Derita anakku

Derita anakku
Kenapa harus kamu?


__ADS_3

Andi dan anak-anak kelas dua belas tengah bersuka cita kala menerima surat tanda kelulusan.


Mereka tengah berbincang mengenai kelanjutan sekolah mereka di perguruan tinggi.


"Woyaaa ... Gue yakin sama nilai Gue ini pasti ke terima di universitas tujuan Gue!" seru Gyan bangga.


"Ck! Lu pada kagak sedih apa!" jawab Noval mencebik.


Suasana berubah sendu saat mendengar makna ucapan dari Noval.


"Kita bakal berpisah, tapi enggak bakal saling melupakan kan?" sambar Gyan sambil menyandarkan lengannya di bahu Noval.


Dia tahu kelulusan ini membuat mereka senang sekaligus sedih, karena mereka harus berpisah demi menempuh pendidikan di universitas impian mereka masing-masing.


Theo diam sambil menghela napas, Lian pun sama merasakan kesedihan kawan-kawannya yang sebentar lagi akan berpisah.


"Lu sendiri gimana Ndi? Serius bakal lanjut di sini?" sambar Lian.


Andi tersenyum tipis, belum juga menjawab, Theo sudah dulu menjawab pertanyaan Lian.


"Mana bisa dia ninggalin dede emesh. Apa lagi enggak ada kejelasan cuy!"


Andi yang kesal lantas menampik kepala Theo. "Nyamber aja Lu!"


"Dulu lu ngebet banget pengen kuliah di luar negeri. Muak katanya sama negara kita. Sekarang berubah haluan dia," ejek Noval.


"Cih, yang penting kuliah. Kalian tau Gue pasti jadi rebutan di kampus sini!" jawab Andi pongah.


"Syukurlah, jadi kita kagak mesti berpisah jauh-jauh. Kalian nanti di kampus baru bakal bikin geng baru?" tanya Noval waswas.


Yang lain menjawab sambil tertawa dan mencibir sikap melankolis sahabat mereka.


"Kita pasti punya temen baru cok! Tapi sahabat, Gue yakin perasaan kita sama, bener kagak!" ujar Gyan menginterupsi pikiran mereka.


"Serius, jangan lupain persahabatan kita," jawab Noval sendu.


"Ngga asyik lu. Cengeng," ejek Andi yang di balas amukan oleh Noval.


Kelima pemuda yang tengah menata masa depan berjalan menjauhi lapangan tempat biasa mereka berkumpul demi mengenang masa remaja yang sebentar lagi akan mereka tinggalkan.


Kelimanya memutuskan kembali ke rumah dan bertemu malam harinya lagi.


.


.


Sedangkan di kediaman Nina, ketegangan tengah di rasakan oleh pasangan suami istri Nina dan Ahmadi serta Galih.

__ADS_1


Mereka tengah menunggu laporan penyidik tentang siapa sebenarnya Pak Kumar yang membayar Aji untuk melakukan kejahatan.


Tak lama telepon rumah Ahmadi berdering. Dengan sigap lelaki berwajah kearab-araban itu segera memangkatnya, karena memang mereka duduk tak jauh dari telepon rumah.


"Iya halo? Benar ini kediaman Nina, saya suaminya."


Ahmadi terdiam menunggu ucapan dari seberang sana selesai.


"Baiklah pak kami ke sana sekarang. Terima kasih atas bantuannya," ucap Ahmadi lalu segera menatap Nina dan Galih.


"Ada apa Yah?" tanya Nina penasaran.


"Mereka sudah menangkap Kumar, kita di minta ke sana," jawab Ahmadi.


"Ayo Yah!" ajak Nina semangat.


"Sayang, sebaiknya kamu di rumah aja. Kamu lelah, perlu istirahat. Inget kata Dokter kemarin kan? Kamu terlalu stres. Ayah mohon Ibun di rumah aja ya? Biar ayah sama Galih aja yang ke kantor polisi," pinta Ahmadi lembut.


"Benar mbak, jangan terlalu cape, kasihan dedeknya ikut stres. Mbak tenang aja kita pasti kasih tau semuanya," sambung Galih yang seakan tahu apa yang di cemaskan oleh kakak sepupunya.


Nina hanya bisa pasrah, dia lalu melepaskan sang suami dan juga adik sepupunya pergi tanpa dirinya.


Sebenarnya Nina sangat penasaran siapa Kumar? Mengapa orang tersebut tega padanya. Namun dia memilih mematuhi keinginan sang suami. Biarlah dia menunggu Ahmadi dan Galih yang menjelaskannya nanti.


.


.


Wajah Kumar tampak bengis dan tatapan matanya datar seperti tak punya emosi. Tak ada raut ketakutan sedikit pun. Bahkan Ahmadi mengakui dia sedikit merasa takut menatap tubuh besar Kumar.


Lelaki itu berperawakan besar dan hitam legam. Sosoknya seperti seorang algojo di film-film perang, pikir Ahmadi.


"Silakan duduk pak Ahmadi dan Pak Galih. Ke mana ibu Nina?" tanya penyidik kemarin.


"Istri saya harus banyak istirahat Pak. Kemarin dia merasa kram karena banyak pikiran. Tidak apa kan kami saja yang mendengarkan?" jelas Ahmadi.


Penyidik itu lantas mengangguk. Tak lama pengacara Nina ikut bergabung dengan mereka.


"Kami sudah menyidiki Pak Kumar tadi. Jadi kesimpulannya, beliau juga suruhan orang lain lagi pak. Maaf kami tidak bisa memberitahukan tentang penyidikan tadi, sebab banyak hal yang harus kami cecar karena pak Kumar bersikeras bungkam."


"Hingga akhirnya beliau menyerah dan mau berkata jujur pada kami," jelas penyidik.


Ahmadi sedikit bergidik ngeri membayangkan apa yang di lakukan petugas guna membuat seorang Kumar yang terlihat bengis buka mulut.


Namun ia tak mau ambil pusing, toh memang sudah kewajiban polisi untuk melakukan semua itu.


Nyatanya tak ada yang aneh atau luka di tubuh Kumar, jadi mungkin penyidik punya senjata ampuh agar penjahat seperti Kumar mau mengaku.

__ADS_1


"Jadi jelaskan pak Kumar tentang jawaban Anda tadi pada Pak Ahmadi dan kuasa hukumnya," pinta penyidik datar.


"Saya di perintahkan oleh Citra untuk menyabotase toko Nina," jawabnya datar.


"APA? CITRA?" pekik Galih terkejut.


Dia tak menyangka gadis yang sempat menjadi kekasihnya beberapa bulan lalu tega melakukan hal keji pada keluarganya.


Entah apa salah Nina hingga harus di perlakukan seperti itu oleh mantan kekasihnya.


Kalau pun Citra marah padanya karena memutuskan kisah cinta mereka. Harusnya Citra membalas sakit hatinya pada dirinya.


Lalu kenapa harus Nina? Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Andi? Pikir Galih.


"Sesuai pengakuan dari saudara Kumar, ternyata kebakaran itu juga tidak hanya dari toko ibu Nina. Kumar dan anak buahnya yang sudah kami amankan menjelaskan kalau mereka memang menyiram bensin di beberapa titik agar cepat membesar."


"Tujuannya hanya satu, bukan hanya menghancurkan toko Bu Nina tapi agar Bu Nina di tuntut kerugian oleh para pedagang lainnya."


Galih tak merespons penjelasan para petugas, pikirannya masih berkecamuk pada Citra.


Dia tahu betul kehidupan gadis itu, mana ada uang untuk membayar para pereman yang Galih yakini tak mungkin di bayar hanya ratusan ribu.


Kehidupan perekonomian Citra sangat pas-pasan. Oleh sebab itu Galih merasa sangsi dengan jawaban dari Kumar.


"Guna penyelidikan lebih lanjut, pihak kami juga sedang menjemput saudari Citra," ucap penyidik yang membuat Galih sadar dari pikirannya.


Baru saja dia menengadah menatap penyidik. Suara pekikan perempuan yang sangat ia kenal membuat gaduh di kantor kepolisian.


"LEPASIN! SAYA ENGGAK BERSALAH! BUKA SAYA PELAKUNYA!" pekik Citra.


Dua petugas yang menggandeng tubuh Citra sedikit kewalahan karena wanita itu terus memberontak ingin di lepaskan.


Citra terdiam kala melihat Galih dan Ahmadi di depan sana.


"Galih?" panggilnya lirih meski masih di dengar mereka semua.


"Bukan salah aku Galih. Bukan aku, tolong lepaskan aku Galih! Ibu aku sakit, kalian keterlaluan, bagaimana kalau ibuku kenapa-kenapa!" maki Citra lagi.


"Sebaiknya Anda diam! Sedari tadi Anda yang membuat kekacauan dan ingin melarikan diri, semua tidak akan sekacau ini kalau Anda mau kooperatif saat kami minta untuk datang!" cecar salah satu petugas yang sedang memegangi Citra.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2