Derita anakku

Derita anakku
Rasa yang tidak di mengerti


__ADS_3

Resmi sudah Rima menjadi murid baru di sekolahnya.


Euforia itu juga di rasakan semua orang tak terkecuali Ayu teman barunya.


"Gila Rim, kemarin itu waktu kamu pingsan, beuh! Geger satu sekolah," seru Ayu histeris.


"Emang kenapa?" tanya Rima bingung.


"Kamu enggak tau apa pura-pura ngga tau?" gerutu Ayu.


Rima mengernyitkan dahinya bingung, jelas saja dia tidak tau maksud ucapan Ayu.


Dia hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Sumpah deh, Ka Andi keren banget," jawab Ayu sambil menekuk kedua lengannya di dada gemas.


"Apaan sih! Yang jelas dong ngomongnya!" Rima kesal karena sejak tadi teman sebangkunya itu tak kunjung memberi jawaban.


"Eh, beneran ngga tau ternyata. Nih ya denger, waktu kamu jatuh pingsan, Ka Andi tau yang gotong kamu sampai ke UKS. Bahkan dia juga kan yang anter kamu pulang kemarin kan?" tanyanya.


"Dia emang anter aku pulang, tapi aku ngga tau kalau Ka Andi yang udah nolongin aku," jawab Rima malu.


"Ck ... Ck! Fiks dia pasti suka sama kamu," tebak Ayu yakin.


"Apaan sih Yu, kita ini masih sekolah, ngapain mikirin suka-sukaan gitu," gerutu Rima.


Namun jantung gadis itu berdebar tak karuan entah karena apa.


Obrolan mereka terjeda karena seorang guru masuk ke kelas mereka. Kegiatan hari itu hanya ada perkenalan diri dengan guru mata pelajaran masing-masing.


Serta pembagian jajaran pengurus kelas, seperti ketua kelas dan lainnya.


Rima di pilih untuk menjadi bendahara di kelasnya.


"Wuaahh, laper deh. Makan yuk Rim!" ajak Ayu.


Rima lalu mengangguk saat dia tengah sibuk memasukkan bukunya ke dalam tas.


Keduanya lalu berjalan menuju kantin sekolah yang sudah mulai ramai, karena mereka telat datang.


"Yah Rim, penuh," keluh Ayu sambil menyisir semua bangku di kantin.


Baru saja Rima akan mengikuti arah pandang Ayu untuk mencari tempat duduk, tiba-tiba salah satu teman Andi mengangkat tangan padanya.


Dia adalah Theo, si jail.


"Oi dede emesh sini!" ajaknya.


Rima dan Ayu saling melempar pandangan karena bingung.


"Elah mala keder dia! Oi Rima sini! Duduk di sini nih!" tawar Theo sambil menepuk kursi kosong di tempat mereka.


Memang hanya di sanalah ada sisa dua kursi untuk di tempati keduanya.


Ayu lantas menyikut lengan Rima meminta jawaban.


Ada rasa ingin bergabung tapi ada juga rasa enggan, sebab banyak pasang mata memerhatikan mereka, terutama tatapan para siswi yang memandang mereka dengan sinis.


"Gimana Rim?" tanya Ayu.

__ADS_1


Karena keduanya masih saja diam di tempat. Theo lantas bangkit menghampirinya. Hanya Andi dan Luke yang sepertinya enggan ikut campur.


"Ngapain bengong sih, ayo! Kita ini ngga nawarin dua kali loh. Lagian mau sampai kapan kalian diem di sini!" gerutu Theo sambil merebut nampan berisi makanan yang di bawa Rima.


"Eh ... Eh Ka! Biar aku aja," seru Rima hendak menolak.


"Udah buruan jalan, keburu bel masuk nanti," jawab Theo datar.


Keduanya berjalan takut-takut menuju ke meja geng Knight's. Ayu duduk berhadapan dengan Rima. Di mana Rima duduk bersebelahan dengan Andi, dan Ayu dengan Theo.


Andi tak merasa terkejut dengan gadis yang duduk di sebelahnya.


Rima yang merasa gugup lantas berbasa-basi menawari Andi dan yang lainnya.


"Makan Ka?" ucapnya sambil memandang yang lainnya.


Andi lantas meliriknya sambil meletakan ponselnya ke meja.


"Lu nawarin Gue?" tanya Andi dengan senyum miring.


"Hah?" Rima terkejut saat hendak menyendok makanan ke mulutnya.


"Ka-kakak Mau?" tawarnya.


"Boleh kalau di suapin," ucapnya yang mengundang gelak tawa teman-temannya.


"Njir! Gercep cuy, sikat Rim," suara Noval ikut bersorak melihat keduanya.


Luke hanya mendengus tak memedulikan kelakuan teman-temannya pada gadis itu.


"Aku belikan lagi aja ya Ka?" tawar Rima.


Tiba-tiba Andi menyentuh pipi Rima dengan punggung telunjuknya.


"Cantik," ucapnya pelan.


Gyan sampai harus menyemburkan jus alpukatnya kala melihat kelakuan Andi.


"Geli banget sumpah! Lu masih waras kan Ndi?" gerutunya sambil memegang dahi Andi.


Andi menyentak kasar tangan sahabatnya dengan keras.


"Kamvret!"


Dia kembali menatap ke arah Rima, "ayo dong Aaaa?" sambil membuka mulutnya.


Rima mendengus, mau tak mau dia menyendokkan makanan ke mulut Andi.


Sorak ketiga kawan Andi semakin terdengar riuh hingga mengundang rasa penasaran seorang gadis yang baru saja datang.


Tubuhnya langsung kaku saat melihat pemandangan yang sangat menyakitkan di depannya.


Lelaki idamannya tengah duduk bersama dengan gadis yang sejak kemari dia kerjai. Bahkan keduanya terlihat sangat dekat dengan Rima yang menyuapi Andi.


Setelah tak tahan dengan pemandangan itu, Vira pun segera mendekati mereka semua.


"Apa-apaan ini Ndi!" serunya kesal.


Andi hanya menaikkan sebelah alisnya bingung dengan kedatangan Vira.

__ADS_1


"Kenapa Lu?" cibirnya.


"Yah anak setan ganggu aja dah!" gerutu Theo melihat Vira.


"Ini sekolah Ndi! Kenapa kamu melakukan hal kaya gini!" makinya tak terima.


"Emang kita ngapain?" jawab Andi sinis.


Vira lantas menatap Rima dengan nyalang, sungguh rasa cemburu sudah membakar emosinya saat ini.


"Kamu!" tunjuknya pada Rima. Membuat Rima mendongak menatapnya takut-takut.


"Iya Ka?" jawab Rima lirih.


"Mending Lu pergi deh Vi! Bikin enek aja tau ngga!" sela Andi yang mulai kesal.


"Ngga bisa, anak baru ini harus tau, ngga boleh pacaran di sekolahan! Murahan banget sih lu!" makinya pada Rima.


Rima yang merasa di hina karna di sebut murahan bergegas meninggalkan meja Andi.


Andi ingin menyusul kepergian Rima tapi di cegah oleh Vira.


"Kita belum selesai Ndi!" ucapnya santai.


Andi lantas menyentak tangan Vira kasar. "Dari kemarin Gue berusaha sabar ngadepin Lu!" tunjuknya tepat wajah Vira.


"Tapi kayaknya Lu semakin ngelunjak ya! Breng*seknya lagi, lu berani hina Rima di depan Gue. Emang lu pikir lu siapa Hah!" seru Andi di depan wajah Vira.


Tatapan tajam pemuda itu membuat nyali Vira menciut. Bahkan dia sedikit memundurkan langkahnya.


"A-aku kan ke-ketua Osis Ndi, jadi wajar aku menegur dia," jawabnya gugup.


"Lu, berurusan sama Gue kalau sampe Rima marah!" ancamnya lantas berlalu pergi dari sana di ikuti rekan-rekannya.


Luke berhenti di depan Vira. Pemuda dengan wajah datar itu lantas berbisik di sebelah Vira.


"Cara lu justru bikin Andi semakin jijik!" ucapnya telak.


Vira memejamkan matanya sambil mengepalkan tangan. Lagi-lagi dia merasa di rendahkan oleh mereka.


Suara bisik-bisik langsung terdengar oleh Vira. Dia yakin dirinya akan jadi bahan gosip satu sekolah.


"Mending kalian makan! Ngga usah kepo urusan orang!" bentaknya asal.


Rima sendiri sudah menangis di dalam kelas. "Aku murahan ya Yu?" tanyanya di sela tangisan.


"Lah enggak, emang Ka Andi pacarnya si Vira? Bukan kan? Lagian aneh banget sih tuh ketua osis dateng-dateng marah-marah ngga jelas," gerutu Ayu.


"Udahlah ngga usah di pikirin, gimana kalau kita entar nonton? Asyik pasti. Lupain ucapan orang yang lagi cemburu itu," pinta Ayu.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mendengar obrolan mereka dan tersenyum menyeringai.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2