Derita anakku

Derita anakku
ketegasan Andi


__ADS_3

Febriana menatap satu persatu orang yang ada di sana, terakhir dia menatap Andi dengan perasaan kecewa.


"Apa maksudnya ini Ndi?" lirihnya berusaha mencari perhatian Andi.


Andi mengernyit heran. Sayangnya dia tak akan termakan dengan drama murahan yang tengah di lakonkan Febriana.


"Aku cuma menepati janji pada istri dan mertuaku kalau akan mengajak satu-satunya orang yang masih aku anggap keluarga," jawab Andi datar.


"Meskipun kamu hanya mantan kakak iparku, setidaknya aku menghormati kamu sebagai ibu dari keponakanku," sambung Andi.


"Enggak begini Ndi! Kamu sadar enggak kalau semua ini menyakiti kami? Menyakiti aku dan Julian," ujar Febriana.


Keluarga Rima hanya bisa menatap heran pada keduanya yang seperti berselisih paham akan sesuatu.


"Ada apa sebenarnya nak Andi?" sela Ahmadi yang mulai tak nyaman dengan ucapan Febriana.


Terlebih lagi wanita yang berstatus mantan kakak ipar menantunya itu tengah menangis tersedu-sedu.


"Tenangkan dirimu, coba minum dulu," tawar Nina yang bingung dengan situasi rumit di depannya.


Rima hanya bisa memilin jarinya. Ada rasa bingung juga kecewa menghadapi permasalahan hidupnya.


"Jangan bicara omong kosong Feb. Aku memenuhi janjiku untuk tetap menghidupi kalian, memang karena ada hak Julian di perusahaan kami. Hanya sebatas itu, jangan melampauinya Feb!" Balas Andi dingin.


"Tunggu, memang mbak Febriana ini berharap apa?" tanya Galih yang mulai gemas dengan permasalahan yang menurutnya sangat bertele-tele.


Dari pembicaraan keduanya, Galih tentu saja sadar jika mantan kakak ipar Andi itu menyukai suami dari keponakannya.


Yang dia simpulkan dari ucapan wanita itu, Febriana seperti berharap lebih pada hubungannya dengan Andi.


Sedangkan Andi merasa tak memiliki niatan untuk memiliki hubungan dengannya.


Febriana mendongak sebentar lalu menunduk lagi. Dia memilin jari-jarinya, gugup.


Sebenarnya dia hanya bersikap seperti wanita tertindas, andai tak mementingkan harga diri, ingin sekali dia berteriak memaki semua orang di rumah itu.


Dia lalu menatap Rima yang sama sepertinya hanya menunduk saja sejak tadi.


"Maafkan aku Rima. Demi anakku, aku tak bisa jauh dari Andi. Aku tadinya berharap lebih akan hubungan kami. Entah apa tujuan Andi menyembunyikan pernikahan kalian. Kalau pun ternyata Andi berniat menjadikanku istri kedua, aku pun siap, semua demi anakku," ucap Febriana tiba-tiba.


Tentu saja semua terkesiap mendengar ucapan janda Denish itu. Tak terkecuali Rima yang sudah menitikkan air mata.

__ADS_1


Keraguannya semakin jelas pada Andi saat mendengar ucapan Febriana.


Mungkin benar Andi berpikir akan menikahi wanita itu di belakangnya kelak. Oleh sebab itu sang suami beralibi bahwa dia tak bisa membawa Febriana ke acara pernikahan mereka kemarin.


"Kamu apa-apaan Febri!" sentak Andi murka mendengar ucapan panjang lebar Febriana.


Suami Rima tak menyangka jika Febriana bisa dengan mudah menyudutkannya. Padahal dalam hati dia tak memberitahu pernikahannya dengan Rima karena tahu betul bagaimana perangai Febriana.


Makin pening saja kepala Nina. Dia tak tahu ada apa dengan maksud dan tujuan Andi.


Apa benar seperti yang di ucapkan oleh Febriana? Atau ada maksud lain? Nina semakin merasa bersalah pada putrinya.


"Apa benar yang di ucapkan kakak iparmu Nak Andi?" cecar Ahmadi yang berusaha menahan kegeramannya.


"Enggak Yah, bukan begitu," jawab Andi cepat.


Dia menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan.


"Aku enggak memberitahukan pernikahanku dengan Rima karena alasan lain. Bukan karena seperti yang di ucapkan Febriana Yah," jelas Andi lemah.


"Aku hanya takut dia akan membuat ulah dan mengacaukan rencana pernikahanku. Maafkan aku kalau ternyata keputusanku justru malah membuat kalian salah paham," sambungnya.


Febriana menatap Andi nanar, dia tak menyangka jika Andi bisa tahu pikirannya andai kata lelaki itu memberitahukan rencana pernikahannya terlebih dahulu padanya.


"Kenapa kamu bicara seperti itu Ndi? Kalau kamu mau menikah, tentu saja aku akan memberitahu mereka terlebih dahulu, lelaki seperti apa yang akan masuk dalam keluarga mereka. Lelaki yang memiliki tanggung jawab membersamai aku dan anakku. Aku yakin mereka juga akan mundur dengan sendirinya," elak Febriana.


"Kamu berhutang pada aku dan Julian Ndi. Hanya kamu yang harus menjadi pengganti mas Denish, aku enggak mau yang lain!"


Astaga, Galih ingin sekali melempar vas yang berada di meja pada wanita tak tahu diri seperti Febriana ini.


Bagaimana bisa wanita itu bersikeras merasa benar padahal sejak tadi dari ucapannya saja terlihat dia yang menggebu-gebu ingin memiliki Andi.


Kini Galih dan Ahmadi sadar apa yang di ucapkan Andi memang benar. Febriana ini sakit, bukan fisik tapi jiwanya.


Andi menggeram frustrasi bahkan dia sampai menyugar rambutnya kasar.


Rima dan Nina tak percaya jika ada seorang wanita yang rela merendahkan dirinya hanya demi bisa mendapatkan laki-laki yang jelas menolaknya.


Nina merasa khawatir dengan kehidupan rumah tangga putrinya andai Febriana masih berkeliaran di kehidupan mereka.


Di singkirkan pun tak mungkin karena ada seorang anak yang terhubung darah dengan menantunya.

__ADS_1


Pening, itulah yang di rasakan Nina, sedangkan Rima, istri Andi itu tanpa sadar merasakan sedikit perasaan lega. Dia sadar mantan kakak ipar suaminya itu seperti kebanyakan wanita yang ingin mendekati suaminya.


Sejak dulu, sejak zaman mengenal Andi, jelas Rima tahu seperti apa sifat-sifat para wanita yang ingin memiliki suaminya.


Mengerikan memang, sebab mereka akan selalu berusaha mencari cara untuk mendapatkan Andi meski semuanya sia-sia.


Lalu bagaimana dengan Febriana? Sama seperti Nina, dia juga berpikir tak akan mudah menyingkirkan Febriana sebab ada Julian anak dari mantan kakak iparnya.


"Sebenarnya sejak kapan kamu berhubungan dengan dia Ndi?" cecar Febriana penasaran. Karena mengenal Andi cukup lama, dia tak pernah sekali pun melihat Andi membicarakan atau berkencan dengan seseorang.


Dia juga pernah meminta orang untuk menyidiki Andi dulu, tapi tak pernah ada wanita di sekitar dia yang merupakan kekasihnya.


Memang Andi baru kembali ke negara ini setelah di rasa bisa meninggalkan perusahaannya di negara asing kepada orang kepercayaannya.


Jadi tidak mungkin Andi langsung menikahi gadis itu yang mungkin saja baru di temuinya, pikir Febriana.


"Dia cinta pertamaku," jawab Andi datar.


"Yah, saya sudah menepati janji dengan menghadirkan Febriana di hadapan kalian. Seperti yang kalian lihat, saya yakin Ayah dan ibu serta mas Galih dan Rima tau mengapa saya memilih menyembunyikan pernikahan kami bukan?"


"Apa maksud kamu? Jadi benar, kamu mengajakku ke sini untuk di jadikan istri kedua?" jawab Febriana tak percaya.


Astaga, Andi benar-benar putus asa bicara dengan Febriana. Kesabarannya sudah hampir habis. Dia sungguh muak dengan tingkat kepercayaan diri ibu dari Julian itu.


"Enggak akan ada pernikahan antara aku dan kamu Feb. Justru sekarang aku mau bilang, tolong jaga sikapmu. Hubungan antara kita hanya karena Julian. Dan aku akan menyerahkan tanggung jawab itu pada Rima—"


"Apa maksud kamu?" sela Febriana tak terima.


"Apa pun yang menyangkut Julian, kamu bisa bicara dengan istriku. Biar Rima yang menyampaikan keinginanmu padaku. Jadi—"


"Enggak akan! Kamu harus tetap bertanggung jawab pada Julian dan aku Andi!" tolak Febriana.


"Terserah kamu mau ngomong apa. Yang pasti aku tak mau lagi berhubungan denganmu. Cukup sampai di sini, ke depannya bicarakan dengan Rima kalau ada apa-apa dengan Julian," jawab Andi tegas.


"Sayang kamu mau bantu aku kan?" pinta Andi yang sadar jika dia belum membicarakan keputusan ini pada sang istri.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2