Derita anakku

Derita anakku
Murkanya Yanto


__ADS_3

Rima terkejut bukan main mendengar pemberitaan tentang Ziva. Dia tak menyangka jika Ziva bisa berlaku sedemikian bebas.


"Apa karena ini ya dia kabur dari rumah?" monolog Rima.


"Ngga nyangka ya Rim, Ziva seliar ini, pasti dia di keluarkan dari sekolah. Sayang banget mana bentar lagi ujian kan?" sambar teman Rima.


Rima tak mau berkomentar banyak, meski teman-temannya banyak yang menghina dan mencibir Ziva, dia memilih diam. Tak tau juga bagaimana membela saudari tirinya.


.


.


Di ruang kepala sekolah, Ziva, Bagas dan juga Nurma sedang di sidang oleh kepala sekolah mengenai video mereka yang beredar.


"Jadi Bu Nurma, bisa tolong jelaskan masalah ini?" pinta kepala sekolah tegas.


Ziva masih menunduk takut, hancur sudah masa depannya, dia tak akan tamat sekolah menengah pertama dan akan menjadi ibu di usianya yang masih belia.


Kepala sekolah juga sudah meminta guru bimbingan konseling untuk menghubungi kedua orang tua Ziva untuk turut hadir di sekolah.


"Saya kecewa dengan Bu Nurma dan Pak Bagas yang menyembunyikan masalah sebesar ini," kecam kepala sekolah.


"Bapak dan Ibu tentu tau bukan nama baik sekolah kita bisa tercemar, bukan karena seorang siswi yang hamil di luar nikah, tetapi karena gurunya yang membantu menutupi masalahnya. Seolah seorang guru akan membiarkan saja anak didiknya berlaku seenaknya!" sambung kepala sekolah yang sudah sangat kesal.


Sebab baru tadi dia mendapatkan laporan dari sekretaris kepala dinas pendidikan agar menemui beliau esok. Tentu dia tahu dengan masalah yang saat ini dia di panggil.


"Maaf kan kami Pak. Sejujurnya kami memang ingin membantu agar Ziva lulus sekolah yang tinggal beberapa bulan lagi. Ternyata keputusan yang kami ambil keliru dan kami mengakui kesalahan kami," jawab Nurma tenang.


Dia sudah tahu konsekuensinya kalau sampai masalah ini terbongkar, dia hanya berharap semoga saja dia tak di pecat secara tak hormat.


Ingin menyalahkan Ziva juga tidak bisa karena bagaimana pun semua keputusan dia dan pak Bagas yang mengambilnya.


"Baiklah, Bu Nurma dan Pak Bagas, besok kalian ikut saya ke kantor dinas pendidikan untuk menjelaskan lagi. Kemungkinan kalian akan terkena surat peringatan, berdoa saja kepala Diknas tak memecat kalian," jawab kepala sekolah.


.


.


Di rumah Tyas, perempuan itu kembali uring-uringan karena dirinya di panggil oleh kepala sekolah tempat putrinya menimba ilmu.


"Kenapa sih Mbak! Kamu mondar-mandir kaya setrikaan!" maki Dita kesal karena sang kakak mengganggu aktivitasnya menonton drama Korea.


"Ishh, ini Dit, mbak di minta ke sekolah si Ziva! Di suruh kepala sekolah katanya, aduh kacau, jangan-jangan Ziva ketahuan, gimana ini!" jelasnya panik.


"Kok bisa ketahuan, katanya ngga ada yang tau! Jangan-jangan si Rima lagi ngadu ke kepala sekolah," jawab Dita yang justru menyalahkan orang lain.


Tyas yang berotak dangkal, setuju dengan ucapan adiknya, dia juga menduga kalau anak dari saudari tirinya itu yang pasti sudah mengadukan masalah sang putri kepada kepala sekolah mereka.


"Bener katamu Dit! Ini pasti ulah si Rima! Awas aja, kalau sampai Ziva di keluarkan dari sekolah, maka Nina harus menanggung hidup Ziva seumur hidup!" cecarnya.


"Ada apa sih?" tanya Titik yang baru datang selepas memberikan cucian pada pelanggannya.


Tubuhnya semakin lelah, dia bahkan kemarin kena marah karena pelanggan tak puas dengan hasil cucinya.

__ADS_1


Pelanggannya merasa jika cucian Titik makin hari, makin kurang kebersihannya.


Tentu saja Titik tahu akan hal itu, sebab tenaganya sudah berkurang jauh.


"Minta duit Bu!" sergah Dita sambil menengadahkan tangan.


"Ya Allah Dit, kamu kaya Ziva aja! Kerjanya cuma minta duit! Ngga ada, ibu di bayar ala kadarnya, buat beli lauk juga ini!" tolak Titik.


"Dih ibu mau-mauan aja! Kalau mereka ngga mau bayar, ya jangan mau lah ibu nyuciin mereka," jawab Dita kesal.


Dia juga sudah membantu sang ibu menggosok pakaian mereka. Dia tidak serta merta meminta uang pada sang ibu, dia meminta haknya.


"Ya udah sini Bu, uang Dita! Dita juga cape kali bantu ibu setrika!" pinta Dita memaksa.


Titik mendesah pasrah, dia memang mengandalkan putri bungsunya untuk menyetrika pakaian pelanggan, meski tetap saja dia kena komplain karena merasa setrikaan Dita tak rapi dan wangi.


Titik menyerahkan uang selembar sepuluh ribuan, membuat Dita menatap nanar uang tersebut.


"Dih apa-apaan sih Bu! Ngga mau! Masa Dita di bayar segini! Pokonya Dita minta lima puluh ribu! Dita cape tau," rengeknya langsung melempar uang itu.


Dengan cepat Tyas mengambil uang yang di buang adiknya membuat Dita dan Titik terperangah tak percaya.


"Apaan sih mbak, balikin ngga, enak aja kamu maen ambil-ambil duit orang, kerja enggak mau enaknya aja," maki Dita.


Keduanya berebut uang itu seperti anak kecil membuat Titik pusing melihat keduanya.


"DIAAAMM!!" teriak Titik kesal. Rumah kontrakannya selalu saja ramai dengan pertengkaran antara Tyas dan Dita.


"HEI! KALIAN BERISIK KALI! KALAU MAU BERANTEM JANGAN DI SINI SANA DI HUTAN!" jerit salah satu tetangga kontrakan Tyas.


Mereka sangat paham siapa orangnya, dia seorang wanita tegas dan bertubuh gempal, wajahnya sangat garang.


Hanya dengan dialah Tyas dan Dita takut, karena mereka pernah hendak di hajar olehnya, kalau saja tak di halau oleh ketua RT di sana.


"Kamu sih, ngamukkan itu badak!" gerutu Dita.


"Tadi ibu dengar kamu nyebut-nyebut nama Rima, ada apa?" sela Titik penasaran.


"Aduh lupa Bu! Aku harus ke sekolahan, di tungguin kepala sekolah," elak Tyas menjelaskan, dirinya harus segera datang demi menyelamatkan masa depan sang putri.


Kalau pun nanti anaknya di keluarkan maka Tyas bersiap menyalahkan Rima sebagai biang keroknya.


.


.


Tyas datang ke sekolahan bersamaan dengan datangnya Yanto. Guru bimbingan konseling mendapatkan nomor ponsel Yanto dari Ziva.


Sebenarnya keduanya belum bercerai secara resmi, karena tak ada satu pun dari mereka yang mau mengeluarkan uang untuk biaya perceraian.


Tyas memang sengaja mengandalkan Yanto untuk mengurusnya, sebab dia sendiri mana ada uang untuk mengurusnya.


Yanto sendiri bingung, pekerjaannya yang serabutan dan biaya hidup Ratih yang juga sedang hamil, tak membuatnya bisa mengumpulkan uang.

__ADS_1


Ratih sendiri selalu mendesak agar pernikahan mereka di sahkan secara negara. Namun saat Yanto meminta uang untuk mengurus perceraiannya, Ratih menolak mengeluarkan uang.


Karena semenjak hamil, Ratih tidak bisa membuka warung makannya. Di karena kan usianya yang tidak lagi muda untuk mengandung membuat kondisi tubuhnya melemah.


"Loh ngapain kamu ke sini mas?!" tanya Tyas sewot.


Sebagai seorang ayah, Yanto bahkan mengabaikan tanggung jawabnya pada dirinya dan juga Ziva.


"Ngga tau! Aku juga di panggil kepala sekolah," jelasnya datar.


Keduanya memasuki ruang kepala sekolah dan duduk mengapit Ziva. Berhadapan dengan Bagas dan juga Nurma.


"Ini ada apa ya Pak?" tanya Yanto membuka suara.


Sedangkan Tyas, yang sudah tau keadaan anaknya memilih diam.


Kepala sekolah menghela napas, lalu menunjukkan layar laptopnya kepada Yanto dan juga Tyas.


Keduanya terbelalak, tapi dengan pikiran yang berbeda.


Jika Yanto benar-benar terkejut dengan kenyataan anaknya hamil di usia yang masih belia dan juga di luar nikah, Tyas sendiri terkejut karena ada yang memvideokan masalah mereka kemarin.


"Siapa yang berani-beraninya merekam ini!” Makinya kesal.


"Ibu Tyas duduk dulu," pinta kepala sekolah.


"Apa ini Ziva? Kamu hamil? Sama siapa HAH!" bentak Yanto tak terima.


Tanpa perasaan Yanto menampar Ziva hingga putrinya itu jatuh tersungkur ke kaki Tyas.


"KAMU APA-APAAN YANTO! ENAK SAJA KAMU PUKUL ANAK SAYA! PUNYA HAK APA KAMU!" bentak Tyas tak terima.


Sebagai seorang ibu, dirinya tak terima anaknya di perlakukan kasar oleh orang lain, meski itu ayah kandung dari anaknya.


Ziva bangkit dan tertawa, gadis remaja itu sangat menyedihkan, bahkan ketiga guru yang ada di sana tak mengira jika murid mereka akan di perlakukan seperti itu oleh orang tuanya.


"Ngga usah munafik Mah! Pukul aja Pah-Mah! Pukul sampai Ziva mati, jadi Ziva ngga jadi beban buat kalian!" ucapnya sambil tertawa.


Hatinya hancur karena orang tuanya hanya bisa menyalahkannya tanpa mau introspeksi diri mengapa dirinya bisa seperti ini.


"Kamu!" tunjuk Yanto pada Ziva kesal karena berani menjawabnya.


"Apa! Ngga usah nunjuk-nunjuk Pah, emang apa yang Papah perbuat untukku? Papah cuma tau seneng-seneng, bukannya ini karma papah? Papah udah selingkuhin mamah, dengan hamilin orang lain! Papah ngga usah munafik dan merasa benar!" tantang Ziva.


Yanto tak terima di rendahkan seperti itu oleh anaknya. Meski yang di ucapkan oleh Ziva tentangnya benar adanya. Dia juga berselingkuh dari Tyas dengan menghamili Ratih.


.


.


.


Next

__ADS_1


__ADS_2