
Kini Rima sudah resmi menjadi murid sekolah menengah atas favorit di kotanya.
Di masa orientasi siswa, dia masih di haruskan mengenakan pakaian sekolah menengah pertamanya.
Rima terpaksa beli pakaian baru karena dulunya seragam sekolahnya pendek, sedang dia kini memutuskan berhijab.
Dia dan murid-murid barunya sedang berada di lapangan. Menggunakan topi sawah dan memakai papan nama yang terbuat dari kardus serta tas dari plastik dan karung menghiasi penampilan para murid baru itu.
"Kamu sini!" tunjuk kakak kelas Rima yang berwajah datar.
Dialah yang di anggap ratu di sekolah ini. Selain wajahnya yang cantik dia juga murid unggulan di sekolahnya.
Selain Ratu ada juga siswa yang di juluki Raja, dialah Andi anak Baron. Pemuda tampan dengan sikap dinginnya membuat banyak murid wanita jatuh hati padanya.
Terkecuali Rima tentu saja. Dia tidak pernah memikirkan menjalin hubungan, karena niatnya memang sekolah. Terlebih lagi dia tak mengenal para siswa populer itu.
Gadis remaja itu memang masih di bilang awam tentang rasa pada lawan jenis.
Rima dan beberapa murid di barisan itu saling melempar pandangan karena tidak tau siapa yang di panggil oleh kakak kelasnya.
"Kamu yang pakai topi warna kuning!" pekiknya lagi.
Merasa bahwa dia yang di panggil, Rima lantas mendekat.
"Saya Ka?" beo Rima.
"Kamu, siapa nama kamu!" bentaknya.
"Rima Ka," balas Rima tenang.
"Minta tanda tangan semua kakak pembina yang ada di sini! Waktunya satu jam, kalau gagal kamu akan membersihkan ruang olah raga!" ancam Vira.
Rima menerima kertas yang sudah ada daftar namanya. Masalahnya, Rima sama sekali tak mengenal orang-orang ini, hanya sebagian saja yang saat ini tengah menggemblengnya.
"Saya boleh minta tanda tangan kakak?" pinta Rima pada Vira karena ada nama gadis itu di sana.
Dengan berdecap sebal, Vira tetap memberikan tanda tangannya.
"Ka, sebagian yang ngga ada di sini apa saya harus cari ke dalam sekolah?" tanya Rima.
"Ya iyalah, masa gitu aja ngga ngerti! Sana cepet cari!" pekik Vira kesal.
Beruntungnya para kakak kelasnya yang lelaki bisa mudah memberikannya tanda tangan tanpa memintanya melakukan hal aneh-aneh, berbeda dengan pembina perempuan yang memintanya melakukan sesuatu.
Rima menerimanya dengan sabar, karena dia sudah di beritahukan teman-temannya jika hal yang paling di takutkan dalam masa orientasi siswa baru adalah di tindas kakak kelas.
Tinggal satu nama lagi yang membuat Rima kelimpungan mencarinya.
Rima bahkan sudah bertanya kepada kakak kelasnya seseorang yang bernama Andi tersebut, tapi mereka tak ada yang mau memberitahunya.
Mereka berkata jika Rima terkena sial karena harus mencari nama itu, karena mereka jelas tidak boleh memberitahukan keberadaannya.
Rima merasa frustrasi dan hampir menyerah, setiap ruangan sudah dia cari, tapi laki-laki bernama Andi tidak juga kunjung di temukan.
Sampai saat tengah berjalan dengan melamun, Rima menabrak seseorang.
"Aw ..." Rima jatuh terduduk.
"Lu punya mata kagak sih!" maki suara lelaki di hadapan Rima.
Rima yang berhati lembut, tentu saja ingin menangis di perlakukan kasar seperti itu.
__ADS_1
"Ck! Cengeng," maki pemuda itu dan berlalu dari sana bersama empat rekan lainnya.
Rima pun ikut bangkit, hingga dia mendengar seseorang memanggil nama yang tengah dia cari saat ini.
"Andi tunggu ihh ..." suara manja seorang gadis yang melewati Rima begitu saja.
Rima yang mendengar nama itu sontak kembali menoleh dan mengejar perempuan itu.
"Maaf Ka, maaf, yang namanya Ka Andi yang mana ya?" tanyanya mencegah langkah gadis dengan dandanan yang berlebihan.
"Kamu siapa nanya-nanya Andi?!" bentak gadis itu.
"Saya cuma mau minta tanda tangannya aja Ka," jelas Rima sambil menunduk.
"Di antara lima orang itu salah satunya Andi, sana coba kamu cari sendiri," balas gadis itu tanpa mau memberitahu Rima dengan jelas.
Terpaksa Rima mengejar para pemuda yang baru saja bersinggungan dengannya tadi.
Dengan jantung yang berdebar-debar, Rima mendekati mereka dan mencegah langkah kelimanya.
"Maaf ... Maaf ka, mau tanya di antara kakak-kakak ini siapa yang namanya Andi?" tanya Rima takut-takut.
"Kenapa kamu cari orang yang namanya Andi?" seseorang yang berada di belakang barisan itu menjawab pertanyaan Rima.
"Saya dapat tugas dari Ka Vira untuk meminta tanda tangan Ka Andi," jelas Rima sambil menyodorkan kertasnya.
Para pemuda itu tak ada satu pun yang mengenakan tanda pengenal di bajunya, membuat Rima kelimpungan menebak siapa di antara mereka yang bernama Andi.
Pemuda di hadapan Rima lalu menjawab, "enggak ada yang namanya Andi! Sana minggir!" usirnya.
Mereka kembali berjalan tanpa menghiraukan permintaan Rima.
Tak putus asa, Rima kembali mengikuti kelimanya.
Rima yang mendengar ucapan pemuda tadi lantas kembali mencegahnya.
"Tuh kan, ada salah satu di antara kakak yang namanya Ka Andi, tolong saya Ka, kalau enggak nanti saya di hukum," pinta Rima memohon.
Lagi-lagi mereka berhenti karena mendengar suara Rima.
"Ganggu banget sih Lu! Kalau di antara kami ada yang namanya Andi terus mau apa?" ucap pemuda yang memakai pengikat kepala di dahinya.
Lima pemuda ini memang tampan-tampan Rima mengakui itu, sayangnya sikap mereka sangat menyebalkan menurut Rima.
"Kamu mau lakuin apa kalau Andi bersedia kasih tanda tangan?" sambar pemuda lain yang tadi menjawab Rima pertama kali.
"Saya lakuin apa aja yang kakak mau," pasrah Rima.
Dia sudah melakukan permintaan para kakak kelasnya saat meminta tanda tangan tadi, jadi dia merasa tak masalah kalau memang dia harus melakukan permintaan mereka untuk nama terakhir ini.
Tiga orang dari mereka tertawa, hanya dua yang diam saja dan berwajah datar.
"Ok, gimana kalau kamu beli minuman buat kami?" pintanya.
Rima menatap tak percaya pada pemuda yang menyuruhnya.
"Baik Ka," pasrahnya.
Rima lalu mengeluarkan kertas untuk mencatat pesanan mereka.
Dirinya tau jika saat ini sedang di kerjai, tapi ia bisa apa, kalau hanya sekedar di suruh seperti ini dia akan menerima saja.
__ADS_1
"Siapa nama kamu cantik?" tanya pemuda yang menurut Rima sangat genit padanya.
"Rima Ka," jawab Rima malas.
"Ok Rima, beliin aku es Mocachino ya," pintanya.
"Gue Es Ocean Blue," sambung pemuda yang mengenakan pengikat kepala.
"Gue apa ya ..." pemuda yang tadi menjawab Rima.
Rima harus sesabar mungkin menghadapi kelakuan lima pemuda ini.
"Es kelapa aja lu mah Yan!" sungut pemuda dengan ikat kepala tadi.
"Es kelapa, Lemon tea, es jeruk sama Fanta!" sambar pemuda yang memesan ocean blue mulai kesal karena temanya terlalu lama berpikir.
Rima mencatat dengan cepat pesanan para kakak kelasnya ini.
"Inget jeruknya bukan jeruk peras, bilang aja ke penjualnya buat Andi gitu!" sambungnya lagi.
"Baik Ka," jawab Rima yang masih mematung di depan mereka.
Kelima pemuda itu bingung karena Rima masih bergeming.
"Ada apa lagi sana cepetan!" titah pemuda yang mengenakan ikat kepala.
"U-uangnya?" lirih Rima.
"Astaga, pake duit Lu dululah! Mau tanda tangan engga!" sentaknya gemas.
Rima terkejut tapi tetap mengangguk cepat dan berlalu dari sana dengan berlari menuju kantin.
Napasnya tersengal-sengal begitu sampai tujuan. Dia benar-benar di kerjai habis-habisan.
"Dikerjain, di palak juga lagi!" sungutnya.
"Kenapa?" sapa Roby teman seangkatannya.
"Eh, Rob, enggak ini mau beli pesenan kakak kelas kita," jawab Rima malu.
Roby tertawa lalu mengusap kepala Rima gemas. Gadis cantik di depannya ini memang sudah menarik hatinya, tapi ia tak berani mengungkapkannya.
Di tempat lain, di mana Geng Andi berada Gyan si playboy membuka suara.
"Cakep juga tuh cewek, mayan lah buat selingan," ujarnya sambil terkekeh.
"Astaga, Astrid mau Lu ke manain, vangke!" sela seseorang yang bernama Noval, kesal.
"Lah, gue kan Kasanova, bolehlah sama siapa aja," jawab Gyan pongah sambil menyugar rambutnya.
"Diem aja Lu Ndi?" sergah Gyan menatap sahabatnya.
"Berisik!" jawabnya ketus.
"Lama bener tuh cewek, mana udah haus lagi gue!" keluh pemuda yang memakai ikat kepala bernama Theo yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya.
"Lu mau kasih tanda tangan lu kan Ndi?" sambar Luke, pemuda yang paling pendiam di antara kelimanya.
.
.
__ADS_1
.
Tbc