
Kehidupan Nina kembali seperti dulu, meski kemarin dia sempat di sibukkan bolak balik menjadi saksi atas kasusnya bersama Budi.
Terakhir kali dia melihat Budi dan keluarganya, mereka tampak berubah drastis.
Tubuh yang dulu berisi kini semakin kurus, bahkan wajah Budi tampak sangat berbeda jauh. Terakhir yang Nina lihat, wajah Budi penuh dengan luka lebam akibat dari perkelahiannya dengan para napi di sel tahanan.
Jannah juga yang dulunya gempal sekarang sangat kurus, kulit wajahnya bergelambir. Rahma bahkan sangat memprihatinkan, wajahnya menjadi kusam, kulit mulusnya berubah menjadi penuh dengan luka, bekas garukan, entah karena alergi atau yang lainnya.
Saat memasuki ruang sidang, Janah dan Rahma bahkan masih sempat memohon-mohon pada Nina untuk membebaskan mereka.
Tak ada lagi wajah kesombongan dan keangkuhan mereka berempat, yang ada hanya wajah nelangsa.
Nurdin yang ikut hadir juga meminta Nina mencabut laporannya kepada istri dan anak perempuannya.
"Sebaiknya Bapak pikirkan saja nasib Bapak sendiri. Bapak bisa selamat di kasus Bu Nina, tapi tidak di kasus Bu Mulya!" kecam pengacara Nina dan Mulya.
Tubuh Nurdin gemetar ketakutan, dia memikirkan cara untuk melarikan diri, sebelum akhirnya nanti teringkus. Sungguh dia tidak ingin masuk ke penjara seperti anak dan istrinya.
Hanya Deni yang lolos dari semua jeratan hukum, sebab suami Rahma itu benar-benar tidak terlibat dengan semua rencana keluarga mertuanya.
Mendengar sang menantu di penjara, orang tua Deni lantas menjemput putra mereka yang sejak lama berada di cengkeraman keluarga Rahma.
Melihat sikap aneh putranya yang seakan tunduk sekali dengan Rahma, membuat kedua orang tua Deni curiga, jika semua bukan atas kehendak Deni.
Setelah membujuk Deni, akhirnya suami Rahma itu mau mengikuti proses Ruqiyah.
Pengobatan demi pengobatan orang tua Deni lakukan karena pengaruh pelet dari Rahma sudah lumayan lama dan kuat.
Beruntungnya kini Deni seakan mulai sadar. Namun yang pasti, lelaki itu tak menutupi rasa sayangnya pada sang istri, meski hanya sekedar sayang, kini dia sadar tak akan menuruti permintaan Rahma yang dulu sangat tak masuk akal baginya.
Saat di ruang persidangan Rahma bahkan meminta Deni untuk membebaskannya, karena berpikir mungkin sang suami masih dalam pengaruh gaib.
"Tolong aku Mas, anak-anak pasti membutuhkanku," rengek Rahma.
"Kamu tenang aja, mereka di asuh dengan baik sama oma-opanya," jelas Deni.
__ADS_1
Dia hanya ingin melihat jalannya akhir persidangan ini dan melihat semua kelakuan buruk istrinya demi merebut harta yang bukan hak mereka.
Rahma terkejut bukan main mendengar kenyataan jika suaminya sudah kembali pada keluarganya.
"A-apa? Oma-opa? Bagaimana bisa," lirihnya, setelah itu dia berteriak. "Jangan biarkan anak-anak tinggal dengan orang tuamu mas! Aku ngga mau pikiran mereka di racuni oleh orang tuamu! Aku ngga rela! Pokoknya kamu harus bawa mereka pulang!" teriaknya lantang.
Deni tersenyum miris, lalu menggeleng, "pulang? Pulang ke mana maksud kamu? Kamu tentu tau jika rumah yang kita tempati adalah milik mbak Mulya. Dan kini rumah itu tengah jadi gugatan di pengadilan," jelas Deni.
Lagi-lagi Rahma terkejut, dia tak menyangka hidupnya akan jatuh sampai ke dasar. Kekayaan yang mereka miliki lenyap seketika.
"Dan setelah ini, aku akan menceraikanmu Rahma. Maaf, tapi aku tidak bisa lagi bersamamu," ucap Deni yakin.
“Tentang orang tuaku, kami jangan khawatir Arul dan Aruna akan tetap mengingatmu sebagai ibunya. Kedua orang tuaku tidak seperti kamu yang harus menggunakan cara licik untuk meluluhkanku!” sindir Deni.
Meski ada rasa sayang yang tulus di hatinya, tapi dia tidak mau menjalani rumah tangga lagi dengan Rahma, mungkin terkesan kejam, karena dirinya menceraikan Rahma saat kondisi istrinya itu tengah dalam keadaan terpuruk.
Namun dia sudah memikirkan semuanya. Dia ingin kembali hidup bersama anak dan keluarganya, yang memberi syarat padanya untuk melepaskan Rahma.
Deni setuju dengan permintaan keluarganya dan dia datang hanya untuk mengatakan talak pada istrinya.
Deni juga mengucapkan kata maaf mewakili istrinya kepada Nani dan Mulya. Dua wanita itu tak segan-segan memaafkan Deni karena tahu lelaki itu tidak bersalah.
Tak ada yang bisa Jannah lakukan, semua kelakuan buruk mereka seakan berbalik pada mereka.
Hanya Budi yang masih menegakkan dagunya sombong bahkan saat berhadapan dengan Mulya istri sahnya.
"Aku juga sudah menggugat cerai dirimu! Meskipun aku yang dulu menyerahkan semua aset atas namamu, tapi semua itu milik kita selama menikah, jadi semuanya akan di bagi dua. Walau aku ngga ikhlas tapi aku tak bisa berbuat banyak!" jelas Mulya.
Budi hanya membuang muka, meski ada sedikit rasa tak rela melepaskan semua hartanya kembali pada Mulya tapi dia bisa apa.
Bahkan harta gono gini itu habis untuk membayar semua kerugian dan tuntutan yang di layangkan oleh Nina dan Mulya.
Sedangkan Novi, wanita itu hanya bisa menjerit histeris kala orang tuanya memarahinya sedemikian rupa.
Mereka tak bisa membela sang putri karena memang Novi terbukti terlibat dengan kejahatan Budi.
__ADS_1
“Kami menyekolahkanmu agar menjadi orang yang bisa berpikir sebelum bertindak. Tapi kamu terlalu bodoh di butakan oleh cinta yang akhirnya menjerumuskanmu!” ujar ayah Novi geram.
Lalu kedua orang tua Novi meninggalkan putri mereka yang berteriak memanggil mereka.
Orang tua Novi pun tak berkata apa-apa pada Nina mau pun Mulya. Tak ada ucapan permintaan maaf seperti yang Deni lakukan.
Sebab di hati kedua orang tua Novi mereka juga sebenarnya kesal dengan Nina dan Mulya yang membuat putri mereka harus mendekam di penjara.
Semua tersangka hanya bisa menerima nasib mereka. Budi di tuntut hukuman seumur hidup, sedangkan Rahma dan Janah akan menjalani masa tahanan selama sepuluh tahun penjara.
Novi sendiri hanya di jatuhi hukuman lima tahun penjara, sebab tak terlibat secara langsung, dia hanya sekedar tahu di kasus Mulya, hukumannya hanya dari kasus Nina yang paling berat.
Kini Mulya pun bisa kembali bernapas lega. Dia bisa hidup tenang dengan Cantika.
"Terima kasih Nina, berkat ketemu kamu, kita bisa berada di titik ini, aku harap kita masih bisa berteman baik," pinta Mulya setelah keduanya keluar dari ruang persidangan.
"Kamu akan ke mana mbak?" tanya Nina.
"Aku akan ke kampung halaman orang tuaku Nin, ingin memulai hidup baru di sana," jelas Rahma.
Nina pun tersenyum, akhirnya kehidupan mereka bisa kembali bebas, setelah semua kesakitan yang pernah mereka alami.
Di rumah tak lupa, Nina mengadakan syukuran atas semua nikmat yang Tuhan berikan padanya.
Dia berharap hidupnya akan lebih baik kedepannya.
Saat semua sedang bercengkrama santai, tiba-tiba Nina di kejutkan oleh kedatangan seseorang yang sudah lama tak ada kabarnya.
"Bude tolong Ziva!" rengeknya.
.
.
.
__ADS_1
Tbc