
Andi kembali melajukan mobilnya dengan perasaan campur aduk, setelah mendapatkan beberapa umpatan kekesalan dari sahabatnya karena tak mengabari pernikahannya dengan Rima, dia sedikit bisa bernapas lega, pasalnya para sahabatnya bersedia membantunya saat ini.
Rima sendiri belum bisa tenang. Napasnya terasa sesak kala sang suami mengendarai mobilnya masuk ke sebuah jalan menuju vila milik Febriana.
Di sana ada beberapa orang pengawal berpakaian hitam sudah berdiri menunggu mereka.
Saat Andi turun dan meninggalkannya seorang diri, Rima merasakan perasaan takut yang teramat sangat kala kelima penjaga berperawakan besar itu menoleh ke arah mobilnya.
Terlebih lagi dirinya melihat mereka yang mengerubungi Andi.
Ingin sekali Rima keluar jika tidak ingat pesan sang suami untuk menunggunya di dalam dan mengunci mobilnya.
Rima kembali bisa bernapas lega kala sang suami kembali berjalan ke arahnya. Bergegas Rima membuka pintu agar suaminya segera masuk ke dalam mobil.
Wajah Andi merah padam menahan kesal. "Ada apa Ka? Kita boleh masukkan?" tanyanya khawatir.
"Apa pun yang terjadi, tolong kamu jangan pergi dari sisiku ya," pinta Andi tiba-tiba.
Rima yang sejak tadi masih merasa cemas, semakin cemas atas ucapan suaminya. Dirinya mengira ucapan itu untuk membuat dirinya bertahan meski harus di madu.
Belum sempat menjawab, anak buah Febriana meminta Andi segera masuk ke dalam Vila.
Andi turun sambil menggandeng istrinya. Di dalam ada lebih banyak pengawal lagi. Rima semakin merapatkan tubuhnya pada sang suami.
Andi yang tadinya hanya menggandeng, kini harus merangkul sang istri yang terlihat sekali ketakutan.
Di ruangan besar yang merupakan ruang tamu, duduk dengan anggun Febriana dengan memegang segelas anggur merah.
Wanita itu tersenyum sangat lebar kala melihat pujaan hatinya mau menurutinya.
Meski dia harus menahan kesal karena ternyata Andi membawa serta Rima ke vila miliknya.
"Di mana mamah?!" tanya Andi tajam. Dia menyembunyikan tubuh Rima di belakangnya.
"Santai dong sayang, kamu pasti akan ketemu sama mamah. Aku janji," ujarnya lalu mendekati Andi dengan gaya centilnya.
Dia lantas mengusap dada bidang Andi dengan penuh hasrat. Sungguh dia ingin sekali segera menyandang status nyonya Andi dan menikmati tubuh gagah mantan adik iparnya itu.
Andi menyentak kasar tangan Febriana yang sejak tadi bergerilya di dadanya.
"Ok ... Ok, enggak papa, aku yakin setelah ini aku jamin kamu akan ketagihan dengan permainku sayang," balas Febriana yang tak marah sama sekali.
"Untuk kamu!" tunjuknya pada Rima.
"Jangan macam-macam, urusanmu hanya denganku!" potong Andi kesal.
Febriana tertawa keras. Membuat ruangan besar itu sedikit bergema.
"Aku cuma kasihan sama istri kamu, belum juga merasakan malam pertama tapi harus menangis darah saat melihat kita memadu kasih nanti," jelas Febriana yang mendapat tatapan tajam dari Andi.
Melihat kebingungan pasangan suami istri itu, Febriana melanjutkan kembali ucapannya.
"Kita akan melakukan malam pertama dengan di saksikan dia sayang," jelas Febriana mengungkapkan ide gilanya.
Jika Andi bersikap biasa saja, berbeda dengan Rima yang terkesiap mendengar ucapan Febriana yang tak tahu malu itu.
Rima lantas menatap sang suami yang masih bersikap tenang.
"Aku ingin bertemu mamah sekarang. Aku harus pastikan dia baik-baik aja," pinta Andi tegas.
Febriana memutar bola matanya jengah, dia merasa Andi tak percaya dengannya, padahal dirinya memang tak menyakiti nenek dari putranya itu.
"Baiklah ... Baiklah, sebagai calon istri yang baik, aku akan mengikuti keinginan calon suamiku. Ayo ikut aku!" ajaknya penuh percaya diri.
__ADS_1
Saat Rima dan Andi akan melangkahkan kaki bersama, Febriana jelas merasa cemburu. Dia kembali menghentikan langkahnya dan menatap geram pada pengantin baru itu.
"Eits, kamu mau apa? Jangan ikut, kamu di sini aja!"
"Dia harus ikut ke mana pun aku pergi. Bukankah kamu berkuasa di sini, memang kami bisa apa? Jelas aku khawatir meninggalkan istriku sendirian di sini," tolak Andi.
Febriana mencebik kesal. Namun dia tak berniat menjawab ucapan Andi dan kembali melanjutkan langkahnya.
Beberapa anak buahnya mengikuti mereka dari belakang.
Febriana memimpin di depan. Mereka berjalan menuju ke sebuah tangga bawah tanah. Di depan mereka terdapat lorong yang tidak pernah terpikirkan ada di sebuah vila milik Denish itu.
"Denish membelikan vila ini memang sudah jadi. Aku pun terkejut ternyata mereka mempunyai lorong rahasia di sini," jelas Febriana menjawab pikiran mereka.
"Sangat berguna bukan untuk saat seperti ini?" ucapnya di sertai dengan tawa sarkasnya.
Mereka sampai di sebuah ruangan yang cukup luas, sama seperti ruangan keluarga pada umumnya.
Ada juga beberapa pintu di sekitarnya. "Itu kamar mamah, gih sana!" tunjuk Febriana pada salah satu pintu.
Dua pengawal yang mengikuti mereka lantas berjaga di pintu lorong, sedangkan Febriana memilih duduk di sofa di ruangan itu.
Andi bergegas masuk ke dalam ruangan yang di tunjuk Febriana. Di pikirannya, ruangan itu pasti kecil dan pengap.
Ternyata dugaannya salah, ruangan itu luas bahkan ada jendela juga di sana. Sepertinya bangunan rahasia ini terletak di tempat lain sebab ada pemandangan luar yang bisa di lihat juga.
Di kamar sang ibu juga di tata seperti rumah sakit. Dari ranjang serta beberapa alat yang membantu menunjang kehidupan sang ibu.
Entah dari mana dan kapan Febriana melakukan hal secepat itu, tapi Andi mengakui kecekatan wanita yang dia anggap polos itu.
"Mamah," panggil Andi sambil mendekati ibunya yang seperti biasa, menatap kosong ke depan.
"Mah," panggilnya lagi saat sudah berada di sisi ranjang sang ibu.
Lyra menoleh lantas tersenyum. Dia mengusap lengan Andi yang berada di atas tangannya.
Tak ada jawaban, lagi-lagi hanya usapan dan senyuman yang menjadi jawaban Lyra.
"Udah kan? Jangan lama-lama lah. MUA kita udah sampai loh. Aku mau kita cepat-cepat menikah Ndi. Setelah itu silakan kamu kangen-kangenan lagi sama mamah!" sergah Lyra.
Semua menatap ke arah Febriana. Tak terkecuali Lyra. Hanya seperti biasa pandangan matanya kosong. Mungkin hanya melihat suara orang yang tiba-tiba saja datang.
Merasa Andi terlalu lamban, Febriana lantas mendekat dan menyentak tautan tangan pasangan suami istri itu.
Dia lama-lama kesal juga melihat pemandangan yang membuat hatinya panas itu.
Rima memekik kesakitan kala sentakan itu membuatnya jatuh terjerembap.
Andi dan Febriana yang memang memunggungi Lyra, tak akan menyangka saat tiba-tiba saja Lyra seperti memiliki kesadaran saat Febriana berlaku kasar pada Rima.
Tanpa pikir panjang, Lyra bangkit dan memukulkan tiang infus miliknya ke tubuh Febriana hingga wanita itu jatuh tersungkur.
"Aw!" pekiknya kesakitan.
Lyra yang kalap, langsung menduduki tubuh Febriana dan memukul mantan menantunya berulang-ulang.
Matanya bahkan sampai melotot, darah bercucuran keluar dari bekas infusannya yang tercabut paksa.
"Jangan sakiti Andi! Jangan sakiti Andi!" ucapnya berulang-ulang.
Andi dan Rima yang syok sempat terpaku, sebelum akhirnya Andi sadar dan hendak menyelamatkan Febriana.
Para pengawal yang mendengar jeritan bosnya lantas mendekati kamar tawanan mereka.
__ADS_1
Betapa terkejutnya mereka saat melihat orang yang mereka anggap gila tengah memukul bos mereka dengan membabi buta.
Andi segera menarik tubuh sang ibu, sedangkan dua pengawal Febriana segera menyelamatkan bos mereka yang terluka parah akibat pukulan bertubi-tubi di wajahnya.
Mereka tak memedulikan Andi dan yang lainnya. Fokusnya hanya pada Febriana.
Keduanya lantas menggotong tubuh Febriana yang terkulai lemah agar bisa segera mendapatkan penanganan medis.
Sedangkan Lyra terkulai lemah di pangkuan putranya.
Andi menangis saat mengetahui bahkan di tengah kondisi gangguan jiwa yang di alami sang ibu, ibunya tetap bisa menyelamatkannya.
Kesadaran Lyra terpicu kala melihat Febriana melakukan kekerasan meski bukan pada putranya. Hal itu yang membuat Lyra spontan menyerang Febriana.
"Jangan sakiti Andi," kata terakhir yang Lyra ucapkan sebelum akhirnya dia menutup mata untuk selamanya.
"Mamah bangun mah!" pekik Andi.
Dia memanggil sang ibu berulang-ulang agar kembali sadar.
Namun sayang, Lyra sudah menghembuskan napas terakhirnya. Kondisinya yang memang sudah sangat lemah membuat dia harus menyerah pada takdir.
"Sabar Ka," hanya itu ucapan yang mampu Rima katakan pada sang suami.
Kini mereka tengah mengalami masalah lain. Apa mereka akan selamat keluar dari vila Febriana atau tidak.
Andi berjalan menggendong jenazah sang ibu bersama dengan Rima di sebelahnya. Keduanya sudah pasrah andaikan mereka akan di habisi oleh anak buah Febriana.
Ternyata dugaan mereka salah, saat hendak keluar dari bangunan rahasia itu, keduanya di sambut dengan senyuman para sahabat Andi yang sudah berhasil membekuk para anak buah Febriana.
"Sory kita terlambat Bro!" ucap Noval yang kini sudah tampak semakin dewasa.
Anak buah Febriana tergeletak di sana sambil mengerang kesakitan.
"Bentar lagi polisi sama ambulans dateng. Mereka bakal selamat kok," jelas Gyan yang sudah tak setengil dulu.
"Turut berduka Ndi!" ucap Luke sambil menatap tubuh pucat tantenya.
Andi meletakan tubuh sang ibu di sofa. Theo berinisiatif masuk ke dalam salah satu kamar dan mencari seprei untuk menutupi tubuh Lyra.
"Thanks, kalian memang sahabat sejati gue," ucap Andi sambil memeluk mereka semuanya.
"Vangke, kawin kagak bilang-bilang Lo! Cih bilang sahabat tapi hari bahagia, kagak ada kita!" gerutu Gyan.
"Gue di kejar waktu, kalian semua orang sibuk. Lagian emang gue enggak mau bikin si Febri penasaran dan akhirnya tau," jelas Andi.
"Lukanya parah, entah bisa selamat apa enggak tuh orang," ucap Noval sambil menatap ke arah Febriana yang tak jauh dari mereka.
"Abis ini lu harus bikin acara pesta meriah, jangan sampai rahasia-rahasiaan lagi!" pinta Theo.
Rima hanya bisa menangis menatap teman-teman masa remajanya. Dia juga sangat merindukan kebersamaan bersama mereka seperti dulu.
Meski situasinya sedang berduka, tapi tak urung ada sedikit juga rasa bahagia.
"Akhirnya kita bisa bersama sayang. Udah enggak bakal ada yang mau misahin kita lagi. Maaf udah buat kamu nunggu lama," bisik Andi yang membuat pipi Rima memerah.
Keduanya, akhirnya bisa bersama setelah melewati berbagai macam cobaan.
Terima kasih yang udah mengikuti kisah Rima sampai akhir. Salam sayang selalu🥰🙏
.
.
__ADS_1
.
End