Derita anakku

Derita anakku
Pesta kelulusan


__ADS_3

Rima akan menghadiri pesta perpisahan yang di adakan oleh Andi dan kawan-kawannya.


Nina sudah memintakan izin pada Ahmadi tentang permintaan putrinya itu.


Kini gadis cantik berhijab krem itu tengah duduk bersama Andi menghadap orang tuanya.


"Andi ikut berbela sungkawa tante dengan musibah yang tengah tante alami," ucap Andi pada Nina.


Dia sebenarnya sudah tahu lama tentang kejadian itu. Namun selayaknya anak muda biasa, tak mungkin dia tiba-tiba menemui Nina hanya untuk sekedar mengucapkan bela sungkawanya.


Masih ada batasan bagi mereka, terkecuali musibah itu menyangkut nyawa baru dia bisa segera hadir.


Lagi pula Andi yakin kalau Nina dan keluarganya pasti tengah sibuk dengan permasalahan mereka, jadi rasanya tak pantas jika dia bertamu hanya untuk berbasa-basi tak penting seperti itu.


"Iya makasih ya Nak Andi. Oh iya kalian pulang jam berapa? Jangan malam-malam ya," pinta Nina.


"Enggak ada Alkohol dan pesta hura-hura kan?" cecar Ahmadi yang sangat tahu pergaulan anak muda jaman sekarang.


"Enggak ada Om, kami ngerayainnya di kafe 'Sanubari' om bisa cek ke sana kalau enggak percaya," jawab Andi lugas.


Ahmadi lalu mengangguk dan mengizinkan putrinya untuk keluar merayakan pesta kelulusan anak dari temannya itu.


Saat dalam perjalanan keluar rumah, Ahmadi lantas bertanya tentang sekolah tujuan Andi.


"Kamu jadi sekolah di luar negeri Ndi?"


"Enggak Om, di sini aja. Lagian banyak universitas yang bagus juga di sini," jawab Andi yakin.


"Loh, dulu mamah kamu semangat sekali ceritain kamu kalau kamu udah punya universitas impian. Impian mamah kamu juga dulunya, sayang dia enggak bisa ke sana," kekeh Ahmadi.


"Andi mutusin di sini aja sih Om, lagian sama ini, cuma masalah nama besar mereka aja yang bisa buat kebanggaan. Tapi kalau untuk hasil personal, tetap harus usaha sendiri," jelas Andi.


Ahmadi menepuk bahu pemuda itu bangga. Setidaknya Andi berpikiran luas tidak seperti ibunya yang harus selalu mendapatkan yang sempurna.


"Jaga anak om," titah Ahmadi, di balas anggukan oleh Andi.


Andi membukakan pintu mobil untuk di naiki Rima. Membuat gadis remaja itu tersenyum malu.


"Kenapa?" heran Andi melihat wajah Rima yang sedikit merona.


"Kaya di drama-drama ya. Cowoknya bukain pintu buat perempuan," jelas Rima.


Andi tertawa mendengar ucapan Rima, mungkin perhatian kecil seperti ini membuat gadis itu senang.


"Hanya Gue ya, jangan yang lain. Kamu enggak boleh tersipu sama kelakuan cowok yang mau sok perhatian sama kamu," pinta Andi tegas.


"Hah? Emang kenapa ka?" beo Rima yang masih saja belum paham dengan perhatian Andi.


Andi menghela napas, "Nanti gue cemburu," jawabnya datar.

__ADS_1


Lagi-lagi Rima tersipu mendengar pengakuan Andi tentang perasaannya.


Rima menggigit bibirnya bingung, ada sesuatu yang ingin dia sampaikan pada Andi, tapi takut pemuda itu marah.


"Emmm ... Ka, kakak tau kabar mbak Citra?" pancing Rima.


Andi mengernyitkan dahinya bingung, mengapa tiba-tiba pujaan hatinya membahas tentang Citra.


"Enggak, kenapa emang? Dia nemuin kamu lagi?"


Rima menggeleng, "enggak sih, tapi ..."


"Kenapa? Ngomong aja enggak papa," cecar Andi gemas.


Rima menunduk sambil memilin gaunnya. Gugup tentu saja, dia tak tahu reaksi apa yang akan Andi berikan padanya.


"Kakak tau, kalau polisi udah nangkap dalang di balik kebakaran toko ibu?" jelasnya.


Andi memang berbasa basi dengan Ahmadi dan Nina tadi. Namun tak ada satu pun dari mereka yang memberitahu cerita yang sebenarnya.


Mungkin karena menang dia orang luar atau mungkin menganggap dirinya masih anak-anak, Andi sendiri tak tahu dan dia tak mau memaksanya.


Pemuda itu paham di mana batasannya. Jadi tak terlalu mencecar orang tua Rima.


"Siapa emang? Sekilas gue taunya cuma pegawai tante Nina."


"Pelaku utamanya Mbak Citra Ka," jelas Rima lirih.


"Aku enggak tau, tapi dari penilain Mas Galih. Citra sakit hati sama Mas Galih karena di putusin. Makanya Mas Galih ngerasa bersalah sama Ibu."


Andi mengusap bibir dengan telunjuknya sembari berpikir. Rasanya ada yang janggal jika Citra justru membalas sakit hatinya pada Nina.


Namun begitu, dia tak tahu motif sebenarnya mantan guru lesnya melakukan hal nekat seperti itu. Bisa jadi benar karena sakit hati dengan Galih atau mungkin juga karena dirinya.


Andi menarik napas dalam, jika Citra membalas Nina karena dendam dengan Rima yang di cintainya, dia menyimpulkan semua terjadi karena andil dirinya juga.


Tiba-tiba Andi merasa bersalah. Dia bingung bagaimana harus mencari tahu. Mungkin nanti dia akan mengunjungi Citra di lapas.


Keduanya sudah sampai di kafe, sahabat-sahabat Andi sudah menunggu kedatangan ketua geng mereka.


Kafe di hias dengan meriah. Tidak hanya mereka, kelima pemuda itu mengundang teman kelas dan juga teman yang mereka kenal.


Clara sendiri memaksa hadir di sana meski sejak tadi di acuhkan oleh keempat sahabat Andi.


Clara menatap tajam ke arah Rima dan Andi. Dia masih saja cemburu pada Rima meski tahu keduanya tak memiliki hubungan apa pun.


Karena bagi Clara, dia merasa jika tak ada Rima, kemungkinan Andi jatuh cinta padanya sangatlah besar.


Dia masih belum sadar, jika memang itu terjadi, harusnya sejak dulu Andi menyukainya. Nyatanya sampai sekarang perasaan Andi pada Clara masih sama, hanya sebatas teman.

__ADS_1


Andi berdecap sebal kala melihat penampilan Clara yang terlalu mencolok.


Gaun ketat berwarna merah menyala dan sangat terbuka di bagian dada sangat tak pantas di gunakan gadis seusianya.


"Ngapain dia di undang sih!" keluhnya yang dia tunjukan pada Luke.


Luke hanya mendecih menjawab gerutuan sahabat sekaligus sepupunya itu.


"Harusnya lu tegur tuh cewek Luk! Dah kaya perempuan yang mau mangkal aja. NORAK!"


"Lu nyerocos aja dah! Bukan Luke yang undang, tapi si vangke ini yang bikin Story di IG jadi tau tuh orang!" bela Noval dan menyalahkan Gyan.


"Thanks bro!" balas Luke sambil mengacuhkan tinjunya.


Clara bergegas mendekati mereka, sambil membawa buket bunga di tangannya.


"Selamat ya Ndi akhirnya bisa lulus juga, kamu udah daftar di mana?" cecar Clara yang mengabaikan keberadaan Nina.


"Lu kagak takut mauk angin Ra? Pakean lu kaya tante-tante," cibir Andi yang bahkan belum menerima buket dari tangan Clara.


Hati Clara sangat sakit saat menerima hinaan dari Andi. Tak pernah pemuda itu berkata kasar padanya, tapi semenjak dia menyatakan perasaannya sikap Andi berubah.


Tak hanya ketus, tapi juga kasar. Bahkan pujaan hatinya itu lebih sering mengabaikannya.


Luke yang melihat kesedihan hati gadis pujaannya merasa tak tega. Meski dia merutuki kebodohan gadis itu, tapi tetap dia menyayangkan sikap kasar Andi pada seorang gadis. Terlebih lagi pada gadis yang di sukainya.


Luke beranjak bangkit dan menyeret gadis itu menjauh, dia tak ingin Andi berkata semakin kasar karena Clara mengusiknya malam ini.


"Baguslah tu anak sadar diri," ucap Andi tak peduli.


Kini mereka tengah merayakan pesta kelulusan Andi. Suasana semakin ramai kala geng Andi maju ke panggung hendak menyanyikan sebuah lagu.


Suara Andi mampu menghipnotis para gadis. Mereka masih berandai-andai jika menjadi Rima.


Sayangnya, semua terlihat mustahil, Andi sudah terjerat akan pesona Rima yang mereka anggap biasa.


Bahkan Vira, gadis yang tergila-gila pada Andi hanya bisa tersenyum getir tak mampu menyentuh Rima, karena dia takut Andi melakukan hal buruk padanya.


Usai menyanyikan lagu, Andi mendatangi Rima di kursi mereka. Baru saja ingin menyatakan perasaannya pada gadis itu, ponselnya berbunyi, tertera nama sang kakak yang meneleponnya.


"Halo Bang?"


"Apa? Papah ke tembak? Gimana ceritanya? Baik gue ke sana sekarang!" jawab Andi panik.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2