
Ternyata Titik mengajak keluarganya pindah ke rumah Nina. Dita sendiri takut jika mereka nanti akan kembali di usir oleh Nina.
Titik menenangkan anaknya dengan berkata jika dia masih sah menjadi istri Dibyo, jadi mau tak mau, suka tak suka Nina harus menerima mereka.
Tyas sendiri tak peduli, jika nanti harus melawan Nina dia juga siap. Karena dia berencana ingin menguasai rumah Nina.
Saat mereka datang, rumah Nina masih dalam keadaan sepi. Terpaksa mereka menunggu di teras dengan barang-barang yang menumpuk di halaman rumah Nina.
Jujur dalam lubuk hati Titik dia merindukan suasana rumah ini. Rumah yang dalam tiga tahun terakhir dia huni bersama sang suami dengan kehidupan yang sangat tenteram dan damai.
Ia ingat tak harus pusing dengan kebutuhan dan juga memiliki pembantu gratis yaitu Rima.
Itu dulu, kini dia hanya bisa gigit jari karena hidupnya seakan kembali seperti semula, bahkan bisa di bilang lebih buruk.
Saat sedang melihat-lihat rumah Nina, berharap ada cela untuknya masuk, tak lama justru terdengar suara mobil berhenti di depan rumah Nina membuat Titik dan yang lainnya menoleh.
Hanya Tyas yang masih sibuk dengan ponselnya dan tak memedulikan kelakuan keluarganya.
"Apa-apaan kalian!" pekik Nina.
Bu Wingsih dan Pak Prapto ikut mendampingi Nina. Mereka terkejut dengan keadaan rumah Nina yang tampak penuh sesak dengan barang-barang perabotan.
"Mana bapak Nin?" tanya Titik ramah.
"Kalian mau apa di rumahku!" sentak Nina lagi tak menghiraukan pertanyaan Titik.
Dita yang sudah tau apa yang harus di lakukan, lalu melaporkan pada Rt. Agus untuk meminta pertolongan.
Keduanya lantas datang dengan terburu-buru, karena takut Nina keburu mengamuk.
"Mbak Nina sabar dulu, sebaiknya kita bicarakan di dalam gimana?" pinta Agus.
"Ngga bisa, saya mau mereka segera enyah dari hadapan saya pak. Saya lelah," jelas Nina.
"Maaf Nina, ibu terpaksa meminta bantuanmu. Ibu mohon kamu mau menerima kami. Paling enggak, ibu ini masih istri bapakmu, mana bapakmu?" tanya Titik lagi.
"Bukan urusan Bu Titik di mana bapakku! Aku sedang tak ingin mendengar drama kalian, sebaiknya kalian pergi dari sini!" usir Nina lagi dengan tegas.
"Ngga bisa Nina! Ibu ini berhak tinggal di sini, karena suami ibu juga di sini!" tolak Titik.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu sudah berusaha sabar menghadapi Nina, tapi rupanya tak di sambut baik oleh anak tirinya, jadilah dia saat ini melawan Nina.
"Heh, Bu Titik dengar ya, bapak udah ngga ada di sini, jadi sebaiknya kalian pergi. Pak Rt tolong usir mereka. Aku heran dengan bapak, aku ini warga bapak, tapi kenapa bapak selalu membela dia. Saya bisa melaporkan kelakuan bapak ingat itu!" ancam Nina.
Agus terjepit, di satu sisi dia sudah menerima uang dari Titik, di sisi lain jabatannya jadi taruhan.
Dulu dia sempat di beri teguran oleh kepala desa, kalau dia kembali melakukan kesalahan, maka jabatan sebagai ketu Rt akan di gantikan orang lain dan Agus tak mau itu terjadi.
"Tenang Mbak Nina, bukan begitu maksud saya, ayo kita bicara, baik-baik, jangan teriak-teriak dulu ya," usul Agus lagi.
Dia masih berusaha menangkan situasi yang mulai panas.
"Bapak ini gimana toh, Mbak Nina ini yang punya rumah ngga mau ngomong apa-apa lagi, kok malah dipaksa. Ini udah melanggar ketenangan, bapak bisa kerja ngga? Kalau engga biar mas Prapto panggil pak Rw," sela Wingsih.
"Eh Wingsih, kamu diam aja ngga usah ikut campur! Ini urusan kami," balas Titik.
Rima jadi ikutan tertahan karena Nina belum juga membuka pintu rumah mereka. Dia tau karena sang ibu tak ingin keluarga neneknya akan ikut masuk nantinya.
Dia harus bersabar, meski tubuhnya sangat lelah, karena habis menempuh perjalanan jauh.
Melihat Rima yang tampak lelah, akhirnya Wingsih berinisiatif mengajak Rima untuk pulang ke rumahnya.
"Saya bilang enggak ya enggak Bu Titik, pergi sekarang sebelum saya telepon polisi!" ancam Nina lagi.
"Nina, ibu ini masih istri bapak kamu, sekarang di mana bapakmu? Jangan-jangan kamu beneran membawa dia ke panti jompo ya! Dasar anak durhaka!" maki Nina.
"Bapak saya itu urusan saya," jawab Nina jengah.
Tak lama Prapto datang kembali bersama ketua Rw dan pak Dodi yang dulu menjadi saksi perceraian Dibyo dan Titik di rumah sakit.
"Ada apa ini Bu Titik dan mbak Nina?" tegur ketua Rw.
Agus kembali gusar karena Prapto dan Wingsih benar-benar melaporkan kejadian ini pada aparat desa.
"Saya hanya mau numpang di rumah ini pak Rw, bapak kan tau kalau saya di usir oleh Bu Berta! Tapi Nina menolak, saya ini masih sah jadi istri pak Dibyo loh!" jelas Titik mengiba.
Nina memutar bola mata malas mendengar drama Titik. Sedari tadi Dita dan Tyas masih diam saja, karena mereka belum mau turun tangan.
"Maaf Bu Titik, kalau mbak Nina keberatan, ya jangan di paksa, lagi pula ibu ini datang tanpa pemberitahuan kan? Makanya Mbak Nina marah, sebaiknya Bu Titik pergi dari pada mencari keributan dengan mbak Nina," pinta Pak Rw menengahi.
__ADS_1
"Kok pak Rw begitu, kami ini masih keluarga Nina, masa ngga bisa kasih kami waktu barang sehari untuk menumpang? Kami janji besok juga kami pindah," sela Tyas yang akhirnya ikut bicara.
Nina benar-benar muak menghadapi keluarga Titik yang masih kekeh mendebatnya. Ketua Rw sampai pegawai desa bahkan geleng-geleng kepala mendengar pembelaan diri mereka.
Dengan terpaksa, pak Rw mengancam akan menelepon kepolisian karena mereka di anggap mengganggu kepentingan umum.
"Kok pak Rw, malah membela Nina sih! Lalu kami harus tinggal di mana sekarang!" pekik Tyas frustrasi.
Bahkan Ziva sudah terisak mendengar perdebatan keluarganya dan budenya.
Sesungguhnya dia tak mau lagi di ombang-ambingkan sepeti ini, pergi tanpa tau tujuan akan ke mana.
Andai saja dia masih berteman dengan Dini, dia pasti sudah meminta bantuan temannya itu agar mau menampungnya.
Sayangnya dia harus kehilangan satu-satunya teman yang peduli padanya, meski Dini juga yang menjerumuskan dirinya ke lembah kenistaan.
Adu mulut para orang dewasa telah menghantam kejiwaannya. Dia baru tau ternyata keluarganya sangat lah di cap buruk oleh lingkungan sekitar.
Titik tetap bersikukuh tak mau pergi, hingga terpaksa Pak Dodi memerintahkan salah satu warga untuk mengambil becak motor kelurahan untuk mengangkut barang-barang milik Titik dan keluarganya.
"Bu Titik bisa tinggal di pos dekat masjid, jadi jangan membuat keributan lagi. Kalau tidak, kami akan mengusir kalian secara paksa!" ancam Dodi.
Terpaksa Titik menurut karena melihat para warga sudah mengerubungi mereka.
Titik tak ingin dia di arak lalu di usir secara menyedihkan dari desa ini. Dia menatap berang Nina yang tega tak mau menerimanya.
"Nin tolonglah, aku lagi hamil, aku bisa stres kalau tertekan begini, apa sebagai perempuan kamu ngga punya rasa iba?" ucap Tyas mengiba.
Namun sayang, Nina tak terpengaruh, dia tak mau menyimpan sumber penyakit dalam rumahnya.
Lebih baik dia tegas sekarang dari pada nanti menyesal.
Nina diam bergeming, terpaksa Tyas mengikuti sang ibu yang sudah terlebih dahulu meninggalkan rumah Nina sambil meludah ke arahnya.
"Bude, apa ngga bisa aku tinggal di sini?" kini giliran Ziva yang merengek.
.
.
__ADS_1
.
Tbc