
Setelah perselisihan di kantor kepala sekolah tadi, Nina dan Rima dengan tegas menolak Ziva di rumah mereka.
Dengan tak tau malunya, Yanto dan Tyas membawa Ziva kembali ke rumah Nina.
Nina yang sudah yakin jika Tyas akan kembali membuat rusuh di rumahnya memilih menjemput Rima.
Saat kembali ke rumah, dia terkejut karena Ziva bahkan sudah membawa banyak barang.
"Bude, maafkan Ziva, tolong terima Ziva ya?" rengek remaja seusia Rima itu.
"Bude udah tegas bilang sama kamu, kalau kamu bukan tanggung jawab Bude, Ziva. Terlebih lagi kamu sedang hamil, tanpa suami lagi. Silakan kalian pergi dari rumah ini," tolak Nina.
"Heh Nina! Kamu ngga kasihan sama Ziva? Kita ini pernah satu keluarga, jadi kasihanilah kami sedikit," pinta Tyas dengan nada memaksa.
"Kalian pergi sekarang, atau saya telepon polisi karena kalian mengganggu kenyamanan saya?" ancam Nina.
"Ishh, kamu Nin dikit-dikit polisi, dikit-dikit polisi! Awas kamu, aku sumpahin jadi janda seumur hidup!" maki Tyas kesal.
Mereka bertiga terpaksa keluar dari rumah Nina dari pada nanti berbuntut panjang.
"Janda sialan, pelit banget sih, timbang kasih makan anak yatim gitu aja kek, kan dapet pahala," gerutu Tyas.
"Siapa yang bilang Ziva anak yatim? Kamu nyumpahin aku mati Mah!" pekik Yanto tak terima.
"Ngga usah panggil-panggil Mah kamu Yanto! Kita ini udah pisah, lagian wajar aku bilang Ziva anak yatim, emang selama kamu pergi pernah gitu kamu kasih kita nafkah? Enggak kan, makanya jangan protes!" maki Tyas.
Ketiganya masih berada di pinggir jalan sambil menunggu angkutan umum lewat.
Ziva sendiri hanya bisa diam termenung, dia tak peduli dengan pertengkaran orang tuanya.
Hatinya sedang tidak baik-baik saja. Masa depannya hancur, tak hanya tidak lulus sekolah, dia bahkan di jauhi oleh teman-temannya.
Lebih sialnya lagi dia tak tau siapa ayah dari bayi yang di kandungnya. Tanpa sadar Ziva berjalan ke arah jalan raya, pikirannya kosong, dia tak tau apa yang dia lakukan.
"ZIVA!!" pekik Yanto dan Tyas saat mereka melihat Ziva sudah berada di tengah jalan.
Yanto berlari dan menarik sang putri hingga keduanya jatuh tersungkur.
Pengemudi truk yang lewat memaki keduanya karena hampir saja menyebabkan kecelakaan.
"Ziva bangun Va!" tangis Tyas pecah kala melihat sang putri pingsan setelah benturan keras yang mengenai kepalanya.
Yanto dan Tyas membawa Ziva ke puskesmas terdekat.
Untung saja kondisi Ziva baik-baik saja, bahkan kandungannya pun tak terkena masalah, padahal dalam hati Tyas berharap Ziva mengalami keguguran.
"Kenapa ngga mati aja sih tuh bayi!" gerutu Tyas yang masih bisa di dengar Yanto.
"Kamu itu, cucu sendiri di sumpahin mati, tega banget jadi nenek!" sindir Yanto.
__ADS_1
"Enak aja, nenek-nenek! Aku ngga mau jadi nenek di usia segini tau!" maki Tyas kesal.
Keduanya kembali terlibat perdebatan bahkan saat putri mereka tengah tertekan.
"Kau uruslah dia! Semua kan karena ulahmu yang selalu memanjakannya," ucap Yanto sambil berdiri.
"Enak aja! Kamu mau lepas tangan gitu aja Mas! Dia itu anakmu, anak kita!" teriak Tyas saat Yanto melenggang begitu saja.
Wanita hamil itu berteriak sambil menangis mengejar Yanto. Cacian dan makian selalu dia keluarkan, hingga akhirnya dia mendapat teguran dari pihak puskesmas.
"Ibu tolong jangan berisik! Di sini bukan hutan," tegur seorang petugas puskesmas.
Tyas jatuh terduduk, saat Yanto telah menaiki kendaraan umum yang lewat di depannya.
Kini dirinya bingung harus bagaimana lagi. Saat ini pun dia sudah tak memegang uang, hanya tersisa lima puluh ribu saja di dompetnya.
Dia menjadi bahan tontonan para pengunjung puskesmas.
"Sudah Bu, malu jadi tontonan orang," ucap salah satu pengunjung pada Tyas.
"Diam kamu! Ngga usah ikut campur!" bentak Tyas tak terima di tegur oleh sesama pengunjung di sana.
"Yee, di bilangin malah nyolot, di seret satpam baru tau rasa situ Bu!" maki wanita tadi yang kesal dengan tingkah Tyas.
Mendengar jika dia bisa saja di seret oleh keamanan puskesmas, Tyas memilih bangkit meski harus bersusah payah, karena perutnya yang sudah sedikit membesar.
Dia berjalan lunglai ke bangsal sang putri. Terlihat di sana Ziva sudah siuman, tapi pandangan matanya kosong.
Ziva bangkit tanpa membantah, dia bahkan harus membawa dua tas besar miliknya. Sebab sang ibu juga membawa beban yang sama.
Untungnya biaya perawatan Ziva tak mahal, tapi semua uang yang tersisa habis untuk membayar obat yang harus di tebus Ziva.
"Kamu enggak megang duit Va?" tanya Tyas pada putrinya.
Ziva hanya bisa menggeleng, dia tak memiliki apa pun, bahkan ponsel mahal yang dulu dia idam-idamkan sudah di jual sang ibu untuk biaya hidup mereka.
"Ponsel Mamah aja jual," ucap Ziva lirih.
Bukan karena takut, tapi memang dia sudah tak memiliki tenaga lagi.
"Apa? Enak aja! Cuma ini satu-satunya hiburan yang Mamah punya!" tolak Tyas egois.
Ziva hanya diam saja, kemudian Tyas terpaksa memesan kendaraan Online, karena bisa di bayar di rumah.
Dia hanya berharap sang ibu masih memiliki uang untuk membayar ongkosnya nanti.
Sesampainya di rumah kontrakan mereka. Terpaksa mobil berhenti di depan gang mereka, karena tak mungkin mobil bisa masuk ke sana.
"Bapak tunggu sebentar ya, saya ambil uang dulu," ucap Tyas pelan.
__ADS_1
"Ya Bu, mari saya bantu," tawar sang sopir sambil membawa dua tas besar milik Ziva.
Jantung Tyas berdebar kencang, sebab ongkosnya lumayan besar sekitar seratus dua puluh ribuan.
"Bu ... Ibu? Dita?" panggil Tyas buru-buru.
"Tyas, loh kok Ziva pulang lagi?" sambar Titik heran, meski dia sudah menebak jika mantan anak tirinya itu pasti tak akan menerima cucunya di sana.
"Nanti tanya-tanyanya Bu, bagi duit Bu buat bayar ongkos mobil," pinta Tyas sambil menengadahkan tangannya.
"Ya ampun Yas, kamu itu udah tau ngga punya duit kenapa gaya-gayaan naek taxi Online segala sih! Ngga ada Yas, ibu ngga ada duit lagi. Kan tadi duitnya udah di kasihin ke kamu," elak Titik.
"Aduh gimana dong Bu, orangnya nunggu di depan, Tyas harus bayar. Duit tadi udah buat nebus obatnya si Ziva!" jelas Tyas.
"Kamu kenapa emang Va?" tanya Titik pada cucunya.
"Udah nanti aja nanyanya, mana duitnya!" paksa Tyas.
"Berapa emang Yas?"
"Seratus dua puluh ribu Bu," jawab Tyas santai.
"Apa?! Astaga Tyas, ibu ngga ada duit segitu, nih lihat duit ibu tinggal segini," jawab Titik sambil menunjukkan uang yang ia simpan di lipatan kainnya.
Jumlahnya hanya sekitar tujuh puluh empat ribu rupiah saja, Tyas ketakutan kalau tak bisa membayar semua ongkosnya.
Dia takut di datangi oleh para persatuan ojek Online seperti berita yang pernah dia baca.
"Aduh Bu, kurang ini, coba cari lagi siapa tau nyelip-nyelip!" paksa Tyas.
"Ngga ada Yas, sudah kamu bilang aja, ngga ada lagi. Ya mau gimana lagi orang ngga ada!" jawab Titik.
Tyas kembali ke depan di mana sang sopir menunggunya.
"Mas, maaf ya, cuma ada segini," ucapnya takut-takut.
"Ya ampun mbak, ini Kurangnya banyak sekali mbak, tambahin lah mbah, udah seratus ribu aja ngga papa, kalau begini saya rugi dong," jawab sang sopir dengan raut wajah kesal.
"Ngga ada lagi mas, tolong maafkan saya mas, hitung-hitung sedekah ya Mas," balas Tyas sambil cengengesan.
"Sedekah-sedekah! Kalau ngga mampu ngga usah pesan taxi Online mbak! Naik angkot aja," ketus sang sopir sambil berlalu pergi.
Tyas bernapas lega kala sang sopir akhirnya memilih pergi dan tak memperpanjang permasalahan ongkosnya.
Namun, dia harus kembali merasa ketakutan kala sang pemilik kontrakan datang bersama para ibu-ibu dengan wajah garangnya.
.
.
__ADS_1
.
Tbc