
Kejadian di warung makan tadi tak luput dari sepasang mata yang menatap ketiganya dari sudut warung.
Wanita itu adalah Mulya, istri sah Budi. Seseorang yang Budi pikir telah berhasil dia singkirkan.
"Ternyata kamu belum berubah mas. Sepertinya kamu mengincar wanita tadi," monolognya lalu pergi meninggalkan warung makan.
.
.
Sesuai janji, Nina mendatangi restoran tempatnya bertemu dengan seorang pengacara.
Namanya Melinda, wanita yang usianya tak jauh dari Nina.
Setelah basa-basi, Melinda pun menanyakan gugatan Nina. Wanita cantik di hadapan Nina terkejut karena ternyata bukan Nina lah kliennya, tapi orang tuanya, lebih tepatnya bapaknya.
Perempuan yang mengenakan pakaian kantor itu bertanya dengan nada terkejut.
"Jadi yang mau bercerai bapaknya ibu?" tanya Melinda.
Nina mengangguk, lalu menjelaskan alasannya. Melinda mendengarkan sambil mencatat di buku catatannya.
"Baiklah Bu, saya sudah menangkap permasalahan ini. Tapi apa tidak apa dengan psikis bapak Dibyo yang di paksa bercerai dengan istrinya?"
Nina menghela napas, dia tau pasti orang akan menganggapnya kejam, tapi dia bisa apa. Jika melepaskan bapaknya kepada Titik, iya yakin hidupnya tak akan pernah tenang.
Nyatanya kemarin sang bapak sakit pun hanya dia yang mau membantunya.
"Lagi pula bapak saya udah ngga bisa menafkahi istrinya. Dia bergantung sama saya Bu dan saya ngga mau menghidupi ibu tiri saya yang sudah menyiksa putri saya. Saya harap Bu Melinda mengerti perasaan saya," jelas Nina.
Melinda hanya mengangguk saja, dia mengerti akan keresahan Nina.
"Apa di pihak tergugat ada pengacara juga?"
"Engga ada Bu. Saya cuma mau ini segera berakhir, lusa panggilan sidang ke dua dan saya akan menyerahkan semuanya sama Bu Melinda, bisa?" pinta Nina.
Nina sangat yakin di pihak Titik tak mungkin menyewa pengacara, sebab kehidupan mereka saja sedang sulit.
Melinda pun mengangguk menyetujui. Keduanya lalu berjabat tangan, setelah itu berpisah.
Sejak pulang dari toko, sebenarnya Budi selalu mengikuti Nina, dia masih berusaha mendekati Nina baik-baik.
Namun saat melihat Nina tak segera pulang, justru malah pergi ke tempat lain, hingga malam menjelang, pikiran jahat tiba-tiba muncul di benak Budi.
Jalan menuju rumah Nina adalah jalanan sepi. Dia memiliki niat jahat untuk menaklukkan Nina.
"Kalau kamu ngga bisa di dapatkan dengan cara baik-baik maka jangan salahkan aku akan menjadikan kamu istriku dengan paksa Nina," monolog Budi.
Benar saja, saat Nina berbelok menuju jalanan sepi, Budi menghadangnya dengan menyalip motor Nina.
__ADS_1
Nina yang terkejut lantas mengerem mendadak hingga dirinya terjauh.
Budi bergegas mendekati Nina sebelum ada orang yang lewat dan mengacaukan niatnya.
"Mas Budi?" ucap Nina tertahan.
Kakinya yang ketindihan motor, membuatnya tak bisa banyak bergerak.
Nina merasa terancam, terlebih lagi melihat tatapan mata Budi seperti memancarkan niat busuk.
Budi menyeringai melihat sikap arogan Nina yang hilang tertutup rasa takut.
Nina menatap sekeliling, suasana malam dan sepi membuat dia ketakutan, dalam hati dia berdoa semoga ada yang bisa menolongnya.
"Mau apa kamu mas! Hentikan sikap bodohmu!" ucap Nina berusaha tenang meski dadanya berdebar sangat kencang.
Kini Budi sudah berada tepat di depannya. Senyumnya makin mengerikan bagi Nina.
"Kalau kamu ngga bisa di ajak baik-baik maka aku akan memaksa kamu menerimaku," ancamnya.
Air mata Nina luruh seketika. Tubuhnya bergetar hebat. Tanpa banyak kata Budi mengangkat tubuh Nina.
Sekuat tenaga Nina memberontak, memukul bahkan menendang-nendang Budi hingga dirinya terjatuh.
Tubuhnya terasa remuk dan penuh dengan luka karena dia terkena aspal yang kasar.
Dengan tertatih, Nina berusaha menyeret kakinya menjauh. Budi tertawa lalu berlari menyusul Nina dan kembali berhasil membopong tubuh Nina.
Budi lantas menelepon seseorang untuk membantunya mengamankan motor Nina.
Setelah orang yang di tunggunya datang, Budi pun segera pergi meninggalkan jalanan itu dengan membawa Nina.
Nina menangis ketakutan, dia tak menyangka jika Budi akan senekat ini.
Bayangan Nina Budi akan membunuhnya karena kesal dengannya.
Dia memikirkan Rima yang pasti tengah mencemaskannya. Nina memohon pada Tuhan agar ada yang mau menyelamatkannya.
Nina kelelahan karena banyak menangis. Tiba-tiba mobil berhenti, membuat tubuh Nina semakin bergetar ketakutan.
Saat Budi membuka pintu mobil, saat itulah dia tau bahwa Budi membawanya ke sebuah bangunan terbengkalai.
Nina kembali berusaha memberontak dengan sisa tenaga yang ada. Namun sayang sia-sia, ikatan di tubuhnya membuat geraknya terbatas.
Budi menggendongnya di bahu.
Sumpalan di mulut Nina bahkan membuatnya tersedak hampir kehabisan napas.
Mereka memasuki sebuah ruangan yang hanya dan hanya ada satu penerangan dengan sebuah kasur di bagian sudut.
__ADS_1
Budi melempar begitu saja tubuh Nina. Tak lama lelaki bejat itu juga menampar pipi Nina agar diam.
Nina merasa hampir mati karena kehabisan napas.
Budi lalu melepaskan sumpalan di mulut Nina. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Nina lalu berteriak meminta tolong
Budi tertawa melihat ke tidak berdayaan Nina. Dia lalu mencengkeram kedua pipi Nina agar menatapnya.
"Berteriaklah, aku senang saat menikmati tubuhmu dan kamu menjerit kenikmatan," ujar Budi.
Mata Nina membelalak, ternyata Budi akan melakukan pelecehan padanya.
Nina lalu meludahi Budi tepat di wajahnya. "Laki-laki baji*ngan! Lepaskan aku!" jeritnya.
Budi tertawa, suaranya bahkan membahana di dalam ruangan ini. Dia lalu mengelap wajahnya dari bekas ludah Nina.
"Lepaskan? Lalu nanti kamu akan melaporkan aku? Jangan harap sayang," ucap Budi lembut.
"Kita akan bersenang-senang, sampai nanti benihku tumbuh di sini," lanjut Budi sambil mengusap perut Nina.
Nina memberontak berusaha menolak sentuhan Budi. "Kamu memang baji*ngan! Kulakukanmu seperti binatang! Dasar pecundang!" maki Nina.
Mendengar dirinya di sebut pecundang, tak ayal membuat amarah Budi kembali membuncah, hingga dia kembali menampar Nina dengan kencang, bahkan hingga membuat hijab Nina terlepas dan membuat Nina pingsan.
Budi lalu mendekat untuk memastikan jika Nina masih hidup.
Saat tahu jika Nina masih bernapas, dia pun tersenyum senang. Budi mengusap wajah ayu Nina yang sudah penuh luka lecet dan lebam.
"Kamu harus hamil sayang. Aku yakin kamu ngga akan lagi menolakku," seringai keji tercetak di wajah Budi.
Dia pun bangkit, hendak membuka pakaiannya, hingga tanpa sadar seseorang berada di belakangnya dan berhasil melumpuhkannya.
Budi pingsan sebab hantaman keras yang di layangkan orang tadi di kepalanya.
Dia lah Mulya yang menolong Nina. Bukan ke tidak sengajaan, Mulya dan anaknya, Cantika memang tinggal di dekat ruko kosong itu demi menghindari Budi dan keluarganya.
Mulya tau keberadaan Budi karena Cantika yang memberitahunya jika gadis cilik itu mendengar suara orang yang meminta tolong.
Tadinya Mulya tak mau ikut campur sebab hidupnya pun sudah sulit.
Namun saat melihat ada sebuah mobil dengan pelat yang tak asing itu berada di bangunan terbengkalai, Mulya pun menghampirinya.
Dia tak menyangka sikap keji Budi tak berubah. Hatinya bergemuruh saat melihat jika suaminya akan kembali berbuat jahat pada seorang wanita yang siang tadi dia lihat.
.
.
.
__ADS_1
Tbc