
Mantan mertua Nina yang tau gelagat mantan menantunya seperti enggan bertemu dengannya, sengaja dia menggandeng Rima ke rumahnya.
Nina terkejut kala mereka meninggalkan dirinya seorang diri saat tengah melamun tadi.
"Bu, Rima!" panggilnya kesal. Nina lalu berlari kecil mendekati keduanya.
"Kamu ini di deket kuburan kok melamun Nin, kesambet baru tau rasa!" gurau mantan ibu mertua Nina.
Nina hanya mendengus kesal, "naik mobil aja Bu, aku ke sini sama—" ucapan Nina di potong oleh mantan mertuanya.
"Sama siapa? Kamu ke sini sama siapa Nina! Jangan-jangan kamu mau menikah lagi ya?" cecar mantan mertua Nina.
"Ya Allah Bu, kalau aku lagi ngomong makanya di dengerin dulu jangan main sambar aja!" jawab Nina kesal.
Nina lalu menjelaskan jika dia datang bersama seorang sopir, oleh sebab itu mereka harus memberitahu sang sopir kalau tidak nanti sopir itu mencari mereka.
"Oh maaf Na, ibu pikir kamu bawa calon suami baru, ingat loh ibu ngga rela kamu bawa lelaki lain ke makam Handoko. Bahkan kalau perlu kamu ngga usah menikah lagi Na, ibu takut Rima ngga keurus nanti," cerocos mantan mertuanya.
Nina hanya memutar bola matanya malas, itu yang paling dia benci dari sang mertua, selalu ikut campur urusannya.
"Sudahlah Bu, ayo ke sana!" ajak Nina mendekati mobil sewaannya.
Setelah masuk ke dalam mobil, hanya Rima yang berbincang dengan neneknya.
Nina sendiri hanya menyahuti sekedarnya jika di tanya.
Untunglah Rima tak mengatakan jika kini dia sudah memiliki usaha sendiri, sungguh Nina tak ingin keluarga mendiang suaminya tau tentang kehidupannya sekarang.
Begitu mereka turun, Nina terkejut karena mendengar suara erangan. Terdengar sangat menyayat hati.
Rima bahkan memegang lengan sang nenek erat karena takut.
"Tenang aja, itu suara tantemu," ujar nenek Rima lirih.
Nina penasaran lantas mencari sumber suara. Ternyata di samping rumah mantan mertuanya ada sebuah gubuk, jika di lihat dari jalan raya tadi memang tak terlihat, karena tertutup oleh rumah tetangga depan mereka.
Rumah mantan mertuanya memang agak masuk ke dalam, hingga menyisakan halaman yang cukup luas.
Itu karena ayah Handoko dulunya memiliki beberapa truk untuk mengangkut pasir. Penghasilan utama keluarga Handoko dulunya adalah penjual pasir.
Sekarang, tak ada satu pun Nina lihat truk-truk itu ada di halaman.
__ADS_1
Gubuk yang terbuat dari bambu itu adalah tempat orang tua Handoko mengurung Lala, anak mereka yang depresi.
Dari celah-cela pintu yang dibuat dari bambu, Nina melihat seorang gadis dengan penampilan yang sangat menyedihkan tengah di pasung. Sesekali gadis itu tertawa lalu menangis.
Nina terenyuh melihat penampilan Lala, dia merutuki mantan mertuanya yang tega memperlakukan putri bungsunya seperti binatang menurutnya.
Saat mendekat, refleks Nina menutup hidungnya karena bau di dekat sana sangat menusuk hidungnya. Bahkan dia ingin muntah, bau pesing bercampur kotoran benar-benar sangat mengganggu Nina.
Dia tak menyangka gadis yang dulu selalu berpenampilan menarik jadi seperti ini.
Kulitnya hitam legam, rambutnya acak-acakan, pakaiannya campang camping.
"Ya Allah, kamu itu kenapa La?" gumamnya.
"Lala depresi Na," jawab ibunda Handoko mengejutkan Nina.
Nina tersentak lalu mengusap dadanya. Dia bahkan memaki dalam hati mantan mertuanya itu yang bisa berjalan tanpa terdengar suara langkahnya.
"Kenapa ngga di rawat di rumah sakit jiwa aja Bu?" tanya Nina.
Namun setelah itu dia menyesal, harusnya dia tak perlu tau urusan keluarga mantan mertuanya.
"Kami di tipu Na. Lala yang malu karena udah terlanjur sesumbar akan bekerja di instansi pemerintahan merasa tertekan karena ejekan teman-temannya," jelas ibunda Handoko.
"Ini semua memang salah mereka, kalau aja mereka ngga mengejek Lala, pasti Lala ngga aka depresi!" ucap ibunda Handoko geram.
Nina sudah biasa mendengar jika sang mertua memang tak pernah mau merasa salah. Padahal sudah jelas tadi dia mengatakan kalau anaknya yang sesumbar, setelah salah, mereka merasa korban karena di perolok orang-orang.
"Nin, kamu ngga kasihan sama Lala?" tanya ibunda Handoko penuh harap.
"Ya kasihan Bu, tapi aku bisa apa? Bantu biaya? Jelas ngga mungkin, aku masih punya Rima yang masa depannya masih panjang, apalagi aku single parent," jelas Nina panjang lebar, sebab dia tau apa yang diinginkan mantan mertuanya.
Apalagi kalau bukan uang.
Ibunda Handoko memberengut kesal mendengar jawaban Nina. Namun Nina tak peduli, di lantas berlalu hendak menyusul Rima di dalam kediaman mantan mertuanya.
Di ruang tamu sudah ada bapak mertua, kakak serta ipar Nina dan anak mereka yang seumuran dengan Rima.
"Dek Nina," sapa kakak ipar Nina dengan mata berbinar.
Nina mendengus pelan, perempuan yang seumuran dengannya ini adalah seorang ular berbisa. Dulu dia adalah mantan kekasih Handoko.
__ADS_1
Namun karena silau akan harta dan latar pendidikan yang bagus, dia terjerat oleh kakak kandung Handoko yang sekarang menjadi suaminya.
Kala itu kakak pertama Handoko memanglah seorang pegawai dan berpendidikan tinggi. Berbeda dengan Handoko yang hanya lulusan sekolah menengah atas dan hanya bekerja sebagai buruh pabrik.
Namun nasib baik ternyata hinggap di kehidupan Handoko, dia meniti kariernya dari bawah hingga bisa menjadi HRD di pabriknya setelah menikah dengan Nina.
Sedangkan sang kakak, yang pada dasarnya memiliki sifat pemalas akhirnya justru di pecat setelah menikah dengan mantan kekasih Handoko yang kini menjadi kakak iparnya.
Nina ingat betul bagaimana kakak iparnya ini mencoba merayu suaminya agar bisa kembali padanya.
Beruntung Handoko tak pernah terjerat oleh rayuannya. Makanya dulu Nina sangat malas jika berkunjung ke kampung mertuanya, karena sering merasa kesal dengan sikap kakak iparnya pada sang suami.
Kakak ipar Nina lalu memeluk Nina. Penampilan wanita itu juga tak seperti dulu saat keluarga mertuanya masih berjaya.
Nina heran, orang tua mendiang suaminya sangat perhatian pada kakak dan adik suaminya tapi tidak pada Handoko.
Suaminya seperti sapi perah yang justru harus menjadi tulang punggung keluarga, bukan anak pertama mereka.
"Apa kabar Nin? Kamu makin cantik setelah kerja di luar negeri. Mbak jadi berharap bisa ikut kerja di luar kaya kamu," ucap kakak iparnya.
Nina hanya membalas dengan senyuman lalu duduk bersebelahan dengan Rima.
"Kamu pulang ke sini ngga bawa oleh-oleh Na?" tanya kakak pertama Handoko.
"Maaf mas, saya niatnya hanya mampir ke makam mas Handoko aja tadi," jawab Nina jujur.
"Ya ampun Na, kamu masih marah sama kami? Itu udah lama berlalu Na, marilah kita saling memaafkan," ujar ibu Handoko.
Bapak Handoko hanya diam saja, sejujurnya dia merasa malu bertemu dengan mantan menantu yang pernah dizaliminya dulu.
"Aku udah memaafkan kalian," jawab Nina datar.
"Paling enggak ajak kami lah Na makan di luar," pinta kakak pertama Handoko.
.
.
.
Tbc
__ADS_1