
Rima sudah membeli pesanan para kakak kelasnya. Dia menatap jam pintar di pergelangan tangannya, waktunya tinggal sepuluh menit lagi jadi dia harus bergegas sekarang juga.
Rima celingukan mencari keberadaan Andi dan gengnya tadi. Dia panik luar biasa, karena mereka sudah tak ada di tempat itu.
Dia meratapi kebodohannya sendiri yang tidak bertanya akan di bawa ke mana pesanan mereka.
"Ka, maaf tanya, Ka Andi sama Gengnya ke mana?" tanya Rima pada kakak kelasnya yang sedang bercanda di depan kelas, yang tak jauh dari pertemuannya dengan Andi tadi.
Siswi perempuan itu menatap sinis pada Rima, "ngapain kamu tanya-tanya Andi?"
"Ini Ka, saya bawain pesanan dia, tapi ngga tau harus di antar ke mana," keluh Rima.
Para siswi itu menertawakan nasib sial Rima. "Carilah sendiri! Sana pergi, ganggu aja," usir mereka.
Rima menghela napas kasar, impiannya untuk menimba ilmu di sekolah favorit ternyata tak seindah bayangannya.
Murid-murid di sini ternyata sangat menyebalkan menurutnya.
"Aku cari ke mana lagi? Tinggal lima menit lagi ini," keluhnya.
Di tengah kebingungannya, Rima bertemu dengan Imam, salah satu kakak pembimbingnya.
"Loh Rim, udah selesai misinya?" sapa Imam ramah.
"Belum Ka, ini tinggal satu nama lagi, Ka Andi," jelas Rima sendu.
"Oh si Andi, dia ada di ruang olah raga, gi ke sana buruan," ucap Imam memberitahu.
Rima berterima kasih pada Imam dan bergegas mendatangi ruang olah raga yang memang ada di dalam sekolah.
Benar saja, lima lelaki yang tadi mengerjainya sedang bercanda sambil memainkan bola basket.
Rima berhenti dengan napas terengah-engah, "ini Ka pesanannya," Rima menyerahkan bungkusan plastik berisi minuman mereka.
"Lama banget sih! Aus tau, pasti udah enggak enak ini esnya cair semua," keluh Theo.
Rima ingin sekali memaki mereka, tapi dia tak berani dan hanya diam aja.
"Maaf Ka, bisa berikan aku tanda tangan Ka Andi kan?" pinta Rima.
Tanpa banyak kata seorang pemuda mengambil kertas Rima dan menandatanganinya.
Mata Rima berbinar karena misinya telah selesai. "Maka sih ya Ka, permisi," ucapnya pamit undur diri.
Kelima pemuda itu menertawakan kelakuan Rima yang sangat polos.
"Di hukum pasti tuh bocah," sergah Noval.
"Bengek banget lu Yan, maen kasih tanda tangan aja!" cibir Theo.
"Lah, udah pastikan Andi kagak bakalan mau tanda tangan, dari pada sia-sia, ya udah sih gue yang tanda tangan," jawab Gyan pongah.
Andi dan Luke memilih diam menikmati minuman mereka.
.
.
__ADS_1
Rima berlari dengan senang ke arah Vira yang sudah menunggunya dengan wajah kesal.
"Baru aku mau ngitung pake Toa!" keluhnya.
"Maaf Ka, cari Ka Andi yang paling susah," jelas Rima.
Vira tak menjawab, dia hanya tersenyum sinis saja, sebab dia tau orang di daftar terakhir itu lah kartu Asnya untuk mengerjai Rima.
Sejak awal kedatangan Rima. Gadis itu sudah membuat gempar sekolah karena menjadi perbincangan di antara para siswa, karena ada murid baru yang sangat cantik di sekolah mereka.
Vira tak suka jika dia di saingi, terlebih lagi Rima termasuk dalam kategori murid berprestasi.
Vira tersenyum menyeringai kala melihat nama terakhir dan tanda tangannya.
"Kamu salah dan kamu akan di hukum," ucap Vira dingin.
"Ma-maksudnya Ka? Bukannya aku udah melakukan tugas dari kakak?" sanggah Rima tak mengerti.
"Ini bukan tanda tangan Andi," jelas Vira.
"Apa!" pekiknya lemas. Rima tak menyangka jika dia akan di tipu dan di kerjai habis-habisan oleh kakak kelasnya.
"Sekarang kamu ke ruang olah raga bersihkan semua dan tata dengan rapi peralatan olah raga pada tempatnya," titah Vira.
Rima hanya bisa menunduk dan berjalan meninggalkan Vira.
"Kenapa Rim?" sambar Ayu teman baru Rima.
"Aku di hukum Yu," jawab Rima lemah.
"Sabar ya Rim. Kamu di suruh apa emangnya?" tanya Ayu penasaran.
"Ya udah nanti aku tunggu kamu ya, aku juga harus ngerjain tugas, kalau udah kelar, aku nyamperin kamu ke sana ya," ucapnya.
Rima mengangguk setuju dan dia berlalu meninggalkan Ayu menuju ke ruang olah raga.
Di sana dia kembali bertemu dengan Geng Andi, tapi Rima memilih cuek, sebab tak ingin meminta penjelasan atau marah-marah pada mereka.
Setidaknya dia tau sudah di kerjai dan dia memilih diam dari pada protes yang tak akan berujung baik, pikirnya.
"Lah balik lagi neng?" cibir Theo melihat Rima berjalan ke arah mereka.
Namun Rima tak menyahut dan melewati kelimanya begitu saja.
Andi hanya melirik Rima sekilas lalu kembali fokus pada layar ponselnya.
Mereka melihat Rima yang sedang merapikan bola-bola pada tempatnya. Lalu tak lama gadis itu mengambil sapu yang di gunakan untuk menyapu ruangan itu.
"Balik yuk!" ajak Noval pada sahabat-sahabatnya.
Dia ingin menyelamatkan Rima agar tak menjadi bulan-bulanan Theo dan juga Gyan.
"Ck! Kagak asyik banget lu!" dengus Theo kesal.
"Mending kita bicarain persiapan buat balapan nanti malam," jelasnya pada Theo yang seperti tak ingin beranjak.
Andi menatap Noval dan tersenyum misterius. "Napa lu Ndi? Kesambet?" tanya Noval saat melihat Andi tersenyum padanya.
__ADS_1
"Thanks guys, Gue lupa kalau nanti malam kita tanding," jawabnya.
Mereka berlima akhirnya berlalu dari ruang olah raga. Rima yang kebetulan mendengar percakapan mereka berdecap kesal kala mengetahui orang yang bernama Andi adalah orang yang sama dengan yang menabraknya pertama kali.
"Ternyata cowok dingin itu yang namanya Andi? Astaga, kekanakan banget sih, ngerjainnya," monolognya.
Rima mengerjakan semua tugasnya. Saat akan mengembalikan alat-alat kebersihan pada tempatnya, tiba-tiba pintu ruangan itu tak bisa terbuka.
Rima yang panik lantas menggedor-gedor pintu dengan keras.
Air matanya sudah mengalir deras, Rima ketakutan berada di ruangan sempit dan pengap itu.
"Tolong ... Tolong," teriaknya.
Dia menggedor-gedor dengan kencang, berharap ada yang mendengarnya.
Sayangnya, ruangan itu berada di sudut ruang olah raga, jauh dari jalan yang di lalui para siswa.
Terlebih lagi, di daerah situ sudah sepi para siswa berseliweran.
Rima kelelahan karena dia menangis sejak tadi. Dia merosot dan memeluk lututnya sendiri.
Tak ada yang bisa di mintai tolong, sebab ponselnya ada di dalam tas dan jam pintarnya juga mati karena kehabisan daya.
"Ibu, tolong Rima, hikss ... Hiks," tangis Rima.
Andi kebetulan kembali ke ruang olah raga karena akan mengambil bola basket miliknya sendiri.
Dia lalu mendengar suara isakan dari dalam sana dan seketika membuat bulu kuduknya merinding.
"Gila, masa siang-siang begini ada setan sih!" gerutnya sambil mengusap tengkuknya yang meremang.
Saat akan keluar dari ruangan olah raga itu sayup-sayup dia mendengar suara perempuan meminta tolong.
Akhirnya, dengan sedikit keberanian, Andi mencari sumber suara yang dia yakin suara itu berasal dari ruangan penyimpan alat-alat kebersihan.
Benar saja, pintu itu di selot dari depan, untungnya tidak di kunci, sebab bisa repot jika dia harus mencari penjaga sekolah untuk meminta bantuannya.
Andi membuka pintu dan terkejut saat mendapati gadis yang di kerjai kawan-kawannya tengah menangis di dalam sana.
Rima yang melihat seseorang membuka pintu lalu mendongak dan tersenyum cerah.
Tanpa sadar Rima bangkit dan memeluk Andi. Andi yang terkejut karena Rima tiba-tiba memeluknya refleks menangkap tubuh semampai itu.
"Maka sih Ka, maka sih banget," ucap Rima sambil menggoyang-goyangkan tubuh mereka.
Muka Andi memerah kalau saja Rima bisa melihatnya.
Setelah mengucapkan terima kasih, Rima tersadar jika dia sembarangan memeluk seorang lelaki.
"HAH! Maaf Ka, maaf," ucapnya malu.
.
.
.
__ADS_1
Tbc