agar masuk ke dalam rumah dan mengabaikan Ratih.


Dita menahan Ratih agar tak ikut masuk ke dalam rumah.


Ratih yang murka masih mencak-mencak ingin membalas perlakuan Titik padanya.


Untung saja teman Ratih masih waras, hingga wanita itu lebih memilih menahan tubuh Ratih dan menyeretnya menjauh.


"Udahlah Tih, ngga ada gunanya kamu berteriak seperti ini. Kamu yang salah tau-tau datang minta uang rumah, ya jelaslah mereka marah. Itu kan urusan Yanto sama mereka Tih!" tegur teman Ratih.


Penampilan Ratih sangat kacau, riasan wajahnya luntur karena siraman Titik. Dadanya naik turun menahan amarah di dalam hati.


"Kalau Yanto bisa ambil duit itu dari mereka, aku juga ogah ke sana. Cuma ini cara terakhir Yanto agar bisa balikin duit aku," tiba-tib Ratih terisak, dia bingung bagaimana lagi mendapatkan uang yang di pakai Yanto.


Jika dia mengusir Yanto, bukannya untung malah buntung. Karena uang hilang, dirinya pun sedang hamil masa harus tanpa suami, pikirnya.


Teman Ratih hanya bisa bersimpati tanpa bisa membantu apa-apa. Toh semuanya salah Ratih sendiri yang mau-maunya memberi uang agar bisa di nikahi oleh Yanto.


.


.


Di rumah Tyas, wanita hamil itu juga tengah menangis meraung-raung. Dia tak terima kalau ternyata suaminya sudah menikah lagi


"Udahlah Yas, biarin aja dia kawin sama si pelakor tadi. Katanya kamu emang mau cerai kan?"

__ADS_1


Titik berusaha menenangkan putri sulungnya. Kepalanya sudah mau pecah memikirkan masalah hidupnya.


Sudah kontrakan belum dapat, sekarang menerima kabar jika anaknya memiliki madu.


Titik sedang berpikir kesalahan apa yang dia buat hingga harus menerima nasib seperti ini.


Setelah puas menangis, Tyas pun diam. Ziva dan Dita ikut duduk di ruang keluarga menemani Tyas.


"Kita mau pindah ke mana mbah?" tanya Ziva lemah. Gadis remaja itu tau permasalahan orang tuanya, tapi memilih tak peduli, sebab dia mempunyai masalah sendiri.


Dia merasa kehidupan keluarganya semakin kacau hingga sampai seperti ini.


Hidup Ziva pun tak kalah mengenaskan. Baron orang pertama yang membelinya, kini justru menjerumuskannya ke limbah kenistaan.


Hubungan Ziva dengan Dini pun renggang. Itu semua karena ulah Ziva sendiri. Dini sudah memperingatkan Ziva untuk tak terlalu masuk dalam kehidupan kelam seperti ini.


Cukup sekali saja dengan orang yang sama, istilahnya menjadi sugar dady seorang pria hidung belang.


Namun, Ziva yang sudah terlena dengan kehidupan mewah tertarik dengan tawaran Baron untuk bisa melayani orang lain.


Di lain sisi Baron tak seroyal saat pertama bertemu, membuat Ziva merasa kesal, karena hanya di pakai tapi tak di beri uang.


Kini, Ziva terjebak dalam permainan Baron, di mana dia justru di jadikan alat mencari uang oleh lelaki itu.


Sorot mata gadis remaja itu juga tampak sayu. "Kamu ngga papa Va? Maaf mbah kurang memperhatikan kamu akhir-akhir ini. Sekolah kamu banyak sekali tugas ya?" tanya Titik lembut.


Tak ada yang curiga sama sekali dengan kelakuan Ziva. Karena ada beberapa anak tetangga mereka juga pulang sore karena tugas sekolah.


Padahal Ziva sama sekali belum pernah mengikuti tugas tambahan sekolahnya.


Gadis remaja itu hanya membalas dengan senyum terpaksa.


.


.


Besoknya mereka di kejutkan dengan kedatangan Berta pagi-pagi sekali.


Berta kesal karena Yanto kemarin mendatanginya dan memarahinya gara-gara Berta menjual rumahnya tanpa memberitahukan dirinya.


Untungnya Berta bisa segera membungkam Yanto dan Ratih, karena rumah itu memang atas nama Tyas.


Masalah Yanto dapat bagi hasil atau tidak jelas bukan urusan Berta.

__ADS_1


Oleh sebab itu Berta datang pagi-pagi ingin segera mengusir Tyas karena kesal, lebih tepatnya melampiaskan kekesalannya pada keluarga itu.


"Loh Bu Berta kenapa pagi-pagi udah datang?" Titik terkejut, dirinya sempat berpikir untuk meminta tambahan waktu sebab mencari kontrakan dengan anggaran sesuai kemampuannya sangat susah.


Terlebih lagi, Titik mengais rezeki di sekitaran kampungnya, jika dia tinggal di kampung lain, dia takut tak bisa mengais rezeki lagi, pikirnya.


"Loh kan udah saya kasih waktu dua hari, saya harap sekarang ibu sama keluarga ibu lekas keluar dari rumah ini. Saya mau merapikannya, agar bisa segera saya kontrakin," jelas Berta.


Mendengar rumahnya akan di sewakan, Titik buru-buru menyela ucapan Berta.


"Kalau begitu biar saya sewa saja Bu Berta?"


Titik jadi tak perlu repot mencari kontrakan baru kalau memang rumahnya akan di sewakan oleh Berta.


"Ngga bisa Bu, saya udah mengontrakan rumah ini sama orang lain," jawab Berta datar.


Berta enggan berurusan dengan keluarga Titik lagi sebab tau sekali tabiat mereka. Sebaiknya dia menyewakannya pada orang lain dari pada harus sama Titik. Dia berpikir bisa saja suatu saat mereka telat membayar, begitulah pikirnya.


"Loh Bu, kenapa? Kami bayar kan? Masa di tolak!" dengus Titik.


"Terserah saya, ini kan rumah saya kenapa pula Bu Titik yang sewot, cepat bereskan rumah ini, saya tunggu!" titahnya.


Titik yang kesal lantas masuk dan membangunkan anak dan cucunya.


Dita dan Tyas yang tak biasa bangun pagi terkejut karena sang ibu meminta mereka untuk segera membersihkan diri.


"kenapa sih Bu! Masih pagi ini!" keluh Dita.


"Si Berta ngusir kita, noh dia udah nunggu di depan. Kalian cepet beberes, ibu mau ke rumah Pak Min, buat nyewa mobil baknya," jelas Titik.


"Hah, yang bener aja sih Bu, emang ngga bisa kasih kita waktu lagi tuh rentenir! Lagian rumahnya ngga bakal di huni dia ini," elak Tyas.


"Udah kalian siap-siap jangan nyerocos aja. Ziva juga jangan lupa peralatan sekolahnya jangan sampe ketinggalan," pinta Titik.


"Tunggu Bu, kita kan belum dapat kontrakan lalu kita mau pindah ke mana?" cegah Dita.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2