Derita anakku

Derita anakku
Sidang


__ADS_3

Nina dan yang lainnya masih membiarkan Ziva memakan makanannya hingga habis.


Ziva yang memang kelaparan memakan makanannya dengan semangat, meski di kelilingi tatapan mata yang penasaran dengan dirinya.


Setelah menenggak habis minumannya, barulah Nina bertanya pada gadis remaja itu.


"Ada apa kamu ke sini Va? Kamu tau kalau Bude sama mamahmu tidak pernah berhubungan baik. Terus terang Bude—"


Ucapan Nina terpotong begitu saja oleh Ziva yang menyelanya. Sungguh tak punya adab sopan santun.


"Tolong Ziva Bude, jangan usir Ziva!" selanya yang membuat Nina kesal. Dia paling tidak suka jika ucapannya di sela begitu saja.


"Bisa ngga Va, kalau Bude lagi ngomong kamu dengarkan Bude dulu? Jangan menyela begitu aja! Itu ngga sopan!" ucap Nina geram.


"Maaf Bude. Ziva cuma takut Bude akan mengusir Ziva. Tolong Ziva Bude, cuma Bude keluarga lain yang Ziva kenal," jawab Ziva lirih.


"Memangnya kamu kenapa? Bude ngga mau kalau kedatangan kamu ke sini justru membuat masalah antara Bude dan mamahmu, maaf Ziva Bude ngga bisa bantu kamu," tukas Nina datar.


"Ziva di usir sama mamah Bude. Ziva ngga tau lagi harus gimana, makanya Ziva datang ke sini," lirihnya.


Nina menghela napas, entah masalah apa yang tengah di hadapi oleh keluarga mantan ibu tirinya itu hingga mereka tega mengusir remaja di depannya.


"Pasti ada alasan yang membuat mamahmu mengusir kamu kan? Coba kamu jelaskan sama Bude!" pinta Nina.


Ziva hanya bisa menunduk takut, dia tak ingin Nina pun marah padanya dan mengusirnya.


Melihat gelagat Ziva seperti enggan bercerita dengannya, akhirnya Nina membuat keputusan.


"Maaf kalau Bude menolak kamu, karena Bude ngga tau masalah apa yang sedang kamu hadapi. Sebaiknya kamu segera kembali ke rumahmu, Bude akan mengantarmu ke sana," tawar Nina.


Ziva kembali menangis histeris, dia menolak untuk pulang, dia tidak mau kembali di hajar oleh ibunya.


"Ngga Bude, Ziva ngga mau, Ziva mohon Bude, biarkan Ziva tinggal sementara di sini," rajuk Ziva.


"Bude ngga mau nanti di tuduh menyembunyikan kamu Va. Kalau kamu ngga mau cerita Sama Bude, maka Bude akan menanyakan langsung sama mamahmu," ancam Nina.


Ziva menggigit bibir bawahnya, dia tak ingin sang Bude dan Rima tau apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya.


Tentu saja Ziva malu terhadap Rima yang dia pikir akan menertawakan nasib buruknya.


Susah banget sih nerima aku! Cape banget tau nangis dari tadi. Sok-sokan segala! Dasar tukang ikut campur!


"Kenapa diam Va?" tanya Nina yang sudah mulai jengah.

__ADS_1


"Kalau memang Bude ngga mau nerima Ziva ngga papa, tapi ... Boleh ngga Ziva minta tolong?" pinta Ziva pada akhirnya.


Nina mengernyit heran melihat sikap remaja seusia putrinya itu yang cepat sekali berubah. Tadi dia menangis histeris, giliran di tanya olehnya dia selalu mengelak, kini dia terlihat penuh harap.


"Kamu mau minta tolong apa lagi?" jawab Nina datar.


"Pinjami Ziva uang Bude. Ziva akan mengontrak sendiri," putus Ziva.


Dia memilih tak membicarakan aibnya pada keluarga Nina, selain malu, dia tak ingin di tertawakan oleh Rima. Meski itu hanya pikiran buruknya.


"Bude ngga akan ngelakuin itu. Bude ngga mau justru nanti berbuntut panjang! Bisa-bisa Bude di salahkan oleh mamahmu nanti!" tolak Nina lagi.


"Bude kenapa sih! Aku tinggal di sini ngga boleh, aku pinjam uang juga ngga boleh! Tadi katanya Bude mau bantu aku!" pekik Ziva yang mulai kesal.


Dia yang sudah memiliki tenaga kembali pada sifat aslinya.


"Bude mau bantu kamu pulang! Senggaknya udah banyak yang tau kamu ke sini, kalau nanti kamu terkena masalah, orang pertama yang mamahmu cari pasti Bude. Makanya Bude akan maksa kamu pulang sekarang!" jawab Nina tegas.


Sugi dan Galih masih membiarkan kedua wanita berbeda umur itu bersitegang dari tadi. Setelah suasana sudah cukup memanas, barulah Sugi membuka suaranya.


"Sebaiknya kamu pulang atau minta izin sama mamahmu dulu Ziva, Paman yakin kalau mamahmu pasti sedang mencarimu saat ini," sela Sugi.


"Enggak paman, mamah ngga mungkin nyariin Ziva. Mamah sama Papah ngga peduli sama Ziva mereka lebih mementingkan kebahagiaan mereka sendiri. Papah juga udah ngga peduli sama Ziva," tangis Ziva kembali pecah.


Mendengar suara Sugi membuat rasa rindunya kepada sang ayah tiba-tiba muncul begitu saja.


Ziva menggeleng, "papah udah ngga tinggal sama mamah. Mereka udah pisah, papah udah sama istri barunya," jelas Ziva.


Hati Rima semakin terenyuh mendengar cerita saudari tirinya. Refleks dia memeluk tubuh Rima dari samping.


Ziva yang tadi berpikiran buruk tentang Rima lantas merasa haru karena gadis itu ikut memberinya simpati.


"Yang sabar ya Va. Tapi kamu ngga boleh begini Va, mamah kamu pasti khawatir nyariin kamu," ucap Rima.


"Bu biarin Ziva di sini dulu ya?" pinta Rima yang tak tega dengan kondisi Ziva.


Nina menghela napas lalu mengangguk mengizinkan.


Rima lalu mengajak Ziva untuk kembali beristirahat di kamarnya karena waktu juga sudah beranjak malam.


"Kamu mandi dulu ya Va, abis itu istirahat," pinta Rima.


Ziva tersenyum senang karena merasa bisa menaklukkan Nina dan Rima.

__ADS_1


Dari awal dia sudah yakin kalau Nina pasti tak akan menolaknya.


"Mbak beneran mau nampung anak itu? Perasaanku kok ngga enak ya Mbak!" ujar Galih setelah kedua remaja tadi meninggalkan meja makan.


"Mbak juga khawatir, terlebih sifat mamahnya si Ziva. Tapi mau gimana lagi, anak itu kelihatan kurang sehat, mbak jadi ngga tega," jelas Nina.


"Paling enggak kamu kabari orang tuanya anak itu Nin, agar nanti ngga terjadi kesalah pahaman. Oh iya besok paman harus pulang ke kampung," ucap Sugi.


"Kok cepat sekali paman?" keluh Nina.


Dia merasa tenang saat tinggal dengan paman dan sepupunya, Nina jadi lupa jika pamannya memiliki istri dan bapaknya yang harus dia urus.


"Udah mau nandur Nina. Doakan semoga panen Paman melimpah ya? Bibimu pengen umroh," jelas Sugi.


"Amiin paman, Nina pasti akan membantu nanti, paman tenang aja!" jawab Nina semangat.


"Kamu ini Nin, Paman dan Bibimu sudah banyak menyusahkan kamu, sudahlah kami masih punya simpanan untuk itu," tolak Sugi.


"Aku ikut pulang juga Pak?" sela Galih.


"Loh ngga usah toh, kamu kan udah mau panggilan kerja. Jaga mbak sama keponakanmu ya!" pinta Sugi pada putra sulungnya.


Di dalam kamar, Ziva sendiri penasaran dengan sosok lelaki yang duduk bersama Budenya.


Lelaki tampan dengan pandangan tajam itu mengusik hatinya.


"Rim, cowok yang duduk di sebelah ibu kamu siapa?" tanyanya malu-malu.


Rima mengernyit heran, "Mas Galih namanya, emang kenapa Va?" Rima remaja yang masih polos tentu saja tidak ke pikiran sampai ke sana.


Sedangkan Ziva yang sudah tau hubungan antara laki-laki dan perempuan jelas bisa memiliki perasaan genit pada lawan jenisnya.


"Udah punya pacar belum ya Rim?" tanya Ziva penasaran.


"Hah! Pacar? Engga tau Va, aku ngga pernah nanya-nanya kaya gitu," jawab Rima cengok.


Dalam hati Ziva bersorak gembira, dia membayangkan andai saja lelaki tampan tadi jadi pacarnya tentu dia akan sangat bangga.


Dia bisa memamerkan pacar tampannya pada mantan teman-temannya.


.


.

__ADS_1


.


Next


__ADS_2