Derita anakku

Derita anakku
Pertemuan yang tak terduga


__ADS_3

Dibyo di antarkan ke kamarnya oleh Sugi. Sejak tadi lelaki paruh baya itu masih diam merajuk, meski sudah di ajak bicara oleh sang adik.


Sugi memang terkejut dengan permintaan keponakannya malam tadi, kala Nina memohon agar dirinya mau merawat Dibyo.


Tentu saja Sugi tak keberatan, karena Nina menceritakan semua keluhannya.


Sugi berharap setelah ini Dibyo akan merenungi kesalahannya.


Asih pun tak pernah keberatan harus merawat kakak iparnya. Nina tak begitu saja menitipkan sang bapak, dia akan mengirimkan sejumlah uang untuk kebutuhan bapaknya di kampung.


Kesempatan kali ini juga akan Nina manfaatkan untuk mengunjungi makan suaminya yang berada di kampung sebelah.


Nina terpaksa meliburkan Tokonya sebab tak mungkin dia mempercayakan segalanya pada Lastri.


Bukan tidak percaya, hanya saja Haji Mursih pernah menasihatinya, untuk selalu hati-hati. Mungkin seseorang tak ada niat untuk mencurangi kita, tapi terkadang kita tidak tau godaan apa yang sedang hinggap pada orang tersebut.


Oleh sebab itu Nina memilih meliburkan mereka selama tiga hari.


"Lalu sidang perceraian bapakmu gimana Mbak?" tanya Sugi usai membujuk sang kakak agar mau bicara.


"Kalau ngga datang biasanya cepet urusannya paman. Apa bapak masih merajuk?"


"Begitulah, kamu tenang aja, nanti lama-lama juga bakal kerasan. Biar tiap pagi paman terapi nanti jalan di embun, siapa tau bisa berdiri pelan-pelan," jawab Sugi.


Rima dan Prapto justru tengah menikmati pemandangan sawah bersama Galih. Meski di kota tempatnya juga masih ada sawah, tapi tak sesejuk kampung halaman kakeknya.


Rima juga senang karena Galih banyak mengajarinya tentang gadget yang dia miliki.


Meski tinggal di desa, Galih bukanlah orang yang buta akan teknologi. Dia bahkan kuliah di bidang I.T.


"Galih udah lulus kuliah Paman?" tanya Nina.


Asih sendiri sedang sibuk di dapur membuat camilan di bantu dengan Wingsih. Mereka yang hobi memasak tentu sangat klop saat berada di dapur.


"Iya, katanya mau kerja di kota. Sepertinya di kotamu kalau ngga salah dengar paman," jawab Sugi.


"Oya? Tinggal sama Nina aja paman, lumayan kan bisa menemani kami," pinta Nina semangat.


"Kalau ngga merepotkan kamu ya syukur Na, kamu tau sendiri adikmu itu kaum rebahan kata anak jaman sekarang, hobinya tiduran aja dia," kekeh Sugi.


Asih datang bersama dengan Wingsih sambil membawa makanan. Mereka memutuskan makan di bawah karena banyaknya orang.


"Kamu denger kabar mertua kamu dan keluarganya Nin?" tanya Asih.


Nina menggeleng setelah membantu sang bibi merapikan karpet, sejujurnya wanita tiga puluh tujuh tahun itu tak peduli dengan keadaan mantan mertua serta keluarganya.


"Mereka sepertinya kena karma Nin," sergah Asih setelah mereka semua duduk mengelilingi makanan.


Mendengar kata 'karma' tak urung membuat hati Nina penasaran juga.


"Memang mereka kenapa Bi?" ucapnya tak acuh.

__ADS_1


Asih menghela napas, teringat bagaimana mantan mertua Nina sempat memohon bantuan padanya untuk bisa menghubungi Nina.


Mereka pernah mengunjungi rumah Nina saat Nina tengah bekerja di luar negeri, sayangnya saat itu mereka bertemu dengan Titik dan tentu saja mereka di usir.


Kedua orang tua itu merebutkan Rima agar bisa mereka asuh, tentu saja dengan harapan agar bisa merasakan uang Nina.


Titik menang atas perebutan itu karena dia di bantu oleh ketua Rt. nya, pak Agus, hingga bisa mengusir mantan mertua Nina.


"Adik iparmu si Lala gila, karena gagal masuk tes untuk masuk di instansi pemerintahan," jelas Asih.


Nina hanya mengangguk saja, bukankah Tuhan maha adil, di saat dia dan Rima di dizalimi, mereka yang memyakiti akhirnya merasakan buah dari perbuatan buruknya.


"Sawah milik kamu bahkan sudah habis di jual mereka untuk mengobati Lala," tambah Asih.


Mantan mertua Nina memiliki tiga orang anak, mendiang suami Nina, Handoko adalah anak ke dua.


Anak pertama mertuanya laki-laki, dia seorang pemalas dan anak ketiganya perempuan manja yang selalu ingin di turuti keinginannya.


Bahkan dulu Nina harus menerima gaji suaminya lebih kecil karena sang suami harus menguliahkan adiknya.


Nina masih bersabar, karena sang suami tetap berusaha mencukupi kebutuhannya dan juga Rima.


Hingga mungkin karena tenaga yang terlalu di forsir, Handoko terkena serangan jantung dan akhirnya meninggal.


Inilah awal mula bencana, karena sang mertua merasa Handoko masih memiliki kewajiban menyekolahkan adiknya yang bungsu.


Dengan alasan itulah, sang mertua mengambil semua peninggalan Handoko termasuk uang pesangonnya.


"Kamu mau nyekar ke makan Handoko Nin?" tanya Sugi.


"Iya paman, mumpung di sini," balas Nina.


"Awas nanti ketemu mantan mertuamu," kelakar Asih sambil bergidik.


"Kenapa Bi? Setelah dapet musibah begitu apa mereka ngga berubah?" tanya Nina penasaran.


"Ya berubah sih, berubah tambah parah,” kelakar Asih. “Mulut mertuamu tetep aja pedes, waktu dulu dia datang ke sini dengan wajah memelas, eh pas Bibi sama pamanmu ngga kasih apa yang dia mau, kelakuannya balik lagi. Ketus kalau ngomong," jelas Asih.


Mereka semua tertawa mendengar cerita Asih. Tak ada yang terkejut dengan sikap mantan mertua Nina.


Mereka hanya bingung mengapa Handoko sangat berbeda dengan keluarganya.


.


.


Nina mendatangi Dibyo di kamar. Sejak kemarin sang bapak masih merajuk dan tak mau makan di ajak bersama.


Namun Nina masih bersyukur sebab kata Sugi, makanan yang di bawa ke kamar Dibyo selalu di makan olehnya.


"Pak, Nina sama Rima izin ke makam mas Handoko ya, bapak mau apa?" tanya Nina lembut.

__ADS_1


Dibyo yang duduk menghadap jendela hanya mendengus kesal.


"Memang kamu mau mengabulkan permintaan bapak?" sindirnya.


Nina sangat tau apa yang bapaknya inginkan, apalagi kalau bukan pulang ke rumahnya.


"Ya udah kalau bapak ngga mau sesuatu, Nina pergi dulu pak, Assalamualaikum,” Nina lebih memilih mengabaikan bapaknya dari pada nanti dia terpancing emosi.


.


.


Paginya, hanya Rima dan Nina serta sopir yang di sewanya yang pergi ke kampung mendiang Handoko.


Nina berdoa semoga tak bertemu dengan mertua atau pun keluarga mantan suaminya.


Sungguh Nina enggan berurusan dengan mereka lagi. Baginya lebih baik tak berhubungan sama sekali, dari pada harus kembali bertengkar.


Mobil yang di naiki Nina melewati rumah mantan mertuanya. Rima yang melihat itu lantas berujar pada ibunya.


"Bu, itu rumah nenek, ngga mampir?" tanyanya.


Nina menggeleng, mungkin karena Rima masih kecil saat di tinggal ayahnya, gadis remaja itu tak paham akan permasalahan Nina dan orang tua dari ayahnya.


"Kapan-kapan ya Rim, ibu kan harus segera pulang," tolak Nina.


Nina dan Rima memasuki area pemakan hanya berdua sedangkan sang sopir menunggu di depan makam.


Setelah selesai menuangkan rasa rindunya di makam sang suami, Nina kembali mengajak Rima pulang, hari ini niatnya dia ingin segera kembali ke kotanya agar bisa buka toko keesokan harinya.


Sayangnya, langkah mereka harus terhenti kala Nina mendengar namanya di panggil oleh seseorang yang memang ia hindari.


"Nina? Rima? Ya Allah, akhirnya kalian mau ke sini, kapan kalian sampai, ayo main ke rumah nenek!" ajak mantan ibu mertua Nina yang kebetulan lewat di depan mereka.


Rima hanya menatap sang mantan ibu mertua dan lebih memilih bungkam.


"kamu kapan pulang Nina?" tanya mantan ibu mertuanya bersahabat seolah-olah tak pernah ada kejadian buruk di masa lampau.


"Kamu berubah ya, ibu yakin perekonomian kamu membaik. Syukurlah, maafkan atas kesalahan ibu ya Nina," lirih mantan mertua Nina.


Sejak tadi mereka masih berdiri di pinggir jalan, Nina ingin sekali menghindar dari mantan mertua serta keluarga mendiang suaminya.


Namun tampaknya agak sulit, Nina yakin sang mantan mertua pasti akan melakukan drama.


Dia masih ingat ucapan bibinya yang mengatakan jika mantan mertuanya belum berubah.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2