
Setelah kepulangan Rima, gadis itu justru tengah merasa risau di kamarnya. Hatinya tak nyaman entah karena apa dia sendiri pun tak tau.
Pasalnya, ingatannya selalu mengulang percakapan antara Andi dan gadis yang di panggil 'Ra' itu.
"Apa Ka Andi akan bertaruh untuk dia ya?" monolognya.
Saat pikirannya sendiri sedang kacau, Nina tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya. Jelas wanita yang sudah melahirkan Rima itu butuh kejelasan dari putrinya.
"Boleh Ibu masuk Rim?" tanyanya dari balik pintu.
"Masuk Bu," jawab Rima.
Nina masuk dan tersenyum melihat sang putri yang tengah bersiap untuk tidur.
"Kamu mau cerita sama Ibu?" pinta Nina lembut.
Dia tak mau memaksa Rima. Dia juga yakin Rima dan Andi adalah anak-anak baik yang tak akan melakukan hal di luar batas.
Lagi pula dia tak melihat perubahan sikap Rima. Hanya saja dia harus terus berjaga-jaga dan tak mau kecolongan.
"Maafkan Rima yang ngga bilang kalau pergi dengan Ka Andi. Tapi Ka Andi jujur kok Bu, kita emang ketemu di luar, ngga janjian, lalu pergi bersama aja," ucap Rima jujur.
"Kenapa kamu ngga bilang? Takut ibu larang atau apa?" heran Nina.
Rima membuang pandangannya, salah satunya memang itu. Saat itu Rima yakin kalau sang ibu pasti akan memintanya pulang jika tahu dia sedang pergi dengan Andi.
Sedangkan dia butuh menenangkan diri setelah mendengar percakapan ibunya dan lelaki yang bernama Ahmadi.
"Apa ibu mau menikah lagi?" tanya Rima tiba-tiba yang membuat Nina diam seketika.
Nina yakin kalau putrinya mendengar percakapannya dengan Ahmadi lalu memilih pergi.
Dia tak bisa membiarkan hal seperti ini terulang lagi. Jujur dia tak suka dan takut kalau Rima akan terjerumus ke hal-hal negatif karena pikirannya sendiri.
"Kamu pergi karena mendengar obrolan kami?" cecar Nina.
Rima mengangguk. Dia tidak pernah ingin berbohong pada ibunya, oleh sebab itu dia memilih membicarakan masalah ini dengan sang ibu.
Itu juga dia lakukan sebagai pengalihan dari rasa tak nyaman yang Rima rasakan tentang obrolan Andi dan teman wanitanya.
"Kamu ngga perlu pergi kalau mendengar atau melihat sesuatu yang tak nyaman Rima. Untung kamu ketemu Andi, kalau kamu ketemu orang-orang jahat kaya dulu gimana?" sambung Nina penuh penekanan.
Jujur dia agak sedikit kecewa dengan sikap Rima yang seperti ini. Namun dia tak bisa menyalahkan Rima sepenuhnya, sebab Rima memang sedang berada di fase remaja yang tengah mencari jati diri.
"Udah Ibu bilang berapa kali, ngomong apa yang kamu rasakan, jangan pergi ngelantur seperti tadi. Ibu jadi khawatir dan ngga suka."
__ADS_1
Rima menunduk, dia tahu yang dirinya lakukan memang salah. Bukan hanya Nina, Andi pun mengatakan yang sama dengannya.
Dirinya menyesal karena terlalu gegabah tadi. Dia tahu apa yang di khawatirkan sang ibu dan Andi kalau saja dia bertemu dengan orang jahat karena keluyuran seperti tadi.
Melihat putrinya yang menunduk sedih, Nina memilih tak melanjutkan ucapannya lagi.
Dia memeluk Rima dan membuat gadis itu terisak. "Maafin Rima Bu."
"Sudah-sudah. Yang penting jangan kamu ulangi lagi ya!" pinta Nina tegas dan di jawab anggukan oleh Rima.
"Jadi apa Ibu sudah terima lamaran Om Ahmadi?" Lanjut Rima penasaran.
"Kalau kamu emang ngga suka sama lamaran Om Ahmadi, ibu ngga papa. Bagi ibu yang penting itu kamu Nak," jawab Nina dengan nada sedikit sendu.
Dia tak bisa memaksa Rima untuk menerima keputusannya menikah lagi. Bukankah dia sudah mengatakan kepada Ahmadi kalau dia juga harus menanyakan persetujuan Rima?
Kalau Rima menolak, tentu dia tak bisa apa-apa. Baginya Rima adalah segalanya.
"Menikahlah Bu, kalau itu membuat ibu bahagia. Tapi Rima mohon jangan lupakan Rima," jawab Rima akhirnya.
Kedua wanita beda usia itu menangis sambil berpelukan dengan penuh haru. Setelah memikirkannya, Rima memilih membiarkan sang ibu memiliki masa depan baru lagi dengan Ahmadi.
Asalkan sang ibu bahagia, baginya tak masalah. Dia hanya berharap sang ibu tak akan melupakan ayahnya.
.
.
Seorang gadis dengan pakaian ketat tengah memegang layer dan mengangkat tinggi tangannya.
"Siap?" aba-aba gadis itu melirik satu persatu pengendara yang sedang memainkan gas mereka.
Sorak sorai di pinggir jalan membuat keadaan semakin ramai.
Banyak yang mendengungkan nama Andi dan juga Mario karena menjagokan keduanya.
Tak lama, gadis pembawa layer di tengah-tengah itu menurunkan tangannya membuat kedua pengendara motor itu menancapkan gasnya.
"Vangke! Ke mana sih Luke? Molor lagi tuh orang? Lagi kaya gini ngilang aja tuh orang!" gerutu Noval.
Clara yang berada di tengah-tengah kawanan itu hanya bisa menggigit kukunya khawatir. Dia berdoa dalam hati semoga Andi bisa memenangkan dirinya.
Bukan hanya karena balapan ini semata, dia ingin mengukuhkan posisinya pada semua orang kalau dirinya lah yang pantas mendampingi raja jalanan itu.
"Napa lu? Gugup? Cih! Cari penyakit aja sih, tau Andi baru sembuh, lu malah nyerahin diri buat taruhan!" gerutu Theo melihat kegugupan Clara.
__ADS_1
Tak ada satu orang pun yang senang dengan penjelasan Clara kemarin. Gadis bodoh yang mengumpankan dirinya sendiri entah dengan tujuan apa pikir mereka.
Namun sungguh, keputusan Clara bukannya menyulut kegembiraan mereka justru membuat mereka kesal.
Clara tau apa yang di lakukannya seperti bumerang, tapi dia tak tahan karena sepertinya Andi selalu mengabaikannya dan tak peka dengan segala perhatiannya.
Dia yang sejak dulu dekat dengan Andi, tapi pemuda itu hanya menganggapnya sebatas teman.
Terlebih lagi, Andi justru membawa gadis yang tak pernah dia pikirkan adalah tipe seorang Andi.
Clara tak tahan dengan hal itu, makanya dia mengambil jalan pintas untuk menjadi bahan taruhan.
Meski keputusan itu dia ambil sebelum Andi membawa gadis itu ke bascame mereka.
Momennya juga sangat pas di mana Mario yang juga mengejar-ngejar dirinya bisa dia manfaatkan.
"Eh Yan! Coba telepon Luke di mana sih!" gerutu Noval yang cukup was-was.
"Paling dia ada di ujung jalan, mastiin semuanya aman. Kaya ngga tau aja sih Lu!" jelas Gyan santai.
Luke memang selalu berada di jalan lain setiap kali Andi melakukan balap liar. Dia memastikan Andi aman di jalan yang lain, mereka memang terkadang membagi tugas masing-masing saat balapan.
Tak lama sorot lampu dari dua pembalap mulai terlihat. Jantung Clara semakin berdebar tak karuan karena terlihat sekali kalau keduanya saling menyalip dengan posisinya berdekatan.
Beruntung motor Andi menyentuh garis finis terlebih dahulu. Clara bernapas lega dan ketiga sahabat Andi mendekati pemuda itu.
"Gila men, ngga nyangka lu jago juga!" ucap suara seseorang dari arah belakang.
Keempat orang itu lantas menoleh dan terkejut karena yang berbicara adalah Andi. Lantas mereka memikirkan hal yang sama, yaitu menebak siapa yang tadi melakukan pertandingan.
Pemuda yang mengendarai motor Andi dan melakukan tanding dengan Mario lantas membuka pelindung kepalanya.
Mereka tambah terkejut kala mengetahui orang yang sejak tadi menjadi obyek pembicaraan karena keberadaannya yang tak di ketahui.
"LUKE!!" seru ketiga sahabatnya tak percaya.
Hanya Clara yang justru bergeming sambil menutup mulutnya tak percaya.
"Weh gila! Ada apa nih? Kalian ngga asyik, maennya rahasia-rahasiaan!" gerutu Noval.
.
.
.
__ADS_1
Tbc