
Kepala Nina sangat sakit saat dia mencoba membuka mata.
"Aduh!" keluhnya.
Setelah bisa menyesuaikan pandangannya, dia mengerjap bingung karena berada di tempat yang sangat asing.
Ingatannya kembali pada ke kejadian buruk semalam, dia kembali terisak, berbagai pikiran buruk hinggap di benaknya5.
Dia merasa kotor dan hina saat ini oleh sebab itu tangisan Nina semakin kencang, hingga membuat orang yang berada di luar kamar menghampirinya.
"Kamu udah sadar?" tanya Mulya lembut.
Mata Nina membola, dia lalu meringkuk ketakutan karena merasa asing dengan Mulya.
Namun saat menelisik ruangan ini, dia merasa ada yang berbeda dengan ruangan saat malam Budi ingin melecehkannya.
Mulya tau jika wanita di depannya masih syok, jadi dia tidak mendekat dan tetap memberi jarak.
"Tenang, kamu aman sekarang, Budi belum melakukan hal keji sama kamu," jelas Mulya.
"Ka-kamu siapa? Aku di mana?" tanya Nina lirih.
Dia takut jika Mulya adalah salah satu komplotan Budi.
"Saya bawakan kamu minum dulu ya, baru nanti kita bicara," ujar Mulya.
Namun belum melangkah pergi, Nina menghentikannya. "Sekarang jam berapa? Aku harus pulang, anakku pasti akan cemas mencariku," pinta Nina sambil terisak.
"Kamu tenangkan diri dulu dan jangan gegabah kalau kamu masih mau selamat," ucap Mulya memberitahu.
Setelah itu dia kembali melanjutkan langkahnya untuk membuatkan Nina suguhan.
Samar Nina mendengar suara percakapan dua orang, meski tak tau apa yang mereka bicarakan. Nina mencoba bangkit tapi gagal, tubuhnya terlalu lemah.
Namun Nina tak patah semangat, dia kembali mencoba bangkit, sayangnya hal itu justru membuatnya terjatuh.
Mulya dan seorang wanita paruh baya terkejut mendengar suara benda jatuh dari kamar Nina hingga keduanya bergegas menghampiri wanita yang malam tadi hendak menjadi korban pelecehan.
"Ya Allah Nduk," pekik wanita paruh baya tadi sambil bergotongan dengan Mulya mengangkat tubuh Nina.
"Saya mau pulang, tolong saya, saya harus ketemu anak saya," rasa cemas Nina tak terkira, dia takut Budi akan nekat mencelakai anaknya karena rencananya yang ingin menyakiti dirinya gagal, Nina justru selamat.
Mulya dan wanita paruh baya itu saling melempar pandangan bingung.
Wanita paruh baya tadi memilih meninggalkan keduanya, karena harus menjaga Cantika.
"Mbak harus pulih dulu, baru nanti kita pulang, mbak harus tenang, supaya nanti mbak bisa menghadapi serangan yang lain," jelas Mulya.
Nina mengernyit bingung, serangan yang lain? Apa maksudnya, siapa dia, apa dia tau rencana Budi selanjutnya? Batin Nina berkecamuk.
"Mbak pasti penasaran siapa saya? Dan kenapa mbak bisa ada di sini?" tanya Mulya menebak pikiran Nina.
__ADS_1
Nina mengangguk patah-patah, ingin berterima kasih tapi ia masih ragu.
"Kenalkan saya Mulya. Saya ... Istri dari Budi," terangnya sambil menghembuskan napas.
Nina kembali di kejutkan dengan fakta lain tentang siapa wanita di hadapannya ini.
Budi memang pernah bercerita kalau dia memiliki mantan istri. Namun dia berkata jika mantan istrinya kabur dan membawa anak mereka.
Nina tak pernah bertanya lebih jauh karena merasa masa lalu seseorang bukanlah sesuatu yang harus di korek.
"Kenapa? Kelihatannya kamu ngga terlalu terkejut, apa Budi pernah menceritakan saya?" tanya Mulya dengan senyum tersungging.
Lagi-lagi Nina hanya mengangguk. Mulya lalu memberikan secangkir teh hangat untuk Nina.
Dia sempat ragu karena jujur Nina masih bingung dengan situasinya.
"Ngga usah takut, saya ngga mungkin mencelakakan kamu. Justru sayalah yang menyelamatkan kamu," jelas Nina.
Akhirnya Nina meminum suguhan Mulya, bagaimana pun dia memang merasa kehausan.
Nina meminum tehnya hingga tandas tak tersisa, dia bahkan tersipu malu, sebab tadi menolak, tapi setelahnya justru menghabiskannya.
Mulya tersenyum lalu hendak akan mengambilkan kembali minuman untuk Nina.
"Enggak usah Mbak, terima kasih," tolak Nina yang tau tujuan Mulya.
Mulya kembali duduk di sisi ranjang Nina dan memberikan piring berisi makanan untuk Nina.
Kali ini Nina tidak menolak, dia menerima piring berisi lauk sederhana berupa sayur bayam dan tempe goreng saja.
Nina tetap bersyukur bahwa saat ini dia selamat dari cengkeraman Budi. Dia masih tak menyangka lelaki yang dulu dia kenal santun ternyata memiliki sifat yang sangat keji.
"Jangan menangis, kamu harus segera pulih, bukannya kamu mau segera pulang?"
Nina lalu mengangguk patuh, dia makan dengan cepat, karena ingin segera bertemu dengan Rima.
"Pelan-pelan saja, nanti malah kamu tersedak," Mulya tertawa melihat tingkah Nina yang patuh seperti anak kecil.
Setelah menghabiskan makanannya, Nina lalu berterima kasih dan ingin mengetahui apa yang di maksud Mulya dengan rencana Budi yang lain.
Dia harus waspada, karena bisa jadi Budi akan semakin licik setelah dia gagal melecehkannya.
"Kenapa kamu bisa menyelamatkan aku?" tanya Nina waspada, sebab seingatnya kawasan bangunan semalam kosong dan sepi, jadi dia bingung mengapa Mulya bisa berada di sana.
Mulya menarik napas sebelum menceritakan tentang kejadian semalam.
"Aku tinggal di belakang bangunan kosong itu. Namun sekarang aku harus pindah karena aku yakin Budi pasti akan menemukan kami," jelasnya.
Nina semakin bingung dengan ucapan Mulya. Mengapa dia harus menghindari Budi? Apa karena dia memiliki kesalahan yang sangat fatal.
"Apa benar kata mas Budi kalau kamu membawa kabur anak kalian?" tanya Nina penasaran.
__ADS_1
Bukan maksud ikut campur, hanya saja dia ingin tau apa tujuan Mulya menyelamatkannya.
"Memang apa aja yang udah di ceritakan mas Budi sama kamu?" cecar Mulya.
Senyuman wanita ramah itu tak lepas dari wajahnya. Sorot matanya memancarkan luka yang begitu dalam menurut Nina.
Nina yakin Mulya bukan wanita jahat, tapi dia tetap harus waspada karena Nina tak mengenal Mulya sebelumnya.
"Maafkan aku mbak Mulya. Saya Nina," ujar Nina mengenalkan diri.
"Saya tau siapa kamu," jawab Mulya sambil tersenyum.
Nina membalas dengan kikuk. "Apa mbak sengaja membawa kabur anak mbak?" ulangnya.
"Begitukah yang di ceritakan Budi sama kamu?" tanya Mulya dengan tatapan menerawang.
Nina hanya mengangguk, hanya itu yang dia tau, sebab Budi tak pernah menceritakan masalahnya dengan mantan istrinya.
"Saya ini masih sah istri Budi. Kami belum bercerai. Justru dia yang berniat melenyapkan saya dan Cantika," jelas Mulya.
Nina terkesiap, dia tak menyangka Budi sekejam ini. Namun dia juga ingat perlakukan Budi padanya, jadi kemungkinan cerita Mulya benar adanya.
"Kenapa begitu mbak?"
"Karena Budi berniat menguasai semua harta aku. Kamu tau toko mebel itu dan rumah yang di huni oleh Budi dan keluarganya adalah milikku, murni milikku, warisan dari almarhum suamiku, ayah kandung Cantika," jelas Mulya.
"Jadi anak yang di katakan mas Budi bukan anak kalian?"
Mulya menggeleng, "sama seperti kamu, aku juga seorang janda. Bodohnya aku terpikat dengan Budi dan rela melakukan apa saja untuknya. Bahkan menyerahkan semua hartaku untuk lelaki seperti dia."
Nina semakin mengerti dengan kegigihan Budi dan keluarganya mendekati dirinya.
Dia yakin Budi punya niat yang sama seperti yang dia lakukan pada Mulya, menjerat dirinya dan ingin menguasai hartanya.
Beruntungnya Nina tak terjerat dengan pesona yang di lancarkan Budi untuk merayunya.
"Kamu pemilik toko haji Mursih bukan?" tanya Mulya.
"Iya mbak, kok mbaknya bisa tau?" Nina pikir selama ini istri dari Budi itu kabur entah ke mana, tapi saat Mulya tau siapa dirinya, tentu saja Nina cukup terkejut.
"Sebenarnya aku selalu mengawasi Budi, sepertinya kamu belum sempat terkena guna-guna dari keluarga Budi, makanya kamu bisa selamat dari jeratannya," jelas Mulya.
Nina tentu saja semakin terkejut karena demi melancarkan niatnya bahkan Budi rela melakukan ilmu hitam dengan menggunakan guna-guna.
.
.
.
Tbc
__ADS_1