Derita anakku

Derita anakku
Bertingkah


__ADS_3

Ziva datang dengan wajah ketakutan, dia juga membawa tas ransel yang cukup besar.


Keadaan rumah Nina yang masih ramai membuat semua orang menatap bingung pada remaja seusia Rima itu.


"Kamu kenapa Va?" tanya Nina heran.


Sugi lalu meminta Nina untuk membawa Ziva ke dalam kamar Rima untuk mengantisipasi gunjingan para tetangga dan karyawan Nina yang masih berkumpul.


"Bawa saja ke dalam dulu Nin," pinta Sugi.


Ziva yang tubuhnya masih bergetar karena tangis, mengikuti Nina sambil memeluk tubuhnya.


Nina sebenarnya malas berhubungan lagi dengan keluarga mantan ibu tirinya.


Apalagi kini Dibyo dan Titik sudah resmi berpisah.


Namun dia tak mungkin begitu saja mengusir Ziva, terlebih lagi di rumahnya sedang banyak tamu.


Apalagi gadis remaja itu tampak ketakutan. Nina juga penasaran apa yang terjadi dengannya.


"Ziva tenangkan diri dulu di sini, Bude harus ke depan nemuin para tamu," pintanya hanya di balas anggukan oleh remaja itu.


Ziva menelisik kamar milik Rima. Dulu dia juga sempat memiliki kamar seperti Rima, meski barang-barang yang ia miliki tak sebagus milik Rima.


Dalam hati dia merasa iri dengan mantan saudari tirinya itu.


Dia berharap semoga sang bude mau menerimanya tinggal di sana.


Ziva merasa tertekan hidup di kontrakannya yang kecil, terlebih lagi dia selalu menjadi sasaran kemarahan ibu serta neneknya.


Titik yang dulu selalu menyayangi dan membelanya kini juga tampak tak peduli. Meski Ziva tau semua salahnya.


Namun dia tak mau begitu saja di salahkan, dia merasa bahwa semuanya berawal dari mereka yang tak mau memenuhi kebutuhannya.


Ziva menatap pigura foto Rima dan teman-temannya. Ada rasa iri karena Rima selalu di kelilingi oleh orang-orang yang baik padanya.


Bahkan Rima memiliki ibu yang sangat menyayanginya, tak seperti dirinya. Meski memiliki orang tua lengkap, keduanya tak pernah memedulikan dirinya dan sibuk dengan kebahagiaan mereka masing-masing.


Saat sedang meratapi nasibnya, tiba-tiba pintu kamar Rima terbuka. Gadis pemilik kamar muncul dan mendekati Ziva.


Ziva merasa sangat minder dengan Rima. Gadis itu kini terlihat makin cantik menurutnya. Pakaian yang melekat di tubuh Rima juga bagus-bagus.


Semakin bertambah iri saja Ziva melihat kehidupan Rima yang sekarang berubah bahagia.


"Kamu udah makan Va?" tanya Rima lembut.


Meski dulu dirinya sering di buly oleh Ziva. Namun Rima tak pernah memendam kebencian pada Ziva.

__ADS_1


Bahkan Rima sedikit merasa iba pada Ziva karena sedikit banyak dia tau apa yang sedang di alami gadis itu.


Ziva sering terkena masalah di sekolah dan sering kena teguran. Rima tak bisa apa-apa untuk membantunya, selain tak tau masalah Ziva, dia juga bukan teman sekelas Ziva.


Penampilan Ziva juga banyak berubah menurut Rima. Bahkan Rima pernah melihat dia merokok.


Namun Rima tak pernah ikut campur seperti saran ibunya, karena mereka bukan siapa-siapanya kata sang ibu.


Ziva menggeleng menjawab pertanyaan Rima. Ada sedikit rasa sungkan saat berdekatan dengan Rima seperti itu, sebab Rima bahkan tak berbicara sinis dengannya.


"Aku ambilkan makan ya," tawar Rim lembut.


Tanpa menunggu jawaban Ziva. Rima bergegas bangkit untuk membawakan gadis itu makanan.


Dia yakin ada yang tidak beres dengan Ziva, sebab wajah gadis itu tampak pucat.


Saat keluar, ternyata para tamu undangan sang ibu sudah pergi, karena memang acaranya sudah selesai.


"Itu siapa Rim?" tanya Galih yang berada di dapur saat Rima sedang menyiapkan makanan untuk Ziva.


"Ziva mas anaknya tante Tyas, cucunya mbah Titik," jelas Rima.


Tangan remaja itu begitu cekatan menata makanan di atas piring.


"Mau apa dia kemari Nin?" sergah Sugi yang datang bersama dengan Nina untuk meletakkan bekas suguhan tadi.


"Apa jangan-jangan dia kabur dari rumahnya? Soalnya dia bawa tas besar," ucap Sugi mengingatkan kedatangan Ziva tadi.


Nina juga tau apa yang pamannya pikirkan itu sama dengannya dan dia sedang memikirkan langkah untuk menghadapi Ziva.


Jujur saja Nina malas berurusan lagi dengan keluarga mantan ibu tirinya, sekali pun itu Ziva.


"Kamu mau bawa ke mana makanan itu sayang?" tanya Nina menginterupsi Rima.


Rima yang sedang meletakan piring dan gelas di nampan lalu berhenti dan menatap sang ibu.


"Buat Ziva Bu, tadi katanya dia belum makan, makanya mau Rima bawa ke dalam kamar," jelas Rima.


"Suruh aja Ziva ke sini, Ibu penasaran mau apa dia tiba-tiba datang ke sini," ujar Nina.


Rima menghela napas, ingin sekali ia meminta sang ibu untuk tak mempersulit keadaan Ziva, tapi dia sendiri sadar, jika bukan Ziva yang ibunya khawatirkan, tapi tante dan neneknya Ziva yang pasti akan merusuhi kehidupan mereka lagi.


Rima mengangguk dan berlalu untuk melaksanakan perintah sang ibu.


Dia melihat Ziva yang kini justru tengah tiduran sambil memainkan ponsel miliknya.


Seketika amarah Rima memuncak karena merasa kelakuan Ziva sangat tak sopan.

__ADS_1


"ZIVA!" bentaknya lalu segera mengambil ponsel miliknya.


Ziva yang terkejut lantas bangkit duduk dan merasa tak enak. Dia merutuki diri sendiri sampai kepergok oleh Rima, hanya karena rasa penasaran.


Kini dia merasa cemas, karena takut sang bude semakin tak mau menerimanya.


"Kamu kenapa ngga sopan gitu sih!" pekik Rima kesal.


Baru tadi dia berharap sang ibu tak mempersulit Ziva, tapi kini justru dia yang sudah meluapkan kekesalannya.


Sungguh Ziva memang tak bisa di beri hati seperti orang tua dan neneknya, pikir Rima.


Mendengar keributan dari kamar sang putri Nina, Sugi dan Galih lantas mendekat.


Mereka penasaran mengapa tiba-tiba Rima berteriak, hingga terdengar sampai ke dapur.


"Ada apa Rima?" tanya Nina lalu merangkul bahu putrinya.


Ziva hanya bisa menunduk takut. Dia merasa jengkel dengan Rima yang di rasa bersikap berlebihan.


Gadis itu tetap merasa tak bersalah, dia masih merasa bahwa mereka bersaudara jadi seharusnya Rima tak perlu harus marah untuk masalah sepele seperti tadi.


"Maaf Bude," hanya itu yang bisa Ziva ucapkan.


Tubuhnya bergetar, dia ketakutan kalau Nina akan mengusirnya saat ini juga.


Nina lalu meminta penjelasan pada putrinya sendiri, dia yakin ada hal yang di lakukan oleh Ziva yang mengusik sang putri.


Dia sangat tau seperti apa putrinya itu. Pasti Ziva melakukan hal yang menyinggung privasi putrinya.


"Aku ngga suka kamu buka-buka hpku tanpa izin Va! Itu ngga sopan. Bahkan ibuku juga ngga pernah melakukan hal itu!" jelas Rima tajam.


Sekarang Nina tau apa yang membuat Rima marah. Ingin sekali saat ini juga dia mengusir Ziva dari rumahnya, karena belum apa-apa saja gadis itu sudah membuat kacau rumah mereka.


"Aku cuma ngecek hp kamu aja Rim, tadi bunyi terus siapa tau penting," elak Ziva.


"Penting atau enggak, itu bukan urusan kamu Ziva. Diamkan aja nanti juga berhenti," tegur Nina.


Ziva hanya menunduk takut, dia berharap semoga Nina dan Rima mau memaafkannya.


"Maafkan Ziva Bude," lirihnya tanpa penyesalan.


Nina menghela napas, "sebaiknya kamu keluar—" belum juga Nina meneruskan ucapannya Ziva sudah merangsek sujud di kaki Nina.



Mampir ke novel baruku yuk kakak², di tunggu dukungannya, makasih🥰🙏

__ADS_1


__ADS_2