Derita anakku

Derita anakku
Serangan Ratih


__ADS_3

Terpaksa Yanto kembali ke warung Ratih. Dia lalu di sambut Ratih dengan wajah yang masam.


Yanto berusaha tersenyum ramah dan menghibur istri keduanya itu yang ia yakin pasti ada sesuatu yang menimpanya.


"Kenapa sayang?" sapanya lembut.


"Aku kekurangan tenaga mas," rengeknya manja.


Tubuh Yanto menegang, sungguh dia tidak mau membantu sang istri berkecimpung di dapur seperti ini.


Dia lebih suka nongkrong di pangkalan melihat lalu lalang wanita dan pergi bekerja di jalan sebagai pengantar.


"Sabar ya, nanti kamu cari lagi yang lebih rajin," ujar Yanto.


Ratih lalu menatap suaminya sengit, dia merasa semua ini ulah suaminya. Penurut penuturan pekerjanya, mereka tidak betah karena suami Ratih itu sering menggoda mereka.


Meski tadi dia membela sang suami dengan balik menyudutkan para pekerjanya yang justru menganggap merekalah yang menggoda suaminya.


Ratih harus menerima kekecewaan para pekerjanya karena ia lebih percaya pada suaminya yang mata keranjang dengan cara berhenti saat itu juga.


Ratih bahkan mengancam tidak akan membayar gaji mereka, sayangnya mereka tak peduli, mereka lebih memilih menyelamatkan kehormatan mereka.


Karena Yanto sudah dalam tahap hampir melecehkan mereka.


Sekarang sisa satu pekerja Ratih yang laki-laki. Tentu saja Ratih kekurangan tenaga, pegawai laki-laki hanya untuk pekerjaan berat, sedangkan dia butuh pegawai perempuan untuk membantunya masak dan juga melayani.


"Ini semua gara-gara kamu mas! Bisa ngga sih kamu ngga genit sama pembantu aku! Mau aku potong burungmu hah!" maki Ratih.


Yanto refleks menutup intinya dengan tangan mendengar ancaman istri keduanya.


"Aku baru dagang loh mas, susah cari pembantu. Kamu malah bikin mereka ngga betah!" lanjut Ratih.


"Duh sayang, itu mah pembantu kamu aja yang kegeeran. Kamu tau sendiri gimana mas, mas itu berusaha ramah, mereka malah jatuh cinta sama mas. Giliran mas tolak mereka malah ngambek," jawab Yanto membela diri.


Ratih mendengus, meski tak begitu percaya dengan ucapan suaminya. Namun dia berusaha menerima, sebab dia tak mau di tinggalkan oleh Yanto, terlebih lagi saat ini dirinya tengah hamil buah dari hubungan mereka.


Kalau saja dia tidak sedang hamil, enggan sekali dia menerima Yanto kala itu. Terlebih lagi dirinya sudah menjadi pusat pembicaraan warga pasar dan juga tetangga di rumahnya, mereka menyebutnya seorang pelakor.


Meski benar, Ratih tak terima dengan hinaan mereka. Dia merasa jika perasaan cinta itu dari Tuhan jadi mereka tak berhak menghakimi perasaan cinta mereka.


"Kamu katanya pulang, gimana? Dapet duitnya?" tanya Ratih tajam.


Yanto tertawa sumbang, dia tau sang istri akan langsung meminta uang yang telah di janjikannya.


Saat menikahi Ratih, semua uang yang di pakai adalah uang wanita itu dan dia berjanji akan membayarnya kelak.


Saat Ratih mendengar jika rumah milik suaminya di jual istri pertamanya dia pun menagih.

__ADS_1


Tak masalah jadi istri kedua bagi Ratih, karena dia merasa Yanto lebih mencintainya dari pada istri pertamanya.


Lagi pula dia bisa saja sewaktu-waktu mendepak Yanto jika lelaki itu berani mencuranginya.


"Maaf sayang, mas malah di usir sama Tyas, nanti mas usaha lagi ya," sanggahnya.


Mendengar jawaban sang suami tentu saja membuat Ratih murka. Uang yang di pinjam suaminya itu adalah simpanan miliknya.


Meski hanya nikah siri, tapi saat itu Yanto meminjam uang yang lumayan besar karena sejatinya uang itu dia pakai untuk berjudi dan menyewa wanita penghibur tanpa sepengetahuan Ratih.


"Ngga bisa mas, pokonya aku mau uang itu sekarang! Aku perlu untuk membayar calo pembantu tau!" ketusnya lalu bangkit hendak meninggalkan Yanto.


Dia lalu berbalik karena lupa akan satu hal lagi, "jangan lupa surat izin dari istrimu itu. Aku ngga mau ya anak ini lahir ngga ada nama kamu di aktanya!" ancamnya lalu kembali melangkah meninggalkan Yanto.


Semenjak menikah dengan Yanto Ratih juga merasa usahanya semakin sepi. Ratih merasa Yanto tak membawa pengaruh baik padanya.


Namun dia bisa apa? Terlanjur ada nyawa yang kini hidup di perutnya dan tak mungkin dia singkirkan.


Satu-satunya cara bagi Ratih adalah meminta hak suaminya pada Tyas sekarang juga.


Tubuhnya juga tak seperti sebelumnya, dia sering kelelahan meski usia kandungannya masih muda.


Ratih benar-benar membutuhkan pegawai untuk membantunya. Dia akhirnya memutuskan untuk mendatangi kediaman Tyas.


Mengingat sifat bar-bar istri tua suaminya, Ratih lantas meminta tolong pada temannya untuk ikut bersamanya.


"Lagian kamu Tih, tau kalau Yanto itu terkenal mokondo, malah mau sama dia!" sungut teman Ratih.


Ratih memang mengakui kebodohannya, tapi dia tak bisa mengelak dari rayuan Yanto kala itu.


Dia yang baru jadi janda dan rindu akan sentuhan laki-laki mau tak mau terlena dengan semua perhatian Yanto.


Terlebih lagi dulu Yanto sangat royal padanya, tanpa Ratih tau jika dulu keluarga Yanto bergantung pada Nina, sehingga uang penghasilannya dari mengojek, bisa dia gunakan untuk menyenangkan Ratih.


Namun sekarang, Ratih menyadari perbedaan Yanto setelah menjadi suaminya. Lelaki itu bahkan tak memberinya uang sama sekali.


Saat dia bertanya pada Yanto apa lelaki itu memberikan uangnya pada Tyas, Yanto mengelak dan dia berkata jika tarikannya sedang sepi.


.


.


Sore hari saat Titik dan Dita tengah duduk melepas penat karena lelah mencari kontrakan, mereka di kejutkan dengan dua orang wanita yang datang menemui mereka yang salah satunya mengenakan riasan yang sangat tebal.


Setelah mengucapkan salam, Ratih lalu mengenalkan dirinya.


Titik dan Dita saling melempar pandangan karena tak mengenal dua wanita ini.

__ADS_1


Pikiran Titik tertuju pada seorang penagih hutang, mungkin wanita ini adalah salah satu orang yang di hutangi oleh Tyas, batinnya.


"Ada apa ya Bu?" tanya Titik sopan.


Ratih mendengus kesal di panggil Bu, tentu saja dia tidak terima. Dia merasa seumuran dengan Tyas, meski kenyataannya Ratih jauh lebih tua dari pada istri pertama suaminya.


"Kenalkan saya Ratih dan ini teman saya. Saya ini ... Istri keduanya Yanto," jelasnya.


Titik dan Dita terkesiap mendengar penjelasan wanita di hadapan mereka, sedangkan wanita satunya hanya diam saja sejak memperkenalkan diri.


"Kurang ajar, mau apa kamu ke sini hah!" maki Tyas mendekati tamunya.


Tyas terkejut saat mendengar ada tamu yang tiba-tiba datang ke rumahnya. Namun keterkejutannya berubah jadi amarah saat tahu tamunya adalah wanita yang dulu dia pergoki tengah bersama suaminya.


Kini wanita itu bahkan mengakui hubungan terlarangnya dengan Yanto.


"Kamu jangan main kekerasan! Atau saya bisa melaporkannya ke kantor polis!" ancam Ratih.


Titik yang melihat keduanya saling menatap dengan sinis dan siap berperang lantas meminta Tyas untuk mengalah dan bersikap tenang.


"Kamu sabar dulu Yas, kita lihat mau apa pelakor ini ke rumah kita,” cegah Titik “ Kalau kamu ke sini mau cari Yanto, dia ngga ada! Kita ngga peduli lagi sama dia!" jelas pada madu putrinya tajam.


Ratih tersenyum, tentu saja dia tau Yanto tak berada di rumah itu. Bukan itu tujuannya datang ke sana.


"Tentu aja aku tau mas Yanto ngga ada di sini! Dia ada di rumahku, kalau kalian mau tau," jawab Ratih dengan senyum mengejek.


"Terus kamu mau apa ke sini!" bentak Tyas yang sudah habis kesabaran.


Hatinya sangat sakit saat mengetahui kenyataan kalau Yanto sudah mengkhianatinya sedemikian rupa.


Padahal dia juga sudah berselingkuh meski hanya dalam dunia maya. Toh kelakuan keduanya tak ada bedanya, sama-sama tukang selingkuh.


"Saya mau haknya mas Yanto lah! Jangan serakah, bagaimana pun Mas Yanto juga kan suami kamu," jawab Ratih santai.


Tyas mengernyitkan dahinya mendengar ucapan madunya ini.


“Maksud kamu apa?”


Ratih mendengus, melihat sikap bodoh istri tua suaminya, “aku minta separo dari uang penjualan rumah ini. Aku juga istrinya, ingat itu!”


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2