Derita anakku

Derita anakku
Sikap Galih


__ADS_3

Andi kembali dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya, sedangkan Zaky yang berharap Andi tak kembali harus merasa kecewa sebab tak bisa menaiki motor besar milik temannya itu.


"Yah gagal Gue nyobain Moge!" gerutu Zaky saat Andi mengembalikan kunci motornya.


"Sukurin!" balas Theo membuat semuanya tertawa.


"Dari mana dah Lu?" sambar Gyan penasaran.


"Adalah!" elak Andi lalu membuka buku pelajarannya.


"Ck, si bangkeee maennya rahasia-rahasian, kagak asyik!" gerutu Gyan lagi.


Mereka kembali hening kala seorang guru datang untuk memulai pelajaran.


Waktu jam istirahat, saat Andi dan kawan-kawannya hendak menuju ke kantin, dirinya di hadang oleh Vira.


"Ndi, kamu yang anter Rima tadi?" tanya gadis itu penasaran, sebab Andi justru berada di sekolah.


"Kampret ternyata dia anterin dede emesh! Pantes senyum-senyum mulu kaya mbak kasir indoapril!" ledek Gyan.


"Diam Yan!" Bentak Andi.


Andi lalu melanjutkan lagi langkahnya tak memedulikan pertanyaan Vira. Gadis itu tak terima karena di abaikan begitu saja oleh Andi lantas menyusulnya.


"Ndi! Seriusan kamu anter dia? Kenapa?" tuntutnya sambil menghadang langkah Andi.


"Mending lu balik Vir, kita ini laper mau ke kantin," sergah Luke yang mulai jengah dengan sikap berlebihan Vira.


Namun Vira menggeleng keras kepala, dia tak terima karena Andi terlihat begitu peduli pada murid baru itu.


Dia yang sudah lama menyukai Andi bahkan seperti tak di beri harapan sedikit pun.


"Jangan sampai Gue berbuat kasar Vir! Harusnya lu tuh berterima kasih sama Gue, karena kelakuan lu Gue yang akhirnya harus turun tangan!" alibi Andi, padahal dirinya sendiri tidak pernah tau mengapa dia melakukan hal itu pada Rima.


"Alasan! Aku ngga ngerti sama kamu Ndi, kenapa kamu perhatian sama anak baru itu!" pekik Vira tak menyembunyikan kekesalannya.


Andi yang sudah mulai habis kesabarannya lantas menyingkirkan Vira hingga gadis itu tersungkur ke lantai.


"Kan udah Gue bilang tadi, ngeyel sih! Lagian kaya lu tuh ceweknya Andi aja tau ngga!" ejek Gyan.


Kelimanya lantas berlalu meninggalkan Vira tanpa berniat sekali pun membantu gadis itu.


Vira terisak, dia sungguh merasa di permalukan. Gadis pintar dan juga banyak di kagumi oleh para siswa tapi di tolak begitu saja oleh Andi.


"Ngapain sih Lu Vir! Malu-maluin aja, ketua osis kok murahan!" ejek Yura yang sejak tadi melihat perdebatan mereka.


Yura dan teman-temannya juga meninggalkan Vira begitu saja. Mereka tentu saja senang karena saingan terberat mereka ternyata bukan apa-apa.


"Serius Ra, anak baru itu dapet perhatian si Andi? Wah ada saingan baru kamu lagi dong?" tanya salah satu teman Yura.


Yura tersenyum sinis, dia tak akan membiarkan siapa pun mendekati Andi, tanpa terkecuali Rima yang menurutnya bukan tandingannya.


.


.


Rima yang sedang istirahat di rumah sudah merasa lebih baik setelah bisa mengistirahatkan diri.

__ADS_1


"Ma? Ya ampun, ternyata kamu di sini?" Nina yang khawatir lantas mendekati putrinya di kamar.


Tadi Galih ke sekolah putrinya hendak menjemput, tapi karena Rima tak kunjung keluar, membuat Galih khawatir dan menelepon Nina.


Rima juga tak bisa di hubungi sebab gadis itu memang mematikan ponselnya.


"Ibu? Jam berapa ini?" tanya Rima dengan mata yang belum terbuka sempurna.


"Jam lima! Kamu bikin Ibu sama mas Galih khawatir! Kenapa kamu ngga ngabarin kami? Kamu dari mana?" tuntut Nina tak sabar.


"Ya ampun Bu, sabar, satu-satu tanyanya, kepala Rima pusing ini loh," keluh Rima.


Nina menghela napas, wajah sang putri yang terlihat pucat membuat perasaan Nina semakin waswas.


Setelah Rima berhasil bangun dan duduk bersandar di kepala ranjang, Nina kembali menanyakan pertanyaannya.


"Kamu kenapa?"


"Rima tadi pingsan di sekolah Bu. Ini hari pertama Rima datang bulan, pas tadi kena hukuman, Rima tau-tau pingsan, terus Rima pulang deh," jelas Rima lemah.


Nina segera memeluk putrinya, dia bersyukur setidaknya Rima baik-baik saja.


Galih segera masuk ke kamar sepupunya begitu mendengar suara Rima dan Nina tengah berbincang.


"Ya Allah Rim, ternyata kamu di sini! Mas cari kamu ke mana-mana!" keluh Galih tapi tak di ungkiri hatinya melega setelah melihat sepupunya baik-baik saja.


"Maaf ya Mas, Bu udah bikin kalian cemas," ucap Rima tak enak hati.


Nina mengusap kepala putrinya dan balas mengangguk.


"Siapa sore-sore gini bertamu?" heran Nina.


Galih memilih menyambut tamunya. Lelaki itu terkejut kala melihat seorang remaja laki-laki berdiri di depan rumah kakak sepupunya.


Tak terkecuali Andi, dia juga terkejut dengan keberadaan Galih yang dia pikir adalah kekasih Rima.


"Maaf siapa ya?" tanya Galih tajam.


Andi tetap menjulurkan tangan untuk menyalami Galih meski dia bingung dengan status lelaki di hadapannya.


"Saya Andi, temannya Rima. Boleh saya menjenguk Rima?" tanya Andi tenang.


"Kamu teman Rima?" tanya Galih dengan satu alis terangkat.


"Siapa Lih?" Nina keluar untuk menyusul Galih.


"Oh ini Mbak katanya temannya si Rima," jelas Galih.


Andi tengah menebak hubungan ketiganya. Tak tau kenapa hatinya melega meski dia belum tahu jawabannya.


"Siapa ya?" sambar Nina.


Andi lantas menyalami Nina dan mencium tangannya, sebab dia yakin jika wanita di depannya ini adalah ibu dari gadis pujaannya.


"Sore tante, maaf ganggu, saya Andi temannya Rima. Rima baik-baik aja tante?" tanya Andi yang masih berdiri di depan pintu.


"Eh, ya ampun ayo silakan masuk, jangan di depan!" ajak Nina mempersilakan tamu putrinya masuk.

__ADS_1


Rima juga ikut bangkit sebab dirinya merasa haus dan betapa terkejutnya dia kala melihat Andi ada di ruang tamunya.


"Ka Andi?" pekiknya.


Nina lalu menoleh saat mendengar suara Rima, "ini teman kamu Rim?"


Rima menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung harus menjelaskan siapa Andi pada ibunya.


"Maaf tante, cuma bisa bawa ini," sela Andi sambil menyerahkan dua bungkus plastik berisikan kue dan buah-buahan.


"Ya ampun repot-repot nak Andi. Kalau gitu tante ke belakang dulu ya, mau buat minum."


"Rim, temani Andi dulu," pintanya pada Rima.


Rima hanya bisa mendesah lalu duduk bersebelahan dengan Galih.


Ada sedikit rasa tak senang saat Andi melihat Rima duduk dengan lelaki di hadapannya ini.


"Bagaimana kabar kamu Rim?" tanya Andi mengabaikan tatapan mengintimidasi Galih.


"Udah baikan, makasih kakak udah anter aku dan belikan obat juga," ucapan Rima membuat Galih menoleh.


"Kamu di antar dia Rim?" tunjuk Galih pada Andi.


"Iya Mas," jawab Galih.


"Kalian ... Ngga pacaran kan?" tanya Galih cemas.


Rima lantas memukul lengan sepupunya kesal. "Apa-apaan sih Mas! Ka Andi ini kakak kelasku, dia pembina orientasi siswa baru tau!"


Andi merasa kesal karena merasa Galih ikut campur urusannya dengan Rima.


"Ya Mas cuma khawatir, ingat kamu masih kecil, sekolah aja yang benar," tukas Galih.


"Ini udah mau Maghrib, sebaiknya besok lagi bertemunya ya Ndi," usir Galih halus.


"Mas!" keluh Rima yang merasa ucapan kakak sepupunya itu sedikit keterlaluan.


"Ngga papa Rim, ini emang udah sore. Yang penting aku udah tau kamu baik-baik aja," sela Andi yang enggan menyulut pertikaian keduanya.


Nina yang baru saja datang sambil membawa nampan di depannya merasa bingung kala melihat Andi bangkit berdiri.


"Loh nak Andi, mau ke mana?" heran Nina sambil meletakan suguhannya di meja.


"Saya permisi dulu tante udah sore juga soalnya," jelasnya lalu menyalami Nina untuk berpamitan.


Nina hanya bisa mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada pemuda yang datang untuk menjenguk putrinya itu.


"Mas Galih apa-apaan sih!" gerutu Rima lantas berlalu masuk ke dalam rumah.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2