Derita anakku

Derita anakku
Perpisahan


__ADS_3

Usai mengurus pemakaman sang ayah dan ibunya telah di proses di kantor polisi. Andi memutuskan mendatangi kediaman Rima untuk bertemu dengan Nina khususnya.


Nina merasa heran saat asisten rumah tangganya berkata jika Andi ingin menemuinya.


Meski dia masih merasakan sakit hati karena kelakuan Lyra. Namun dalam hati dia tak pernah membenci pemuda itu.


Hanya di sayangkan saja mengapa Lyra harus melakukan hal keji seperti itu tanpa pikir panjang.


Bukan hanya dia yang menanggung konsekuensi dari perbuatannya tapi juga anak-anaknya.


Seperti saat ini, Andi dengan segala sisa harga dirinya menemui Ahmadi dan Nina demi ibunya.


"Maafkan saya tante, maafkan kesalahan mamah saya," ucap Andi lalu bangkit dan bersujud di hadapan Nina.


Nina dan Ahmadi terkejut bukan main dengan sikapnya. "Andi jangan begini Nak, ayo bangun!" pinta Nina lembut.


Andi baru bisa datang menemui Nina karena harus mengurus sang ibu yang di diagnosa terkena gangguan jiwa.


Berulang kali sang ibu mencoba menyakiti dirinya sendiri. Mungkin karena perasaan cinta, bersalah dan kehilangan yang tiba-tiba membuat Lyra merasakan tekanan yang begitu hebat, hingga membuat dia kehilangan kewarasannya.


Hal itu juga yang membuat proses penyidikan tak bisa berlanjut. Motif yang akhirnya di putuskan adalah Lyra yang sakit hati terhadap Nina karena telah menikah dengan Ahmadi, cinta pertamanya.


Tentang Citra yang juga menjadi kaki tangannya. Dia juga marah dengan Galih dan Rima yang sudah tega menyakitinya.


Terkadang dendam memang akan menghancurkan segalanya. Citra yang yakin kelakuan mereka tak akan di ketahui nyatanya harus gigit jari.


Dia akan mendekam selama lima tahun penjara, karena terbukti menjadi kaki tangan Lyra untuk mencari tahu siapa kiranya karyawan Nina yang bisa mereka jadikan tumbal.


"Tante, karena mamah di nyatakan mengalami gangguan jiwa, maka saya akan membawa mamah keluar negeri. Jika nanti mamah sudah pulih, dia akan kembali menjalani kasusnya," janji Andi.


Nina menatap pada Ahmadi. Dia bingung mengapa seorang tersangka bisa begitu mudah di bawa keluar negeri.


Bukannya Nina tidak percaya dengan ucapan Andi. Hanya saja dia masih agak takut jika semua hanya akal-akalan Lyra agar terbebas dari jeratan hukum.


Andi yang tahu kebingungan Nina lantas menjawab dengan cepat.


"Tante jangan khawatir, akan ada petugas yang mengunjungi mamah untuk memantau keadaannya."


Nina lantas menatap sang suami meminta persetujuan.


Ahmadi memang sudah mendengar kabar keluarga Andi meminta penangguhan hukuman karena kondisi mental Lyra yang terganggu.


Dia belum memberikan putusan sebab harus berbicara dulu dengan sang istri.

__ADS_1


"Pak Michel memang baru tadi mengabari ayah kalau keluarga Lyra meminta penangguhan hukuman. Kemungkinan permintaan mereka di setujui oleh kepolisian. Hanya tetap mempertimbangkan balasan ibun saja."


"Jadi Ibun mau gimana?" Tanya Ahmadi lembut.


Nina menarik napas panjang, ada rasa marah dan kesal jika mengingat tokonya yang terbakar karena ulah dari ibu pemuda di hadapannya.


Namun saat mengingat bagaimana pemuda itu pernah hampir meregang nyawa karena menolong Rima, tak ayal membuat Nina merasa iba.


Mungkin mereka memang di takdirkan untuk membalas budi. Jika tak ada Andi kala itu, Nina tak bisa membayangkan bagaimana nasib putrinya.


"Tante akan menyetujui penangguhan hukuman mamah kamu, tapi tante enggak bisa mencabut laporannya, karena kalau begitu, semua tersangka akan di bebaskan. Apa kamu enggak papa?"


Andi menatap penuh haru pada ibunda dari pujaan hatinya, meski penangguhan hukuman Lyra menghabiskan banyak uang, tapi tak masalah bagi mereka, asal Lyra bisa kembali seperti sedia kala, begitu harapan Andi dan Denish.


Karena mau bagaimana pun orang tua mereka tinggal Lyra satu-satunya. Mereka juga tidak dekat saudara orang tua mereka yang lain.


Andi menyalami Nina berulang kali, dia berharap masih bisa di beri kesempatan untuk tetap dekat Rima suatu saat nanti. Meski tak berani mengungkapkan hal itu sekarang.


.


.


Usai menemui Nina, kini Andi memutuskan untuk bertemu dengan Rima.


Rima awalnya ragu untuk menemui Andi, karena bagaimana pun dia merasa turut andil akan kebakaran toko sang ibu.


Meski pelaku utamanya adalah Lyra, tapi Citra memiliki motif yang sama dengan Lyra karena cemburu dengannya.


Hingga dua orang yang pernah berseteru di masa lampau, mau bekerja sama demi satu tujuan, yaitu menghancurkan kebahagiaannya dan ibunya.


Andi tahu sang pujaan tampak sedikit berbeda saat dirinya meminta bertemu. Dirinya menebak, mungkin karena Rima masih marah padanya.


Dia tak tersinggung dengan sikap Rima. Andi merasa wajar jika Rima marah padanya meski semua itu bukan perbuatannya.


"Aku mau minta maaf sekaligus pamitan sama kamu Rim," ucap Andi membuka keheningan di antara mereka.


Rima menengadah menatap Andi, terkejut. Lidahnya kelu saat sebuah tanya ingin terlontar dari mulutnya.


Dia memilih menunggu apa yang akan pemuda itu sampaikan selanjutnya.


"Aku memutuskan melanjutkan kuliah di luar negeri," sambung Andi saat tak ada jawaban apa pun dari Rima.


Mendengar pernyataan Andi, tak ayal membuat air mata Rima lolos begitu saja. Bohong jika dia tak merasa sakit saat menerima kenyataan lelaki yang selalu menyatakan cinta padanya akan pergi jauh meninggalkannya.

__ADS_1


Meninggalkan sekeping hati yang telah pemuda itu buka. Kini dia harus bersiap kehilangan. Kehilangan cinta pertamanya.


Andi meraih tangan Rima. Dia tak tahu apa yang membuat gadis itu sedih. Ingin berharap jika gadis itu juga kehilangan dirinya, tapi dia tak berani berharap.


Dia tak mau berpikir jika Rima juga menaruh perasaan yang sama untuknya.


"Maafin aku sama mamah yang udah ngerusak kebahagiaan kalian. Maafkan aku yang mungkin egois karena tetap memilih menyembuhkan mamah dari pada meneruskan kasusnya," ucap Andi sendu.


Rima menggeleng, bukan itu yang membuat dia sedih. Namun dia tak berani mengungkapkan isi hatinya.


"Enggak Ka, aku ngerti, sebagai anak kakak juga ingin mamah kakak sembuh. Semoga jalan kakak di mudahkan oleh Allah ya. Selamat berjuang."


Senyum manis Rima berikan di penghujung perpisahan mereka. Cinta monyet yang tak pernah bisa mereka ungkapkan.


Rima tak mau mengutarakan perasaannya yang hanya akan menghambat jalan kesuksesan pemuda di hadapannya itu.


"Kamu enggak ada yang mau di ungkapin Rim?" Andi bertanya penuh harap, sedikit penyemangat bahwa gadis di depannya ini akan menunggunya kembali.


"Aku ... Aku berharap kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti," balas Rima akhirnya.


Andi merasa bahagia, meski tak tahu makna di balik ucapan gadis itu, yang pasti Rima masih mau menemuinya suatu saat nanti, jika memang mereka di takdirkan bertemu kembali.


"Makasih. Aku janji setelah kuliahku selesai dan mamah udah sedikit lebih baik, kami akan kembali. Aku berharap, saat itu kamu masih mau menungguku Rim," pinta Andi lemah.


"Aku akan menunggu Ka Andi," jawab Rima yakin.


Mata Andi berbinar, dia yakin Rima juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Nyatanya gadis itu berucap tanpa ragu.


"Kamu janji?" sergah Andi memandang lekat manik mata cokelat Rima yang selalu meneduhkan batinnya.


"Insya Allah," jawab Rima cepat.


Dua insan yang akan menjalani takdir mereka harus berpisah jarak dan waktu. Tanpa status dan tanpa kejelasan hubungan. Mereka benar-benar menyerahkan semuanya pada takdir.


Tak ada yang berani mengekang karena takut janji setia yang mereka rajut hari ini tak di restui semesta. Mereka benar-benar pasrah.


Apa keduanya akan kembali bersama suatu saat nanti?


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2