Derita anakku

Derita anakku
Budi lagi


__ADS_3

Nina sangat merindukan tokonya. Setelah melalui hari yang menguras emosi dan tenaganya. Akhirnya Nina kembali berkutat dengan pekerjaannya.


Tak lupa dia menyerahkan oleh-oleh pada para pekerjanya. Mereka sangat senang dengan perhatian Nina.


Kini dia hanya tinggal berdua dengan Rima. Tak lama Galih akan menyusul untuk bisa tinggal bersama dengannya, sambil mencari pekerjaan. Sepupunya itu tengah menunggu ijazahnya, makanya tidak bisa pergi bersama Nina kemarin.


Nina pun terpaksa menyewa pengacara karena melihat Titik yang tak bisa di kasih hati.


Dia ingin agar proses perceraian sang ayah dengan Titik segera usai, jadi dia tak perlu lagi berurusan dengan drama keluarga istri ayahnya itu.


Beruntungnya Nina dapat menemukan pengacara yang cocok untuk membantunya.


Selepas pulang dari toko nanti mereka akan bertemu untuk membicarakan masalah Nina.


Semoga setelah ini dia dan keluarganya bisa hidup tenang dan damai, begitulah harapan Nina.


Suasana hati yang tadinya ceria mendadak berubah kala seorang lelaki datang ke tokonya.


Nina mendengus kesal melihat kedatangan Budi. Dia benar-benar muak pada lelaki di hadapannya ini.


"Ya ampun Nina. Ternyata kamu baik-baik aja, mas sempet ke pikiran takut kamu kenapa-kenapa, karena kamu tau-tau aja menghilang," ujarnya sok dramatis.


Lastri yang mendengar ucapan Budi berusaha menahan tawanya dengan melipat bibirnya ke dalam. Dia tak menyangka, sosok Budi yang terkenal tegas, bisa berbicara hal receh pada bosnya.


"Apaan sih mas lebay banget! Maaf aku lagi sibuk mas," elak Nina.


Budi tak patah semangat, dia harus bisa kembali menaklukkan Nina meski masih terbayang ancaman Novi kemarin.


Namun akhirnya dia bisa meluluhkan kemarahan Novi dengan sebuah bujuk rayuan, hingga wanita yang sudah menghangatkan ranjangnya itu pun menarik ancamannya.


Flasback.


Setelah mengatakan ancaman itu, Budi panik bukan main, sebab yang di katakan Novi bukanlah ancaman semata, dia yakin wanita itu akan melakukan hal nekat jika keinginannya tidak terpenuhi.


"Bud, dia ngomong apa sih! Kok kamu jadi tegang gitu?" tanya Jannah penasaran.


"Novi itu tau tentang Mulya Bu!" ujar Budi waswas.


"APA!!" pekik Jannah dan Rahma serempak.


"Kok bisa sih Bud!" ketus Jannah kesal karena kecerobohan putranya.


"Ya mau gimana Bu, namanya apes. Terus gimana ini bu?" tanya Budi khawatir.


Jannah dan Rahma ikut pusing memikirkan ancaman Novi, jangan sampai perempuan itu buka suara, bisa kacau rencana mereka untuk menaklukkan kembali Nina nantinya.


"kasih aja dia duit mas, aku yakin perempuan matre kaya Novi pasti luluh kalau mas kasih duit," saran Rahma.

__ADS_1


"Masalahnya kamu tau dia minta mas nikahin juga! Gimana kita mau menaklukkan Nina kalau Novi minta di nikahin juga?" gerutu Budi.


"Udah terlanjur terlibat, mending kita libatin aja sekalian si Novi!" saran Jannah.


"Maksud Ibu?" tanya Budi bingung dengan pikiran ibunya.


"Perempuan matre kaya Novi pasti mau kamu ajak kerja sama, tinggal kamu jelasin aja sama Novi kalau kamu cuma deketin Nina untuk merampas hartanya. Ibu yakin Novi pasti akan senang hati membantu kamu lagi. Yang penting kita aman Bud, bisa kacau kalau dia buka suara!" jelas Jannah.


Akhirnya setelah mereka sepakat untuk tetap mempertahankan Novi, Budi pun akhirnya melancarkan aksinya meluluhkan wanita itu.


Biarlah nanti dia membungkam Novi jika wanita itu berani melawannya juga.


Awalnya Novi menolak dan tetap pada pendiriannya ingin memperkarakan perbuatan Budi di masa lalu.


Namun setelah tau kalau niat Budi hanya untuk menguras harta Nina, dia pun akhirnya luluh dan setuju.


"Ok mas, tapi ingat, jangan buang aku! Kalau kamu masih mau rahasiamu aman. Baiklah besok aku akan bantu kamu jelasin sama Nina, meski pun aku malas sekali," gerutu Novi.


"terima kasih sayang. Ini semua demi masa depan kita sayang, bersabarlah ya," rayu Budi.


Akhirnya mereka pun kembali melakukan hubungan suami istri yang sudah lama tak mereka lakukan.


Budi pun merasa senang sebab pada akhirnya dia bisa menikmati tubuh Novi lagi.


.


.


Nina yang sedang sibuk melayani pelanggan harus terganggu dengan ucapan-ucapan Budi yang selalu meminta maaf padanya.


Risi sebenarnya, tapi dia bisa apa, ingin mengusir, tapi dia takut kalau para pelanggan akan menganggapnya tak sopan.


"Mas Budi, maaf, aku sibuk, bisa bicara lain kali?" pinta Nina lembut, padahal dalam hati dia sudah memaki Budi yang dia rasa tak punya otak.


"Aku ngga tenang, Nin. Bisa ngga kalau nanti kita ngobrol lagi? Ibu bahkan sampai sakit karena ke pikiran kamu," ucap Budi mengiba.


Nina diam saja tak merespons, untungnya Budi di panggil oleh karyawannya, membuat Nina bisa bernapas lega.


Sayangnya saat tengah makan siang, Nina kembali di ganggu oleh Budi. Tak hanya Budi melainkan ada Novi juga yang ikut bergabung dengannya.


Makanan yang sudah ada di perutnya tiba-tiba bergejolak ingin keluar melihat dua manusia yang ada di depannya.


"Ada apa lagi sih Mas!" kali ini Nina tak perlu menahan perasaan kesalnya.


Perut yang lapar membuat amarah Nina sampai ke ubun-ubun.


"Tenang Nina, aku ajak Novi ke sini buat jelasin sama kamu. Iya kan Nov?" ucap Budi lalu menatap Novi.

__ADS_1


Novi sebenarnya malas sekali harus mengikuti drama Budi dan keluarganya.


Namun karena iming-iming akan di berikan Toko sembako Nina, dia pun mau turut serta.


Novi menunduk dan memulai dramanya. Dia menunduk sambil terisak.


"Mbak Nina, maafkan aku. Aku memang mantan kekasih mas Budi. Aku masih mencintai mas Budi, tapi sekarang aku sadar kalau hati mas Budi udah bukan untukku. Sayangilah mas Budi mbak, dia pria yang baik dan penyayang. Aku ... Titip mas Budi," ujarnya sambil sesenggukan.


Nina menghela napas, bukan masalah hubungan mereka. Nina menyadari bahwa dia memang tak cocok dengan sifat Budi yang mudah berubah-ubah.


Terlebih lagi sikap keluarga Budi yang menyadarkan dirinya bahwa mereka tak akan bisa bersama.


"Maaf ya Bu Novi," panggil Nina masih menganggap Novi guru putrinya.


"Saya ngga pernah peduli dengan masa lalu kalian. Tapi emang saya dan mas Budi ngga ada hubungan apa-apa, jadi saya rasa Bu Novi ngga perlu menjelaskan apa pun pada saya," jelas Nina penuh penekanan.


Novi melempar pandangan pada Budi dan semua itu tak lepas dari perhatian Nina.


Entah mengapa Nina merasa mereka tengah bersekongkol, meski tak tau untuk tujuan apa, pikirnya.


"Tapi Mbak Nina, buka kah kalian akan menikah? Lanjutkan lah mbak, aku akan menjauh, aku ikhlas."


Ucapan Novi seperti memaksa Nina agar mau kembali menerima Budi. Padahal sejak tadi Nina sudah meyakinkannya kalau dia tak perlu penjelasan apa pun.


"Ngga ada yang akan menikah Bu Novi, Anda salah paham," jawab Nina kesal.


"Nina, tolong jangan seperti ini, semuanya kan hanya salah paham. Tolong hargai Novi yang udah mau meminta maaf," bela Budi.


Nina mengernyitkan dahi bingung, mengapa lagi-lagi dia yang di pojokkan dan sekarang seperti dia lah yang jahat di sini.


Pusing menghadapi dua manusia di depannya, Nina memilih bangkit hendak meninggalkan keduanya.


"Udahlah Mas, Bu Novi, saya ngga ada urusan dengan kalian. Masalah memaafkan, saya rasa Bu Novi salah alamat."


"Dan untuk kamu mas, hentikan sekarang juga. Kita ngga punya hubungan apa pun dan tolong jangan dekati aku lagi. Terus terang aku risi!" ucapnya tegas.


Budi terkesiap mendengar kecaman Nina padanya. Harga dirinya benar-benar merasa terinjak-injak.


Terlebih lagi Nina mengatakannya di depan Novi.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2