
Nina menolak saran Sugi, baginya keselamatan mereka dan Rima lebih penting.
Dengan senyum terpaksa, Nina menolak sang paman, "Ngga papa paman, aku janji cuma sebentar," ucap Nina.
"Iya Mas, lagian kami hanya mengajak Nina untuk menjenguk suami saya. Kemarin suami saya serangan jantung karena khawatir dengan keadaan Nina. Budi ini calon suami Nina, benarkan Nina?" ucap Jannah lembut.
Sugi terkejut karena tidak tau siapa Budi, sebab Nina tidak pernah menceritakan lelaki di hadapannya ini padanya.
"Benarkah Nin?" tanya Sugi curiga.
"I-iya paman, kalau begitu aku pergi dulu ya."
Nina lalu pamit ke kamar untuk berganti pakaian. Dia juga harus memakai masker demi menutupi wajahnya yang penuh dengan luka.
Tubuhnya lunglai, dia sungguh ketakutan. Namun dia berpikir jika memang Budi datang sendiri ke sini tak mungkin lelaki itu akan mencelakainya.
Namun dia bingung apa sebenarnya yang di rencanakan oleh Budi.
Benar pikiran Nina, Budi tak akan menghabisi Nina. Sebab Budi ingin menghancurkan kesombongan Nina.
Lelaki itu berpikir akan memaksa Nina untuk menikah dengannya. Dengan begitu dia bisa menguasai harta dan fisik Nina.
Tentu saja dia sudah berencana menyiksa batin dan fisik Nina habis-habisan setelah ini, karena dia pernah melukai harga dirinya.
Terlebih lagi ibu dan adiknya juga mendukung rencananya.
Setelah berganti pakaian, Nina lalu berpamitan pada mereka, dia memeluk Rima lama. Dia memohon semoga Tuhan melindungi anaknya.
"Mbak kamu yakin pergi sendiri?" tanya Galih cemas. Hatinya merasa tidak tenang.
"Bu, bolehkah Rima ikut?" pinta Rima.
Nina terkejut, tentu saja dia tidak akan membahayakan Rima.
"Kalau Rima mau ikut juga boleh," tawar Rahma lembut.
Nina menolak dengan cepat, "ngga usah, kamu di rumah aja sama paman dan mas Galih. Ibu pasti baik-baik aja," sambil tersenyum gugup.
Dia tak ingin membahayakan Rima yang justru dia perjuangkan. Biarlah mereka menyakitinya, asal jangan putrinya.
Di dalam mobil, mereka merasa senang bisa menaklukkan Nina. Bahkan tanpa belas kasihan Rahma menoyor kepala Nina berulang-ulang.
"Akan aku jadikan kau babu! Wanita sialan!" makinya pada Nina.
Nina hanya bisa diam tak melawan. Dia hanya berharap semoga semuanya baik-baik saja.
"Apa yang kamu inginkan Mas?" tanya Nina menyela makian Rahma.
"Nanti kamu juga tau," jawab Budi datar.
__ADS_1
Mereka sampai di bangunan tua. Bukan hanya Nina yang bergidik ketakutan, nyatanya Jannah dan Rahma pun ikut merinding melihat bangunan terbengkalai itu.
"Duh gusti, serem amat sih Bud. Ibu di sini aja lah, takut!" tolak Jannah.
"Sama lah mas aku juga, ngeri banget liat rumahnya," sambung Rahma sambil mengusap tengkuknya yang tiba-tiba merinding.
"Cih kalian! Main ke dukun aja berani liat bangunan kaya gini aja takut!" cibir Budi.
Budi lantas menyeret Nina paksa. Mereka lalu tiba di tengah ruangan di mana ada Mulya dan juga Cantika yang masih terikat di kursi.
Wajah Mulya sudah babak belur, sepertinya dia di perlakukan dengan kasar.
"Mulya?" panggil Nina.
Mendengar namanya di panggil, Mulya pun mengerjapkan matanya untuk melihat Nina, hingga Nina akhirnya memeluk wanita yang telah menyelamatkannya.
"Maafkan aku Mulya, maafkan aku," isak Nina.
"Kenapa kamu datang Nina! Harusnya kamu lari menjauh!" maki Mulya.
Nina menggeleng, menolak saran Mulya, bagaimana pun dia akan menyelamatkan Mulya dan Cantika entah bagaimana caranya.
"Kamu dengar aku, percuma kamu menyelamatkan kami. Ba*ji*ngan itu tetap akan menghabisi kami," jelas Mulya.
Budi lalu menampar Mulya karena berani menghasut Nina.
"Kamu memang benar! Aku akan menghabisi kalian!" ujar Budi sambil tertawa.
"Bagaimana Nina? Kamu siap kan membantu temanmu ini hemmm?" ucap Budi lembut.
Nina menyentak tangannya saat Budi hendak mengusap wajahnya.
"Apa ada jaminan kamu akan melepaskan mereka?" balas Nina tajam.
Budi tertawa semakin keras lalu tak lama dia menjambak kerudung Nina hingga Nina menengadah menatap sorot mata Budi yang bengis.
"Di sini bukan untuk tawar menawar. Keputusanmu adalah pilihan kematian untuk mereka."
Nina terkesiap, ternyata benar apa yang di katakan Mulya, jika Budi tak akan melepaskan mereka.
"Kamu membohongiku? Aku ke sini untuk menyelamatkan mereka bukan agar mereka MATI!" bentak Nina.
Budi melempar Nina hingga terjatuh di depan Cantika.
Nina memeluk tubuh Cantika yang menangis. Dia ingin sekali melepaskan ikatan di mulut gadis itu.
"Aku tidak mungkin melepaskan dia sayang, paling tidak kalau kamu menurutiku dan harus menurutiku aku akan memudahkan kematian mereka. Tak perlu sampai mereka memohon kematian padaku," jelas Budi.
Budi benar-benar ingin melenyapkan Mulya dan Cantika dengan cara yang kejam. Pikiran Nina semakin kalut, dia merasa tak ada gunanya dia datang ke sana.
__ADS_1
"Lalu apa mau mu!" ucap Nina.
"Kamu tau mas, paman dan sepupuku tau kau membawaku, jadi aku yakin kalau ada apa-apa denganku, mereka pasti akan mencarimu!" ancam Nina lemah.
Lagi-lagi Budi tertawa, tentu saja dia tak sebodoh itu hendak melenyapkan Nina.
Budi lantas berjongkok menyejajarkan tubuhnya dengan Nina.
"Siapa yang akan melenyapkanmu? Kita akan menikah dan kamu ngga akan bisa menolaknya," jawab Budi menyeringai.
Mata Nina membola, dia tak menyangka jika Budi akan melakukan segala cara untuk memilikinya.
"Tapi sebelum itu, kita akan menyiapkan segala perpindahan aset-aset kalian. Bukankah aku baik?” piciknya.
“Oh satu lagi, kamu dan anakmu harus tinggal di rumahku menjadi pembantu kami," sambung Budi.
Budi lantas menghubungi seseorang "Kamu di mana? Kenapa lama sekali!" bentak Budi. Dia menghubungi seseorang untuk mengurus semua perpindahan aset milik Mulya dan Nina.
Tak lama datanglah suara langkah kaki mendekat. Nina kembali terkejut kala melihat Novi ternyata ikut terlibat.
"Sabar kenapa sih sayang! Nih suratnya," Novi lantas memberikan surat kuasa yang di buatnya kepada Budi.
Dia lalu menatap Mulya dan Nina sambil menyeringai. "Akhirnya aku bisa menyingkirkan kalian! Sudah kubilang, kalian bukan lawanku!" ujarnya Pongah.
Setelah memastikan semua surat sesuai dengan keinginannya, Budi pun menarik Nina untuk duduk di bangku.
"Cepat tanda tangan! Besok kita akan menikah!" paksa Budi.
Tubuh Nina bergetar, dia ketakutan, semua yang dia miliki akan di kuasai oleh Budi. Bukan itu yang paling dia takutkan, tapi kebebasannya dan juga sang putri yang akan terjerat dengan Budi selamanya.
"Kenapa harus menikah sih sayang! Kalau begitu aku gimana?" rengek Novi.
Budi berdecap sebal mendengar nada manja kekasihnya.
"Kamu punya otak kan? Ngga mungkin tiba-tiba aset Nina untukku kalau kami ngga menikah. Kamu tenang aja, perlakukan dia sesukamu nanti," jelas Budi.
Novi tersenyum senang dengan janji Budi padanya, tentu saja dia akan membalaskan sakit hatinya pada Nina karena wanita itulah dia harus di pecat secara tidak hormat.
Belum sempat Nina menandatangani suratnya, tiba-tiba suara tembakan membahana, membuat semua yang ada di ruangan itu kalang kabut, tak terkecuali Nina.
"Angkat tangan kalian!" seru petugas kepolisian mengarahkan senjata tajamnya pada Budi dan yang anak buahnya.
Para petugas yang berwajib mengepung mereka dari depan dan belakang, membuat Budi dan anak buahnya tak bisa kabur.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.