Derita anakku

Derita anakku
Hari kelulusan


__ADS_3

Hari kelulusan tiba, euforia sangat terasa sekali, begitu juga yang di rasakan oleh Rima.


Gadis manis itu sudah menjelma menjadi remaja cantik yang sudah pintar mematut diri.


Setelah lulus sekolah menengah pertama dan melanjutkan ke sekolah menengah atas, Rima memutuskan untuk menutup auratnya seperti sang ibu.


.


.


"Rima degdegan Bu," ucap Rima kala ketiganya hendak ke sekolah demi menghadiri wisudanya.


Dia di nobatkan sebagai lulusan terbaik tahun ini, Nina begitu bangga dengan pencapaian putrinya, hingga Rima bisa di terima di sebuah sekolah menengah atas terfavorit di kotanya.


Kebaya marun melekat cantik di tubuh semampainya.


Nina bahkan terharu bahwa dia bisa melihat tumbuh kembang putrinya yang semakin baik setiap harinya.


Nina tak pernah menyesali kepahitan hidup yang pernah di laluinya dulu, sebab dia dan anaknya bisa berada di titik sekarang juga karena kejadian lalu yang membuatnya kembali bersyukur.


"Kamu cantik sekali Rim, ingat, belajar yang rajin aja biar bisa masuk di universitas favorit, jangan mau di goda-goda cowok dulu ya," saran Galih pada keponakannya.


"Iya Mas, yuk Bu, Mas nanti telat!" ajak Rima.


Kini Nina juga telah memiliki mobil pribadi. Dia akan memberikan motornya untuk Rima agar bisa digunakannya saat sekolah nanti.


Mungkin tidak sekarang, karena Rima belum memiliki kartu tanda penduduk dan juga surat izin mengemudi.


.


.


Di rumah Lyra dan Baron, hanya tinggal Ziva sendiri bersama dengan para pekerja di rumah itu.


Usia kandungan yang menginjak enam bulan itu sudah terlihat besar.


Ziva di tinggal sendirian sebab Lyra dan Baron sedang berlibur ke luar kota bersama anak-anaknya.


Hidupnya juga sangat kasihan sebab tak pernah sekali pun di anggap sebagai nyonya di rumah besar itu.


Meski dia tak di siksa secara fisik oleh istri tua suaminya, tapi tak ada dari mereka memperhatikan nasib Ziva.


Tadinya Ziva di minta untuk mengerjakan pekerjaan rumah membantu para pekerja di rumah itu, tapi setelah kejadian pendarahan tempo hari, Lyra memberinya keringanan untuk tak terlalu bekerja keras.


Namun sayangnya, keberadaannya masih di abaikan di rumah besar itu.


Andaikan dia tak memiliki hutang yang lebih besar pada Lyra, sudah di pastikan dia akan melarikan diri dari sana.


Padahal, pendarahan Ziva bukan di karena kan pekerjaan beratnya, melainkan karena dirinya di jual oleh sang suami kepada para lelaki hidung belang.


Baron memang sangat kejam, tubuh lemah Ziva seperti itu pun masih di paksanya untuk menghasilkan uang.

__ADS_1


Ziva tak kuasa menolak, sebab Baron mengancam akan menghabisi dirinya beserta seluruh keluarganya jika dia berani buka suara.


Ziva yang pada dasarnya masih anak remaja tentu saja dia takut dengan ancaman itu, terlebih lagi dia tau Baron berteman dengan para preman-preman berwajah bengis.


Entah Lyra tau atau tidak apa yang di lakukan oleh suaminya, pikir Ziva, dia tetap tak berani melaporkan pada istri tua suaminya atas semua perlakukan Baron padanya.


Ziva menatap sendu postingan teman-temannya di media sosial miliknya.


Hari ini harusnya menjadi hari kelulusannya. Hari ini harusnya dia bersama teman-temannya saling melepaskan dan mengenang masa sekolah mereka.


Hari ini harusnya mereka berbincang akan ke mana mereka melanjutkan pendidikan selanjutnya.


Sayangnya, semua itu tak akan bisa di rasakannya. Ziva mengusap air matanya dan memilih berganti pakaian, setidaknya dia berpikir bisa ikut sedikit merasakan kebahagiaan di hari kelulusannya.


Dia berniat mendatangi sekolah untuk sekedar melihat dari jauh acara kelulusan itu.


"Mbak Inah, aku mau ke sekolah ya, pengen liat acara kelulusan hari ini," ujarnya meminta izin.


Sebelum Lyra pergi, dia di minta selalu minta izin pada Inah jika ingin pergi, boleh atau tidaknya ia tergantung Inah yang menyampaikannya nanti, begitu pesan istri tua suaminya.


Jadi mau tidak mau kedudukan Inah bahkan terlihat lebih tinggi dari pada dirinya.


Inah tertawa mendengar permintaan istri muda majikannya.


"Mau ke mana? Sekolah? Mau ngapain kamu? Ngga malu sama perut kamu itu?" ejek Inah.


Meski kadang merasa kasihan kepada Ziva, tapi dia sering kesal karena terkadang Ziva berlaku lupa diri jika di baiki olehnya.


"Bentar saya lapor Nyonya dulu, kalau ngga boleh jangan maksa!" ketusnya.


Ziva hanya bisa mengangguk patuh dan duduk di dapur menunggu Inah melapor pada Lyra.


Setelah meminta izin pada majikannya, Inah lalu memberitahu Ziva jika gadis itu boleh pergi, tapi di antar oleh sopir mereka.


Dia tak di izin kan pergi ke mana-mana lagi setelah itu.


Ziva hanya bisa mengangguk patuh. Tak ada yang bisa ia lakukan, kabur dari sana juga percuma karena dia memiliki surat perjanjian dengan Lyra.


Batin remaja itu sangat tertekan. Semua bukan karena kesalahannya sendiri, ada juga andil dari keluarganya.


Ya, Tyas yang selalu merongrongnya agar selalu bisa memberikannya uang, membuat dia tak berdaya.


Terlebih lagi saat sang ibu harus melahirkan secara Secar. Ekonomi yang pas-pasan membuat Titik meminta bantuan pada Lyra dan Baron.


Mereka tidak tau, dari sanalah kehidupan Ziva semakin bertambah buruk.


Uang yang di berikan oleh Lyra tidak cuma-cuma, ada harga yang harus di tanggung oleh Ziva yang tidak di ketahui oleh mereka.


Entah andai mereka tau, mereka akan menolak atau memilih tak peduli.


Ziva lalu pergi bersama Pak Karman sopir pribadi Lyra.

__ADS_1


Mereka berhenti di depan sekolah. Terlihat tenda besar yang di pasang di lapangan, bahkan suara sound sistem terdengar membahana.


Ziva bisa mendengar suara riuh para murid yang hadir di sana.


Hingga sebuah nama yang di panggil sang pembawa acara tentang lulusan terbaik sekolahnya membuatnya mematung.


"Rima," lirihnya.


Dia tak menyangka, saudara tirinya itu bisa menjadi lulusan terbaik tahun ini, dia yakin Budenya juga ada di sana.


Ziva sangat iri, harusnya dia di sana, harusnya dia yang sedang berbahagia di sana.


Dia mengutuk Tuhan yang membuat hidupnya tidak adil.


Andaikan sang bude tak kembali, dia yakin hidupnya tak akan seperti ini. Jika Budenya tak kembali ia yakin mungkin Rima yang justru tak akan bisa lulus sekolah.


Dia mengepalkan tangannya, dia membenci Rima dan Nina. Dia menyalahkan mereka akan nasib buruknya.


Sungguh remaja yang labil, dia tidak tau semua akibat ulahnya sendiri. Namun karena didikan Tyas yang salah dia justru lebih memilih menyalahkan orang lain karena nasib buruknya.


Merasa sudah tidak kuat melihat kebahagiaan mereka di acara kelulusan itu, Ziva meminta Karman untuk pergi dari sana.


Pulangnya dari sana, dia mengenyit heran pada sepasang suami istri yang berdiri di depan pagar.


Saat melewatinya, Ziva terbelalak karena ternyata dua orang itu adalah ayahnya, Yanto.


Refleks dia membuka jendela mobilnya, "Papah? Ngapain papah ke sini?" tanyanya.


Yanto tersenyum cerah saat melihat anak gadisnya menaiki mobil mewah.


Angannya sudah berkhayal jauh, jika dia bisa menggantungkan hidup pada putri sulungnya.


"Ziva anak Papah ... Papah kangen Nak," ucapnya penuh drama.


Di sebelahnya ada Ratih yang ternyata datang dengan mengendong bayinya.


"Panas ini Mas!" keluhnya sebagai sindiran pada Ziva agar mereka segera di persilakan masuk.


Ziva yang takut kedatangan keluarga ayahnya menyebabkan masalah untuknya memilih turun dan menemui mereka di sana saja.


"Ayo Fa masuk, kami udah lama loh nunggu kamu, abisnya satpam sialan ini ngelarang kami masuk!" gerutu Yanto.


"Maaf Pah, ngga bisa, Ziva ngga berani terima Papah di rumah ini," tolak Ziva.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2