Derita anakku

Derita anakku
Tuntutan


__ADS_3

Saat sadar, Nina kembali menangis di dalam pelukan sang suami.


Usaha yang dia rintis dari bawah kini lenyap tak tersisa. Kerugian yang di derita Nina juga cukup besar.


Meski memiliki suami kaya, tapi toko sembako itu adalah miliknya sendiri dan rasanya sangat berbeda dari nafkah suaminya.


Meski Ahmadi tidak pernah hitung-hitungan dengannya, tapi Nina lebih suka mengeluarkan uangnya sendiri untuk di berikan pada Dibyo dan keluarganya di kampung.


"Sudah Bu, jangan nangis terus, kasihan dedeknya. Ibu kan enggak boleh stres," ucap Ahmadi berusaha menenangkan sang istri.


"Toko Yah, toko aku," isaknya memilukan.


"Yang sabar, mungkin ini cobaan, ibu harus ikhlas," bujuk Ahmadi.


Tak lama karena lelah fisik dan mental, Nina kembali tertidur. Ahmadi lalu keluar untuk berbicara dengan Galih.


"Gimana Lih? Apa yang kamu tau tentang kejadian tadi?" tanya Ahmadi begitu duduk di hadapan sepupu istrinya.


Galih menghela napas, " menurut beberapa saksi yang pertama kali melihat kejadian itu, mereka mengatakan kalau kebakaran di awali dari toko mbak Nina. Karena panik dan jalanan yang memang mulai sepi, orang-orang itu berusaha memadamkan api sendiri."


"Tapi api semakin besar dan merembet ke toko-toko sebelahnya. Barulah banyak orang berbondong-bondong datang dan menghubungi pemadam kebakaran."


"Sayangnya, pemadam di sini memang sangat jauh kan mas, jadi ya itu, api udah melahap hampir sebagian pasar, mereka baru datang," jelas Galih.


Ahmadi menghela napas, ada saksi yang mengatakan jika kebakaran bermula dari toko sang istri maka akan membuat masalah ini berbuntut panjang.


Dia khawatir kalau apa yang dia pikirkan saat ini akan kejadian pada istrinya.


Semoga saja tak terjadi, batinnya pilu.


.


.


Apa yang di takutkan oleh Ahmadi malam tadi jadi kenyataan. Rumahnya di datangi oleh para pemilik toko di pasar.


Penjaga keamanan di kediaman Ahmadi bahkan sampai kewalahan mencegah mereka agar mau sabar menunggu majikannya keluar.


"Jangan halangi kami. Kami kan datang baik-baik tapi kenapa kamu menyambut tamu majikanmu seperti ini!" ketus salah satu warga pada penjaga keamanan rumah Ahmadi.

__ADS_1


"Maaf Bapak-bapak dan ibu-ibu, maksud saya tunggu perintah dari pak Ahmadi dan Bu Nina dulu baru kami bisa mengizinkan kalian masuk," jelas penjaga keamanan itu.


"Alah udahlah, pasti Nina ini sembunyi! Kurang ajar memang, dia harus tanggung jawab pokoknya," gerutu yang lainnya.


Mereka akhirnya merangsek masuk membuat dua penjaga keamanan itu akhirnya terdorong.


Ahmadi yang mendengar ada keributan di luar rumahnya lewat penjelasan sang asisten rumah tangganya lantas bergegas keluar untuk menemui orang-orang itu.


Begitu pintu di buka Ahmadi sedikit terkejut saat ada puluhan orang memenuhi kediamannya.


"Maaf bapak-bapak dan ibu-ibu, ini ada apa ya?" tanya Ahmadi bingung.


"Kami ini pemilik toko yang terbakar akibat kelalaian mbak Nina mas!" jawab salah satu warga yang berada di dekat Ahmadi.


"Sabar, tenang, tolong jangan bicara semua, saya bingung harus menjawab yang mana," jujur Ahmadi.


Kerumunan itu tak terkendali, sebab belum di tanya apa-apa banyak di antara mereka sudah mengutarakan tujuannya mendatangi kediamannya.


Intinya mereka meminta pertanggung jawaban dari Nina, sebagai pemicu pertama kebakaran.


"Sabar, tenang, kalau enggak maka saya akan melaporkan tindakan kalian pada kepolisian karena menerobos rumah saya tanpa izin!" ancam Ahmadi.


Mereka akhirnya diam, karena memang takut dengan ancaman Ahmadi, toh mereka juga sebenarnya ingin bicara baik-baik.


"Kalau sudah, tolong pulanglah, kami akan berunding mendengarkan keluhan bapak dan ibu," pinta Ahmadi.


Dia memang merasa risi dengan banyaknya warga yang mendatangi rumahnya.


Menerima mereka semua yang di yakini Ahmadi mempunyai tujuan yang sama pun di rasa percuma, pasti hanya akan tambah panjang urusannya karena semua orang ingin berbicara.


Oleh sebab itu dia meminta perwakilan dari mereka saja untuk berbicara.


Andai ada pak Iskandar di sana, Ahmadi akan meminta lelaki paruh baya itu menjelaskan permintaan para pemilik toko ini.


Sayangnya lelaki yang mendatangi rumahnya semalam tak datang dalam rombongan ini. Padahal setahu dirinya Pak Iskandar merupakan salah satu korban juga.


"Apa Pak Iskandar enggak ada?" tanya Ahmadi pada salah satu warga.


"Dia dan beberapa warga yang lainnya ada di kantor kepolisian mas. Baiklah kami akan berembuk dulu di depan, setelah itu kami akan membubarkan diri," ucap salah satu lelaki yang lebih dekat dengan Ahmadi.

__ADS_1


"Maaf kalau kedatangan kami mengganggu ketenangan bapak, kami memang tengah putus asa," ucap yang lainnya.


"Saya mengerti pak, hanya saja, kita bisa menyelesaikan ini secara baik-baik ok?" pinta Ahmadi dan di balas setuju oleh mereka.


Ahmadi lantas masuk ke dalam rumah meninggalkan para pemilik toko yang sedang memilih orang untuk menyambung lidah mereka.


Ahmadi memilih mendatangi sang istri dan kedua putrinya yang terlihat panik dan ketakutan saat mengetahui banyak orang mendatangi kediaman mereka.


"Ibu dan kalian tenang ya, ayah akan hadapi mereka. Kalian di sini dulu, terutama Ibu. Jangan panik, santai aja," pinta Ahmadi lembut.


"Mas hati-hati," lirih Nina tak rela melepaskan suaminya. Dia takut sang suami akan mendapatkan aksi anarkis dari para pemilik toko yang terbakar.


"Kamu tenang, mereka datang dengan damai kok, cuma mungkin karena beramai-ramai kesannya kaya mau demo," kekeh Ahmadi berusaha menenangkan sang istri.


Dia lantas mengecup kening Nina sebelum akhirnya berbalik untuk kembali ke ruang tamu.


Saat akan menuju kembali ke ruang tamu ternyata di sana sudah ada Galih yang menghadapi beberapa perwakilan pemilik toko.


Ahmadi lantas bernapas lega kala para pemilik toko menepati janjinya untuk meninggalkan rumahnya.


"Mas, mbak Nina mana?" tanya Galih khawatir.


"Mbakmu istirahat," jawab Ahmadi sambil menepuk bahu Galih yang terlihat cemas.


"Terima kasih bapak mau datang dengan damai ke rumah kami. Saya izin bertanya lagi ada apa gerangan para warga mendatangi kami?" tanya Ahmadi membuka pembicaraan.


"Begini mas, dari saksi dan petugas pemadan serta polisi yang menyelidiki kasus kebakaran pasar. Mereka menyimpulkan kalau semua itu akibat korsleting listrik dari toko mbak Nina," ucap salah satu pemilik toko.


Baik Ahmadi mau pun Galih tak ada yang menyela sebab Nina salah satu pemilik toko belum menerima pemanggilan dari pihak yang berwajib.


"Bukankah kasus ini masih dalam penyidikan? Mengapa bapak-bapak langsung menyimpulkan kesalahan ada dari pihak kami?" jawab Ahmadi tenang.


"Loh tetap aja pak, kenyataan memang dari toko Bu Nina!" atensi mereka mulai meninggi mendengar jawaban Ahmadi.


"Kalau pun iya dari toko istri saya, bukankah itu termasuk dalam kategori musibah? Apa bapak mau bilang kalau istri saya sengaja membakar tokonya? Jelas bapak-bapak sekalian tau kalau istri saya juga mengalami kerugian sama seperti kalian, bahkan mungkin yang paling besar bukan?"


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2