
Rima terperangah menatap wajah sendu Ziva. Saudara tirinya itu tampak memprihatinkan.
Tubuh kurus dan juga pakaian yang di kenakannya seperti seorang pembantu membuat Rima nyaris tak mengenali sosok Ziva.
"Ziva?" jawab Rima pelan.
Ziva mengusap air matanya karena saudara tirinya masih mengenalinya.
"Apa yang kamu lakuin di sini?" Rima berpikir jika Ziva di sana mungkin bekerja sebagai seorang pembantu.
Rima juga menatap perut Ziva yang masih rata. Pikirannya menebak jika saudari tirinya kemungkinan sudah melahirkan.
Refleks Ziva memeluk tubuh Rima. Dia tak menyangka bisa bertemu dengan saudarinya lagi.
Dia seperti tak bergairah menjalani hidup setelah segalanya di renggut oleh Baron.
Haknya sebagai seorang manusia di renggut paksa oleh Baron yang dengan tega menjual tubuhnya.
Dia juga sudah tak bisa menemui keluarganya karena Baron benar-benar melarang mereka berhubungan.
Ziva sudah merasa lelah dengan kehidupannya. Dia sendiri tak bisa lari dari rumah ini sebab ada putranya, satu-satunya keluarga yang dia miliki saat ini.
"Kamu kenapa Va? Apa kamu kerja di sini?" tanya Rima lembut.
Ziva menegang, dia tak tau harus berkata apa pada Rima. Namun kini harapannya kembali tumbuh, hanya Rima dan Budenya yang mungkin bisa mengeluarkannya dari sana.
"A-aku—"
"Rima?" panggil Andi memotong pembicaraan keduanya.
Ziva meringkuk ketakutan, meski keluarga suaminya tak memperlakukannya dengan kasar, tapi Ziva tetap merasa waswas dengan keberadaan anggota keluarga suaminya.
Andi memandang heran pada wanita yang berada dalam pelukan Rima.
Dia menjadi khawatir kalau-kalau Rima mengenal sosok ibu tirinya.
"Rim?" ulangnya.
Rima mengusap tubuh Ziva yang gemetaran, gadis itu hanya menebak jika keluarga Andi memperlakukan Ziva menjadi seorang pembantu, sangat buruk.
"Maaf Ndi," sahut Rima sambil mengurai pelukan Ziva.
Andi mendekati keduanya. Kentara sekali kalau Rima mengenal sosok ibu tirinya.
"Ayo, acaranya udah mau di mulai!" ajaknya agar segera meninggalkan Ziva.
Ziva merasa iri pada Rima yang bisa dekat dengan anak tirinya. Jujur dalam hatinya, Ziva sangat menyukai Andi.
__ADS_1
Namun dia sadar jika ia adalah ibu tirinya. Lagi pula dia yakin Andi tak mungkin menyukainya.
"Apa Ziva kerja di rumahmu?" tanya Rima.
Andi menaikkan sebelah alisnya, tebakannya ternyata salah, sesaat dia sempat khawatir kalau Ziva akan membuka mulutnya dan mengacau acaranya.
Meski dia sudah berbicara pada sang ayah agar membawa keluar dulu istri mudanya itu selama acaranya berlangsung, sayang permintaannya di abaikan oleh sang ayah.
Jadilah sekarang belum apa-apa Andi merasa kalau keberadaan istri mudanya sudah mengacaukan sedikit acaranya.
Terlebih lagi entah kenapa Ziva memakai pakaian compang-camping seperti tadi. Sungguh wanita itu membuatnya muak.
Pada kenyataannya, Ziva memiliki pakaian biasa yang sangat layak. Meski dia dan keluarga lainnya tak pernah sekalipun memedulikan keberadaan istri kedua Baron, tapi tak sekalipun mereka melakukan kekerasan padanya.
"Kamu kenal wanita tadi? Sory maksudku Ziva?" ucap Andi yang sebenarnya enggan menyebut nama Ziva.
"Dia anaknya saudara tiri ibuku," jelas Rima yang membuat langkah kaki Andi terhenti seketika.
Mampus! Dia anak saudara tirinya tante Nina. Mati Gue, pasti bakal susah dapet restu.
"Ka Andi?" Rima mendekati Andi yang tampak terdiam di tempatnya.
"Heh? Sory, yuk lanjut!" elak Andi enggan melanjutkan perbincangan mereka mengenai Ziva.
.
.
Clara menatap tajam Rima yang datang bersama dengan Andi.
Lyra pun menatap kesal pada gadis yang ibunya telah berhasil menarik hati Ahmadi.
Benar-benar keluarga kacau balau. Untungnya Andi dan Denish memiliki sifat baik yang jauh sekali dari sifat kedua orang tuanya.
Mungkin karena dulunya Andi dan Denish di asuh dan di didik oleh kakek neneknya, hingga mereka remaja barulah keduanya di rawat oleh Lyra dan Baron yang sudah tak terlalu sibuk berbisnis.
"Terima kasih buat teman-teman Andi yang sudah mau meluangkan waktu untuk hadir ke acara tahunan Andi. Di sini tante mau kasih kabar lain juga loh, selain merayakan ulang tahun, kami juga akan mengadakan acara pertunangan," ucap Lyra tiba-tiba.
Andi terkesiap mendengar ucapan ibunya, sedangkan Rima merasakan sakit di dalam dadanya.
Gadis itu masih bingung dengan perasaannya. Mengapa dia merasa sakit, apa ini yang namanya cemburu? Batinnya.
Vira dan Yura yang hadir di sana juga terkejut mendengar penuturan Lyra.
Acara pertunangan siapa yang ibunda Andi maksud? Pikiran mereka hanya tertuju pada Denish kakak Andi yang memang sudah dewasa.
Namun keberadaan pemuda itu tak tampak di sana, jadilah mereka menerka-nerka jika mungkin ini adalah acara ulang tahun Andi sekaligus pertunangannya.
__ADS_1
Tapi dengan siapa? Begitulah sebagian isi pikiran tamu undangan di sana.
Kebanyakan mereka memikirkan nama Rima, karena hanya gadis itu yang datang di sambut oleh Andi. Yang lain menebak-nebak, jika tunangan Andi pasti akan hadir setelah di sebutkan namanya, seperti dalam drama-drama televisi.
"Sini sayang," pinta Lyra pada Andi yang memandangnya dengan tajam.
"Ini apa-apaan mah!" ucapnya pelan, tapi penuh dengan penekanan.
"Udah kamu tenang aja, mamah yakin kamu akan suka," balas Lyra tenang.
"Hari ini tante akan mengenalkan kalian pada calon tunangan Andi, kita sambut ya. Silakan naik sayangnya tante, Clara Ekafira Hapsari," panggilnya.
Clara tentu saja tersenyum bahagia, dia sejak tadi sudah merasa senang saat ibunda Andi membahas masalah pertunangan. Sebab dirinya tau siapa calon pendamping Andi ke depannya.
Ini adalah cara terakhirnya menaklukkan hati Andi. Mau tak mau Andi akan menerimanya jika Clara sudah meminta pada orang tuanya.
Luke menatap datar pemandangan di depan sana. Dia tau Clara sangat ambisius. Namun dia tak menyangka jika gadis itu akan berubah menjadi terobsesi seperti ini.
"MAH!" bentak Andi karena kesal.
"Ini apa-apaan!"
"ANDI!" bentak Baron yang tak terima anaknya berkata kasar pada sang istri.
"Apa maksud mamah Hah?! Jangan perlakukan Andi semena-mena kalau mamah ngga mau kehilangan Andi!" ancamnya.
"Loh sayang, kenapa? Kalian udah kenal lama. Lagi pula bisnis kita akan semakin membesar kalau kalian bersatu," ucap Lyra tenang.
Dia tak mengerti mengapa sang putra semarah ini, yang dia tau Clara dan Andi sangat dekat. Dalam hati dia berpikir jika kini Andi sepertinya jatuh cinta sungguhan pada anak saingannya yaitu Rima.
"Mah! Andi ingatkan sekali lagi, semua usaha mamah dari kakek adalah nama Andi, kalau mamah ngga berhenti, maka jangan salahkan Andi kalau mamah akan kehilangan segalanya," ancamnya lagi.
Lyra terdiam di sana, tak mengira keputusannya menerima penawaran keluarga Hapsari justru menjadi bumerang baginya.
"Andi! Jaga bicaramu!" kecam Baron membela istrinya.
"Lebih baik papah diam, kalau masih mau hidup enak di rumah ini," balasnya sengit.
Andi turun dari panggung tanpa memedulikan Clara yang diam mematung. Andi justru menarik Rima untuk mengikutinya.
Acara berjalan kacau karena tokoh utama yang meninggalkan pesta. Lyra sendiri di papah Baron meninggalkan pesta anak mereka untuk kembali ke dalam rumah.
Namun acara tetap berjalan karena sahabat-sahabat Andi kembali memeriahkan acara yang sempat kacau tadi.
.
.
__ADS_1
.
Tbc