
Sesuai janji Nina, esoknya selepas pulang sekolah keduanya mendatangi rumah sakit tempat Andi di rawat.
"Kamu pucat Rim, harusnya tadi ngga usah sekolah, toh kamu kemarin juga kan habis terkena musibah," ucap Nina begitu Rima masuk ke dalam mobilnya.
"Rima ngga papa Bu, baru juga masuk sekolah masa Rima udah izin, Rima takut ketinggalan informasi nanti" jelas Rima.
Nina sengaja tak mengajak Galih sebab dia takut sang sepupu akan mengacau kembali seperti kemarin.
Nina juga sudah membeli buah tangan untuk menjenguk Andi.
"Kita tanya resepsionis dulu ya, kemarin kan kita pulang belum tau di mana Andi di rawat," ucap Nina begitu sampai di rumah sakit.
Ternyata mereka tak perlu repot-repot bertanya, sebab ada salah satu sahabat Andi yaitu Noval yang juga baru datang.
"Ka Noval!" panggil Rima.
Noval berbalik mencari suara seseorang yang memanggilnya.
"Rima? Lu udah kenal Gue?" jawab Noval heran.
Karena kemarin mereka bersama, dari sanalah Rina tau nama masing-masing sahabat Andi.
"Kakak mau ke ruangan Ka Andi kan? Kita ikut ya?" pinta Rima.
Noval lalu menyalami Nina dan menyisir pandangan di belakang dua wanita itu mencari seseorang yang sejak kemarin membuat dia dan teman-temannya kesal.
Rima pun menoleh ke belakang mencari sesuatu seperti pandangan Noval.
"Kalian ngga ngajak cowok kemarin?" tanya Noval.
Rima menjawab ber 'oh' ria setelah tau maksud Noval.
"Kakak cari Mas Galih? Dia ngga ada Ka. Mas Galih kan kerja."
"Syukurlah, maaf nih ya Rim, tante, kalau kalian ke sini sama Galih, kami ngga bakal kasih izin kalian masuk," jelas Noval jujur.
Nina tak tersinggung dengan ucapan Noval, dia sangat tau kalau ucapan-ucapan Galih memang tak pantas di kemukakan di depan mereka secara gamblang.
Baru saja mereka akan melanjutkan langkah menuju ruangan Andi. Nina kemudian di sapa lagi oleh seorang kenalannya.
"Mbak Nina?" panggil suara berat seorang laki-laki.
"Ya Ampun Mas Ahmadi?" jawab Nina.
Ahmadi adalah rekan bisnis Dibyo dulu di bidang garmen, bisa di bilang perusahaan itu juga bisa berkembang karena ilmu dari Dibyo.
Sayangnya, Dibyo sendiri terpuruk akibat tak bisa mengatur istri barunya yaitu Titik hingga membuat usahanya tumbang.
"Siapa yang sakit Mbak Nina?"
"Ini, teman anak saya," jawab Nina.
__ADS_1
"Ahmadi!" seru suara seorang wanita membuat keduanya menoleh.
Ternyata itu Lyra yang juga mengenal lelaki berwajah agak ke arab-araban di hadapan Nina.
"Kalian saling kenal?" tunjuk Lyra pada keduanya bergantian.
Ahmadi lalu tersenyum dan mengangguk, "dia ini Mbak Nina, anaknya dari guru aku," pujinya pada Dibyo.
Lyra yang melihat itu agak tidak senang meski dia sendiri telah bersuami.
Dalam hati Lyra, andai saja dia bisa melepas Baron tentu saja dia ingin memiliki Ahmadi yang seorang duda dan memiliki sifat sangat baik.
"Wah kayaknya kita mau jenguk orang yang sama Mbak Nina," seru Ahmadi senang.
Nina hanya menanggapinya dengan tersenyum kaku. Jelas Nina tak bodoh, dia bisa menilai jika Lyra memiliki perasaan pada Ahmadi. Terlihat dari cara pandang wanita itu.
Astaga, kemarin aku pikir suaminya yang tukmis, ternyata istrinya sama aja.
"Ya udah yuk ke sana sekarang?" ajak Lyra yang sepertinya hanya di tuju kan pada Ahmadi.
"Ayo mbak Nina, Rima," ajak Ahmadi pada ibu dan anak di depannya.
Kelimanya lantas kembali melanjutkan perjalanan bersama menuju ruang rawat inap Andi.
Dalam perjalanan hanya ada suara perbincangan antara Ahmadi dan juga Lyra yang membahas masalah bisnis.
Tiba-tiba perbincangan mereka terhenti kala Ahmadi mengajak Nina berbincang.
"Toko sembako? Kamu cuma pedagang toko kelontongan?" ucapan Lyra terkesan seperti merendahkan usaha Nina.
"Bukan sekedar toko, Ra, Mbak Nina ini membuka agen sembako di pasar dan cukup besar. Saya yakin omsetnya pun tak main-main," lagi-lagi Ahmadi memuji Nina yang justru membuat Lyra merasa gerah.
"Ayo masuk!" putus Lyra karena mereka telah sampai di ruangan Andi.
Andi yang sedang di temani oleh sahabat-sahabatnya dan juga sang ayah membuatnya senang kala melihat Rima menjenguknya.
Sedangkan Baron harus mengepalkan tangan saat melihat tamu yang di bawa sang istri.
Tentu dia tau kalau istrinya sangat menyukai Ahmadi, tapi karena mereka tak bisa berpisah, membuat Lyra hanya bisa mengkhayalkan pria itu saja.
Meski begitu rasa cemburu tetap saja di rasakan oleh Baron.
"Pak Baron?" sapa Ahmadi pada suami temannya.
Ahmadi memang berteman dengan Lyra karena mendiang istrinya adalah sahabat Lyra, dia tak pernah memiliki perasaan apa pun pada Lyra karena sejatinya Ahmadi adalah orang yang setia.
Ahmadi tau kalau Lyra menyukainya, tapi dia tak pernah menghiraukan perasaan wanita itu, selain dia tak memiliki perasaan yang sama dan juga karena Lyra masihlah istri seseorang.
Berbeda dengan Nina, saat Dibyo ingin memperkenalkannya dengan Wanita itu, status Nina adalah seorang janda dan sedang tak memiliki hubungan apa pun dengan siapa pun.
Di tambah lagi pembawaan Nina yang santun membuatnya menaruh hati pada wanita itu. Sayangnya dia belum berani mengungkapkan perasaannya sebab mereka baru saja dekat.
__ADS_1
Ahmadi hanya berharap jika Tuhan mau menjodohkannya dengan Nina suatu saat nanti.
"Pak Ahmadi? Datang bersama Bu Nina?" ujar Baron.
"Oh enggak, kami datang sendiri-sendiri pak," jawab Ahmadi jujur.
"Nak Andi, gimana kabarnya?" tanya Ahmadi begitu Baron melepaskan jabatan tangannya.
"Sehat Om," jawab Andi.
"Syukurlah, cepet sehat ya! Kasihan mamah kamu," ucap Ahmadi sambil terkekeh.
“Makasih ya Andi, udah nyelametin Rima. Tante ngga tau lagi bagaimana cara balas budi ke kamu,” sambung Nina setelah Ahmadi.
“Iya tante sama-sama, syukurlah Rima baik-baik aja.”
Kalau boleh mah, jadiin aku menantu tante.
Setelah menjenguk Andi, para orang dewasa memilih duduk di sofa dan para remaja duduk di ranjang Andi.
"Bagaimana kabar Ka Andi? Masih sakit?" tanya Rima begitu ada kesempatan mereka untuk bicara.
Teman-teman Andi yang lain memilih sibuk bermain game di ponsel mereka, tapi jangan salah, ucapan dan sindiran tak lepas dari mereka meski tak di mengerti oleh Rima sedikit pun.
"Sakitlah," keluh Andi mencari perhatian Rima.
"Maaf ya Ka," ucap Rima sendu.
"Kalau aja bukan gara-gara aku, pasti Kakak masih baik-baik aja," lanjutnya.
"Hajar bosku ah keok banget sih, sat-setlah mumpung udah masuk ini!" sambar Gyan masih menatap ponselnya.
Padahal ucapan itu dia utarakan untuk Andi yang dia rasa mereka terlalu lambat.
Andi ingin sekali menghajar Gyan karena terlalu menyudutkannya.
"Baguslah kalau kamu sadar sudah merepotkan," dengus Andi memancing Rima.
Rima yang tak menyangka dengan jawaban Andi hanya mengerjap-ngerjapkan matanya dan itu terlihat menggemaskan bagi Andi.
"Ma-maksudnya?" gagap Rima.
"Ya kamu harus tanggung jawablah," jawab Andi datar, padahal dalam hati dia ingin sekali mencubit pipi Rima yang sangat menggemaskan.
.
.
.
Tbc
__ADS_1